Bite Me, Presdir

Bite Me, Presdir
Ch. 22


__ADS_3

Bab. 22


"Ck! Kau nggak lihat? Aku sedang membantunya berganti pakaian. Lihat, pakaian dia basah mungkin terkena keringat dingin tadi," balas Hanjie yang memang sengaja bersikap menyebalkan seperti itu di saat situasi seperti ini.


Kemudian Hanjie mengulurkan tangannya lagi yang sempat tertunda. Namun, belum sempat menyentuh baju Meena, suara Tama kembali menggema lagi. Membuat para pelayan yang tanpa sengaja berada di depan kamar utama milik majikan mereka pun terkesiap kaget. Bahkan para pengawal pun juga sudah bersiap siaga.


"Jauhkan tanganmu darinya!" sentak Tama lebih keras lagi dari sebelumnya. Jelas, Hanjie langsung menarik kembali tangannya sambil terkekeh senang. Karena berhasil membuat atasannya itu akhirnya mengekspresikan perasaannya.


"Oke, oke ... nggak main-main lagi," ujar Hanjie yang kemudian berdiri dari tempatnya. Puas sekali melihat ekspresi Tama yang marah hanya karena dirinya ingin menggantikan pakaian Meena.


Hanjie memutuskan untuk keluar dari kamar itu dengan tawa yang tidak berhenti sama sekali. Seolah baru mendapat sesuatu yang sangat menyenangkan.


Sementara itu Tama menahan geramnya. Jika ia meledakkan emosi, bisa-bisa itu akan membahayakan bangunan ini.


Di lain sisi, Meena yang mendengar suara yang cukup menggema dan membuat telinganya pengang, tentu saja wanita itu tersadar langsung dan membuka mata.

__ADS_1


Mengerjapkan beberapa kali, lalu mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Benar-benar seperti berada di sebuah kerajaan dongeng.


"Akh!" lenguh Meena ketika akan beranjak bangun, kepalanya terasa nyeri di sebelah kanan. Refleks wanita itu memegangnya.


Tama yang menyadari pergerakan di atas ranjangnya, lantas menoleh dan mendapati Meena sudah sadar.


Bukannya segera menghampiri dan membantu Meena bangun, Tama justru bersikap kembali seperti biasa. Datar dan dingin. Bagaimana tidak, jika pria itu kini hanya menatap pergerakan Meena saja. Walaupun tangannya terkadang refleks bergerak seolah ingin membantu, namun segera Tama tarik dan mengepal di belakang sana.


"Masih sakit?" tanya Tama singkat.


"Saya ada di mana Pak Presdir?"


Bukannya menjawab pernyataan dari Tama, Meena justru bertanya balik kepada pria itu. Meski masih terasa pusing, namun Meena mencoba untuk tetap terduduk dengan sempurna.


"Jangan dipaksa jika masih sakit," ingat Tama dengan nada datarnya. "Kamu ada di tempat yang aman," imbuhnya lagi tanpa mengatakan kalau Meena sekarang berada di kastil miliknya.

__ADS_1


Meena tidak menanggapi ucapan Tama. Wanita itu tetap berusaha duduk dan kemudian menurunkan kakinya dari ranjang. Sehingga kini Meena duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Saya mau pulang," ucap Meena tanpa menatap ke arah Tama.


Wanita itu masih ingat betul perlakuan Tama kepada dirinya. Walaupun memang hubungan di antara mereka tidak dekat, namun entah mengapa jika mengingat sikap dingin dan cueknya pria itu kepada dirinya, Meena merasa sesak di dada.


"Jangan keras kepala. Kamu baru saja dikejar oleh orang yang ingin mendapatkan darahmu," ungkap Tama seraya menahan geram melihat Meena yang berusaha untuk tetap kuat dan berjalan menuju pintu. "Lebih baik kamu berada di sini dulu, sampai keadaan menjadi aman. Paling tidak sampai Sita ke sini dan menjemputmu," imbuh Tama.


Meena mendengar jelas ucapan Tama. Namun, wanita bersikap abai dan seolah tidak dengar apapun.


"Meena!" bentak Tama tanpa sengaja ketika tidak tahan melihat sikap keras kepala Meena. "Jika kamu bersikeras, nyawamu dalam bahaya."


Meena tersenyum mendengar hal itu. Lalu menoleh ke arah Tama seraya melemparkan lirikan sinisnya.


"Lalu apa bedanya dengan keberadaanku di sini?" tanya wanita itu dengan tatapan yang sangat sulit Tama artikan. "Jika dilihat dari model bangunannya, aku tahu kalau ini merupakan rumahmu. Di tempatmu. Dan pasti juga banyak orang-orang mu di sekitar sini. Apa bedanya dengan di rumahku? Toh, sama-sama bahayanya, kan?"

__ADS_1


__ADS_2