
“Hhhh…Hhhhh…”
Perempuan itu mengerang….merangkak dengan segenap kekuatannya dari kamar tidur menuju ruang tamu dengan darah berlumuran dari batok kepala, hidung penyok, dan mulut yang ternganga akibat tanggalnya empat gigi depan menjadi perbuatan biadab dari sosok yang kini berjalan mengikuti dengan ayunan tongkat di belakangnya. Wajah perempuan itu pucat pasi ketakutan, terutama ketika desah nafas berat pria di belakangnya semakin mendekat dan saat menoleh dilihatnya seraut wajah menyeringai sinis kepadanya.
Seringai sinis pembunuh keparat itu seolah menertawakan usahanya sebagai sesuatu yang sia-sia. Walau sang korban berusaha menghindari dirinya, teror ini tak akan luput darinya, namun dibiarkannya sang korban – dalam ketakutannya – terus merayap dengan susah-payah di lantai ruang tengah rumahnya demi mempertahankan selembar nyawa yang bakal melayang beberapa menit lagi, alasannya sederhana; karena dia menyukai pemandangan di hadapannya.
Apa yang dilakukan wanita itu tak berbeda dari yang lain. Insting primitif manusia punya dua cara mempertahankan diri saat mengalami bahaya atau terancam nyawanya, yaitu melawan atau melarikan diri. Kenyataannya semua korbannya melakukan opsi kedua sebagai pilihan dari bawah sadarnya.
Yeah…beberapa menit lagi...
Jadi biarkan saja perempuan itu menikmati beberapa menit dari sisa hidupnya, biarkan dia menganggap usahanya sebagai sesuatu yang terbaik dan harus dilakukan. Keputusan tetap berada di tangannya sebagai malaikat pencabut nyawa.
Lelaki itu selalu menyukai pemikiran tentang dirinya sebagai malaikat pencabut nyawa. Bukan hanya kedengaran enak di telinga, tapi juga hal itu memberi perasaan yang kuat...berkuasa... dalam dirinya, membuatnya bebas mengetukkan palu yang menentukan hembusan terakhir dari nafas si wanita.
Ya...palu...
__ADS_1
Palu itu berupa pentungan besi berdiameter tiga senti, panjang tiga puluh senti, yang baru saja digunakannya untuk merontokkan gigi perempuan di lantai itu, senjata yang memberinya kuasa dalam genggamannya...
Sang korban terus merayap dengan kecepatan yang semakin berkurang. Samar-samar didengarnya suara rintihan dari bibir si wanita, ucapannya mungkin untuk minta tolong, atau mungkin juga makian. Apa pun itu dia tidak peduli. Selain obsesinya, sosok itu tidak peduli yang lain, sama tidak pedulinya kepada ****** ***** yang tersingkap dari balik daster perempuan itu, hal eksotis yang menarik bagi pria lain tidak memicu gairahnya...dia terus memandangi wanita yang sedang sekarat itu tanpa belas kasihan sedikit pun.
Ketika dia jadi bosan setelah pemandangan di hadapannya tidak lagi mengasyikkan, dia memutuskan untuk mengakhirinya bagai seorang sutradara yang mengakhiri sebuah adegan yang berjalan tidak sesuai harapannya. Sosok itu meloncat sambil mengayunkan pentungan besinya. Tarikan yang mantap dari belakang ke depan serta ayunan yang sepenuhnya berpusat pada bobot tubuhnya, membuat kekuatan pukulannya menguat berkali-lipat saat palu mengenai sasarannya, yang adalah kepala si perempuan.
Perempuan itu melolong ketika kepalanya terhantam pentungan besi, tepat di titik vital yang merupakan bagian kritis dari luka yang dideritanya, membuat lukanya makin menganga. Palu sang hakim telah diketukkan di atas meja sidang yang mengantarkan perempuan itu ke dalam tidur lelap buat selamanya.
Selesai sudah tugasnya sebagai malaikat pencabut nyawa.
Namun seluruh rangkaian tugasnya belum cukup sampai di situ…
Sosok itu kembali menyeringai, sesekali menerbitkan air liur di sudut bibir.
Tubuh ini sama murninya dengan jiwa sekarat pemiliknya, yang memerlukan pemurnian, bimbingan, dan pimpinan. Jiwa yang terjerat dalam kesesatan alam fana dan kini menjerit-jerit dalam kesakitannya untuk sebuah kelegaan. Di sinilah dia hadir memberikan kelegaan yang jauh melebihi apa yang ditawarkan dunia kepada wanita mati ini sepanjang hidupnya.
