BLOODY REUNI

BLOODY REUNI
BAB 3 MENJELANG EKSEKUSI


__ADS_3

Girza menatap serius ke objek yang berada di depannya. Sepintas pandangannya nyaris kosong, padahal ia sedang berkonsentrasi penuh. Titik di dinding sel kumuh yang tercipta lewat halusinasinya menjadi fokus dari seluruh perhatiannya. Di titik itulah dia awalnya mengamati seekor laba-laba yang baru saja pergi setelah memangsa lalat yang hinggap di jaringnya.


Dia memaki dirinya sendiri karena ketakutan ini terus menguasainya sejak kemarin. Ketakutan yang sama seperti yang dirasakan sang lalat tatkala melihat sang pemilik sarang datang memangsanya. Bagaimana dia bisa menyelesaikan tugas jika rasa takut membuatnya berpikir seribu kali buat membatalkan, atau setidaknya menyangkali perbuatannya? Dia juga sempat memukuli dirinya sendiri saat mengetahui dirinya menangis seperti anak kecil, di dalam sel tersebut, saat vonis hukuman mati dijatuhkan padanya.


Tapi syukurlah…dia sekarang terinspirasi…sehingga dia yakin sekaranglah saat yang tepat untuk memulai ritualnya. Ritual dari cara menyongsong kematian yang dipelajarinya dari sebuah buku arkeolog mengenai suku Wangamuay di Papua. Ritual itu tidak melibatkan mantra rumit atau gerakan yang sulit dihafal. Caranya sederhana, duduk diam dalam posisi bersila sementara seluruh nafas dibiarkan tenang. Ini membawanya ke dalam aliran kebahagiaan yang begitu mendamaikan jiwanya.


Girza seorang pria bertubuh tinggi-besar. Tingginya memang belum menyamai postur pemain basket, tetapi dia lebih tinggi sekepala dari rata-rata pria Indonesia sementara tubuhnya bagai banteng dengan otot yang melingkar penuh dengan bonggol menonjol yang memenuhi lengannya. Lehernya mengingatkan orang pada Mike Tyson.


Tak ada yang tahu kalau dia pernah memanfaatkan keunggulan fisiknya untuk menjadi seorang pegulat. Itu karena dia menyembunyikannya dari semua orang, termasuk orang tua dan keluarganya. Nyatanya dia memang pernah memanfaatkannya, sewaktu remaja, sebagai pegulat amatir di arena ilegal yang kerap dijadikan komoditi judi. Dua musim berturut-turut dia menjadi idola para bajingan karena memberikan banyak lembaran hijau dari hasil taruhan pertarungan hidup-matinya. Prestasi yang membanggakan sebenarnya, tapi Girza memilih untuk tidak menceritakannya sebab hal itu tidaklah penting.


Begitu besarnya tubuh Girza sehingga sel yang melingkarinya terlihat begitu penuh buat dirinya. Ruangan berukuran dua kali tiga meter itu nampak malu-malu mendapati dirinya harus ditempati pria sebesar Girza. Bahkan jeruji sel yang dingin tidak terlihat lebih dingin dari kilatan mata pria tersebut. Dia telah menjadi akrab dengan sel kecilnya sejak dua tahun ini, khususnya di masa-masa persidangan yang alot.


Lantai semen telah menjadi teman tidur yang akrab sebab hanya di situlah dia mendapat kenyamanan usai menghadiri perdebatan melelahkan dari orang-orang yang menyebut dirinya pintar dan beradab karena mengerti hukum. Dindingnya dikapur serampangan. Estetika atau keindahan merupakan barang mewah di tempat ini. Yang terpenting adalah fungsionalitas sehingga masalah layak atau tidak itu tidak perlu dipusingkan.


Pembuat sel yang tak mengenal estetika ini menjadi contoh bagi para penghuni sel karena mereka juga tidak memperlakukan tempat ini laksana rumah sendiri. Coretan dalam berbagai bentuk dan rupa nampak di keempat sisi dinding. Salah satunya coretan puluhan batang di dinding yang akhirnya dia pahami sebagai coretan penghitung hari, entah hari-hari terakhir hidup seperti dirinya, atau sekedar hiburan untuk mengisi hari yang penuh dengan sepi dan kebosanan.


