
Aku kaget ketika seorang lelaki paruh baya masuk keruanganku dengan muka yang tampak kesal.
"mertuaku, untuk apa dia datang kesini, biasanya untuk berbicara denganku saja jarang, apa lagi sampai repot-repot menyusulku kekantor, pasti ada yang penting" kataku dalam hati.
"datanglah kerumah sakit HARAPAN BUNDA, kalau kau tak ingin menyesal seumur hidupmu" sambil meletakkan sebuah amplop coklat diatas mejaku.
kemudian dia pergi meninggalkan ruanganku. Siapa yang sakit, apakah Desi atau ibu, tapi kalau ibu yang sakit tidak mungkin ayah datang kesini, apakah desi sakit?. kuambil amplop coklat diatas meja dan kubuka.
"astaghfirullah !!!" aku tak percaya dengan isi amplop ini, apakah ini mimpi, dan kucoba membacanya sekali lagi, dan ini benar.
surat keterangan tentang tes kesuburanku yang ku lakukan bersama desi setahun yang lalu. Ternyata menyebutkan bahwa aku ini MANDUL, tak terasa air mataku jatuh berlinang.
"Ya TUHAN apa yang sudah aku lakukan dengan istriku, sampai-sampai aku menyia-nyiakannya" bisiku dalam hati.
Selama ini kedua orang tuaku menganggap bahwa desilah yang mandul, karena selama lima tahun pernikahan kami belum juga dikaruniai anak. Ibu selalu menyuruhku untuk menceraikan desi, dia selalu menyuruhku untuk menikah lagi agar ia bisa cepat menimang cucu. memang ibuku masih suka ikut campur dalam urusan rumah tangga kami, tetapi istriku desi tidak pernah mempermasalahkannya. Aku tahu ibu tidak suka dengan desi karena ketika kami akan menikah ibu tak memberikan restu, karena sebenarnya ibu telah memilihkan calon istri untuku, tapi karena aku tak mencintainya akupun menolak calon yang diajukan ibu dan aku menikahi Desi. Ibupun akhirnya memberikan restunya walaupun terpaksa.
Kehidupan rumah tangga kami sangat bahagia karena aku dikaruniai istri yang cantik dan sholeha, dia selalu sabar dalam menghadapiku, desi selalu mengalah jika terjadi pertengkaran diantara kami, dia selalu meminta maaf duluan walaupun tidak bersalah itulah yang menjadikan rumah tangga kami harmonis meskipun tanpa dikaruniai anak.
Memasuki usia pernikahan kami yang ke lima tahun Desi mengajaku memeriksakan kesuburan kami, memang dia sangat ingin sekali memiliki momongan, mungkin ini desakan dari ibuku yang selalu memojokannya. Memang selama ini aku selalu menolak jika ia mengajakku untuk memeriksakan kesuburan kedokter karena kesibukan kerja. Aku tak mempedulikan tentang momongan karena banyak juga dari rekan kerjaku yang sudah menikah lebih dari 5 tahun belum dikaruniai anak, padahal mereka subur, dan alasannya mungkin Tuhan belum memberikannya. Hal itu juga yang menjadi prinsipku "Kalau Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun usaha kita pasti belum ada hasilnya".
Setelah selesai pemeriksaan, beberapa hari kemudian Desi kembali kerumah sakit untuk mengambil hasilnya.
"bagaimana hasilnya" tanyaku pada desi yang kulihat telah membuka amplop dari dokter dan memasukannya kedalam hand bagnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah bi, hasilkan bagus, cuma kata dokter kita harus sabar dan banyak berdoa"
"kan abi bilang juga apa, umi sih gak percaya?"
"maafin umi ya bi, umi cuma ingin memastikan saja bi?"
"coba sini abi lihat amplopnya?"
"kan tadi umi dah kasih tau bi , masa abi gak percaya sama umi?"
"iya deh abi percaya sama umi?"
"makasih ya bi?"
"baik abi?"
Aku tak menaruh curiga sedikitpun kala Desi tak mau memperlihatkan isi amplop dari dokter itu, karena aku selalu percaya padanya walaupun kulihat mukanya tak seceria biasanya, ada raut wajah yang berbeda ketika ia membuka amplop itu, tapi aku tak pernah memperdulikannya.
Dan kini setelah satu tahun berlalu baru aku tau yang sebenarnya, dia menutupi segala kekuranganku tapi apa yang ia dapatkan justru hanya air mata dan kepedihan.
Aku masih ingat sore hari setelah kejadian itu ibu mengundang kami untuk makan malam.
sesampainya dirumah ibu, Desi langsung bergegas membantu ibu menyiapkan makan malam. Setelah hidangan sudah siap, kami segera menuju meja makan.
__ADS_1
"bagaimana hasil pemeriksaan kalian?" tanya ibu kepada kami
"aku subur bu begitu juga dengan desi" jawabku
"tidak mungkin, Kalau kalian berdua subur mana mungkin sudah lima tahun pernikahan masih belum dikaruniai momongan"
"mungkin Tuhan belum percaya dengan kami bu, jadi masih harus bersabar?"
"coba mana amplop itu, ibu ingin lihat hasilnya"
"kasihkan mi amplopnya, kamu bawakan?
"maaf bi, umi lupa tidak membawanya?"
"aduh gimana sih mi, kan tadi abi sudah bilang harus dibawa?"
"maaf ya bu, Desi lupa tapi hasilnya mas heru dan desi subur kok, tinggal bersabar dan berusaha lagi aja bu?"
"kamu bohong desi"
"sudahlah ibu, kalau ibu masih gak percaya biar kami pulang saja? jawabku
Aku kesal dengan perkataan ibu kepada desi, lalu kupaksa desi untuk pulang.
__ADS_1