
Setelah puas berenang, mereka berkumpul di meja yang berada di halaman. Tak seorang pun berpikir untuk membersihkan badan atau berpakaian lebih dulu sebab perut sudah keroncongan bukan main, maka dengan pakaian renang yang basah dan seadanya mereka langsung menyikat ikan bakar yang telah menunggu. Tidak baik memang meninggalkan ikan bakar yang masih hangat untuk menjadi dingin sementara mereka sibuk dengan urusan etika. Tidak, di pulau ini tidak ada aturan seperti itu…
Dan yang mereka nikmati benar-benar pesta, pesta ikan bakar. Ikan yang terhidang di meja amat berlimpah. Putri tidak tahu kenapa jumlahnya berlebihan, mungkin ada sebagian yang akan disisihkan buat besok malam, tapi belum ada yang mengalahkan ikan bakar sebagai makan malam di tepi pantai, dan menurut Putri ikan bakar malam ini merupakan yang terbaik. Ini memang bukan ikan hasil pancingan, melainkan sesuatu yang dibeli Ninda di pasar swalayan di Jakarta dengan potongan daging salmon tanpa tulang yang diolesi mentega cair dengan bumbu racikan khusus. Jadi lupakan nasi...lupakan lauk...yang tersedia di meja saat ini sudah lebih dari cukup. Menyantap potongan ikan bakarnya yang raksasa saja sudah membuat perut kenyang.
Ninda dan Shanti sibuk melayani para lelaki dengan selera makan mereka yang begitu besar, Desman dan Dicky ngobrol dengan sesekali diselingi tawa, sementara Rangga kebingungan antara memegang kamera atau piringnya. Hanya Kapten Yungke yang tidak kelihatan, mungkin dia kembali ke yacht setelah menyalakan genset untuk menghidupkan lampu-lampu penerang pulau. Putri yakin dia punya tempat tidur di sana, sebab tidak ada tempat tambahan baginya di kamar para lelaki setelah ketiga kasurnya ditempati Dicky, Rangga, dan Desman. Lelaki malang, namun Putri yakin dia pasti lebih kerasan sendirian di kapal.
“Putri nggak mau nambah lagi?” tegur Ninda.
“Boleh,deh…”
“Mau apa?”
“Udang sama cumi…”
“Kamu doyan banget, ya…” Ninda tersenyum. “Ini menu yang sama untuk porsi ketiga.”
Putri lapar luar biasa sehabis berenang dan dari semua yang terhidang, menurutnya, udang dan cumi adalah yang paling enak...kesukaannya, “Asal belum kena kolesterol, cuek aja.”
“Tapi kayaknya malem ini kita semua bakal kena kolesterol tinggi,” Ninda ketawa.
"Terima kasih buat kalian berdua, kalau begitu,” Putri ikut tertawa. “Yang penting kalian sudah siapkan ambulans buat kondisi gawat darurat.”
Keakraban Ninda membuat Putri merasa sedikit aneh. Dia baru mengobrol dengan Shanti saat berenang bersama tadi dan teman lamanya itu, seperti biasa, bergosip bahwa Ninda ternyata anak dari Radityo Adinegoro, orang yang telah merusak kebahagiaan rumah tangga orang tua Putri.
Dunia memang sempit. Siapa menyangka kalau ayah Ninda itu orang yang dulu dia benci. Namun di sinilah dirinya, berlibur bersama putri Radityo Adinegoro dengan dikelilingi fasilitas yang pastinya merupakan milik musuh papanya itu, mengobrol dan tertawa bersama gadis itu, menikmati ikan bakar di halaman villanya, dan ternyata juga dia adalah tunangan sahabatnya.
