Bidadari Surga

Bidadari Surga
Episode 2


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian dirumah ibu, aku tak lagi mengunjunginya karena masih marah dengan perlakuannya kepada desi.


dreet dreet dreeet


Kubuka pesan yang masuk ke WhatsApp ku, aku tercengang dengan foto yang ada dipesan itu. Foto Desi tengah makan berdua dengan mantan kekasihnya. Hatiku langsung bertambah panas ketika kulihat screen shot percakapan antara desi dengan lelaki itu. Belum lagi reda amarahku muncul lagi foto sebuah bucket mawar dengan ucapan selamat ulang tahun dari Arya untuknya.


Aku tak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh Desi, kalau masalah belum dikaruniai anak aku masih bisa terima, tapi kalau sudah berselingkuh aku tak bisa menolerirnya lagi. Sudah habis kesabaran ku kali ini, walaupun aku sangat mencintainya tapi kali ini sudah keterlaluan. Pantas saja akhir-akhir ini kulihat dia sering sekali pergi keluar.


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi aku masih enggan untuk pulang, aku tak ingin melihatnya.


dreet...dreeet


Kulihat pangilan dari desi, segera kuletakan lagi hpku kemeja, karena aku malas mengangkatnya. Kucoba memejamkan mata sejenak tapi tetap tidak bisa.


dreeet...dreeeet


Lagi-lagi sebuah panggilan masuk dari desi.


"assalamu'alaikum bi?"


"waalaikum salam, maaf ada rapat mendadak jadi aku belum bisa pulang?" jawabku sedikit berbohong agar dia tidak khawatir


"iya bi, jangan lupa makan ya?"


"iya, yaudah abi tutup dulu ya?"

__ADS_1


"iya bi, assalamu'alaikum"


"waalaikum salam?"


Entahlah semarah apapun aku dengannya, jika mendengar suaranya aku menjadi lebih tenang, akhirnya kuputuskan untuk segera pulang kerumah.


Dalam perjalanan pulang kerumah ibu menelponku.


"haloo bu ada apa?"


"kau sudah membaca pesan dari ibukan?"


"iya ibu kenapa"?


"kenapa ....masih nanya kenapa lagi, segera kau ceraikan istrimu itu, sudah mandul tukang selingkuh lagi, apa yang bisa diharapkan dari seorang wanita seperti dia?"


braakk!!!


Sebuah benturan yang sangat dahsyat dari truk kontainer membuat mobilku terlempar menabrak bahu jalan. Dan setelah itu aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi.


Ku coba membuka mataku, samar-samar kulihat Desi yang tengah tertidur disebelahku sambil menggenggam tanganku. Ku coba melepaskan genggaman tangannya, dan itu membuatnya terbangun.


"kamu dah sadar bi?"


aku hanya mengangguk, kemudian kulihat dipergi keluar dan kembali lagi dengan seorang dokter.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya pak heru sadar juga, anda sangat beruntung memiliki istri seperti bu Desi, karena dia yang selama ini telaten merawat bapak"


kucoba tersenyum meski hati ini masih sakit mengingat bukti-bukti perselingkuhan Desi.


Tak berapa lama setelah dokter selesai memeriksa ku ibu datang bersama Sarah. Sarah adalah wanita yang dari dulu ingin ibu jodohkan denganku.


"kau sudah sadar her?"


aku hanya mengangguk. Kemudian ibu menyuruh Desi untuk keluar membeli makanan, Desi segera melaksanakan perintah ibu.


"heru, ibu sudah memberitahukan sarah tentang rencanaku, untuk menikahkan kamu dengannya, sekarang tinggal menunggu keputusanmu?"


Aku sangat terkejut dengan ucapan ibu, bagaimana mungkin dia bisa mengatakan itu padahal kondisiku masih belum pulih.


"heru, jawablah jangan diam saja?"


"baiklah jika kau hanya diam berarti ibu anggap kamu setuju dengan rencana ibu?"


"maaf bu aku belum bisa, ibu tahu kondisiku jangankan untuk menikah lagi, untuk berjalan saja aku harus belajar lagi bu?"


"apa sarah mau punya suami cacat dan tidak bisa jalan sepertiku?" kucoba memberikan alasan agar ibu tidak memaksaku menikahi sarah.


Karena bagaimanapun juga aku masih belum siap untuk berpisah dengan desi aku masih mbutuhkannya sampai kondisiku membaik, kalaupun nanti aku harus berpisah dengan desi bukan begini caranya.


"baiklah kalau itu maumu, ibu tunggu sampai kau sehat kembali".

__ADS_1


Kemudian ibu bergegas pergi meninggalkanku dengan penuh kekesalan.


__ADS_2