
Seperti banyak gedung besar di kota besar pada bulan Desember, nuansa Natal juga memenuhi interior hotel di mana Putri sedang berada. Mulai dari pohon cemara dengan kotak-kotak kado di bawahnya yang terpasang di lobby, lampu warna-warni yang menempel di railing tangga dan meja resepsionis, sampai berbagai hiasan dalam paduan warna merah-hijau yang bertebaran sebagai ornamen menyambut hari lahirnya Sang Juru Selamat manusia.
Putri mengikuti Desman dan Shanti menuju cafetaria yang tidak begitu ramai pagi hari itu. Sepasang turis Jepang duduk tak jauh dari pintu masuk, wanita Korea dalam pakaian olahraga di sebelah meja buffet berisi roti panggang, sepasang turis Jerman dengan kedua anak mereka yang bertampang bandel di dekat stand omelet, sementara tiga orang yang mereka cari duduk di bagian tengah. Salah satu dari ketiganya, yang ternyata Dicky melambai...
”HAAAIIII....Giiillla kaaanggen gue sama eluuu...apa kabar?”
”Busyet...elu makin cantik aja. Minder gue.”
”Long time no see. Sekarang elu tinggal di mana?”
”Hape elu susah banget dihubungi cumi...”
”Hape gue lobat...”
”Baru juga beberapa jam lalu kontek-kontek...sekarang sudah lobat. Beli baru napa?”
”Yah, elu tahu kan gue kaum duafa. Kasih sumbangan dong.”
”Semprul!”
Dicky, Putri, Rangga, dan Shanti bertingkah seperti anak kecil sehingga Desman dan Ninda, yang terhitung orang luar bagi keempat sahabat itu jadi kikuk. Pekikan-pekikan kecil dan celotehan keempat sahabat itu mengundang perhatian dan senyum beberapa tamu di lobby hotel dan keduanya hanya mengangguk sopan, berusaha menjaga etika sebab pura-pura tidak kenal dengan kelompok riuh itu juga mustahil sebab orang-orang sudah melihat mereka ada di dalamnya.
“Halo George…” goda Rangga sembari mengedipkan mata.
Putri melempar senyum sebal. Tak mengira Rangga masih ingat dengan julukan itu. Mereka berempat dulu penggemar kisah Lima Sekawan, karya Enid Blyton. George adalah salah satu tokoh di klub detektif Lima Sekawan, yang sebenarnya seorang gadis tapi selalu bertingkah laku, berpotongan rambut, bahkan berpakaian bak lelaki, bahkan mengganti namanya dari Georgina menjadi George. Begitu kelaki-lakiannya si George hingga orang yang baru kenal dengannya tidak pernah menyangka kalau dia itu perempuan. Putri sadar dirinya tomboi tapi tidak mengerti bagaimana dia bisa disamakan dengan tokoh itu. Dia tidak pernah ingin menjadi laki-laki. Menjadi perempuan adalah anugerah terbesar baginya, meski tak menutup kemungkinan bahwa dia bisa melakukan hal-hal yang juga dilakukan pria. Lagi pula dia sama sekali tidak berminat mengganti namanya menjadi nama laki-laki, misalnya dari Putri menjadi Putra.
”Masih inget aja lu! Itu kan jadul banget,” Shanti tertawa sambil menepak bahu Rangga.
“Gila, George…elu tetep sporty abiz. Eh, apaan nih…” seru Rangga. Dia menarik lengan Putri dan memperhatikan tato yang ada di situ dengan saksama. “Walah…kueren banget. Ini permanen?”
“Nggak, temporary…” Putri menjawab.
“Gaya,lu. Mau jadi korban wave-punk lagi?”
“Kok gue nggak liat waktu di studio YOUNG FM?” ujar Dicky.
“Gue pake jersey lengan panjang, ingat?“ sahut Putri lalu memandang Rangga. “Dan ini jelas beda sama behel elu yang aneh itu…”
“Sialan. Elu masih inget?” ganti Rangga yang menyentakkan lengan Putri.
