BLOODY REUNI

BLOODY REUNI
BAB 2 YOUNG FM


__ADS_3

“Tapi yang terjadi kau menaruh perih di hatiku


  Dan meninggalkanku tenggelam di samudera tanpa batas


  Kau menghilang…kau menghilang…”


“Kembali lagi di Breakfast with Play di 90.5 YOUNG FM bersama saya, Putri Roffelino. Bagi para pendengar yang baru tune-in saya ucapkan selamat pagi. Hari ini, di hari terakhir masa siaran saya menemani anda di udara, kita terus mengawasi detik-detik jelang hukuman mati bagi Girza, si pembunuh berantai yang menghebohkan ibu kota dua tahun lalu.”


“Narasumber kita, Doktor Dicky Herlambang, doktor yang masih muda usianya ini pernah menulis di sebuah majalah tentang seseorang dengan kondisi mental seperti Girza. Di situ anda bilang bahwa pembunuh berantai bukanlah orang-orang sakit jiwa, benar begitu?”


Sang narasumber, pemuda yang duduk di sebelah si penyiar tersenyum. Jenggot klimis menghiasi dagunya sementara kacamata berbingkai plastik biru tua yang bertengger di hidung betetnya membuat wajahnya makin lancip. Dia mendekatkan mulutnya ke mikrofon.


“Seperti kebanyakan orang, dia itu normal. Saya memang belum pernah mengadakan sesi konsultasi atau berbicara pribadi dengan Girza namun dari riset saya yakin kalau para pelaku kriminal yang demikian, termasuk dalam hal ini Girza, sama normalnya seperti anda dan saya.”


“Pendapat anda kontradiktif mengingat pengacara Girza berkeras mengatakan orang itu sakit jiwa. Bahwa dia seharusnya mendapat keringanan hukuman karena penyakitnya membuat dia tak mampu mengendalikan pikiran serta perbuatannya sendiri.”


“Itu kan akal-akalan pengacaranya Girza supaya dapat keringanan. Jaksa penuntut punya saksi-saksi ahli yang punya kemampuan profesional dalam melihat dan membuktikan yang sebaliknya, sehingga hukuman mati sebagai keputusan final itu akhirnya dikeluarkan.”


“Jadi anda setuju dengan hukuman mati yang diberikan kepadanya?”


“Terlepas dari setuju atau tidak…saya rasa dia tahu konsekuensinya. Dia memahami itu dan paham sepenuhnya bahwa yang dia lakukan akan berujung di sana.”


“Lalu apa yang membuat dia melakukan semua ini? Apa motivasinya?”


“Obsesi posesif yang tidak sehat. Orang-orang ekstrem seperti kanibal atau pembunuh berantai memiliki obsesi untuk mengulangi kejahatan yang mereka lakukan sebab mereka punya tujuan akhir yang jelas. Jack The Ripper terobsesi pada keindahan menjelang rasa sakit atas siksaan pada korbannya, Sumanto pada ilmu dan kesaktian raga. Apa pun itu, obsesi menjadi objek yang membuat mereka merasa selalu ada yang kurang dalam hidup bila belum kelakukannya.”


“Kedengarannya egois dan mengerikan .”


“Umumnya semua orang yang terobsesi bersedia melaksanakan apa saja demi kepuasan objek yang dipujanya, sekalipun perbuatan itu kadang terasa menggelikan atau tidak masuk akal buat orang lain.”


“Sama seperti penggemar yang tergila-gila pada idolanya?”


“Mirip seperti itu!”


“Mengenai obsesi ini,” kata Putri. “Mas Firman sebagai wartawan kriminal yang intens mengikuti kasus ini mungkin bisa kasih pendapat, apa sih sebenarnya obsesi Girza itu? Kita tahu dia tergila-gila pada pembunuhan, namun apa sebenarnya obsesinya?”


“Saya bukan psikolog atau psikiater, namun saya sependapat dengan Mas Dicky kalau Girza punya keinginan tertentu, yang mendasar, yang mendorong dia untuk terus melakukan pembunuhan sadis itu. Obsesi tadi…” kata lelaki yang duduk di sebelah kanan Putri yang sedari tadi diam karena menunggu kesempatan bicara.“…dan saya tidak ragu mengatakan kalau obsesinya itu sehubungan dengan ritual.”

__ADS_1


“Ritual?” kata Putri “Anda tahu sesuatu mengenai kebiasaan ritual Girza?”


“Pria ini menyenangi segala hal yang berhubungan dengan ritual. Sebut saja...ibadah keagamaan, pemujaan, upacara okultis, sampai naturalisme. Dalam salah satu wawancara singkat saya dengannya sebelum sidang, dia pernah bilang kalau yang dia lakukan merupakan bagian dari proses alam. Menurutnya dunia memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan dan menyucikan dirinya dari nista yang dilakukan manusia, di mana dalam proses penyucian itu ada tata cara orang-orang seperti dirinya turut serta mengambil peranan.”


“Itu ungkapan paling tidak masuk akal yang pernah saya dengar,” komentar Putri. ”Yah, apa pun motivasinya, yang jelas dia jenis orang yang tidak ingin saya temui kalau pulang larut malam.”


Dicky Herlambang dan Firman tertawa berbarengan, ”Memang menakutkan dia.”


”Oke, sekarang kita sudah terhubung dengan rekan saya Yoga di lapangan yang akan menyiarkan laporan pandangan mata. Silakan Yoga…”


“Makasih Putri. Selamat siang pendengar, saat ini saya sedang berada di depan rutan Nusakambangan. Sudah puluhan wartawan serta reporter ada di tempat ini sejak kemarin. Sebagian dari wartawan bahkan mendirikan tenda untuk menginap namun petugas rutan tetap berkeras tidak membukakan pintu untuk wawancara atau pengambilan gambar sebab eksekusi ini tertutup bagi umum.”