Putri bohong pada Shanti kalau dia tidak lagi dendam…
Tidak! Dia masih mempertahankan kebenciannya, meski berbeda dengan dirinya yang dulu masih suka meletup-letup dengan keinginan menghabisi Radityo dan seluruh keluarganya. Waktu telah meluruhkan akal piciknya dalam pengertian yang lebih dewasa bahwa anggota keluarganya pun korban kelicikan si Radityo, sang serigala tua itu. Keributan tentunya terjadi di dalam keluarga itu saat affair Radityo dengan ibunya terungkap ke publik. Namun Putri sulit menerima ketika keluarganya pecah, sedangkan keluarga pria itu malah semakin harmonis. Putri memandang itu sebagai ketidakadilan, membuat darahnya menggelegak, apalagi setiap melihat wajah ibunya yang menua dengan cepat, seolah terus-menerus merasa bersalah akibat beban yang tidak pernah dapat lepas selama belasan tahun dari pundaknya.
Yeah, mungkin dia tidak lagi membenci keluarga Radityo tetapi dia masih dendam pada orang itu. Dan Dicky mungkin mengenal wataknya dengan baik sehingga sahabatnya itu ragu untuk mengatakan hal ini langsung pada Putri. Walau tidak ingin bersikap ekstrem seperti dahulu, tapi Putri tidak menyangkal jika dia tetap akan membunuh Radityo bila ada kesempatan. Mungkin tidak menusuknya, tetapi paling tidak…membubuhi racun tikus di dalam kopinya!
Dicky membuka dua botol anggur sebagai pendamping ikan bakar lalu menuangkannya ke enam gelas berkaki tinggi di meja. Shanti menyenggol sikut Putri untuk melihat label pada botolnya yang menuliskan sebuah merek anggur Perancis bertahun 1979.
“Gue pernah minum yang seperti itu. Harganya lebih dari dua juta sebotolnya.”
“Masa?” batin Putri tapi dia mengangguk sebagai balasan dari komentar Shanti dan merespon pendek. “Pasti rasanya enak…”
“Kamu bercanda? Yang terbaik…” timpal Shanti mengangkat alis.
“Malam ini luar biasa bukan? Yang kurang cuma lampu ajib-ajib nih,” Dicky berseloroh diiringi tawa teman-temannya. “Dan sekarang buat puncak kejutannya…” pemuda itu merapat ke Ninda dan memeluk pinggang tunangannya. “Kami ingin tahu pendapat kalian kalau pulau ini dijadikan sebagai tempat pernikahan.”
Keempat temannya terdiam sejenak dan detik berikutnya Shanti memekik mendahului yang lain. Cewek itu paling cepat tanggap bila ada berita yang lain dari yang lain, menghampiri Ninda dan Dicky buat menyalami keduanya, ”Benarkah kalian akan menikah? Wah, itu hebat...”
Rangga langsung melompat dari tempat duduknya dan memeluk Dicky, “Gila, man. Selamat buat kalian berdua.”
Putri ikut tertawa dan mencium pipi Dicky setelah Rangga selesai dengannya, “Gue ikut bahagia...”
__ADS_1
Dicky menatapnya. Putri sadar Dicky tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulutnya, tapi Putri benar-benar mengatakannya dengan tulus. Mungkin pemuda itu akan tambah kaget melihat matanya yang berbinar, yang sayangnya tak mungkin terlihat oleh keadaan sekeliling yang suram, “Thanks. Kami ingin pernikahan ini unik sebab itu pengalaman sekali seumur hidup, bukan?”
“Jadi kapan rencana tanggalnya?” Rangga bertanya.
“Februari,” Ninda menjawab.
“Kalau begitu, ini early announcement?” komentar Shanti.
“Mas Dicky ingin sahabat-sahabatnya yang tahu lebih dulu sebelum orang lain.”
“Kita tersanjung, loh,” kata Putri. “Ada yang bisa kita bantu buat pernikahan kalian?”
“Gue mau kalian jadi pager ayu dan pager bagus di resepsi,” kata Dicky. “Kami sudah sepakat kalau tiga pasangnya dari teman-temanku dan dua lainnya dari sahabat Ninda.”
“Tapi pager ayu dan pager bagus kan usianya muda-muda?” tanya Putri.
“Jadi elu udah merasa tua?” pertanyaan Dicky membuat yang lain tertawa.
“Kalau elu merasa tua, itu mah derita elu,” sela Rangga. “Gue belum kepala tiga kok...”
“Gue sih mau melihat pasangan Putri sama Rangga nanti,” sindir Shanti.
