
Ricardo terkejut mendengar perkataan Alesya, "Hahaha kukira kau akan menolak kakak mu ini Alesya" Ricardo pun memeluk Alesya dengan erat, Alesya hanya terseyum "sial gara-gara kau rencana ku jadi harus diundur" dalam hati. Mereka berdua pun pergi keruangan bawah tanah, saat berada diruangan tersebut Alesya melihat sekitar ruangan yang dipenuhi benda benda tataja "jadi yang mana yang akan dia pakai ya?" ucap Alesya dalam hati. Tiba tiba pelayan muncul sambil membawa jarum, tali dan besi panas, Ricardo melihat kearah Alesya "adik ku yang kusayangi kira kira kau mau bermain apa?" tanyanya sambil tersenyum, Alesya melihat kearah ketiga benda tersebut "kalo aku memilih jarum bisa saja dia memberikan racun, kalo ku memilih besi itu pasti sulit untuk sembuh, jadi aku akan memilih tali" dalam hati, Alesya pun menunjuk kearah tali tersebut. "Yang lebih suka mainan yang lama ya?" ucap Ricardo sambil tersenyum "pastinya dong" ucap Alesya dengan santai, Alesya melepaskan gaunnya dan membalikkan badanya lalu menggigit sebuah kain yang ada disitu, Ricardo pun mengambil tali tersebut dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi kalau itu adalah kemauan dari adikku" Ricardo menatap tajam kearah punggung Alesya dan mencambuk nya dengan tali itu dengan sangat keras sampai sampai punggung nya tersebut mengeluarkan darah yang banyak "bagaimana Alesya apakah menurutmu permainan kita kali ini menyenangkan?" ucap Ricardo dengan senang "ugh kurasa begitu" jawab Alesya sambil menahan rasa sakit, Ricardo berhenti memukulinya dan Ricardo diam sejenak lalu mengepalkan tangannya "kenapa kau hanya menjawab seperti itu Alesya?!" ucap Ricardo dengan kesal, Ricardo pun langsung mencambuk Alesya lebih keras lagi sampai meninggalkan bekas luka yang banyak "aku hanya perlu menahannya sampai tengah malam" ucap Alesya dalam hati. Tengah malam pun tiba Ricardo berhenti bermain dan menyimpan tali yang ada ditangan nya itu dimeja "sepertinya waktu bermain kita sudah berakhir, aku sungguh sedih adikku" ucap Ricardo dengan lesu, Alesya pun melepaskan kain yang ia gigit dan memakai kembali gaunnya, "saya izin pamit dulu kakak" Ricardo mendekat kearah Alesya dan memeluk nya dengan erat.
__ADS_1
"Ugh" ucap Alesya merasa kesakitan karena punggungnya dipeluk dengan erat. Ricardo membisikkan sesuatu ke Alesya "kuharap kau jangan macam macam dengan ku, atau tidak kau tau sendiri akibatnya" ucap Ricardo, Alesya hanya terdiam dan membungkukkan badanya lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah tersebut. Saat Alesya masuk kekamarnya ternyata Shilvia sudah ada didepan pintu "nona anda pergi kemana!" ucap Shilvia dengan khawatir, Alesya masuk kekamarnya dan hendak kekamar mandi "tadi aku sedang bermain" ucap Alesya dengan tenang. Shilvia terkejut melihat punggung Alesya yang sudah dipenuhi dengan darah "nona punggung anda kenapa!!!??" tanya Shilvia dengan nada keras sambil mengkhawatirkan Alesya, Alesya hanya terdiam dan menjawab dengan tenang "kan sudah kubilang kalau tadi aku habis bermain" "JANGAN JANGAN INI ADALAH ULAH TUAN RICARDO?!!" ucap Shilvia sambil marah, Alesya mengangukkan kepalanya "maafkan aku Shilvia, sepertinya kita tidak bisa pergi malam ini" Alesya memegang bahu Shilvia, Alesya menggelengkan kepalanya "tidak apa nona, yang saya inginkan adalah diri anda sehat selalu" ucap Shilvia sambil menahan air mata. Alesya tersenyum "kalau begitu mau kah kau membantu ku membersihkan luka ini?" Shilvia menganggukkan kepalanya, Alesya melepaskan semua pakaiannya lalu Shilvia pun mengobati luka yang ada dipunggung Alesya "nona apakah sakit?" ucap Shilvia dengan khawatir "tidak kok" Alesya menjawab dengan tenang. Selesai mengobati luka tersebut Alesya melihat punggungnya dengan cermin "ternyata banyak sekali luka yang membekas, menyebalkan" gumamnya, Alesya pun memakai baju tidurnya dan pergi tidur "kuharap ku besok bisa mati saja" dalam hati. "Nona bangun, ini sudah pagi" terdengar suara Shilvia yang sedang membangunkan Alesya sambil membuka gorden, Alesya pun membuka matanya lalu duduk dikasurnya "selamat pagi Shilvia" sambil menggosok matanya "selamat pagi juga nona" sambil tersenyum.
__ADS_1