Jerujinya terbuat dari batang besi kelas dua, tidak terlalu mewah, namun cukup efektif untuk membuat siapa pun yang dikurung tidak dapat keluar dengan seenaknya. Walaupun korosi telah membuat jeruji besi keropos, namun sia-sia bila mengharapkannya terlepas dari engselnya begitu saja, mungkin itu hanya akan terjadi ratusan tahun mendatang.


Dia telah menabur angin dan saat ini dia harus siap menuai badai…badai itu tidak lain adalah penjara ini...dan yang lebih besar lagi akan menjelang, yakni kematian dirinya...


Dia telah menabur angin berupa pelepasan jiwa dan sebagai imbalannya, dia akan menuai badai berupa pelepasan jiwanya sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan dalil yang seharusnya dan bukankah memang itu yang dia inginkan?


Jiwanya tidak boleh berlama-lama terkungkung dalam tubuh ini. Jiwa bersifat lekang, sementara tubuh akan hancur. Sebagai seseorang yang cukup paham mengenai keterbatasan jiwa, dia ingin melepaskan jiwanya sendiri untuk bisa meraih fungsi optimal dari jiwa sebagai zat yang mengalir lepas dari batasan fana. Dan jika dia telah melaksanakan tugasnya seharusnya dia gembira atas imbalannya, badai pernyataan syukur dan terima kasih dari jiwa-jiwa yang telah dibebaskannya lebih dahulu dan kini rindu buat bertemu dengan sang pemimpin…sang pemilik jiwa-jiwa mereka.


Jiwa-jiwa yang akan ditemuinya nanti. Mereka adalah kekasihnya, sesamanya, teman seperjuangannya, dan Girza yakin bahwa dia tidak sendirian dalam pencariannya sebagai jiwa yang berupa zat. Hanya kumpulan jiwa ini yang mengerti dari seluruh perjuangannya, tidak peduli ketika sekelilingnya mencerca atau memakinya dengan sebutan pembunuh maniak, jiwa-jiwa ini selalu di sampingnya sebab hanya merekalah yang mengerti maksud dari semuanya…


Kalau begitu biarkan anjing menggonggong…biarkan dunia berbisik-bisik satu sama lain...sementara pasangan muda yang saling bergairah ini, dirinya bersama kumpulan jiwa ini, tetap memiliki dunia di mana orang-orang lainnya hanyalah penumpang jahil yang tak layak dipikirkan.


Dirinya dan kumpulan jiwa ini…kekasih…ya, benar…

__ADS_1


Dengan kata lain dia bahagia. Sepenuh-penuhnya. Tanpa merasa menyesal. Bahkan penyesalannya berpihak pada kebodohannya yang tidak mengemban tugasnya lebih awal. Andai saja dia menyadarinya lima tahun lebih awal, maka akan lebih banyak lagi jiwa-jiwa yang akan dibantunya….dan tidak ada lagi yang membuatnya bahagia selain melakukan kewajiban ini. Girza bangkit dalam kegembiraan meluap yang tidak dibuat-buat. Dia sedang mendekati tahap akhir dari terwujudnya keinginan menjadi zat yang optimal, yang bisa melepaskan diri dari penjara tubuh yang fana.


Tidak ada lagi yang dapat menghalanginya. Eksekusi ini justru membantunya. Ini takdir. Jalan yang telah ditentukan baginya. Sebuah jalan untuk merengkuh keabadian yang didambakan serta penyatuan yang utuh dengan kumpulan-kumpulan jiwa yang akan dipimpinnya selayaknya seorang istri dan pengantin yang patuh. Yang perlu dia lakukan hanya menjadi bagian di dalamnya dan menjalaninya.


