
Alesya hanya terdiam saat melihat tingkah Azada “hahaha iya terserah mu saja”, Alesya menatap Azada “mumpung kau ada disini, ajari aku untuk menggunakan sihir” Azada lebih mendekat ke Alesya lalu membisikkannya “kenapa kau ingin belajar sihir?” Alesya terkejut karena Azada membisikkan nya dan mulai mundur perlahan “hahaha karena ada suatu hal pribadi” Azada hanya terdiam “pasti karena masa lalu mu kan” gumamnya.
Alesya terkejut “hah apa yang kamu bilang?!” Azada tersenyum “tidak ada kok” Azada memegang tangan Alesya dan membawa nya kesuatu tempat dengan sihir berpindah tempat “nah sudah sampai” Alesya takjub dengan tempat tersebut yang memiliki suasana sepi. “Tempat apa ini? Kenapa banyak sekali buku buku” tanya Alesya sambil kegirangan dengan tempat tersebut “tempat ini adalah Menara sihir ku” jawab Azada. Alesya terkejut “apa? Beneran” Azada memegang tangan Alesya dan membawa nya ke suatu ruangan “kita mau kemana lagi?” sambil keheranan, Azada menjawab pertanyaan Alesya “kesuatu ruangan yang ada buku sangat kau butuh kan” Alesya hanya diam saja mendengar perkataan Azada.
Mereka sampai tepat didepan ruangan tersebut, akan tetapi untuk memasuki ruangan tersebut mereka harus memberikan sebagian sihir mereka sebelum memasuki ruangan itu “kita harus memberikan sebagian kecil sihir kita” ucap Azada ke Alesya “kenapa?” tanya Alesya kepada Azada, “Karena ruangan ini tidak semua orang bisa memasukinya, dengan memberikan sihir kita, ruangan ini bisa mengetahui maksud orang tersebut memasuki ruangan ini” Alesya mengganggukkan kepalanya “baiklah kalalu begitu” mereka memberikan sihir mereka kepada ruangan tersebut. Pintu tersebut terbuka TAP TAP mereka memasuki ruangan tersebut, saat memasuki ruangan tersebut alangkah terkejut nya Alesya melihat sesuatu yang ia cari ada didalam sihir kegelapan “tunggu inikan buku keluarga ku?!” Azada mengganggukkan kepalanya “KENAPA BISA DISINI?” Azada melihat kearah Alesya “buku ini sangat berbahaya karena mata yang diwariskan turun temurun dikeluarga mu” Alesya mendekat kebuku tersebut “pasti karena kekuatan mata ini” “ya” jawab Azada, Alesya mengambil buku tersebut dengan menusuk tangan nya dengan pedang yang ada disitu, lalu darah nya sambal merubah matanya menjadi berwarna merah. Saat mengambil buku tersebut Alesya merasa tubuh nya sangat berat “ugh” dan tiba tiba saja ada asap yang entah datang dari mana WUSH buku tersebut sudah berada digenggaman tangan Alesya. Azada melihat Alesya “kau sudah menguasai mata mu ya” tanya Azada ke Alesya “seperti yang kau lihat sendiri” Azada tersenyum mendengar jawaban tersebut, “kekuatan apa yang membuat buku ini berbahaya bagi mata ini?” Azada menghiraukan Alesya dan keluar dari ruangan tersebut “jangan membicarakan itu disini” Alesya hanya menurut lalu dia keluar dari ruangan tersebut.
