
Lift berdenting dan pintunya membuka. Sang wartawan kriminal, Firman Abdulgani, menoleh ke arah Dicky Herlambang. “Turun, Mas Dicky?”
“Duluan saja, Mas. Saya masih mau ngobrol sebentar sama Putri…”
“Belum cukup reuninya?” Firman menggoda sebelum melambaikan tangan dan masuk ke dalam lift yang pintunya segera tertutup. ”Sampai ketemu lagi...”
Saat Dicky berbalik, Putri mencium aroma Kenzo yang segar darinya. Pakaian dan gaya rambut yang necis menunjukkan Dicky sudah banyak berubah sejak mereka berpisah selulus SMA. Waktu itu Dicky masih berantakan dan berdandan semau gue. Maklum, ABG. Tapi kini dia tampak jauh lebih matang dalam tata krama dan penampilan.
”Kenapa nggak bilang kalau elu diundang siaran ke tempat gue?”
”Kejutan!” sahut Dicky. ”Masa elu nggak ngeh sama sekali sama nama gue?”
“Gue beneran nggak nyangka karena ada titel Doktor itu.”
“Itu hasil dari lima tahun kuliah di Aussie...”
“Dasar sok!” Putri tertawa. “Tapi waktu membaca tulisan edan dari seseorang bernama Dicky Herlambang tentang kasus Girza, gue langsung tahu kalau itu elu.”
“Masa? Wah, gue tersanjung karena nggak nyangka begitu terkenalnya.”
“Norak,” sahut Putri meninju dada Dicky dengan lembut, meski pelan ternyata itu mendorong Dicky ke belakang.
“Gila, elu masih tetep garang. Belum bosen jadi cowok?”
“Biarin aja, yang penting banyak yang cinta ama gue…”
“Memang sih, kalau baca kiriman pesan yang mellow dan penuh air mata itu. Elu hari ini bikin banyak orang patah hati…termasuk gue. Kenapa sih elu pake resign segala?”
”Rahasia.”
Dicky menaikkan alis,”Mau ngebalas gue ceritanya? Iya deh, gue salah nggak ngabarin kalian pas gue tunangan. Nanti gue perbaiki pas reuni ya...”
”Janji ya...” Putri berkacak pinggang.
“Suwer, deh. Ngomong-ngomong sudah terima attachment yang gue kirim ke email?”
”Sudah. Tempatnya di mana sih Villa Magenta itu?”
”Pokoknya datang saja ke Ancol minggu depan, gue mau kasih kejutan buat kalian.”
”Gantian bikin gue penasaran? Udah, cabut sana. Liftnya sudah dateng tuh…”
”Oke. Kontek-kontek ya....”
__ADS_1
Dicky Herlambang tersenyum manis dan mengacungkan jempol. Putri melambai sampai pintu lift tertutup. Pintu lift yang bening itu memantulkan bayangan seorang gadis dengan jersey Liverpool, celana jeans pendek, dengan rambut yang acak-acakan karena belum mandi. Bertemu Dicky membuatnya gembira tapi setelahnya kesedihan kembali menguasai hati. Kesedihan yang telah mewarnai harinya belakangan ini.
Gadis itu kembali ke ruang siaran. Setyo, penyiar shift kedua, baru akan memulai siarannya jam sepuluh nanti sehingga seperti biasanya dia baru datang setengah jam lagi. Mesin pemutar menjalankan lagu ’Separuh Nafas’ dari Dewa secara otomatis. Jeda satu jam yang terjadi pada pergantian jam shift merupakan saat yang paling menyenangkan bagi Putri karena slot itu diisi dengan musik tanpa selingan iklan menjengkelkan atau celotehan penyiar yang tak karuan.
Ruangan berukuran enam kali enam meter itu dingin seperti biasa. Putri ingat di hari pertama siaran, dia sampai harus mengenakan pakaian dua lapis ditambah jaket buat menahan suhu yang begitu dingin di dalam sini. Ruang inilah yang saban pagi didatanginya, bahkan dia pernah sampai harus tidur di sini ketika kemalaman pulang dari dugem. Banyak hal berlangsung dan berlalu hingga rentang masa lima tahun terasa sungguh cepat.