“Tidak ada lagi yang menghalangiku. Aku akan menjadi penuh dan optimal,” begitu berkata demikian, dia tertawa terbahak-bahak. Kelelahan dan penat yang merajam tubuhnya hilang, ketakutan dan kecemasan yang merundung hatinya menguap, dan tubuhnya yang telah terlatih merasakan gerak alam mengerti bahwa di luar matahari telah naik sampai ke puncak cakrawala, dan itu berarti sudah waktunya bagi dia untuk bersiap-siap.


“Sudah saatnya,” Girza bergumam.


Pria itu mendekati wastafel jorok yang mengeluarkan bau tak sedap dari lubangnya. Di atas tatakannya tergeletak pisau cukur, sikat gigi, odol, sabun, dan parfum murahan.  Perhatian narapidana yang dieksekusi mati biasanya lebih tertuju soal mendekatkan diri pada Tuhan dan bukannya kerapian diri sehingga peralatan murahan itu cuma sebagai formalitas.


Girza geli memikirkan bagaimana para tahanan eksekusi ini bisa tiba-tiba menjadi lebih banyak berdoa bak seorang santo, atau berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, menjelang kematian. Padahal mereka tidak pernah melakukan itu sepanjang hidup mereka dan hukuman mati yang mereka terima jelas merupakan konsekuensi atas kejahatan mereka sendiri. Tapi itulah yang terjadi sehingga pihak penjara lebih sibuk mencari orang-orang soleh untuk berdoa bagi terpidana mati daripada membeli sabun dan parfum yang kelasnya lebih baik dari ini.


Diambilnya pisau cukur dan dipandanginya. Pikiran jahil muncul supaya dia menyembunyikan pisau itu di balik lipatan bajunya sehingga dia bisa lari dari penjara gila ini dengan menusuk salah satu penjaga yang nanti akan mengawalnya. Tetapi itu pikiran konyol. Pisau itu berukuran besar sehingga tidak mungkin dia sembunyikan tanpa ketahuan, hambatan lain seragam penjara yang dikenakannya dibuat dalam pola polos tanpa kantung atau saku untuk menyimpan pisau itu jika dia bisa mengambilnya tanpa ketahuan.


Girza meletakkan pisau cukur itu ke dagunya dan mulai membersihkan rambut tipis yang tumbuh serampangan di sana. Selanjutnya dia mengambil aftershave, membuat seluruh wajahnya bukan hanya terlihat licin tapi juga wangi, menggosok gigi, dan menyisir rambut. Terakhir dia menyemprotkan parfum murahan berbau menyengat ke sekujur tubuh. Kalau mereka menginginkan tahanan ini tampil rapi, maka tak ada salahnya memberikan yang mereka mau karena mereka pun memberikan apa yang dia ingini, eksekusi sebagai jalan pelepasan…


Sedikit kerapian tidak masalah baginya, lagi pula rasanya menyenangkan bisa tampil gaya setelah terpendam dalam sel busuk ini sekian lama. Setelah menyelesaikan ritual kerapian itu dan berkaca di depan cermin, Girza merasa bagai remaja yang baru berdandan untuk kencan pertamanya. Dia tampak puas pada penampilannya yang baru. Semua persis yang dia bayangkan tentang dirinya, kecuali wangi memuakkan dari parfum murahan yang mereka berikan.


Sialnya, pada korban kesembilan itu usahanya dihentikan para manusia yang lemah iman. Girza tidak tahu apakah ini berarti sesuatu namun tanpa mereka sadari, angka sembilan juga merupakan angka krusial kejawen, juga angka krusial dari nyawa seekor kucing yang membuatnya menjadi makhluk tak terkalahkan secara gaib di muka bumi ini. Jadi kalau dia benar dengan keyakinannya...ada kesempatan dia bisa lolos dari ini semua untuk meneruskan misinya, yakni tiga belas korban menuju kehidupan abadi...


