
Chapter 1 sudah direvisi ya~ Yuk, lanjut Chapter 2!!
Pagi hari datang dengan cepat seolah Jinan belum tidur malam itu. Namun tidak bisa disangkal jika ia memang belum cukup tidur malam tadi. Hidungnya sangat gatal, dan ia tidak bisa berhenti bersin-bersin. Pagi ini ia bangun dengan lingkar mata menghitam dan ingus yang meler dari hidung mancungnya.
Hatchii!
Sekali lagi ia melempar tisu ke dalam tong sampah di kamar kecilnya. Seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu hanya menggelengkan kepala melihat pemandangan yang sudah sering ia lihat.
“Jin, bukannya kau mandi air hangat tadi malam?”
Jinan merengut, lelah mendengar panggilan itu. “Jinan, Ay. Bukan Jin.”
“Terserahlah,” ucapnya malas.
“Jinan mandi air hangat kok, tapi kan udah terlanjur basah jadi sepertinya gak mempan,” ujar Jinan lesu.
“Sakit begini kau masih mau kuliah?”
Jinan mengangguk. “Cuma demam gak akan merobohkanku, insyaallah. Jinan juga bawa obat.”
“Dasar kau ini! Harusnya sakit itu dimanfaatkan untuk membolos kuliah, pola pikirmu ini aneh sekali,” cibir Ayu heran melihat temannya yang selalu keras kepala.
“Pikiranmu itu yang harus diperbaiki, Ay. Bolos mulu, kapan kelar kuliahnya?”
Ayu mengangkat bahu, tidak peduli dengan ucapan Jinan yang ditujukan untuknya yang sering membolos kuliah dan hanya datang di saat ujian tiba. Ia tidak ingin ambil pusing dengan mengisi absensi kelas, toh sekarang bisa menggunakan ‘jasa’ titip absen. Itu harus dimanfaatkan dengan maksimal.
Selama ia masih bisa mengikuti ujian dan membayar uang kuliah dengan lancar, ia yakin tidak ada yang bisa menghalanginya menjalani hidup seperti yang ia mau. Bahkan tidak untuk orang tuanya. Mereka sekalipun tidak berhak mengatur hidup Ayu saat ini. Ia lah yang berjuang sendiri membiayai kuliahnya, orang tuanya bahkan tidak ada ikut campur sedikitpun untuk urusan ini.
Padatnya rutinitas Ayu bekerja untuk membayar biaya kuliah membuat ia tidak bisa full kuliah sebagaimana seharusnya seorang mahasiswa. Jika ia punya waktu luang, pasti digunakan untuk istirahat dari kejamnya kehidupan kota.
“Jangan terlalu maksakan diri.”
Jinan tersenyum, senang sekali memiliki teman yang sangat perhatian padanya. Setelah bersiap, wanita itu segera meluncur dengan motor hijaunya menuju kampus Muhammadiyah Sumatera.
Dan lagi-lagi ia terjebak macet di tempat yang sama, tidak tahu kenapa persimpangan ini selalu padat kendaraan.
Angkot (angkutan kota), betor (becak motor), mobil dan motor berbaur jadi satu. Bunyi klaskson pengemudi yang tidak sabar terdengar bersahut-sahutan. Pun teriakan supir angkot yang memanggil penumpang terdengar memenuhi jalanan Medan.
Jinan merasakan kepalanya kembali pusing dengan semua kebisingan ini, kendati di tengah jalan ia merogoh tas mencari ponselnya untuk melihat jam. Ia terjebak selama 10 menit di antara himpitan kendaraan lain yang berebut menguasai jalanan yang berlubang.
Dengan hati-hati ia memilih badan jalan yang masih bisa dilewati, tidak ingin masuk ke dalam kubangan air di lubang aspal. Syukurnya jalanan tidak banjir karena hujan tidak deras malam tadi, hanya genangan di beberapa lubang yang cukup dalam.
__ADS_1
Setelah berkutat cukup lama di jalanan sumpek, akhirnya Jinan bisa menghirup udara bebas di pelataran parkir kampus. Masih belum banyak yang datang, parkiran terlihat lapang. Ia menghela nafas penuh syukur, tidak harus kerepotan memarkirkan motor pagi ini.
“Alhamdulillah masih kosong. Soal pulang nanti aja dipikirkan, semangat Jinan!” serunya pada diri sendiri.
Dengan mengucap ‘Bismillah’ ia melangkah menuju gedung F, Fakultas Agama Islam (FAI). Beberapa orang yang melihat Jinan berjalan pelan mencoba menyapanya dengan lontaran godaan basi.
“Assalamualaikum, ukhti shaliha...”
“Masyaallah cantiknya ukhti ini...”
“Oh ibu dari anak-anakku...”
“Bidadari surga lewat, cuit...cuit...”
“Bidadari dunia keles...!”