__ADS_1
Bahwa dirinya mengambil peranan tertinggi pada proses tersebut membuat lelaki itu lebih terbangkitkan nafsunya. Gairah, keriangan, ekstasi dari perasaan yang dihargai karena dirinya adalah tokoh utama dari proses ini, sang pemimpin yang dipuja…setidaknya oleh dirinya sendiri dan mungkin juga oleh beberapa jiwa yang berterima kasih atas apa yang dia lakukan, membuat nafsunya melambung ke tingkat tertinggi yang tabirnya telah dikuakkan oleh hasrat. Peranannya sebagai juru damai atas jiwa ini akan membuka jalan bagi dirinya untuk menguasai jiwa ini…menjadi pemimpin atas jiwa ini…memilikinya baginya…
Sosok itu membuka pakaian lalu duduk bersila di sebelah mayat dalam keadaan telanjang. Jemarinya mencucuk darah korban yang menggenang di batok kepalanya, mendekatkan telunjuk dan jari tengah yang bersimbah cairan kental merah ke depan mulut lalu meludahinya. Kedua jarinya menari-nari sebentar dalam arah tak karuan sebelum mulai menuliskan aksara dan simbol aneh di bagian di antara buah dada dan perut yang diakhiri dengan sepasang lingkaran pada payudara si mayat wanita.
Mulutnya kemudian berkomat-kamit dengan nada sengau memunculkan nyanyian aneh mendesis dari bibirnya. Mantra. Senandung yang teralun menggantung dalam balutan kekuatan transparan yang ganjil. Perlahan-lahan makin kuat, intens, dan mendominasi. Bau anyir darah pun mulai merambat memenuhi sudut ruangan, membangkitkan atmosfer mistis yang menghadirkan ribuan iblis masuk ke tempat itu
Sosok itu bersemadi dalam posisi bersila. Tangannya mengatup, mempertemukan jari-jarinya tinggi di atas kepala. Pada larik ke delapan mantranya, ia mengubah posisi tangannya sehingga yang bertemu kini hanya telunjuk kiri dengan telunjuk kanan, serta ibu jari kiri dengan ibu jari kanan, sisanya bebas. Membentuk sebuah segitiga. Tangan segitiga yang rapi, serta bernyawa oleh darah yang masih terlumur.
Tangan segitiga itu berhenti di atas aksara-aksara aneh di perut mayat. Getaran-getaran kecil terlihat dari lengannya. Tangan segitiga itu mengayun perlahan ke kiri-kanan tanpa henti bagai pendulum yang sedang mencari sumber kekuatan. Dia memang sedang berada dalam proses pencarian… mencari jiwa yang terhilang untuk sebuah penundukan. Ketika ayunan itu makin cepat, sosok itu bagai tersihir. Terpesona namun juga cemas.
Dia menyukai hasil akhir tapi tidak suka proses yang mengawalinya. Dalam beberapa kesempatan dia berharap tidak perlu mengalaminya padahal itu sesuatu yang tidak mungkin. Secara alamiah tidak ada hasil akhir tanpa tahap yang mengawalinya. Jika dia ingin hasil akhir yang menakjubkan, maka dia juga harus mengawalinya dengan cara menakjubkan pula. Semakin hebat perlawanan jiwa mereka, maka akan semakin baik hasil akhirnya, dan itu juga berarti membuka tahap awal dari kesakitan yang harus dideritanya selama proses ritual ini berlangsung.
Prosesnya segera dimulai…
Tubuh ini sempurna, samar-samar dia juga merasakan banyaknya kubu yang bersarang di dalam jiwa wanita malang ini dan mencengkeramnya dengan penderitaan, hanya saja dia belum tahu sampai seberapa hebat dan sempurna penderitaan jiwa wanita ini dibandingkan dengan kesempurnaan tubuhnya yang tanpa cacat. Semakin sempurna penderitaannya, maka akan semakin terjal proses yang harus dia daki buat menguasai jiwa wanita ini sepenuhnya dan harganya merupakan harga yang pantas…
__ADS_1
Dan ketika merasakan ratusan jarum tak nyata mulai merajam jantungnya, maka sosok itu menyadari penderitaan jiwa mayat ini memang sebegitu hebatnya sehingga dia kemudian benar-benar tersihir. Tubuhnya bergetar hebat. Sosok itu terkuasai sesuatu, dalam beberapa menit lagi dia tidak lagi berkuasa atas raganya. Seiring getaran tubuhnya, mayat di depannya ikut bergetar hebat bagai dimasuki sebuah kekuatan tak terlihat, yang meluap-luap marah seakan hendak merangsek keluar.
Sementara sosok itu sibuk dengan ritual ‘penyucian’, sirene yang memekakkan telinga di luar meraung memberi tanda bahwa polisi telah mengepung rumah. Empat orang pria tegap berdada bidang dalam seragam berdiri di depan pintu dengan pistol teracung. Dalam hitungan kesepuluh, para petugas polisi pun mendobrak pintu lalu menghambur ke dalam rumah.