Bite Me, Presdir

Bite Me, Presdir
Ch. 26


__ADS_3

Bab. 26


Tentu saja Meena langsung cemberut dan tidak ingin lagi menoleh ke arah Tama. Karena pria itu yang begitu menyebalkan.


Sesampainya di apartemen pun Meena keluar lebih dulu dan masuk ke dalam bangunan yang tersusun sangat rapi dan keliatan sangat bersih.


Berjalan menuju lift tanpa menunggu Tama yang tengah membawakan barang-barang miliknya dan mengamati keadaan sekitar.


Beruntungnya, ketika pintu lift terbuka, Tama sudah berada di samping Meena dan mereka masuk bersama ke dalam. Entah suatu kebetulan atau memang sudah di setting lebih dulu, tidak ada orang lain lagi di dalam lift tersebut. Hanya ada mereka berdua. Hal itu membuat Meena begitu geram.


"Kenapa senyum senyum! Nggak lucu!" ketus Meena di saat menoleh ke arah Tama dengan tatapan begitu sinis.


Sementara pria itu tampak menahan senyumannya. Padahal jika dilepasnya dengan bebas, Tama terlihat berkali lipat lebih tampan dan manis. Tanpa perlu ditahan seperti sekarang.


"Nyebelin banget jadi orang!" kesal Meena lagi.


Tama mencoba menggoda Meena dengan cara menowel lengan wanita itu. Namun segera Meena menjauh.


"Nggak usah pegang-pegang!" sentaknya.


Sejak kapan posisi mereka jadi berubah seperti ini. Kenapa sekarang justru Meena yang terlihat galak? Sedangkan Tama tampak santai santai saja dan bahkan lebih banyak tersenyum sekarang.


"Marah? Hmm?" tanya Tama yang tidak bisa melepas pandangannya dari Meena. Katakan saja pria itu sekarang memang sedang tergila-gila dengan sosok wanita yang ada di sampingnya tersebut.


"Nggak!" jawab Meena tanpa menatap kearah Tama.


Ia sangat kesal. Menanyakan perihal managernya saja tidak boleh. Apalagi sekarang ponselnya benar-benar disita oleh pria itu.


"Tuh, keliatan," ujar Tama lagi sembari menusuk pipi Meena dengan jemarinya. Membuat wanita itu langsung menepis tangan Tama.


"Dibilang nggak usah pegang pegang, Pak Presdir! Jaga sikap anda!" tolak Meena menatap sinis.

__ADS_1


Bukannya menjauh, Tama justru semakin usil dan menggoda Meena yang tengah kesal padanya.


"Hilang loh nanti cantiknya kalau marah kayak gini," ujar Tama sembari mencolek dagu Meena yang lancip.


"Ck! Nggak lucu!" balas Meena.


Entah mengapa lift yang sedang mereka naiki sekarang ini terasa begitu lambat. Membuat Meena semakin merasa geram saja.


"Nggak sedang ngelawak," sahut Tama.


Meena menatapnya jengah. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Tama dan menengadah. Membuat Tama mengangkat sebelah alisnya. Tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Meena.


"Apa?" tanya Tama.


"Ponselku mana?" pinta Meena lagi.


Seketika itu juga Tama langsung memalingkan wajahnya ke arah depan. Menatap ke arah pintu lift yang terbuat dari stainless tersebut.


"Aku mau hubungi Kak Sita, Pak. Dia mungkin khawatir banget sama aku," rengek Meena yang tidak mendapatkan ponselnya.


Tama tetap pada posisinya. Sama sekali tidak tergerak atau melirik ke arah Meena. Pria itu bersikap seperti tidak mendengar ucapan Meena barusan.


Tentu saja hal tersebut membuat Meena geram. Tanpa Tama duga sebelumnya, Meena menarik tangan Tama dan menggigit tepat di pinggiran telapak tangannya. Lebih jelasnya di bawah jari kelingking.


"Arghh!"


Tama tersentak kaget mendapati Meena yang menggigit tangannya. Pria itu mengeratkan rahangnya agar tidak berteriak. Walaupun rasa gigitan Meena benar-benar terasa sakit.


"Meenaaa ...." geram Tama dengan suara tertahan.


Sementara wanita yang membuat ulah tersebut menatap Tama dengan dua jarinya yang ditaruh di bawah mata, lalu menariknya ke bawah bersamaan dengan lidah Meena yang menjulur ke bawah. Baru setelah itu langsung melengos. Menatap kesal Tama. Tanpa adanya permintaan maaf terlebih dulu. Meskipun sudah membuat tangan Tama terluka dan membekas gigi Meena di sana.

__ADS_1


Ting!


Bertepatan dengan hal tersebut, pintu lift terbuka dan Meena langsung melangkah keluar meninggalkan Tama yang tengah mengeram sakit.


Sebenarnya Tama bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Luka sebesar apapun itu. Namun, tetap memerlukan proses dan tidak bisa cepat.


Meena cukup dibuat terkejut ketika matanya menangkap dua sosok yang sangat dia rindukan selama ini tengah berada di depan pintu apartemennya. Bahkan Meena baru menyadari jika lorong di mana mereka berada sekarang ini, tampak dihias dan digelar karpet merah.


Tidak hanya itu saja keterkejutan Meena. Di sana juga ada bapak produser yang selama ini sangat mendukung dirinya.


"Kalian?"


Meena terharu melihatnya. Rupanya, pria yang ada di sampingnya ini tengah memberi kejutan kepada dirinya. Pantas saja sikapnya aneh. Selalu mencoba membuat dirinya marah-marah terus.


Meena menoleh ke arah Tama dengan mata yang berkaca-kaca.


"Pak Presdir ...."


Meena tidak bisa melanjutkan ucapannya. Wanita itu tidak menyangka kalau pria kaku ini bisa membuat kejutan yang begitu manis.


Tama menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sangat tipis sekali. Mungkin, hanya beberapa orang yang berdiri di dekatnya saja yang menyadarinya.


"Baby ....!"


"Kak Meena ....!"


Itulah dua suara yang sangat Meena rindukan selama ini. Omelan dan juga candaan mereka yang mampu membuat hidupnya terasa lebih berwarna dan tidak merasa kesepian di ibu kota ini.


"Kangeeenn!" teriak Meena sembari berlari ke arah mereka berdua.


Entah apa yang dikatakan oleh sang Presdir kepada mereka. Sehingga mereka datang hanya untuk menyambut kepulannya. Padahal selama ini dirinya juga tidak menderita dan hidup dalam keadaan sehat. Namun, di sambut dengan begitu berlebihan. Seolah dirinya baru saja keluar dari rumah sakit. Pikir Meena. Siapa lagi yang mampu melakukan hal ini kalau bukan pria menyebalkan itu.

__ADS_1


__ADS_2