“Elu bakal kaget kalau yang gue bawa itu Reza Rahardian…” balas Putri tak mau kalah.
“Masa, sih? Atau jangan-jangan elu malah berpasangan sama Rangga,” tambah Dicky nyengir sementara Desman, Shanti, dan Ninda tertawa terkekeh-kekeh.
“Gampang deh itu. Ntar gue juga bawa. Kalau begitu, bagaimana kalau kita toss buat Dicky dan Ninda…” ucap Rangga mengangkat gelasnya demi mengalihkan perhatian..
“Tunggu, sebelumnya seseorang harus mengucapkan petuah-petuah dulu,” Ninda menyela. “Kayaknya aku sama Dicky perlu itu…”
“Ya…ya…dan aku pikir tidak ada yang lebih cocok dari pasangan Napitupulu. Mereka kan sudah pengalaman,” imbuh Dicky.
“Bagaimana Nyonya Napitupulu?” ucap Putri setengah menggoda.
Shanti mencibir, merasa tua oleh sindiran itu, lalu menyikut suaminya. Desman terbatuk-batuk kemudian berdehem, “Baiklah, soal pengalaman itu relatif. Kita mulai dari mana, ya… kalau mengenai apa yang harus kalian lakukan di malam pertama sepertinya kalian sudah tahu, jadi saya pikir lebih baik kalian bereksperimen sendiri…”
Putri, Rangga, dan Shanti tertawa, sementara wajah Ninda dan Dicky bersemu merah.
“Memasuki hubungan suami-istri itu sebenarnya tidak cukup dengan modal cinta. Cinta itu pelicin dari suatu hubungan seperti gosip yang menjadi pelicin komunikasi sosial. Pasangan itu sebenarnya sosok paling misterius dalam hidup kita. Jika kita menggalinya terus menerus, kita akan heran mendapati bahwa kita semakin tidak mengenali dirinya. Jadi buat Ninda dan Dicky, jangan pernah berhenti menggali dan mengisi pasanganmu dalam lelah atau semangat, sedih atau gembira, sakit atau pun sehat, sebab pernikahan itu bukan akhir, tapi awal dari suatu proses kehidupan yang baru…”
Mata Ninda berkaca-kaca, “Thanks, Bang Desman.”
“Toss buat Ninda dan Dicky,” kata Putri mengingatkan.
"Toss!” seru yang lain dengan mengangkat gelasnya pula.
Anggur yang meluncur dari mulut memberikan kehangatan di sekujur tubuh masing-masing. Dicky mendesah puas, “Makasih sekali lagi buat semuanya. Gue sama Ninda nggak mungkin bisa ngelupain malam ini. Dari sini gue yakin kita berdua makin mantap melangkah ke depan.”
__ADS_1
“Kenapa kamu nggak cium calon pengantin wanita?” goda Desman.
“Ya…cium..cium,” Rangga dan Shanti bersahutan dengan noraknya.
“Jangan begitu, ah,” Ninda tersipu tapi dia tidak menolak saat bibir Dicky mendarat di bibirnya, dan spontan terdengar seruan gembira ketika keduanya berciuman mesra. Setelah itu Dicky memandang temannya satu per satu seperti tentara yang menang perang, ”Puas kalian, puas?”
“Lebih puas lagi kalau kita tambah minumannya…” usul Putri disambut tawa renyah sebagai tanda persetujuan.
“Anggur terbaik, momen terbaik, bersama teman-teman yang terbaik,” komentar Ninda.
Dicky mengangguk, “Aku suka mendengar itu. Nah, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang asyik buat menambah suasana malam yang luar biasa ini?”
“Melakukan apa?” tanya Shanti.
“Tunggu sebentar…” Dicky berlari ke villa tanpa menghiraukan pandangan bertanya-tanya dari yang lain.
“Kejutan apa lagi, nih?” tanya Rangga.
Mereka menatap Ninda, tapi gadis itu hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Tak sampai lima menit Dicky kembali dengan mengepit kotak kayu pipih berwarna hitam yang ukurannya lumayan besar, “Kalian pasti akan terkesan dengan benda ini.”
