Bite Me, Presdir

Bite Me, Presdir
Ch. 11


__ADS_3

Bab. 11


Setelah urusannya di luar negeri selesai, Tama segera bergegas untuk kembali ke kotanya. Di mana ada seseorang yang tengah menunggu dirinya.


Walaupun bukan siapa-siapnya, namun Tama sudah melakukan perjanjian tak kasat mata dengan wanita itu.


"Tanggal berapa sekarang?" tanya Tama pada asistennya, Hanjie.


Hanjie menatap ke arah pergelangan tangannya. Lalu mengangkat wajah demi melihat ke arah majikannya.


"Tanggal dua puluh empat, bulan sebelas, Tuan," jawab Hanjie yang sangat sigap sekali.


Tama sedikit tersentak. Ia pikir hari ini masih hari ke enam dari pria itu menghisap darah Meena. Itu artinya sekarang Meena akan merasakan sakitnya yang luar biasa itu.


"Segera menuju ke tempat lokasi syuting hari ini." perintah Tama tanpa mengucap alasannya kepada Hanjie.

__ADS_1


Meskipun sedikit heran sekaligus bingung, namun Hanjie mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Tama. Karena jika di lihat dari raut wajahnya, tampaknya permasalahan yang sedang majikannya hadapi itu pasti sangat mendesak. Sampai-sampai menyuruh dirinya untuk segera menuju ke lokasi syuting. Di mana sudah lama Tama tidak melihat ke lokasi secara langsung.


"Baik, Tuan," sahut Hanjie lagi. Karena pria itu tidak ada pilihan lain selain menuruti semua kemauan majikannya.meskipun yang sebenarnya terjadi ialah tubuhnya terasa sangat remuk. Ingin segera untuk di rebahkan di ranjangnya.


Baru lima menit mereka turun dari pesawat dan masuk ke dalam mobil, Tama sudah ingin melakukan hal yang mengharuskan dirinya ikut.


Sesampainya di tempat lokasi, ternyata mereka baru saja selesai mengemas peralatan yang mereka pakai hari ini untuk syuting di sini. Tentu saja untuk cadangan, tanpa di suruh pun Hanjie menanyakan keberadaan orang yang kemungkinan sedang ingin di temui oleh presdirnya.


Kebetulan juga Hanjie melihat ada seseorang yang bertugas mengambil gambar dari kamera satu. Pria itu tampak sedang mengemasi barangnya.


Ini lebih baik daripada dirinya yang turun mencarinya sendiri. Akan sangat heboh nanti kalau sampai itu terjadi dan banyak para staf yang melihat dirinya berada di sana.


"Oh, Dilla?" ulang pria yang dipanggil Hanjie dengan sebutan Jo tersebut tengah memperjelas pertanyaan Hanjie.


"Kalau Dilla sudah pulang, Pak. Dia tampak pucet banget. Sepertinya sakit kepalanya kambuh lagi." ungkap pria itu.

__ADS_1


"Dj rumah sakit?" tanya Hanjie. Dia memang pernah mendengar kondisi Dilla yang saat ini sakit.


Jo tampak mengingat sesuatu. "Tadi kata asistennya sih di rumah sakit Gantari, Pak. Mau saya antar ke sana?" tawar Jo.


Dengan cepat Hanjie menggelengkan kepalanya.


"Makasih," ujar Hanjie sebelum berlalu dari sana.


Karena jawaban dari Jo lah, di sini Tama berada. Melihat sosok pasien yang merintih kesakitan dengan kondisi yang tak berdaya.


Tama semakin mendekat ke arah ranjang pasien. Lalu memberi sentuhan di tangan wanita itu.


Tanpa kata permisi lebih dulu, Tama langsung menggigit di bagian yang tidak bisa di lihat okeh dokter sewaktu wanita ini diperiksa. Oleh sebab itu Tama menggigit leher Meena bagian terdalamnya.


Butuh waktu lina menit untuk membuat Meena tenang dan tidak merintih lagi. Sangking lelahnya akibat merangsek sedari tadi, akhirnya Meena memejamkan kembali katanya. Kali ini ini benar-benar Meena tidak sadar sama sekali kalau ini Tama.

__ADS_1


__ADS_2