Bite Me, Presdir

Bite Me, Presdir
Ch. 24


__ADS_3

Bab. 24


Tentu, Meena nggak akan salah pilih orang. Jika di antara mereka berdua sama-sama dari klan yang sama, lebih baik Meena akan memilih orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa memang sebahaya itu?" tanya Meena dengan wajah polosnya.


Entah, pergi ke mana wajah yang sedang cemberut dan juga kesal kepada Tama tadi.


Satu sudut bibir Tama tertarik ke atas. Ternyata sangat mudah membujuk seorang wanita. Diberi sedikit sentuhan yang juga menguntungkan dirinya, sudah membuat wanita itu luluh.


"Kalau nggak percaya ya silahkan saja. Semua terserah padamu," jawab Tama seraya melangkah melewati Meena dan menuju ke arah pintu kamarnya.


Meena pikir pria itu akan meninggalkan dirinya. Namun ternyata salah. Tama berbalik arah di saat Meena mengejar dan berniat untuk menghentikan pria sang Presdir agar tidak meninggalkan dirinya. Hingga benturan itu tidak terelakkan lagi.


Meena yang merasa sakit di bagian kepala karena menabrak dada Tama yang keras, menatap ke arah pria itu dengan muka yang ditekuk.


"Kenapa enggak bilang kalau berhenti sih, Pak. Kan sakit ini jadinya keningku!" protes Meena kembali menatap kesal.


Tama menghembuskan napas secara kasar. Bingung sendiri menghadapi seorang wanita yang moodnya tidak menentu. Seperti wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Sebentar ceria, sebentar ngambek, dan sebentar lagi merayu dirinya. Benar-benar mahkluk yang rumit untuk dipahami memang.


"Iya, iya. Aku percaya sama Pak Presdir. Tapi bisakah pulangkan aku sekarang juga? Banyak barang-barang yang beli kubawa," pinta Meena menatap memohon ke arah Tama.


Tama menghela napas kasar. Wanita ini apa masih belum mengerti juga.


"Masalah keperluannu, biar disiapkan oleh Hanjie. Istirahatlah di kamar itu. Aku tahu kamu shock dengan kejadian ini apalagi kenyataan yang memaksa membuatmu menerima," ujar Tama yang menyuruh Meena untuk kembali ke kamar yang sebelumnya ditempati tadi.


"Pekerjaanku?" tanya Meena.


Jika dirinya tidak boleh kembali, lalu bagaimana dengan pekerjaannya yang masih padat. Bahkan drama yang baru dibintanginya pun baru beberapa kali syuting.


"Sita yang akan mengurus semuanya," jawab Tama begitu santai dan sangat singkat.


Tentu, bukan Meena namanya jika pertanyaannya tidak mendapat jawaban yang sangat memuaskan.


Wanita itu merentangkan tangannya tepat di hadapan Tama. Menghadang sang Presdir agar tidak pergi meninggalkan dirinya di kamar sendirian.


"Apa hubungan Pak Presdir dengan manager Sita? Sepertinya kalian dekat banget?" tanya Meena penasaran. Bahkan manager Sita dengan begitu santai bisa menyuruh nyuruh Presdir Tama sesuka hati.


"Sudah pernah saya jawab."


Meena mengeram kesal. Pria ini benar-benar tidak bisa diajak bicara santai dan panjang.


Meena tidak kehabisan akal. Wanita itu memutar otaknya, mencari pertanyaan apa lagi yang bisa ia layangkan pada Tama.


Sambil mengikuti langkah Tama yang mengarah ke ruangan lebih besar dari kamar yang sebelumnya Meena tempati, juga ada beberapa orang yang berdiri tegap di setiap sisinya, membuat Meena sedikit merasa kurang nyaman.


Namun Tama tidak menghiraukan wanita itu. Pria miskin ekspresi itu memilih duduk di sofa panjang dengan sandaran yang sangat tinggi dan mewah. Benar-benar memperlihatkan kalau pria itu sangat kaya dan berkuasa.


"Duduk," perintah Tama ketika melihat Meena yang malah berdiri dan pemandangan yang mungkin masih asing bagi wanita itu.

