
Ruangan putih berbau obat-obatan itu tampak tenang, tidak banyak suara di sana karena ada pasien yang sedang beristirahat di salah satu bilik.
Wanita paruh baya terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya menulis sesuatu di buku kerjanya. Sebentar-sebentar ia berdehem membasahi tenggorokan yang terasa kering. Akan berbahaya jika penjaga UKS malah jatuh sakit, jadi ia segera meminum pil berwarna hijau untuk mengobati radang tenggorokannya.
Cklek!
Suara pintu dibuka mengalihkan perhatiannya, berdiri seorang wanita berkulit tan dengan kacamata bundar yang membingkai wajah manisnya. Melisa tersenyum pada penjaga UKS dan meminta izin untuk masuk. Di tangannya terdapat kantung plastik yang berisi bungkusan makanan.
“Oh, masuk aja dek,” ujar penjaga itu dengan ramah.
Melisa tersenyum berterima kasih. Ia segera masuk menghampiri Jinan yang masih tertidur. Jam perkuliahan sudah berakhir, dan sahabatnya masih belum sadarkan diri juga. Dengan sabar ia menunggu, membunuh waktu dengan membaca buku antologi misteri berjudul ‘Something in The Dark’.
Terkadang ia tersenyum, namun tidak jarang justru merasa bulu kuduknya berdiri. Buku ber-genre horror oleh penulis terpilih dari event lomba itu berhasil membuat Melisa larut dalam cerita. Beberapa bahkan sangat menyeramkan karena ia ikut membayangkan rasanya jadi tokoh utama yang dikejutkan dengan penampakan pocong.
“Ngh...”
Mendengar lenguhan pelan dari sang sahabat, Melisa langsung menutup bukunya dan memusatkan perhatian pada Jinan. Dengan perlahan kelopak mata yang membungkus cokelat madu di dalamnya terbuka. Wanita itu sedikit mengerjap-kerjapkan matanya untuk menerima cahaya terang yang masuk ke retina matanya.
“Jinan?” panggil Melisa menyadarkan Jinan jika ia ada di sisinya.
“Ukhti? Kenapa di sini?”tanya Jinan bingung.
Ia tahu jika saat ini mereka ada di UKS, dan ia juga sudah bisa menebak apa yang terjadi. Hanya saja ia tidak mengerti mengapa sahabatnya ada di ruangan itu juga. Bukankah seharusnya ia sedang mengikuti perkuliahan. Atau mungkinkah...
“Jam kuliah sudah selesai, kami sudah buat absensi sakit untuk Jinan,” jawab Melisa menjelaskan. Jinan menghela nafas mendengarnya, hari ini ia bolos dua mata kuliah.
“Melisa tahu ada banyak yang mau dibicarakan, tapi Jinan makan dulu terus minum obat,” ujar Melisa lagi. Tangan kananya bergerak menyentuh kening Jinan. “Sudah turun.”
Jinan tidak membantah, ia menerima kantung plastik yang disodorkan Melisa. Nasi uduk yang lengkap dengan sayur dan lauk kesukaannya. Wanita itu tersenyum.
“Syukran, ukhti,” ucapnya pelan penuh syukur.
__ADS_1
Tidak semua orang bisa seberuntung ia mendapatkan sahabat yang sangat perhatian dan pengertian. Dan lebih beruntungnya lagi, ia mendapatkan tidak hanya satu melainkan lima sahabat yang sama baiknya. Mereka bahkan rela berkorban demi ia yang kerap merepotkan.
“Melisa tahu ini bukan saat yang tepat, tapi Jinan sadar kan kenapa Rini bersikap keras?” tanya Melisa yang hanya dijawab anggukan.
“Jinan, kita tau gak baik berada di tempat sunyi bersama dengan lawan jenis meski tanpa niat yang buruk. Kami mengenal Jinan dengan baik, insyaallah Jinan gak akan berbuat apapun yang dilarang Allah. Tapi kami khawatir jika orang lain yang akan berniat buruk,” Melisa mengangkat tangannya, tidak membiarkan Jinan yang ingin menjeda ucapannya.
“Bukan maksud Melisa menyuruh untuk berprasangka buruk, kami hanya minta untuk berhati-hati. Rini gak ingin apa yang menimpa Mutia terjadi sama Jinan. Meskipun kita tahu Mutia gak melakukan kesalahan apa-apa, tapi pandangan orang lain itu berbeda. Untuk mencegah itu, kita sudah sepakat saling memberi tahu jika ada ikhwan yang ingin berbicara berdua aja, kan?
“Bukan tanpa alasan kita membuat janji itu, namun untuk menjaga diri dari banyaknya fitnah di akhir jaman. Meladeni para lelaki sampai harus kehujanan dan sakit seperti ini, apakah gak wajar untuk kami, terkhusus Rini yang sangat mengagumimu merasa khawatir?”
