Bidadari Surga

Bidadari Surga
Tujuh


__ADS_3

Suamiku menyisir rambutnya sebelum memulai makan sore kami, ia nampak tampan sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta padanya.


"Emm." Ujarnya yang membuat ku salah tingkah dan mengaduk makanan di depanku.


Makan sore telah selesai, ketika aku mau memencet bel tanda makan sore kami telah selesai.


Jam 8 malam waktu prancis..


Aku mengecek perusahaan ayahku dalam laptop dan aku tidak perlu menghawatirkannya karena semua aman terkendali. Ia telah selesai beribadah dan ia mengajakku untuk menyatu dengannya.


Aku menolaknya dengan halus tapi ia mengatakan.


"Dosa loh Dek menolak ajakan suami, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امرَأتَهُ إِلَى فرَاشِهِ فَلَمْ تَأتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا المَلائِكَةُ حَتَّى تُصْبحَ


"Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (HR. Bukhari). Ujarnya panjang lebar.


Aku mau tidak mau menuruti permintaannya dan aku juga ingat keinginan orang tuaku ingin segera memiliki cucu seorang cucu.


Aku dan dia menyatu sampai tiga kali, aku sama suami yang kelelahan kita tidur tanpa sehelai benang di tubuh kami di tutupi oleh selimut.n


Lutfi terbangun di tengah malam waktu prancis, ia mau melakukan mandi besar dan shalat tahajud.


"Ini semua jalanmu ya Allah, jadi aku ikhlas menjalan ini semua, jagalah pernikahan kami." Ujarnya ketika berdoa.


Ia tidak tidur di atas kasur kembali karena dirinya sudah mandi besar, dan ia juga tidak mau mengganggu istrinya yang sedang nyenyak tidur.


......Siti Aidah......

__ADS_1


Waktu kita di prancis tinggal 1 hari lagi, aku mengunjungi beberapa tempat yang indah bersama suamiku, aku ingin membuat suamiku berkesan paling tidak ia bisa cerita ke orang tuaku bahwa aku memperlakukan dengan baik.


Aku juga sepertinya sudah mengenalnya, ia laki-laki baik, lembut ketika aku berbicara dengan nada tinggi dan ia selalu memprioritaskanku, pokoknya sangat beda dengan mantanku Rico. Aku sangat beruntung karena ayahku menikahkan ku dengan lelaki yang tepat.


Aku mengajak suamiku untuk belanja oleh-oleh, pasti orang tuaku dan mertuaku senang mendapat oleh-oleh dari kami, tapi lagi-lagi dia merasa tidak enak karena belanja memakai uangku dan ayahku.


Kita pergi ke toko souvenir dan toko kue khas paris (La Cure Gour Mande dan Paperdolls). Di toko kita cari-cari souvenir yang bagus dan rada terjangkau hehe, setelah dapat tiga souvenir kita ke toko kue khas paris aku beli empat duanya untuk ngemil di pesawat.


Aku dan suami pulang ke hotel, aku rebahan di atas kasur karena kelelahan belanja.


"Akang pijitin iya, biar capenya hilang." Ujarnya dengan lembut.


"Iya Kang boleh." Sahutku dengan mengubah posisiku dengan tengkurap.


Ternyata pijatan dia enak sekali dan membuatku mengantuk, ketika aku tertidur dan aku tersadar bahwa ia memindah posisi tidurku dengan lembut dan ia memakaikan ku dengan selimut, tapi aku bangun ketika ia selesai berdoa setelah shalat.


Malam harinya ia membaca buku yang pernah ia pelajari, sedangkan aku memainkan handphone dan mengapload photo-photo liburanku dan suami disini.


Aku tidak mengerti dengan suamiku, padahal dia di hina oleh mantanku tapi ia tidak marah sama sekali.


--------------------


Keesokan harinya...


Aku dan dia siap - siap untuk pulang ke indonesia, aku siap untuk bekerja kembali di perusahaan ayahku, ia juga telah siap untuk memberikan ilmunya di pondok pesantren yang ayahku beli.


Untuk oleh-oleh karyawan di kantor aku belinya di jakarta saja disini harganya lumayan mahal, aku sekarang seperti manager keuangan hehe.

__ADS_1


Ayah dan ibuku mengabari kami bahwa mertuaku sudah berada di rumah orang tuaku, aku dan suami sudah berada di dalam pesawat, aku tidur menyenderkan ke jendela pesawat begitu pun dengan suami.


Beberapa jam kemudian pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan selamat, aku menghubungi ayahku jika kami sudah berada bandara Soekarno-Hatta.


Kita menunggu di luar bandara sambil mengemil kue khas paris, saking lama menunggu kami telah menghabiskan kue sisa makan di pesawat baru mobil ayahku sampai. Mereka turun dari mobil termasuk mertuaku yang ikut menjemput kami.


Aku menyalami dan memeluk ibuku dengan erat, giliran aku menyalami ayahku dan memeluknya juga, begitu ia melepas rindu dengan orang tuanya, aku hanya menyalami saja kepada mertuaku, sesudah kita melepas rindu dengan orang tercinta kita menuju pulang ke rumah orang tuaku.


Di tengah perjalanan aku melihat toko souvenir, aku menyuruh stop kepada sang supir untuk berhenti.


"Kok malah berhenti sayang?" Tanya ibuku heran, bukan hanya ibuku yang heran tapi semuanya terkecuali suamiku.


"Aku mau beli oleh-oleh untuk karyawan kantor Mah." Sahutku lalu aku masuk ke dalam tokonya.


Setelah memilih aku menemukan barang yang cocok dan bagus untuk oleh-oleh para pekerja yang membantu perusahaan keluarga kita. Karena tidak mungkin barang yang aku beli di masukan ke dalam mobil aku menyuruh untuk mengantarkan ke rumah. Pemilik toko setuju aku pun masuk kembali ke dalam mobil.


Perjalanan kita sudah sampai di rumah orang tuaku, rasanya kangen dengan rumah ini setelah beberapa hari di tinggal. Kedatangan kita di sambut oleh bi Ati dan asisten rumah tangga yang lainnya. Orang tua dan mertuaku mengobrol di ruang tamu sedangkan aku ke kamar untuk membuka baju kotor dan oleh-oleh untuk mereka.


Aku meminta tolong kepadanya untuk membawa baju-baju kotor kita ke bawah untuk di beri ke para asisten, sedangkan aku membawa oleh-oleh untuk orang tua kita.


Mereka sangat bahagia ketika aku memberi oleh-oleh, ketika kita sedang heboh ada mobil dari souvenir yang aku pesan. Setelah semua di turunkan aku menulis nama-nama karyawan kantor di gelas antik.


Ketika aku sedang pokus menuliskan nama-nama karyawan, mertuaku pamit untuk pulang mereka naik angkutan kota untuk menuju ke rumahnya.


Pekerjaanku telah selesai aku berbaring di sofa, suamiku izin pergi ke masjid untuk melakukan shalat dzuhur, ia menyodorkan tangannya untuk salam, aku pun salam dan aku kaget ia mencium keningku, kejadian itu di lihat oleh kedua orang tuaku ketika mereka mau ke dapur tapi suami ku tidak melihat.


"Akang pergi dulu iya Dek." Ujarnya.

__ADS_1


"Iya Kang." Sahutku singkat.


Orang tuaku meledek tapi mereka senang, aku melanjutkan rebahannya ke dalam kamar, aku menelpon Lina asistenku di kantor dan aku memberi tahunya bahwa besok kembali bekerja.


__ADS_2