“Gimana nggak? Setiap nyengir gigi elu bercahaya.”
“Dicky, gue baru tahu elu sekarang pake kacamata. Kayak profesor…” Shanti berkata.
“Hampir. Gue Doktor,” Dicky berkata dengan cuping hidung melebar karena bangga.
“Doktor cinta,” sela Putri tak mau kalah.
“Elu lagi hamil, ya?” ujar Dicky.
Shanti manyun sementara Putri tertawa, “Gue sering bilang gitu ke dia…”
“Tapi elu makin chubby aja. Gemes deh gue…” Rangga pun mencubit kedua pipi Shanti.
Mimik muka Desman berubah. Dia belum terbiasa dengan keakraban seperti ini namun tak bergeming, mungkin Shanti sudah memperingatkannya kalau dia bakal menemui sahabat-sahabatnya yang berkelakuan edan.
“Jangan gitu, ah! Gua bawa bodyguard, lho…”
"Oh, iya…sorry,” Rangga nyengir lalu melepas cubitannya.
“Kenalin, ini Desman, suamiku…”
__ADS_1
“Rangga.”
“Desman Napitupulu.”
“Oh? Sori…Rangga Prambodo.”
“Kayaknya kita belum kenalan,” kata Putri menyapa gadis di sebelah Dicky.
“Tunangan gue, Ninda…” kata Dicky kemudian.
Putri dan Shanti menyalaminya. Ninda Wiyanti seorang gadis bertubuh mungil dengan proporsi tubuh yang amat baik. Kulitnya kuning langsat, rambutnya yang dicat nampak membiru saat terkena cahaya lampu cafetaria, tubuhnya menyebarkan wangi parfum Dior keluaran terakhir. Meski pakaiannya berkesan santai, baju overall ala montir, namun merek yang ada di sana menggambarkan tingginya kelas sosialnya. Gadis itu mengingatkan Putri pada boneka porselen yang mahal sekaligus rapuh, dan siapa lagi orang yang tepat untuk berada di sampingnya, mendampinginya, melindunginya, dan mungkin juga… memanfaatkannya, kalau bukan Dicky.
“Kalian udah pada makan?” tanya Dicky.
“Kebetulan kita sudah sarapan bubur sebelum jemput Putri. Nggak tahu kalau Putri...” kata Shanti lalu menengok ke arah Putri.
“Gue belum, sih. Tapi kalau kita sudah mau berangkat, langsung saja.”
“Nggak apa-apa. Masih ada waktu sepuluh menit lagi,” kata Dicky. “Gue nggak mau terburu-buru atau persiapannya jadi payah.”
“Persiapan apa?” Putri mengangkat alis.
“Persiapan ke Villa Magenta.”
“Memangnya perlu persiapan khusus apa? Kan kita bisa langsung naik mobil ke sana,” tanya Shanti ikut bingung.
Ninda tersenyum dan dia menimbrung dalam pembicaraan, “Setengah perjalanan memang, tetapi setengahnya lagi tidak.”
“Maksudnya gimana?” tanya Putri dan Shanti seperti sedang ikut dalam paduan suara.
“Mereka mengira Villa Magenta itu ada di Anyer atau Ancol,” komentar Dicky yang memandang tunangannya sembari tersenyum simpul.
“Memangnya kamu belum bilang ke mereka?” ucap Ninda.
Ninda tertawa dan mengangguk paham, “Maksudnya, kita harus naik kapal ke tempat itu sebab Villa Magenta ada di tengah laut.”
“Di tengah laut? Woow...coool...” mendengar itu, Putri langsung dipenuhi gairah.