__ADS_1


Meena yang tersadar pun langsung mendekat. Bukannya duduk di sofa yang lain, namun Meena justru duduk di sofa yang sama dengan Tama. Bahkan jaraknya sangat dekat. Sampai-sampai membuat para pengawal yang ada di ruangan tersebut dengan sigap dan cekatan mengangkat senjata mereka dan diarahkan ke arah Meena.


Sontak, membuat wanita itu terkejut dan juga takut. Refleks mendekat ke arah Tama dan memeluk lengan pria itu.


"Keluar kalian!" teriak Tama ketika merasakan tangan Meena yang gemetar memeluk lengannya.


Tama menatap tajam ke arah pengawalnya dan seketika mereka langsung membubarkan diri tanpa menyisakan satu orang saja di ruangan itu.


Tama mengusap lengan Meena yang wajahnya bersembunyi di lengannya.


"Sudah ... aman," ucap pria itu menenangkan Meena.


Meski takut dan belum terbiasa dengan dunia barunya, perlahan Meena mengintip dan melihat tidak ada pria-pria yang tadi berdiri di sekitar mereka.


"Mereka kenapa sih, enteng banget ngarahin senjata ke orang lain. Memangnya nyawa aku murah banget, ya?" omel Meena setelah berhasil mengatasi ketakutannya.


Wanita itu segera memberi jarak dengan Tama. Tidak mau dekat-dekat lagi. Ia masih sangat sayang dengan nyawanya, daripada inginnya yang memang selalu dekat dengan pria itu.


Senyuman tipis terbit di bibir Tama. Sangat tipis sekali, hampir tidak terlihat sama sekali.


"Mereka hanya tidak ingin kamu celaka," ujar Tama. Membuat Meena menoleh dan menatapnya dengan tatapan tidak terima.


"Tidak celaka gimana? Orang mereka nodong senjatanya ke arahku!" sahut Meena cepat. Bagaimana bisa pria itu beranggapan kalau yang tadi itu hanya tidak ingin dirinya tidak celaka.


Raut wajah Meena yang menggemaskan di mata Tama saat melayangkan kalimat protesan tersebut pun membuat Tama tertawa kecil. Bisa-bisanya wanita itu melayangkan ptotes dengan ekspresi merajuk seperti itu.


"Ck! Nggak usah ditahan juga kalau emang pingin tertawa. Sebelum kusuruh bayar nanti," sindir Meena.


Sementara Meena menatapnya kesal. "Ya sudah, aku tidur di mana?" tanya Meena.


Entah kenapa tubuhnya terasa lelah dan kepalanya mulai terasa pusing kembali.


"Di kamar yang tadi," jawab Tama seperti biasa. Singkat dan jelas.


"Ada pakaian gantinya, nggak? Yang ini udah kotor," tanya Meena lagi.


Kali ini Tama tidak membalas. Pria itu kemudian meraih ponselnya dan tampak menghubungi seseorang.


"Siapkan dalam dua puluh menit!" titah Tama pada orang yang sedang dia hubungi saat ini.


Sementara Meena menunggunya dengan menjelajah ke area ruang sebelahnya. Sama, terlihat seperti yang ada di negeri dongeng.


Wanita itu benar-benar mengagumi bangunan yang baru beberapa menit dia masuki.


"Ini beneran rumah Pak Presdir?" tanya Meena yang masih tidak percaya.


Sedangkan Tama ikut berdiri sembari menggulung lengan kemejanya hingga batas sampai siku.


Pria itu berjalan di belakang Meena, juga ikut menatap ke arah yang dilihat oleh wanita itu.


"Kenapa? Jelek ya?" tanya Tama membuat Meena kaget. Karena gaya bicara Tama barusan bukanlah gaya bicara pria itu selama ini.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Meena malah tertawa mendengar Tama berbicara dengan nada seperti itu.


"Kenapa? Ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Tama lagi.


Meena berusaha untuk menghentikan tawanya. Meskipun tidak keras, namun terlihat sangat jelas sekali.


"Enggak. Aku lebih suka Pak Pres—eh, Pak Tama seperti ini. Penampilan dan juga gaya bicara yang santai, membuat orang di sekitar Pak Tama juga merasa nyaman. Tidak harus memberi jarak hanya sekedar untuk berinteraksi saja. Jangan kaku-kaku juga kalau ketemu sama orang lain. Biar banyak temen," jelas Meena.