Dulu dia membayangkan profesi penyiar membuat dirinya bakal terkurung di balik meja penuh peralatan elektronis, console mixer, tape player, dan deretan rak CD atau file komputer. Pasti sangat membingungkan antara berbicara, memilih dan menyetelkan lagu, juga memasang iklan. Setelah mengalami sendiri, baru dia tahu bahwa sebagian besar pekerjaan itu ditangani oleh komputer dengan program bersistem canggih hingga dia tinggal mengisi deretan lagu yang telah disusun Ichsan, Program Manager dari Breakfast with Play. Jadi tidak masalah baginya pergi mondar-mandir ke toilet, atau dapur, atau menyantap sarapan di antara jeda lagu atau iklan.
Lima tahun menjalani kehidupannya sebagai penyiar. Untuk apa semuanya?
Sewaktu masih penuh idealisme, profesi penyiar dilakukannya buat menyenangkan orang lain, membuat pendengar setianya tertawa menghadapi kemacetan dalam perjalanan ke tempat kerja di pagi hari, dan tidak ada yang lebih mulia dari membuat orang lain bahagia. Sayangnya kebahagiaan itu meredup. Tak ada lagi kebahagiaan itu. Tak ada lagi gairah itu. Belakangan semua ini hanya sekedar rutinitas hambar.
Dia mungkin masih bisa melontarkan humor, memancing tawa, bersikap simpatik dan melakukan hal-hal lainnya, tapi itu hanyalah profesionalisme sebagai penyiar, profesionalisme yang berupa topeng... topeng yang sungguh memilukan karena dia tidak lagi bisa tertawa mendengar humornya sendiri atau menikmati musik yang dipilihnya buat pendengar.
Setelah lima tahun di bidang ini, dia sadar tengah tenggelam dalam kejenuhan. Ada saatnya pikirannya, kreasinya, termasuk dirinya butuh disegarkan lagi. Karena itu Putri ingin mengerjakan hal-hal baru, mengerjakan berbagai hal yang selama ini dia idam-idamkan tapi belum pernah terwujud karena waktunya terhambat oleh waktu siaran dan mempersiapkan materi. Dan sekaranglah waktu yang tepat!
Putri tak mau sekedar mencari uang. Hal ini telah dipertimbangkannya masak-masak sebelum memberi tahu Ichsan dan Mbak Inge. Sejujurnya, itu keputusan yang cukup berat buat Putri. YOUNG FM sudah menjadi bagian jiwanya. Seperti sepenggal kalimat di lagu Dewa, ’Separuh nafasku terbang bersama dirimu’, separuh nafas Putri sudah terbang ketika dia memberikan surat pengunduran diri pada Mbak Inge, manajernya, yang membaca suratnya dengan tak percaya.
Sama seperti YOUNG FM yang jadi bagian dirinya, Putri Roffelino telah menjadi salah satu ikon YOUNG FM di shift pagi. Keduanya menyatu dalam tarikan nafas yang sama, dan kini sama-sama kehilangan pasangannya.
Putri tahu konsekuensinya akan berat, apalagi dia punya banyak pendengar, beberapa bahkan menjadi penggemar, yang entah kenapa merasa begitu bersemangat mendengar celotehannya yang seperti burung cucakrawa setiap pagi. Memang tidak semua pendengarnya menyenangkan, ada satu-dua orang yang memberi kiriman pesan menjengkelkan, seperti Rulianto atau Teddy yang hampir tiap hari mengirim pesan makian atau celaan. Namun dia sudah kebal, jenis-jenis orang seperti mereka tidak perlu digubris dan mereka akan berhenti dengan sendirinya untuk sementara waktu.
Yang ditakutkan Putri adalah reaksi atau komentar dari penggemar yang memang mencintainya. Ketakutannya baru terjadi dua jam lalu saat Aditya menelepon. Penggemarnya yang satu ini adalah seorang bocah cacat berusia lima tahun, yang mendengarkannya siaran sejak pertama kali Putri memperkenalkan diri di udara, dan sejak bertemu dalam suatu acara off-air, dia senantiasa mengirim puisi yang selalu menghiasi minggu demi minggunya. Mendengar suara Aditya, Putri langsung terbata dan menangis sesenggukan.
Syukurlah hal itu telah lewat…dan meskipun bebannya berat, penggemarnya harus tetap melangkah…bahkan tanpa dirinya…seperti dirinya sendiri yang siap melangkah menuju masa depan…karena apa pun yang terjadi, Putri sudah membulatkan tekad untuk tidak menipu penggemarnya. Yang mereka butuhkan adalah hatinya, bukan profesionalisme atau skillnya semata. Ketika dia tidak lagi mampu memberi hatinya, dia mulai menipu para penggemarnya. Jadi ini merupakan sebuah keputusan yang tepat…meski Putri sadar hal tersebut sangat berat buat semuanya…manajemen YOUNG FM, penggemarnya, bahkan bagi dirinya sendiri...