***
Desman bersiul kagum. Shanti melongo. Mata Putri berbinar-binar. Rangga mengangguk-angguk. Sementara Dicky dan Ninda berpelukan sambil tertawa geli melihat reaksi mereka. Laut nampak tenang sementara gulungan awan menampilkan panorama cantik yang berpadan dengan langit yang cerah tetapi pemandangan yang terhampar itu tenggelam oleh penampilan benda sepanjang sepuluh meter berdesain aerodinamis dengan label nama Magenta tertempel satu setengah meter dari depan lambung di sisi kanannya.
Yacht itu merupakan kapal bermotor ganda berukuran sedang, dengan daya angkut hingga 10-15 orang. Memiliki fasilitas berupa kabin kendali khusus, ruang santai yang telah dimodifikasi dengan peralatan home entertainment, dan sebuah kamar tidur dengan ranjang bertingkat dua. Cukup lincah untuk bermanuver tapi tidak sempit dari sudut kenyamanan. Bagian luarnya yang terbuat dari fiber glass kelihatan baru saja dipoles, membuatnya tampak cantik di antara kapal-kapal lainnya yang tertambat di dermaga marina Ancol itu.
“Kita akan naik ini?” Shanti bertanya setengah gugup.
“Jangan bilang kalau elu masih suka mabok laut…” Dicky berkomentar.
“Memang masih, “ sahut Desman.
“Wah, kalau begitu siap-siap, Bang,” kata Putri.
“Atau Shanti mau tinggal di sini aja?” tanya Ninda polos.
“Enak aja. Nggak dong. Aku akan ikut kalian sampai ke mana pun!” bantah Shanti.
“Iya, kapan lagi bisa naik kapal pribadi?” ledek Rangga.
“Ayo naik,” kata Dicky sembari mendahului yang lain.
Rangga mengeluarkan handycam ponselnya lalu mengarahkan benda itu ke dirinya, “Hari ini, 15 Desember, gue ama anak-anak ngumpul lagi. Kita mau berangkat ke Villa Magenta naik ini nih...” dia membalikkan kameranya dan mengarahkan berkeliling, dari dok sampai menyorot seluruh detail kapal. “Nah, kalian senyum dong…” Putri, Ninda, dan Dicky langsung pasang aksi dengan melambai-lambai ke arah kamera sementara Shanti dan Desman berlagak menikmati pemandangan laut dari dek.
__ADS_1
Seorang lelaki berusia lima puluhan dengan tinggi yang tidak melebihi leher Dicky keluar dari kabin. Tangannya belepotan oli. Rambutnya yang beruban nampak bertahan hidup di atas kepala yang menampakkan tanda-tanda kebotakan, mungkin sekitar tiga atau empat tahun lagi tak akan ada lagi kehidupan di sana. Kumis lebatnya yang berantakan tidak bisa menyembunyikan senyum ramah dari bibirnya yang tebal dan tengah menjepit sebatang rokok kretek. Dia memakai rompi pelaut, tanpa apa pun di baliknya, sehingga Putri bisa melihat dadanya yang berkerut dan penuh bintik hitam, sementara itu celana pendeknya terlihat basah di bagian bawah.
“Halo, Kapten…”
“Pagi, Pak Dicky,“ balas pria itu menabik kemudian memandang rombongan di belakang Dicky. “Sudah kumpul semua?”
“Ya!”
“Kalau begitu kita bisa berangkat.”
“Siapa dia?” bisik Putri kepada Ninda yang berada di sebelahnya.
“Namanya Yungke, sopir kapal ini. Dia selalu senang jika kita memanggilnya Kapten,” jawab Ninda.
“Semua pelaut kayaknya begitu…” komentar Putri.
