
Setelah selesai dari pemakaman aku langsung ingin menemui ibu, aku ingin menyampaikan amanah dari Desi.
tok-tok !!!
kemudian keluar seorang wanita
paruh baya membukakan pintu.
"tumben kamu kesini jam segini emang gak kerja"
"gak mah, heru habis takziah"
"siapa yang meninggal" tanya ibu penasaran
"Desi"
"astaga!!!, yang bener kamu her" ibu melotot karena kaget dan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"iya bu, dia berpesan padamu untuk menyampaikan permintaan maafnya ke ibu, karena dia tak sempat kesini?"
"iya ibu maafin, memangnya dia kenapa?"
"sakit kanker bu?"
"Ya Allah kasian baget dia?"
"iya bu, harusnya ibu kasian sama dia bukannya selalu menyakitinya?" jawabku sedikit kesal dengannya bukannya ia yang harusnya minta maaf karena sering menyakitinya, bukannya bersimpatik malah dia tetap saja acuh.
__ADS_1
"satu lagi bu?" sambil menyerahkan amplop coklat yang sudah kupersiapkan dari tadi.
Kulihat ibu membacanya dengan seksama.
Tak berapa lama kini kulihat ekspresi wajah nya berubah.
"Jadi selama ini yang mandul itu kamu her?" suaranya terdengar lemah
Butir-butir air mata kini jatuh menetes dipipinya, dan tubuhnya mulai lunglai diatas sofa. Kudekati ibu sambil membantu memperbaiki posisi duduknya.
"kita selama ini salah menilai Desi bu?"
"kita banyak menyakitinya, aku tak tau lagi bu, jika sarah tau kondisiku apa dia masih bertahan denganku?"
"rahasiakan hal ini darinya, jangan sampai ia tahu" jawab ibu
"itu urusan nanti, yang penting sekarang kita bakar surat ini?"
"terserah ibu saja, aku sudah lelah dengan permainan ini?"
Kemudian heru pergi meninggalkan ibunya menuju kekamarnya. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dilanjutkan dengan sholat Dhuha. Setelah selesai ia kini tengah duduk sambil membuka dairy Desi yang kini ada ditangannya.
Dear dairy,
assalamu'alaikum dairy sahabatku, hari ini aku senang sekali karena Mas heru akhirnya melamarku, setelah dua tahun lamanya kita berpacaran. Minggu depan adalah hari pernikahanku, Ya Allah lancarkanlah semuanya amiiin.
Kemudian kubuka lembar berikutnya,
__ADS_1
Assalamu'alaikum dairyku, Hari ini hari pernikahanku semoga semua berjalan lancar dan aku gak tau kenapa hatiku dag dig dug gak karuan. Ya Allah berilah hatiku ketenangan agar bisa menjalani hari ini dengan senyuman .
Aku tersenyum melihat catatan diawal dairy yang berisi kebahagiaan awal pernikahan kami, dan ki buka lagi lembar demi lembar tanpa terlewat.
*Assalamu'alaikum dairy,
Kenapa setelah pulang dari rumah sakit sifat Abi berubah, dia yang dulu hangat dan penyanyang, kini berubah menjadi dingin dan pemarah. Apa mungkin dia kecewa dengan kondisi kakinya yang tidak bisa berjalan, sehingga melampiaskannya kepadaku???. Ya Allah berilah hambamu kesabaran untuk Melawati ujian ini. Hari berganti kondisi mas heru kini mulai membaik, aku selalu melatihnya berjalan dipagi hari dan rutin mengantarnya pergi terapi, Alhamdulillah Allah mengbulkan doa-doa ku kini mas heru sudah bisa berjalan lagi walaupun dengan bantuan tongkat. Aku sangat bahagia, mudah-mudahan dia juga akan berubah tidak dingin lagi terhadapku.
Hari ini mas heru mulai masuk kerja lagi, seperti biasa aku siapkan sarapan untuknya, dan semua keperluannya. Setelah selesai sarapan aku mengantarnya kedepan pintu, kucium tangannya, namun dia tetap diam tanpa kata, bahkan kebiasaan mencium keningku saat akan berangkat kerja juga ia tidak lakukan. Entah apa yang kini membuatnya seakan-akan semakin menjauhi ku, sakit hati ini menerima perlakuannya selama beberapa bulan ini. Ingin sekali kutanyakan padanya ada apa?, apa salahku, tapi ketika aku mulai bertanya dia pasti akan memarahiku.
Biarlah, mungkin ini ujian dariNya untukku.
Sudah seminggu mas heru kembali bekerja dan ia mulai melepaskan tongkatnya kini ia berjalan normal lagi, entah kenapa hari ini aku merasa tidak enak, hatiku berkata terjadi sesuatu dengan mas heru, karena sudah tengah malam ia belum pulang juga. Keberanian untuk menelponnya.
"hallo, assalamualaikum bi?'
"waalaikum salam?"
"abi belom pulang, masih banyak kerjaan ya bi?" kataku dengan nada pelan agar dia tidak marah
"kalo sudah tau ngapain nelpon!" jawabnya dengan suara tinggi
"iya bi, umi cuma mau ngecek keadaan abi saja, kalau abi masih ada kerjaan selesaikan saja?"
"kamu gak usah menungguku pulang, karena aku akan menginap dirumah ibu?"
"iya abi, assalamualaikum?"
__ADS_1
kemudian kututup teleponnya. aku sangat sedih mendengar jawaban abi yang selalu marah jika berbicara denganku, rasanya sudah tidak kuat. sudah setahun abi memperlakukan ku seperti ini, dia mendiamkan aku, sering marah tanpa alasan bahkan dia sering mengabaikanku saat diranjang. air mataku tak berhenti berlinang, ya Allah sampai kapan ujian ini akan berakhir*.