Jinan terdiam, bahkan wanita penjaga UKS juga terdiam mendengar nasehat yang disampaikan dengan sabar dan lembut itu hingga menyentuh hati pendengarnya.
Melisa adalah orang yang bisa diandalkan untuk urusan ini, namun ia tidak suka sering-sering menasehati orang lain karena merasa dirinya masih banyak alfa di kehidupan ini.
Hanya pada sahabat dekatnya sajalah ia berani berbicara tegas namun juga lembut di saat bersamaan. Jinan merasa beruntung mendapatkan sahabat yang sangat mengayomi seperti Melisa.
“Jinan minta maaf karena sudah buat kalian khawatir,” ucap Jinan pelan.
“Tau harus meminta maaf sama siapa di luar sana?” tanya Melisa lembut.
Hanya dengusan yang menjawab pertanyaan itu. Jinan seharusnya tahu jika tidak akan ada yang saling meninggalkan teman di saat susah. Wanita bermata madu itu tersenyum dengan mata berkaca.
“Eh? Jangan nangis. Hatimu itu lho, terlalu lembut,” seru Melisa tertawa kecil.
Jinan tersenyum dalam isaknya. “Mau bagaimana lagi? Ukhti Melisa yang buat Jinan nangis.”
“Lah? Kok malah Melisa yang disalahkan? Salahkan itu kepala yang keras, suka memendam semuanya sendiri,” ujar Melisa mengingatkan jika robohnya Jinan karena ia terlalu memaksakan diri dan tidak ingin merepotkan mereka.
“Jinan kan gak mau merepotkan kalian.”
Melisa lagi-lagi mendengus. “Beh, kita hidup bersosial, shaliha! Bukan hidup sendiri. Itulah gunanya punya teman seperti Melisa,” ujarnya narsis.
__ADS_1
Jinan tertawa, ia mengusap air matanya yang meleleh karena terharu. Padahal ini bukan kali pertama ia merasakan kehangatan dekapan ukhuwah teman-temannya, namun tetap saja ia merasa terenyuh dan meneteskan air mata.
Setelah ia menghabiskan makanannya dan meminum obat yang diberikan wanita penjaga UKS, akhirnya mereka keluar dari ruangan itu setelah membayar administrasi.
“Loh? Mereka di mana?” tanya Jinan bingung melihat halaman depan UKS terlihat kosong, tidak terlihat batang hidung teman-temannya satupun.
Melisa menyenggol bahu Jinan, menunjukkan jam di ponselnya yang sudah pukul 1 siang. “Pasti di mesjid shalat Dzuhur.”
Dengan langkah ringan mereka berjalan menuju mesjid untuk menunaikan shalat jamaah Dzuhur di sana. Adzan berkumandang tidak lama setelahnya, berbondong-bondong mahasiswa UMSU masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat.
Shaf pria terlihat penuh dengan banyaknya mahasiswa yang shalat berjamaah, sedangkan shaf wanita hanya terisi setengah karena banyaknya mahasiswi yang mengantri mukena masjid.
Tidak seperti 6 sekawan mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) itu yang selalu membawa rukuh kemanapun, mereka ada di barisan terdepan wanita. Melaksanakan panggilan Ilahi dengan khusu’ dan rendah diri di hadapan Sang MahaAgung.
“Jadi bagaimana? Sudah merasa baikan?” tanya Dila begitu keenamnya selesai shalat. Saat ini mereka sedang duduk bersama di teras masjid yang luas.
“Alhamdulillah, sudah merasa enakan. Maaf merepotkan kalian,” ujar Jinan tersenyum. Matanya melirik Rini yang berpura-pura tidak peduli.
“Alhamdulillah. Lain kali lebih baik diucapkan di awal. Toh pada akhirnya minta maaf juga,” ujar Yani. Wanita yang berasal dari kawasan Mandailing Natal ini memang kerap bicara langsung tanpa banyak di-filter dulu.
“Nah, kalimat yang bagus itu,” celetuk Rini.
Jinan merengek. “Aaa, Jinan kan udah minta maaf. Maafin dong.”
Rini mendengus. “Demam itu sebagai teguran Allah karena mengingkari janji, tau?! Hukumannya masih ringan.”
Jinan manyun. Ia terus merengek meminta maaf pada kelima sahabatnya karena lagi-lagi keras kepalanya membuat mereka repot.
“Eh, ngomong-ngomong ... siapa yang bawa Jinan ke UKS?”
Kelima pasang mata serentak mengalihkan pandangan mereka dari tatapan bertanya Jinan. Ada hal lain yang lebih heboh daripada ia yang pingsan di kelas, melainkan pemuda asing yang menawarkan diri menggendong Jinan ala bridal style menuju UKS.
__ADS_1
Siapa? Mereka pun tidak mengenal pria yang mengaku sebagai anggota petugas UKS itu.
Bersambung...