
Kututup dulu diary itu, aku sudah tak kuat menahan rasa sedih ini, mengingat perlakuanku padanya.
Adzan zhuhur mulai berkumandang aku bergegas menuju kemasjid untuk sholat Dzuhur berjamaah.
Rasanya sudah lama sekali aku tak melaksanakan sholat berjamaah di masjid. setelah selesai sholat aku tak langsung pergi meninggalkan mesjid aku masih ingin melepaskan Rindu dengan Robbku yang telah lama ku tinggalkan.
Sambil berdzikir aku mulai merasakan ketenangan batin yang selama ini tak pernah kurasakan, dilanjutkan dengan mendokan Desi serta mengirimkan alfatiha untuknya.
Sepulang dari masjid kulihat Sarah sudah pulang.
"dari mana mas?" sapa sarah
"dari masjid "
"tumben mas, emang mas kenapa kog gak masuk kerja?"
"Desi meninggal sar, tadi aku habis nyolawat kerumahnya?"
"innalillahi, ya allah kok mas ga hubungi aku biar bisa ikut takziah tadi?"
"aku gak sempat sar, maaf ya?"
"yaudah klo gitu aku siap-siap mau takziah sekarang?"
"iya"
Sarah segera menuju kekamar untuk berganti pakaian, tak berapa lama ia sudah keluar dengan baju serba hitam.
"ibu udah kesana belum mas?"
"belum?"
"yaudah aku ajak ibu sekalian ya"
aku hanya mengangguk.
Kemudian ia segera mencari ibu.
"ibu mau ikut Sarah ga?"
__ADS_1
"kemana?"
"takziah kerumah mbak Desi?"
"boleh"
"yaudah buruan ibu ganti baju, sarah nunggu dimobil sama mas Heru ya?"
"ok"
*****************************************
setibanya dirumah Orang tua Desi kami disambut oleh senyuman dari Umi Haryati.
"assalamu'alaikum"
"walaikum salam, bu besan apa kabar?" sapa umi dengan ramah
"Alhamdulillah, baik?" jawab ibu datar
"sarah gimana, sehat nduk?" tanyanya lagi
"monggo masuk?" ajaknya
"abi kemana, mi?" tanyaku kepada umi
"lagi beres-beres kamar desi, kan nanti mau ditempati oleh Alia ?"
"yaudah, heru bantu abi ya mi?"
"gak ngrepotin her?"
"gak kok mi?"
"ya sudah klo gitu silahkan?"
Sesampainya dikamar Desi aku melihat abi sedang membereskan buku-buku di meja baca.
"biar heru aja yang beresin bi?"
__ADS_1
"oh iya her, tolong bantuin beresin ya?"
"baik bi?"
"didepan ada siapa, her?"
"ada ibu dan sarah"
"oh, abi tinggal kedepan dulu ya?"
"silahkan bi?"
Kuberesi semua buku-buku bacaan Desi, dan kumasukkan kedalam kardus. Hobinya dulu adalah membaca sehingga banyak sekali koleksi bukunya. setelah selesai kini kubereskan baju-bajunya yang ada dilemari. kumasukkan semuanya kedalam dus kecuali satu yaitu baju gamis kesayangannya. Gamis warna peach sebagai kado ulang tahunnya yang ke tigapuluh. Dia selalu terlihat cantik ketika memakainya. Dan akupun suka melihat dia memakai baju itu.
setelah selesai kupandangi foto pernikahan kami yang masih dipajang dikamar itu, sungguh bahagia saat itu. Sungguh aku sangat merindukan saat itu, saat indah bersamamu.
Kini kamar desi telah bersih dan rapi, barang-barangnya sudah kupacking ke dalam kardus. kubuka laci meja disamping ranjang kami, kulihat sebuah kotak kecil berwarna merah disana, kubuka kotak itu dan ternyata berisi cincin pernikahan kami. kuambil dua buah cincin itu, satu kupakai dan satunya kusimpan lagi kedalam kotak kecil itu. Aku berjanji akan selalu memakai cincin pernikahan ini.
Kulihat ibu masih asyik berbincang dengan umi dan abi.
"sudah selesai her?"
"sudah bi, terus mau diapain barang-barangnya?"
"terserah kamu her, kamu kebih berhak?"
"yaudah sumbangin aja bi ke yang membutuhkan?"
"baiklah kalo gitu?"
Kemudian kami pamit pulang kepada Umi dan abi.
"heru, pamit dulu ya mi, yang sabar ya her, banyakin doa, gak ada yang gak mungkin kalo Allah sudah berkehendak?"
"iya mi, doakan heru mi?"
"sarah juga harus banyak berdoa, supaya heru bisa sembuh?"
"emang mas heru sakit apa, umi?"
__ADS_1
semua yang ada disitu saling berpandangan, begitu juga ibu yang kaget dengan ucapan umi.