“Lagu terakhir tadi buat elu,” tiba-tiba terdengar suara Ichsan.
Putri berbalik dan melihat rekan kerjanya itu telah berdiri di ambang pintu ruang siaran. Bertubuh gemuk dengan jenggot lebat tumbuh menutupi bibir dan dagunya. Rambutnya yang kribo, membuatnya dijuluki Ichsan Dagiengz, jarang disisir atau dicuci hingga terlihat begitu lengket. Meski begitu dia terkenal bergaya dengan aksesoris macam kalung, gelang, anting, bahkan tato burung phoenix di lengannya.
”Orang itu sudah dihukum mati?”
”Sudah, beberapa menit lalu...”
”Tak disangka tanggal hukuman matinya bareng dengan hari terakhir kamu siaran.”
”Yah, baiknya kan berarti orang akan tetap ingat kapan gue keluar,” sahut Putri. ”Masalahnya gue kan nggak manja.”
“Elu ngangenin…dan besok nggak akan ada canda tawa elu yang mewarnai hari gue di Breakfast with Play,”
“Gombal, ah.”
“Gue kira elu udah langsung balik…”
__ADS_1
"Nggak, gue tadi cuma nganterin Dicky dan Firman aja…”
“Gue udah mau balik, nih. Mau bareng?”
“Elu duluan aja, deh. Gue masih mau stay di sini dulu…”
“Mengucapkan salam terakhir sama ruangan ini?” goda Ichsan. Melihat Putri diam, Ichsan menambahkan. “Nggak kebayang gimana gue jadinya besok tanpa elu. Setengah mati gue kehilangan elu…begitu juga penggemar dan…ehm…Aditya.”
Putri terdiam, air mukanya berubah sedih, gadis itu mengangkat bahu, ”Tapi kan Mbak Inge sudah dapet pengganti gue…”
“Katanya begitu, sih. Dia cepat tanggap lalu bikin aksi mengganti elu sama Faya.”
“Faya?” kata Putri mengangkat alis. “Dia kan masih baru?”
“Gue sudah protes juga tapi Mbak Inge bilang karakternya hampir sama dengan elu... jadi dia punya potensi...”
Keegoisan Putri terusik saat disamakan dengan orang yang baru bergabung lima bulan lalu di YOUNG FM. Lima bulan mau disamakan dengan yang lima tahun? Tetapi itu terserah keputusan Mbak Inge saja, “Oh, gitu? Bagus, deh. Kalau begitu, elu nggak bakal kesepian.”
“Yang bener aja. Sudah pernah dengar Faya siaran?” Ichsan misuh-misuh. “Dia payah.”
“Jam terbangnya saja yang kurang. Gue lima tahun lalu juga masih hijau kayak dia. Kasih dia kesempatan dong. Gue yakin elu bisa membentuk dia seperti yang elu lakukan ke gue. Kalau Mbak Inge pikir Faya berpotensi…pasti dia bisa jadi penyiar yang baik...”
“Gue harap dia murid yang baik.”
“Harus kalau gurunya ganas kayak elu…”
“Sialan,” Ichsan ketawa. “Ah, tapi gue nggak yakin dia bisa bikin gue ketawa seperti elu.”
“Seperti gue bilang, kasih kesempatan dong.”
“Gue tahu. Gua hanya sekedar kasih masukan buat pendamping pagi gue.”
“Thank’s. You’re the best. Tapi besok elu udah ganti istri, ya…”
“Iya! Bete nih gue kalau inget itu lagi. Gue kan tidak bisa sembarangan ke lain hati. Bayangkan kita sudah hidup bersama lima tahun. Putri Roffelino yang gue kenal itu murid yang baik, dan teman yang solider. Gue senang kerja sama dengan elu…”
Suara Ichsan gemetar menahan emosi, “Elu akan sulit digantikan sebagai ikon pagi.”
“Ini berkat kalian,” kata Putri lirih.
“Kita semua kehilangan elu…” ucapan itu bikin Putri makin nelangsa, makin terbenam di bahu Ichsan. “Ada kemungkinan elu balik?”
Putri tak menjawab. Si tomboy itu mendekap rekan kerjanya makin dalam, kesempatan ini merupakan yang terakhir dari pertemuan mereka sebagai penyiar dan produser acara Breakfast with Play di YOUNG FM.
__ADS_1
“Thank you buat semuanya, San…”