Alesya menahan Azada yang sedang terus berjalan “hei apa jawaban atas pertanyaan ku?” Azada melihat Alesya “apakau tau tentang legenda tentang bagaimana bisa keluarga Harrison memiliki mata itu?” Alesya mangangguk kepalanya “karena berjanjian dengan iblis kan?” jawab Alesya “ya memang benar tapi untuk lebih jelas nya, setiap seratus tahun sekali harus memilih seseorang untuk membunuh keturunan Esme dan itu dilakukan untuk mempertahankan mata keluarga harrison” Alesya mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Azada “apa bagaimana bisa?!” Azada menganggukkan kepalanya “akan tetapi pemilihan tersebut bukan hal sepeleh, jika orang yang terpilih tidak bisa membunuh keturunan esme maka dia mengalami regresi (mengulang waktu) terus menerus dan dikehidupannya tidak akan pernah bahagia sebelum dia membunuh keturunan esme” Alesya sangat terkejut mendengar perkataan Azada “tunggu jadi maksud mu untuk memberhentikan regresi tersebut harus membunuh keturunan esme?!” Azada menganggukkan kepalanya “tidak mungkin….” Alesya sangat kecewa saat mengetahui kebenaran tersebut. Azada sangat khawatir dengan Alesya “mau bagaimana pun kau harus mengetahui ini Alesya” dalam hati, Azda mendekat kearah Alesya lalu mengajak nya untuk jangan murung “ayolah jangan terlalu dipikir kan, pasti ada jalan keluar yang lain” sambil tersenyum, Alesya sadar bahwa tidak ada gunanya untuk kecewa “huh kau benar juga, kalau begitu mari kita mulai belajar sihir” ucap Alesya, Azada memegang tangan Alesya “itulah yang ini kudengar dari seorang Alesya” Azada menggunakan sihirnya untuk berpindah tempat Kembali kemenaranya .
__ADS_1
Sesampainya di Menara sihir nya Azada langsung memberikan Alesya batu sihir yang berwarna biru dari saku nya “ambillah ini dan aku minta tolong pada mu nona, anggap kita berdua tidak pernah bertemu” Alesya mengambil batu sihir tersebut dari tangan Azada dan ia mengamati batu sihir yang berada ditangannya “tunggu mengapa kamu mengetahui bahwa ku butuh dengan ini” selesai Alesya berbicara satu kalimat ia hendak bertanya kepada Azada akan tetapi dirinya sudah berada dikamarnya dan Azada menghilang dari hadapannya.
“Dasar orang aneh” ucapnya, Alesya menaruh batu sihir itu didalam kotak yang ada didiatas meja riasnya lalu menguncinya, Alesya mengarah kelemari bajunya lalu membuka pintu lemari lalu menyembunyi kan kunci kotak itu didalam lemari bajunya lalu menutup Kembali pintu lemari itu, “baiklah jika kusembunyikan seperti ini tidak akan ketahuan bukan?” pikirnya, Alesya mengambil lonceng yang ada diatas meja rias nya lalu menggoyangkan suara tersebut TING Shilvia langsung datang kekamar Alesya “ya nona ada apa anda memanggil saya?” tanya Shilvia Alesya duduk kursi kerjanya dan tersenyum “siapkan kertas surat dan tinta pena Shilvia”, Shilvia mengiyakan perkataan Alesya “baiklah nona” Shilvia pun pergi mengambil apa yang disuruhkan oleh Alesya, Alesya melihat kearah jendela “sepertinya sebentar lagi kita akan bertemu Reynard Graysen”.
Shilvia masuk kekamar Alesya sambil membawa tinta pena dan kertas surat lalu menaruhnya dimeja kerja Alesya “nona bisakah saya bertanya kepada siapa anda menulis surat ini?” Alesya dengan santai nya menjawab “kepada tuan muda keluarga Graysen” “oh” Shilvia terdiam sejenak “tunggu maksud anda adalah tuan muda Reynard?!” Shilvia terkejut karena Alesya ingin mengirim surat kepada reynard, Alesya menganggukkan kepalanya “nona? Anda serius dengan ini?!” Alesya menjawab dengan singkat “ya”, Alesya pun menulis surat yang berisi [Hai bagaimana kabar anda tuan muda Reynard Graysen? Jika baik baik saja saya punya permintaan yaitu ingin bertemu dengan anda dikediaman saya atau dimana pun itu, jika anda tidak keberatan bisakah kita bertemu?” -dari Alesya Amelia Harrison-] “nah surat nya sudah selesai, mari kita stempel lalu kita kirim kekediaman garysen” Alesya memberikan surat tersebut ke Shilvia untuk dikirim ke Reynard, di kediaman Graysen butler yang Bernama eden memberikan surat dari Alesya ke Reynard “tuan muda ada surat untuk anda dari nona tertua keluarga harrison”.
