Bite Me, Presdir

Bite Me, Presdir
Ch. 21


__ADS_3

Bab. 21


"Kita sudah melewati portal ketika anda mengedipkan mata tadi, Nona. Jadi bisa dibilang kita berada di tempat yang berbeda dengan tempat Nona sebelumnya. Tetapi masih di dunia yang masih sama. Hanya saja tempatnya yang berbeda," jelas Charles.


Entah, sudah berapa kali Meena dibuat terkejut oleh kenyataan yang dia alami sendiri. Bak di dunia game, Meena bisa berpindah tempat ke manapun dirinya mau hanya dengan mengedipkan mata barang sebentar saja.


Tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung ke samping. Beruntung, ada seseorang yang dengan cepat menahan tubuhnya. Menjaga keseimbangan tubuh Meena hingga tidak sampai membuat wanita itu jatuh.


Kepala Meena pusing. Terasa sakit yang teramat. Mencerna semua yang terjadi kepada dirinya. Lalu melihat sosok orang yang baru saja membantu dirinya agar tidak jadi jatuh. Hal itu cukup mengejutkan Meena dan membuat pandangan Meena memudar lalu gelap seketika.


Ya. Meena akhirnya tidak sadarkan diri. Di samping tubuhnya yang lelah, psikisnya juga terlalu shock.


"Tempatkan beberapa orang di apartemennya," titah orang yang kini tengah membopong tubuh Meena kepada Charles.

__ADS_1


Charles yang langsung menunduk dengan tangan yang ditekuk di dada serta sedikit menjongkok dengan sebalah kaki yang dilipat ke belakang bersamaan dengan tangannya tadi, pun memberi salam dan hormat kepada majikannya.


"Saya laksanakan, Tuan," jawab Charles yang masih menunduk.


Setelah menjawab seperti itu, Charles yang sadar diri akan posisinya pun segera pamit undur diri dan kembali ke tempat di mana dirinya menjemput Meena tadi. Tentu, pria itu menghubungi rekannya dan melaksanakan perintah dari majikan mereka.


Sedangkan orang yang dipanggil dengan sebutan Tuan tersebut pun membawa Meena ke ruang yang berukuran sangat luas. Mungkin setara dengan apartemen Meena. Bahkan tiga kali lipatnya.


"Kenapa kau sangat ceroboh sekali?" tanya orang itu sesaat setelah merebahkan Meena di atas ranjang dengan kain yang berwarna gelap.


"Kenapa kau malah bawa dia ke sini?" tanya seseorang yang baru masuk ke dalam ruang kamar yang sangat luas tersebut dengan membawakan pakaian wanita di tangannya.


Pria yang tengah duduk di sisi ranjang pun menoleh. Berdecak kesal karena rupanya pria yang sekarang menuju ke arah ranjang tersebut ternyata ada di kastilnya.

__ADS_1


"Ck! Kau sendiri ngapain ke sini dan malah membawa baju perempuan?" tanya pria yang duduk di sisi ranjang yang tidak lain ialah Tama. "Apa pekerjaanmu bisa kau tinggalkan begitu saja?" tanya Tama lagi pada orang yang tak lain ialah Hanjie. Asisten yang selalu mengikuti ke manapun dirinya pergi.


"Aku hanya takut jika perempuan dari rasku dimakan oleh ras kalian tanpa adanya sebuah perjanjian," sahut Hanjie yang lebih berani dari sebelumnya.


Tama tersenyum miring serta melirik sinis ke arah Hanjie.


"Kau lupa, dia sudah mengikat kontrak denga—"


"Lebih tepatnya kau yang mengikatnya tanpa dia ketahui," potong Hanjie cepat. Membuat Tama mendengkus kesal. "Jangan lupakan fakta yang ada, Tuanku," imbuh Hanjie sembari menaikkan alisnya.


Tama mendengkus kesal. Sikap asistennya ini sungguh kurang ajar jika berada di luar kantor. Lebih lagi sekarang ini mereka ada di kota Vardiant dan tengah berada di kerajaannya. Kerajaan Voirosh. Di mana Tama yang menjadi pemimpin dari klan mereka. Terdapat keluarga besarnya di kota ini. Sehingga membuat Tama untuk menaruh Meena di sini terlebih dulu, sebelum keadaan di koya perempuan itu benar-benar aman. Tentu, aman untuk Meena.


"Mau apa kau!" sentak Tama ketika Hanjie mengabaikan dirinya dan justru malah mendekat ke arah Meena. Di tambah lagi tangan asistennya tampak ingin meraih baju Meena.

__ADS_1


Tentu saja tindakan Hanjie tersebut membuat Tama mendelik tidak terima jika ada yang menyentuh Meena.


__ADS_2