
Bab. 23
Tama terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Meena. Dia tahu, dan dia sadar jika wanita ini masih marah padanya. Namun, mau bagaimana lagi, ia terpaksa bersikap seperti ini demi menjaga jarak dengannya.
"Paling tidak, di sini aku menjamin keselamatanmu," jawab Tama kemudian.
"Ck! Aku bisa jaga diri." decak Meena. "Selama ini aku sendiri dan aku masih bisa hidup sampai sekarang. Jika memang tidak mau terikat hubungan denganku, jangan kasih harapan yang semu." ingat Meena.
Wanita itu benar-benar muak dengan segala sikap Tama. Pun Meena juga muak dengan dirinya sendiri.
Selama ini banyak pria yang mendekatinya, sesama manusia normal sepertinya. Juga mereka bersikap lebih baik dan lebih perhatian di bandingkan Tama. Namun, entah kenapa Meena tidak bisa membuka hati kepada mereka dan malah terjerumus ke dalam pesona pria dingin yang begitu kejam sebenarnya.
Meena sendiri juga tidak mengerti, apa sebenarnya yang ia sukai dari Tama. Karena sejujurnya, selain wajahnya yang tampan dan juga kaya, pria itu tidak memiliki kelebihan. Seperti sikap yang lembut dan penuh perhatian, misalnya. Pikir Meena.
Tama sendiri berusaha untuk menekan emosinya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya pria itu pada akhirnya. Menatap penuh maksud ke arah Meena.
__ADS_1
Meena menghentikan langkah kakinya tepat sampai di dekat pintu. Wanita itu menoleh ke arah Tama. Presdir yang entah kenapa bisa ia menaruh hati padanya. Di tambah lagi dengan waktu yang sangat singkat dan interaksi yang cukup nekad sekali.
"Aku ingin pulang," jawab Meena singkat juga. Tidak mau menaruh harapan lagi kepada orang itu. "Buka pintunya," pinta Meena kemudian. Menoleh sekilas ke arah Tama lalu membuang mukanya kembali.
Meena takut, jika melihat ke arah Tama hatinya akan goyah dan akan semakin dalam rasa yang ia punya untuk pria yang seharusnya tidak boleh ia dekati.
Sedangkan Tama sendiri begitu geram melihat sikap Meena yang terus membantah dan mengabaikan dirinya.
"Kamu tahu keadaan kamu saat ini benar-benar bahaya, tidak?" tanya Tama dengan rahang yang mengeras. Bahkan beberapa kali pria itu mencoba untuk mengambil napas panjang. Namun, tetap saja wanita yang ada di depannya benar-benar menguji dirinya.
"Nggak!" jawab Meena cepat. "Lagi pula, kalau sampai terjadi apa-apa kepadaku pun juga nggak akan ada yang merasa kehilang—mmpphh!"
Ya. Tama membungkam mulut Meena dengan bibirnya. Menekan tengkuk wanita itu, sedang tangan yang satunya menahan pinggang Meena agar wanita itu tidak menjauh darinya.
Awalnya Meena terkejut dengan serangan yang tiba-tiba Tama lancarkan kepadanya. Menepuk bahu pria itu agar melepas dirinya. Namun, permainan bibir Tama sungguh mampu melenakan dirinya. Sampai-sampai membuat Meena secara perlahan mengikuti permainan pria itu tanpa sadar.
Tama semakin memperdalam ciuman di antara mereka. Padahal mulanya niat pria itu hanya ingin membuat Meena terdiam dan tidak membantah ucapannya. Namun, kenyataan berkata lain rupanya. Wanita itu benar-benar terasa manis. Padahal Tama tidak sedang menghisap darahnya. Pantas saja ada klan lain yang dari ras vampir juga mengincar Meena.
__ADS_1
"Aaahhh!" desis Meena ketika wanita itu benar-benar kehabisan napas gara-gara Tama tidak memberimu waktu jeda.
Kini, wajahnya terasa begitu panas. Tidak berani menatap pria yang masih menangkup wajahnya agar mengarah ke arah Tama.
"Sekarang, dengerin aku. Aku akan bertanya satu kali lagi, dan aku tidak akan menawarkan penawaran untuk kedua kalinya. Paham?" ucap Tama tetap tidak memindahkan tangannya.
Posisi di antara mereka terlihat begitu dekat. Seolah seperti sepasang kekasih yang berusaha membujuk kekasihnya.
Meena sendiri menatap intens ke arah pria yang juga menatap ke arahnya dengan tatapan begitu dalam.
Bohong jika Meena mengatakan kalau saat ini keadaan dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Karena pada kenyataannya jantungnya sungguh tidak nyaman. Ditambah lagi posisi mereka yang begitu dekat dan tangan Tama masih berada di wajahnya.
Kemudian Meena memberi anggukan samar sebagai jawaban dari pertanyaan Tama barusan.
"Kamu lebih memilih bersamaku, atau bersama dengan orang yang mengejarmu tadi?" tanya Tama dengan tatapan begitu intens. "Kalau memilih denganku, kamu harus percaya dan patuh dengan apa yang kukatakan, mengerti?" imbuh Tama.
Tama berharap Meena memilih dirinya, meskipun ia tidak bisa memberikan apa yang Meena mau. Cukup tinggi resiko yang harus di bayar nantinya kalau sampai dirinya melanggar aturan. Tama sendiri juga tidak yakin kalau dirinya bisa melalui itu dengan tenang.
__ADS_1
Sementara Meena terdiam. Memikirkan pertanyaan Tama barusan.