
Bab. 25
Satu bukan sudah Meena tinggal di kerajaan milik Tama. Jangan tanyakan berapa kali dalam satu hari wanita itu mengeluh meminta untuk pulang ke rumahnya. Namun, tetap Tama tidak bisa memberi ijin lebih dulu sebelum keadaan di luar benar-benar sudah aman untuk Meena.
Hingga puncaknya saat ini. Wanita itu terus menerus mengikuti ke manapun Tama pergi. Bahkan tidak takut masuk ke dalam kamar pria itu hanya demi merengek meminta pulang. Dengan alasan ingin bekerja seperti biasa dan bertemu dengan manager serta asistennya.
"Keadaannya masih genting, Meena," ucap Tama berusaha menyadarkan Meena.
Namun, bukan Meena namanya jika tidak membalasnya dengan alasan yang lain.
"Tapi aku di sini enggak nyaman banget, Tama. Lagi pula, di sini aku bosen. Nggak melakukan apapun. Bahkan, menyirami bunga pun juga nggak boleh. Mereka tinggal mengarahkan tangan mereka, lalu keluarlah air dari udara. Ini bukan duniaku banget," balas Meena.
Tama menahan tawanya di saat Meena menceritakan hal tersebut. Padahal sudah satu bulan, tetapi wanita itu masih belum terbiasa hidup berdampingan dengan rasnya. Padahal banyak manusia yang ingin belajar ilmu yang dikuasai oleh ras vampir. Namun, wanita ini justru malah merasa sebaliknya.
Semenjak hari itu, hubungan mereka semakin hari semakin dekat. Bahkan saling memanggil nama. Tidak ada kecanggungan seperti pertama bertemu. Karena Tama juga berusaha untuk mengimbangi gaya bicara Meena dan bergaul dengan wanita itu.
Selama satu bulan ini juga, Tama mengerjakan pekerjaannya melalui Hanjie. Pria itu yang sepertinya bolak balik keluar masuk dimensi yang membatasi dunia mereka.
Tama? Tentu saja sang Presdir menemani wanita yang setiap saat mengeluh bosan dan pingin pulang. Namun Tama tidak mau mengambil resiko. Sebab, ia sudah mengikat kontrak dengan Meena dan harus menjaga keselamatan wanita itu.
"Tapi drama yang kubintangi gimana? Masa iya tetiba aja pemerannya di ganti? Mana aku dikabarkan sedang menikmati liburan, lagi. Yang ada nanti pas aku kembali, mereka bakalan nuduh aku yang enggak enggak," ucap Meena lagi.
Tentu saja, sebagai seorang artis papan atas, Meena tidak bisa seenaknya sendiri bertindak. Karena nama besarnya lah yang menjadi taruhan atas perilakunya kalau sampai berbuat masalah sedikit saja.
Tidak membuat masalah, terkadang masih di salah-salahkan. Apalagi berbuat salah. Ya jelas makin di goreng oleh media.
"Sudah kucancel," ucap Tama begitu enteng.
Membuat Meena melebarkan Matanya. Baru mengetahui fakta yang satu ini. Karena sebelumnya yang Meena tahu ialah, drama yang sedang ia bintangi itu mempunyai perubahan rencana. Di mana yang semula akan tayang bulan enam, kini berubah tayang di bulan sepuluh. Sangat jauh sekali perubahannya. Walau begitu Meena tetap bersyukur. Paling tidak ia masih mempunyai pekerjaan.
Akan tetapi, setelah mendengar apa yang Tama katakan barusan, membuat wanita itu terduduk seketika di tempatnya kembali. Rencananya yang ingin mengikuti langkah kaki Tama yang tengah menuju ke halaman samping pun dia urungkan.
"Dibatalkan? Uangku melayang," lirih Meena dengan ekspresi yang seolah kecewa.
Bukan tanpa alasan Meena merasa kecewa. Karena untuk bisa membintangi drama barunya itu, Meena harus bersaing dengan ratusan artis lain yang juga ikut casting. Namun beruntungnya dirinya lah yang terpilih di antara artis hebat tersebut. Walaupun sekarang cara berhentinya juga sangat simpel. Sangat tidak Meena sangka atau berpikir ingin berhenti di tengah jalan. Apalagi lawan mainnya itu Edgar. Aktor terkenal san mempunyai segudang penghargaan di dunia perfilman dan juga drama.