Tama memicingkan mata ke arah Meena. Kenapa wanita ini begitu banyak bicara. Seolah sangat mengenal dirinya. Padahal baru beberapa minggu saja mereka bertemu secara langsung dan tidak terlalu dekat sebenarnya. Namun, Meena bersikap seolah mereka sudah kenal sejak lama.


"Kok jadi kamu yang ngatur? Di sini kan atasannya itu aku?" protes Tama mengenai sikap Meena. Pria itu memasang wajah datar nya dan tatapannya masih sama seperti sebelumnya.


Bukannya merasa bersalah atau takut, Meena justru kembali tertawa. Kemudian wanita itu berjalan ke arah jendela yang ada di sisi kirinya. Ia pikir, jendela itu akan memperlihatkan taman bunga dengan berbagai warna. Seperti apa yang pernah ia lihat di buku-buku dongeng.


Namun, sepertinya itu hanya berada di dalam negeri dongeng saja. Nyatanya di bawah saja tampak begitu gelap. Sampai-sampai membuat Meena merinding sendiri. Ia segera menjauh dari sana dan Tama masih setia mengikuti langkah kaki wanita itu. Sesekali Tama melirik ke arah penjaga yang ada di dekat mereka dan menyuruhnya untuk segera menjauh atau pergi dengan sorot matanya.


"Hanya memberi saran saja, Pak Tama. Kalau anda tidak mau melakukannya, ya itu hak anda," ucap Meena mengenai kalimat keberatan dari Tama tadi.


Tama memilih diam. Dari pada ia sahuti, yang ada Meena akan semakin terus membahas dirinya.


"Sejak kapan kamu mengalami sakit kepala?" tanya Tama. Ingin tahu sejak kapan Meena mulai tersiksa dengan rasa sakit itu dan bagaimana cara Meena mengatasinya selama ini.


Bahkan dengan obat obatan terbaik pun sakit itu tidak akan sembuh. Karena memang sudah temurun dari nenek moyang klan tersebut dan hanya bisa disembuhkan dangan cara seperti yang Tama lakukan kepada Meena.


Meena menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah pria yang ada di belakangnya. Mendongakkan kepalanya. Karena memang Tama sangat tinggi.


"Pak Tama tahu sesuatu tentang penyakit yang saya derita?" tanya Meena tampak begitu antusias.


Tama mengangguk. Di mana anggukan kepala pria itu semakin membuat Meena penasaran. Ingin tahu apakah ada metode lain untuk menyembuhkannya.


"Apa ada cara lain?" tanya Meena dengan tatapan penuh harap.


"Apanya?"


"Ngobatinnya. Ada cara lain, nggak?" desak wanita itu.


Kali ini bukan anggukan yang Meena terima. Melainkan gelengan kepala dari pria itu. Seketika merubah raut muka Meena yang semula penuh harap, kini menjadi lesu dan seolah tidak mendapat solusi mengenai penyakitnya.


"Apa itu artinya aku harus berada di dekat Pak Presdir?" tanya Meena lagi. Matanya mulai terasa berair. Pandangannya mulai sedikit tidak jelas karena terhalang oleh air yang menumpuk di sudut matanya.


Beberapa kali wanita itu mengedipkan matam berusaha untuk mengusirnya. Namun, bukan malah pergi, buliran bening tersebut justru lolos begitu saja.


Jika biasanya Tama melihat orang berlumuran daraah itu sudah biasa. Meskipun bukan ulah dari tangannya secara langsung, akan tetapi kenapa melihat mata Meena yang basah seperti ini membuat perasaanya kurang nyaman.


Tidak tega melihat Meena dalam keadaan seperti ini, tanpa ijin terlebih dulu pada wanita itu, Tama menarik lembut tangan Meena hingga wanita itu jatuh ke dalam dekapannya. Mengusap punggungnya pelan, memberi kenyamanan di sana. Walaupun tidak tahu, apakah yang ia lakukan ini sudah benar atau tidak.


"Apa itu artinya aku nggak bisa menikah?" tanya Meena dengan nada suara yang sangat lirih. Isakan pun mulai terdengar di sana.


Tama mengangguk. "Kamu berhak bahagia, Meena. Ada aku di sini. Tenang, oke?"


Dan kalimat yang barusan diucapkan oleh Tama terdengar begitu ambigu di telinga Meena. Bolehkah wanita itu mengartikan lain?

__ADS_1


__ADS_2