Dan seperti layaknya pelaut, si tua Yungke tak terlalu banyak basa-basi. Setelah ngobrol singkat dengan Ninda, dia
kembali ke kabin untuk melakukan pemeriksaan akhir pada mesin kapal. Dia hanya sempat mengucapkan satu kalimat pada semuanya, ”Hari ini cuacanya cerah, baik untuk berlayar…”
Yang lain mengikuti Dicky ke ruang santai. Peralatan home entertain yang berupa televisi flat 31 inch, subwoofer dan surround, pemutar CD terletak di atas karpet bulu domba. Sofa beludru berwarna senada dengan karpet bulu domba menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati fasilitas yang ada. Kulkas mini berisi aneka minuman ringan dan soda ditaruh di bawah bantalan tengah sofa yang bisa dibuka-tutup. Tak banyak aksesori dalam ruangan tersebut; termometer berbentuk jangkar, jam kukuk di dinding, sementara di bagian tengah ruangan tergantung miniatur kapal dalam botol yang sekaligus berfungsi sebagai lampu.
“Berapa lama perjalanan ke Villa Magenta?” tanya Putri.
“Kira-kira tiga perempat jam.”
Putri meletakkan ranselnya yang gendut lalu duduk berselonjor di karpet yang terasa begitu lembut di telapak kakinya. Yang lain melakukan hal serupa da menumpukkan barang-barang mereka di samping ransel Putri. Seperti dugaan Putri, para lelaki begitu santai dengan bawaan mereka, sementara Shanti yang paling repot dengan dua buah tas koper ukuran jumbo. Putri tidak habis pikir apa saja yang dibawanya di situ, mungkin hampir seluruh isi lemari pakaiannya di rumah, padahal yang dikenakannya nanti paling hanya itu-itu saja, tetapi memang begitu adat Shanti; better save than sorry. Ninda dan Dicky yang paling santai, mungkin mereka sudah meletakkan barang-barang di kapal ini sehari sebelumnya, atau bisa jadi perlengkapan mereka malah sudah tersedia di Villa Magenta..
“Ini kejutan yang menyenangkan,” kata Putri. “Benar-benar reuni yang luar biasa. Entah kejutan apa lagi yang sudah kalian siapkan…”
“Tunggu sampai kalian lihat villanya,” ujar Dicky mengedipkan mata.
“Ada yang mau minuman ringan?” Ninda menawari.
“Coke,” jawab Shanti cepat.
“Sama,” kata Putri.
“Bir saja kalau ada,” ujar Desman.
“Gue melewatkan sesuatu?” tanya Rangga yang muncul dari kamar disertai cengiran.
“Belum terlalu banyak,” jawab Putri. “Ngapain aja sih? Jangan sok sibuk di dalam sana. Masa elu membiarkan kita
bersenang-senang sendiri di sini?”
“Langsung ambil minumannya, kawan,” Dicky menunjuk lemari es.
“Ah, ini memang yang gue perlu,” kata Rangga yang kemudian mengambil sekaleng bir.
Kegembiraan itu makin meriah ketika Dicky menyalakan karaoke sebagai pengisi waktu perjalanan. Desman, Ninda, Dicky, dan Rangga berlomba menyumbang suara meski angin laut dan yacht menimbulkan bunyi berisik. Putri dan Shanti hanya tertawa-tawa memperhatikan tingkah keempat penyanyi dadakan itu terutama saat mereka salah mengambil nada. Keduanya sedari dulu merupakan sejoli yang tak pernah mau terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan mereka bernyanyi.
“Ayo, George. Gantian dong,” Dicky berkata sembari menyodorkan mic.
“Nggak, ah,” Putri menolak.
“Elu kan udah biasa kerja di depan mikrofon,” Shanti memanas-manasi hingga Putri melotot padanya.
“Eh, kenapa bukan elu aja yang nyanyi?”
“Gue mau kasih kesempatan elu duluan,” kata Shanti nyengir.
__ADS_1
“Padahal Shanti itu udah dilatih keras sama bang Desman. Gimana nih, bang? Masa muridnya malu-malu?”
“Iya, ayo dong sayang…” sambut Desman dan kini Shanti berbalik keki sebab perhatian semua orang terarah padanya. Dia terpaksa mengambil mic dengan hati dongkol dan Putri harus menahan ketawa mendengar suara menyedihkan itu. Belum selesai Shanti menyanyikan bait kedua, gadis itu menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapa pun.