Tama mendengkus pelan melihat Meena yang tampak kecewa karena uangnya akan melayang. Tentu, bayaran wanita itu jelas tidak sedikit. Namun, dibandingkan dengan keselamatannya seharusnya Meena tahu mana yang lebih penting.
"Nanti aku yang ganti rugi," sahut Tama.
Bagi sang Presdir, tentu uang juga bukanlah hal yang sangat berarti. Walaupun akan mengalami kerugian yang cukup banyak, itu masih bisa di atasi oleh Hanjie.
__ADS_1
"Beneran?" tanya Meena seolah meminta kepastian dari Tama mengenai apa yang sudah terucap tadi.
Tama menoleh ke arah Meena, lalu mengacak rambut wanita itu.
"Kalau urusan sama uang aja, cepet banget," sindir Tama seraya terkekeh pelan.
Meena menyengir malu. "Ya gimana lagi. Orang hidup yang dicari uang kok. Coba kalau nggak punya uang, mana bisa kita beli makanan. Enggak, kan? Makanya, uang itu dalam hidupku merupakan tatanan paling atas pokoknya. Nggak bisa digeser atau diturunkan. Bohong jika ada yang bilang uang itu nomor sekian. Yang penting kumpul sama keluarga. Nah, kalau kumpul-kumpul gitu pas nggak punya uang, apa ya bisa beliin makanan atau cemilan. Yang ada kelaparan semua. Bukan bahagia yang di dapat, melainkan saling mengeluh karena lapar. Bener, nggak?" ucap Meena.
Mungkin, bagi orang yang kaya dari lahir, tidak akan menganggap uang itu segalanya. Karena mereka sudah memilikinya bahkan tanpa kerja keras sedikit pun.
Tama terdiam. Menatap wanita yang sekarang ini berdiri di sampingnya. Bagaimana bisa wanita ini menganalisis uang sedemikian rupa. Perasaan jika melihat dari latar belakangnya, Meena bukanlah berasal dari kalangan yang dasar-dasar banget.
"Ya sudah, nanti aku uang yang banyak. Nggak usah kerja sekalian," ucap Tama mencoba untuk mengalihkan topik.
Meena secara refleks memukul lengan Tama. Pria yang Tenga mengenakan kaos obrol dan celana bahan itu meringis sembari mengusap lengannya. Meskipun terasa tidak sakit sama sekali.
"Kenapa malah di pukul, sih?" tanya Tama tidak mengerti.
Sedangkan Meena menekuk mukanya.
"Terus kalau aku nggak kerja, mana ada pria yang mau menikahi wanita pengangguran sepertiku?" kesalnya.
Tama baru sadar, jika manusia seperti Meena memiliki umur yang lebih singkat daripada ras dirinya. Hingga sebuah hubungan pernikahan itu sangatlah di nanti oleh mereka. Tidak seperti Tama yang cenderung lebih santai. Bahkan kata menikah saja tidak ada di dalam benaknya.
Tubuh Meena membeku seketika. Mengerjapkan matanya beberapa kali dan berharap jika semua ini hanyalah mimpi belaka. Karena memang Meena sangat ingin dekat dengan pria itu. Namun sayangnya semesta jelas tidak akan setuju.
"Anda bisa tidak, jangan menjerumuskan saya, Pak Presdir Tama yang tampan?" balas Meena setelah berhasil menguasai perasaannya sendiri.
Tama mengernyit, menatap ke arah Meena yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Maksudnya?" tanya Tama yang memang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Meena.
Meena yang tersadar karena terbawa suasana, pun segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak. Lupakan saja," ucap Meena. Lalu wanita itu berjalan keluar dan memutar arahnya hingga sampai di depan bangunan kastil yang disebut sebagai kerajaan Tama.
***
Hari ini Meena tampak begitu senang. Pasalnya, wanita itu di bawa pulang ke apartemennya. Apartemen yang sudah lama sekali tidak dia tempati.
"Kenapa sih? Senang banget kayaknya?" tanya Tama penasaran.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil dan menuju ke apartemennya Meena.