Gelak tawa terdengar dari biro Fakultas Tehnik yang Jinan lewati. Semua lontaran godaan itu hanya dibalas dengan senyum sekilas dan langkah kaki yang dipercepat. Hatinya berdenyut mendengar pujian itu. Ia merasa tidak pantas menyandang gelar sebagai ‘bidadari dunia’ dengan ketakwaan yang rendah. Hatinya mengucap ampun pada Allah yang menutup aib di depan makhluknya.
Sesungguhnya jika dosa itu menimbulkan flek hitam di wajah, tidak akan ada ruang tersisa untuk flek itu di wajahnya yang pucat. Allah masih bermurah hati tidak membuat aibnya terbuka ke mana-mana dan menjadikannya tampak sempurna di mata manusia.
Hatinya menangis, sakit mendengar puji-pujian yang tidak pantas ia terima. Hanya Yang MahaAgung lah yang pantas disandingkan dengan puja-puji.
“Assalamualaikum,” sapa Jinan.
“Waalaikumussalam,” balas Mutia, Rini, Yani, dan Dila bersamaan.
Seolah dikomando, satu per satu mereka berjabat tangan dan saling cipika-cipiki dengan Jinan.
“Kok hangat? Sakit?”
Mutia selalu menjadi orang yang paling perhatian di antara mereka. Ia sangat teliti dengan kondisi tidak biasa atau perubahan sikap pada sahabatnya. Jinan tersenyum senang.
“Biasa kok, gerimis kemarin,” jawab Jinan lembut.
Mutia mengerutkan kening. “Kapan gerimisnya? Mutia sampai rumah masih belum gerimis tuh.”
Jinan mengalihkan pandangan kikuk. Jarak rumah Mutia ke kampus sekitar 30 menit jika perjalanan lancar, sedangkan untuk ke kos Jinan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit tanpa kemacetan.
“Ada ikhwan lagi?” tanya Rini menatap curiga.
Semua mata menatap Jinan dengan mimik curiga dan juga minta penjelasan. Ada hal penting yang terjadi dan sahabat mereka satu itu tidak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
“Emm...bisa dibilang begitu,” ujar Jinan ragu.
“Jangan pakai kode, jawab yang jelas! Kami gak mau menduga,” ujar Rini tegas. Untuk hal tertentu wanita berperawakan mungil itu memang sangat intoleran.
Jinan menghela nafas, kepalanya menunduk. “Iya.”
Rini berkacak pinggang. “Sudah perjanjian kita kalau ada yang seperti ini gak ada sembunyi-sembunyi. Harus bicara terus terang, kan?”
Jinan tidak menjawab, ia hanya mengangguk lemah. Wajah Rini yang terlihat kecewa membuat ia merasa bersalah. Ia sudah melanggar janjinya.
Tiba-tiba dari arah belakang fakultas masuk seorang wanita berpipi cubby mengenakan kerudung hitam panjang hingga paha dan baju orange yang kebesaran hingga menyentuh lantai. Kacamata bundar bertengger di hidung peseknya menambah kesan manis kulit tan nan eksotis.
“Assalamualaikum,” sapanya ceria.
“Waalaikumussalam.”
Jinan, Rini, Dila, Yani dan Mutia menjawab serempak dan rutinitas itu kembali terulang. Saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.
“Eh? Hangat? Demam?” seru Melisa kaget.
Jinan tersenyum kaku dan mengangguk. Satu lagi pendeteksi handal seperti Mutia datang.
“Kenapa? Kok bisa? Kemarin masih baik-baik aja, kan?”
Lagi-lagi Jinan hanya tersenyum.
“Biasa, keras kepala,” ujar Rini keki.
“Sudahlah, lebih baik kita ke kelas. Jinan kalau sakit banget jangan malas ke UKS,” ujar Yani tegas menekankan kata ‘malas’ dalam kalimatnya.
Mereka tahu maksud Yani, Jinan bukannya malas atau tidak mau mengatakan perasaannya. Namun wanita bermata madu itu sering merasa enggan pada sahabatnya, ia tidak ingin merepotkan siapapun jika itu memungkinkan.
Jinan mengangguk. “Maaf gak bilang ke kalian.”
Melisa menatap bingung sementara yang lainnya tersenyum maklum kecuali Rini yang masih memasang wajah datar. Tidak menunggu waktu lama mereka akhirnya ke kelas bersama setelah sahabat yang ditunggu—Melisa—akhirnya sampai di kampus.
Jam perkuliahan berlangsung tenang. Hari ini jadwal kuliah hanya sekitar 4 jam dengan jeda di setiap jamnya selama 15 menit. Jinan masih mencoba bersikap tenang mendengarkan pejelasan dosen. Ia sadar jika kepalanya terasa sakit namun masih mencoba bertahan. Tidak lama lagi jam kedua perkuliahan akan segera berakhir, sangat disayangkan jika ia menyerah sekarang.
Usahanya tidak sia-sia, tepat sesaat setelah dosen mengakhiri kegiatan perkuliahan, Jinan jatuh dari kursinya. Ia tidak sadarkan diri. Mengundang pekikan kaget sahabat dan tatapan khawatir dari mata setajam elang.
Bersambung...
__ADS_1