Selesai menulis surat balasan dan memberi stempel Reynard langsung menyuruh Eden mengirim surat tersebut kepada Alesya, “cepat kirim kan ini kepada lady Alesya” ucap Reynard, Eden melalukan apa yang disuruh kan oleh Reynard, Reynard melihat kearah jendela “akhirnya sebentar lagi kita akan bertemu lady” gumamnya sambil tersenyum, keseokan harinya.
__ADS_1
Shilvia datang kekamar Alesya sambil mambawa kabar bahwa sudah ada surat balasan dari Reynard “nona ada surat untuk anda” Shilvia memberikan surat tersebut kepada Alesya “dari Reynard ya?” Shilvia menganggukkan kepalanya “cepat juga dia mengirim surat balasannya” Alesya membuka surat tersebut lalu membacanya, surat tersebut berisi [Salam dari saya Reynard Graysen untuk lady Alesya Amelia Harrison, kabar saya baik baik saja lady terimakasih sudah khawatir pada saya, saya menerima permintaan lady untuk bertemu, mari bertemu ditoko makanan manis yang baru saja buka lady, sampai jumpa besok pagi nanti -Reynard Graysen-] Alesya selesai membaca surat tersebut lalu memberikan lagi surat tersebut kepada Shilvia “ambil ini, ku sudah selesai membacanya” Shilvia mengambil surat tersebut lalu membuangnya.
Alesya berpikir “kukira sangat sulit untuk bisa bertemu dengannya, menurut mu juga begitu kan Shilvia?” Shilvia mendekat kearah Alesya “ah saya juga pikir begitu, apalagi dengan rumor yang bermunculan tentang anda adalah seorang anak haram dan juga penyihir” Alesya melihat kearah kotak yang ada dimeja riasnya mengeluarkan cahaya “ya sepenuhnya tidak salah” Shilvia terkejut mendengar atas perkataan Alesya lalu memegang pundak Alesya dan menggoyangkan.
“Nona anda jangan murung karena rumur itu ok?!!” Shilvia terus menggoyangkan pundak Alesya, “ugh baiklah” Shilvia berhenti memegang pundak Alesya lalu tenang Kembali, Alesya berdiri lalu berjalan mengarah kelemari bajunya dan membuka pintu lemari “dimana ya ku simpan benda itu” sambil mencari sesuatu, Shilvia penasaran apa yang sedang dicari oleh Alesya dilemari baju.
“Apa yang sedang and acari nona?” tanya Shilvia kepada Alesya “ada benda yang cukup penting, nah ini dia” Alesya akhirnya menemukan kunci ia sembunyikan “kunci?” ucap Shilvia yang sedang penasaran, Alesya berjalan menuju kearah meja riasnya lalu membuka kotak itu dengan kunci yang ia pegang. KREK keluar cahaya berwarna biru yang sangat terang dari batu sihir tersebut, “sudah kuduga batu sihir ini bukan hanya batu sihir biasa” dalam hati, Shilvia khawatir dengan Alesya yang memiliki batu sihir “nona anda dapat dari mana benda ini?!” tanya Shilvia ke Alesya “hhmm mungkin dari rubah licik?” jawab Alesya dengan tenang, kaki Shilvia seketika lemas saat mendengar jawaban dari Alesya “kumohon semoga nona ku ini baik baik saja” dengan suara yang begitu lemas, Alesya bingung melihat Shilvia “kau kenapa?” tanya Alesya ke Shilvia, Shilvia mendekat kearah Alesya lalu menggoyangkan tubuh Alesya “nona tau kah anda betapa khawatirnya saya dengan anda?” sambil memasang wajah yang begitu lesu, lagi lagi Alesya menjawab dengan tenang sambil tersenyum “hahaha tenanglah Shilvia”.
__ADS_1