"Buanget dong. Akhirnya aku terbebas!" sahut Meena begitu semangat.
Selain bebas, Meena bisa bertemu dengan manager Sita dan Digta. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
Tama menggelengkan kepala melihat sikap Meena yang lebih dibilang seperti anak kecil. Wanita itu bahkan sampai bersenandung ria. Sementara Tama sendiri tengah mengemudi dan sebentar lagi sampai di bangunan apartemen yang sudah satu bulan ini Meena tinggalkan.
"Beneran udah mau kerja lagi?" tanya Tama. "Bukannya lebih enak menikmati kekayaanku saja?" lanjutnya lagi sembari menoleh sekilas ke arah Meena, lalu menatap ke arah jalan setelah menggoda Meena.
Tentu saja dengan cepat Meena menggeleng kepala.
"Nggak, ah! Nanti ditutut sama asisten kamu," balas Meena.
Satu bulan tinggal bersama, membuat kedekatan di antara mereka berkembang. Bahkan Tama sudah tidak seperti Tama yang dulu lagi. Pria itu tidak sekaku dan sedingin dulu. Tama bisa bercanda. Namun tetap, hanya kepada Meena saja sikap pria itu berubah. Jika dengan yang lain, tetap dingin dan datar.
"Hanjie?" tanya Tama lebih jelas lagi.
Meena menatap ke arah Tama sembari menganggukkan kepala dan mengerjakan mata manja. Membuat senyum di bibir Tama terulas. Sangat tipis, namun mampu membuat jantung Meena mengeluarkan alarm. Bahaya sekali jika dirinya terus menerus melihat Tama yang tersenyum begitu manis seperti sekarang ini.
"Ck! Dia nggak bakalan berani memarahimu," ujar Tama.
"Kenapa? Pak Hanjie kan galak banget. Nggak pernah kasih kesempatan bawahannya kalau lagi ada kesalahan tanpa disengaja. Bahkan nggak menunggu berganti menit udah main pecat aja." sahut Meena yang masih mengingat betul bagaimana sikap Hanjie kepada karyawan yang melakukan kesalahan tanpa sengaja. Lebih lagi ketika berada di tempat syuting.
Tama terkekeh mendengar aduan dari Meena. Memang seperti itulah Hanjie membangun karakternya.
"Tapi kalau sama kamu nggak berani. Kamu lupa? Waktu itu dia pernah mau marahin kamu, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kamu ngomelin dia nggak jelas. Bahkan sampai berani menarik kerah kemejanya," ingat Tama membuat Meena menutup wajahnya.
Malu sekali jika mengingat kejadian tersebut. Pasalnya ia yang salah paham. Yang membelikan baju kurang bahan seperti yang pernah Meena lihat itu bukanlah Hanjie. Melainkan asisten perempuan. Karena mereka melihat Meena yang berstatuskan sebagai artis papan atas, sudah jelas suka pakaian yang glamour dan seksi kurang bahan. Tetapi ternyata Meena sungguh berbeda. Wanita itu malah lebih suka mengenakan pakaian santai dan tidak terlalu mencolok. Pun begitu dengan warnanya.
"Iihh ... jangan diingetin kejadian itu, Presdir!" rengek Meena sembari mencubit lengan Tama.
Lagi dan lagi Tama terkekeh melihat sikap Meena yang ternyata sangat manja dan mudah sekali marah.
"Makanya, apa-apa itu diselidiki dulu sebelum menuduh orang. Jangan asal tuduh yang ada malah malu, kan?" ingat Tama.
Meena mengangguk. Lalu wanita itu menanyakan manager Sita untuk mengalihkan topik agar dirinya tidak terpojokkan seperti ini.
"Tadi udah hubungin Kak Sita?" tanya Meena sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas slempang kecil yang ada di pangkuannya.
Tama terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Meena. Membuat wanita itu terus mendesak jawaban pada Tama.
__ADS_1
"Pak Presdiiirr ...." Meena menatap memohon pada Tama. Karena ia sangat merindukan sosok wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
Sementara Tama tetap mengunci mulutnya meskipun Meena menggoyangkan lengannya yang sebelah.