Putri sempat melirik ke arah Ninda yang mengangkat alis keheranan. Nampaknya gadis itu juga tidak paham apa maksud Dicky, apalagi mengenai isi di dalam kotak yang dibawa tunangannya itu. Berarti ini masuk dalam agenda acara Dicky pribadi, dan tidak seorang pun mengetahuinya sampai dia sendiri yang mengatakannya.
“Apa itu, ****?” tanya Shanti yang tidak tahan lagi memendam rasa ingin tahunya.
“Sabar…pertunjukannya akan segera dimulai,” ujar Dicky sambil membuka kotak di hadapannya. Diliputi rasa ingin tahu yang besar, semuanya langsung berkerubung untuk melihat apa yang terdapat di dalam kotak itu.
Bagian dalam kotak terbagi dua, yang sebelah kiri berisi sebuah papan kayu yang cukup tua berukuran empat puluh kali tiga puluh senti dengan tebal tiga senti. Di permukaannya diukir alfabet, deretan angka, dan berbagai simbol. Deretan angka di bawah papan berisikan angka satu sampai nol, semuanya angka satuan, sementara angka puluhan yang dibuat hanya satu, angka tiga belas, yang berada di belakang angka nol.
Di tengah terdapat alfabet dari A sampai Z yang ukurannya lebih besar dari deretan angka. Alfabet itu diukir dalam jarak yang sama jauhnya satu sama lain sehingga menunjukkan sifatnya yang individualistik. Di atas papan, persis di tengah-tengahnya, terdapat simbol bintang terbalik yang diapit dua buah lingkaran bertuliskan kata YES dan NO, semuanya bersepuh emas. Di bagian kiri dan kanan alfabet tersebut terdapat berbagai simbol ganjil dalam alur mawar berduri. Ada beberapa simbol yang Putri tahu seperti Ω yang berarti omega - “akhir”, ∞ yang merupakan simbol umum sebagai simbol tanpa batas, atau ♀♂ yang merupakan simbolik persatuan pria dan wanita, tetapi selebihnya seperti ∏, Φ, ж, ﷲmerupakan bentuk yang belum pernah dijumpainya.
Selain papan penuh simbol dan huruf itu, di sebelah kanannya terdapat kaca pembesar berbentuk segitiga dengan ukuran yang sama di setiap sisinya. Bingkai dari kaca pembesar itu terbuat dari bahan yang sama dengan papan di sebelahnya, nampak mengilat meski tidak dipelitur. Di bagian tengah kaca cembung terdapat grafir transparan dari lambang bintang terbalik yang sama dengan yang terukir di papannya.
Putri tak tahu benda apa itu, namun hawa mistis memancar kuat darinya, dan hawa ini terasa jelas...sejelas hawa yang dirasakannya ketika mengunjungi rumah seorang dukun bersama Ichsan dalam rangka wawancara untuk materi siaran. Hawa mistis seperti itu ringan, tapi juga mengerikan karena dapat mengikat amat kuat, seolah hendak menelan dirinya bila dia lengah sedikit saja.
“Benda ini adalah pintu…” Dicky menerangkan. ”…yang menghubungkan segala masa, masa kini dengan masa lampau, masa depan, bahkan ke masa yang kita tak tahu di mana.”
“Omongan elu mirip Deddy Corbuzier,” komentar Shanti.
“Gue serius…benda ini memungkinkan kita untuk berhubungan dengan dimensi roh yang membuat kita bisa mengetahui apa pun yang kita inginkan,” kata Dicky.
“Maksud elu mirip jalangkung?” pertanyaan Putri membuat yang lain menoleh padanya.
“Persis,” kata Dicky nyengir. “Kamu masih ingat itu?”
“Bagaimana tidak?” Putri gerah melihat Dicky bersikap begitu santai dalam hal ini.
Ya, bagaimana tidak...jalangkung....atau ouji, sebutan dari permainan yang baru dia ketahui nama sebenarnya sekarang, telah menorehkan cerita duka yang hebat dalam sejarah kehidupannya...
__ADS_1