“Jadi kita tidak mungkin mengetahui apa yang terjadi di dalam rutan?”


“Bagaimana Putri?”


“Apakah kita tidak bisa mendapatkan berita tentang proses eksekusinya?”


“Sayangnya begitu. Tapi tadi pagi saya sudah berbicara dengan Kepala Humas rutan yang mengatakan bahwa meski hukuman mati ini tertutup dari umum, tetapi eksekusinya nanti akan dihadiri undangan khusus yang berkaitan dengan kasus ini, yaitu Hakim Kepala Raffael Silaban, Kepala Rutan Sunaryo, dan Kadiv.Serse Yusuf Susilo.”


”Oke, makasih Yoga...”


 ***


Beratus-ratus kilometer dari ruang siaran YOUNG FM, seorang pria duduk di ruangan berlantai batu. Posisinya yang berada di sudut ruangan membuat wajahnya tak terlihat jelas karena tertutupi oleh keremangan ruangan. Yang terlihat darinya hanya rahang yang menggembung dan kepala botak berkilat karena terpantul biasan cahaya lampu dari salah satu jendela di ruangan. Ruangan berukuran satu kali dua meter itu sebenarnya tidak nyaman, nampak dari posisi duduknya yang tak wajar, namun lelaki itu tak mengacuhkan keadaan dengan tetap menyimak siaran radio.


“Ada lagi kiriman pesan yang bilang; Salut buat polisi yang telah menjalankan tugasnya dengan baik. Yang mereka lakukan membuat kita lega, sehingga ke depannya kita tak lagi dihantui ketakutan bila pulang malam atau bila sedang di rumah sendirian…”


“Berikutnya ada telepon masuk dari salah seorang pendengar YOUNG FM. Halo…ya, siapa ini?”


“Halo, ini Talia…”


“Mbak Talia? Oh, Mbak Talia ini yang kirim SMS yang lucu banget...tapi kayaknya lebih oke kalau diucapkan langsung saja sama yang nulis...”


“Ah, Mbak Putri bisa aja,” terdengar suara Talia malu-malu. “Ya, aku pikir hukuman mati sudah tepat untuknya tapi aku punya cara lain yang lebih beradab. Kita buang saja dia ke sebuah pulau yang jauh dan tak berpenghuni tanpa dikasih makan, kupikir itu hukuman yang lebih berperikemanusiaan daripada tembak mati..”


“Usulnya boleh juga,” Firman ketawa. “Nanti saya tulis sebagai usulan ke Kemkumham.”

__ADS_1


“Ya, dengan begitu kita kan tidak perlu mengotori tangan untuk mencabut nyawanya. Hanya satu dosa yang ada dan itu dosanya Girza. Sebagai manusia beradab, kita tidak perlu mencabut nyawa orang lain seperti yang dia lakukan.”


“Tapi bukannya mengurung orang tanpa diberi makan itu perbuatan yang disengaja buat membunuh dia pelan-pelan?” tanya Putri. ”Kayaknya dia bakal lebih menderita deh Mbak.”


”Iya juga sih ya...habis bagaimana dong soalnya dia bikin banyak orang geregetan.”


Putri ketawa, ”Oke deh. Idenya sih kreatif. Semoga saja bapak-bapak di Kemkumham atau Mahkamah Agung mendengar siaran kita dan mempertimbangkan itu, ya Mbak Talia…”


“Semoga saja. Boleh aku tanya satu lagi?”


“Boleh, Mbak…boleh banget…”


“Kenapa sih Putri mau keluar dari YOUNG FM? Jangan dooong....”


 Putri tertawa hambar, paham bahwa pertanyaan ini suatu ketika dalam jam siarannya pasti akan terlontar juga, “Habis gimana ya, Mbak Talia. Soalnya Putri perlu penyegaran... butuh suasana baru buat mengembalikan motivasi dan semangat.”


Nada suara Talia terdengar sedih, “Aku tahu, Put. Aku sudah dengar kamu bilang begitu tadi tapi masih nggak bisa percaya kalau itu beneran. Aku bakal kehilangan kamu, Put!”


“Tengkyu, Mbak…” Putri menyahut dengan suara serak. “Aku tidak tahu musti ngomong apa, tapi keputusan Putri


sudah bulat.”


“Aku menyayangkan kepergian kamu, Put. Aku penggemar kamu setiap pagi loh.”


“Tengkyu, Mbak…” Putri tak kuasa menahan air mata. “I really appreciate that.”


“Yah, ke mana pun kamu melangkah, aku mau kasih semangat and wishing you good luck,” ujar Talia. “Tapi aku harap kamu bakal balik lagi ke Breakfast with Play.”


“Ya, semoga ya, Mbak! Udah,ah... jadi mau nangis lagi. Oke, sekian dulu pendengar… sebenarnya masih kepingin menemani sampai proses hukuman mati selesai tapi karena jam siaran sudah abis...saya, Putri Rofellino pamit


mundur…untuk waktu yang tidak terbatas…”


Setelah itu terdengar lantunan syair merdu dari nada sendu, membuat pria botak itu menghela nafas. Dia termasuk yang kehilangan celotehan riang Putri Roffelino.


“Dan bila mentari esok kan bersinar lagi


 kuingin candamu warnai hariku…

__ADS_1


 Dan bila esok kau tiada hadir temaniku


Tak terbayangkan setengah mati kehilanganmu…”


__ADS_2