Kekayaan atau kesaktian bukan tujuan hidupnya. Keduanya sampah bila dibandingkan dengan hidup abadi yang dikejarnya. Hidup abadi adalah kesempurnaan hidup. Siapa yang tidak ingin hidup abadi? Dengannya, dia tidak hanya akan dapat menguasai materi atau ilmu sesulit apa pun, namun juga kesempatan buat menjadi dewa atas sebuah kehidupan. Bukankah itu yang ditakutkan Tuhan untuk dimiliki Adam sehingga Dia mengusir manusia itu bersama istrinya keluar dari Eden, supaya Adam tidak memakan satu lagi buah yang dinamakan buah kehidupan yang berada di samping buah pengetahuan?


Di tengah gemuruh semangat yang mulai menggelembung, lelaki itu tidak membiarkan rasa ragu mematikan keyakinannya. Untuk itu dia berharap bahwa angka sembilan memang mengandung tuah khusus baginya. Radio di atas meja wastafel memainkan tembang,


“Dan bila mentari esok kan bersinar lagi


 kuingin candamu warnai hariku…


 Dan bila esok kau tiada hadir temaniku

__ADS_1


 Tak terbayangkan setengah mati kehilanganmu…”


“Kamu terlihat berbeda hari ini...”


Girza menoleh dan dilihatnya para penjagal telah datang. Tiga orang sipir berdiri di depan pria berseragam yang jabatannya lebih tinggi. Sipir pertama seorang pria bertubuh tegap berdada bidang dalam seragam ketat yang disetrika rapi. Kumisnya selalu disisir rapi sehingga jarang melenceng barang satu senti dari alurnya. Yang kedua berusia sedikit lebih tua dari yang pertama dengan tubuh gempal dan rambut yang tersisir klimis yang tersembunyi di balik topi dinas. Sedangkan yang ketiga paling muda di antara keduanya, namun wajahnya yang kaku bak petinju menunjukkan kekerasan hati yang patut diacungi jempol.


Girza tersenyum sinis, perlu lebih dari dua orang untuk mengamankannya sampai ke ruang eksekusi. Dengan tubuhnya yang kekar dan besar Girza mampu menjatuhkan para sipir itu jika berkelahi satu per satu, bukan sekaligus. Sementara di belakang mereka adalah pria yang berkomentar barusan, berusia sekitar pertengahan empat puluhan dengan seragam rapi dan tahi lalat besar di dagunya dan dikenalnya sebagai Kepala Rutan Sunaryo.


“Harus. Bukankah ini hari istimewa?” Girza menanggapi santai, tak lupa memamerkan cengirannya.


“Syukurlah kalau begitu,” ujar Sunaryo.“Kamu yakin tidak perlu pendeta, ustadz, atau semacamnya?”


“Tidak perlu. Aku bukan milik salah satu dari mereka,” Girza menjawab tegas.


Sang Kepala Rutan mengangkat bahu, “Bawa dia.”


“Tangan ke depan,” kata sipir kedua, sementara matanya melirik ke arah wastafel. Mengawasi jika pisau cukur tidak ada di tempatnya. Namun benda itu masih tergeletak di sana, terlipat rapi di sebelah odol yang tinggal setengah. Pria itu mendesah lega lalu mendekati Girza yang telah menyorongkan kedua tangannya ke depan. Sipir gempal itu meraih borgol berantai panjang dari kantung untuk mengikat kedua lengan Girza. Sambil mengerjakan tugasnya, lelaki itu berkata, “Kamu sudah jadi selebritis sekarang, Girza. Banyak wartawan di luar yang mau interview kamu.”


“Mereka tidak perlu melakukan itu kalau tidak ingin sampul majalahnya dihiasi gambar monster,” kata Girza.


“Masih juga bisa bercanda?” setelah yakin dengan kekuatan borgolnya, sang sipir memberi anggukan kepada yang lain dan rombongan itu pun melangkah ke ruang eksekusi.


Seperti yang disebut dalam siaran radio, tiga orang VIP yang adalah Very Imbecile Person bagi Girza, telah hadir di depan ruang eksekusi. Lengkaplah sudah panitia perpisahan walau dia merasa kurang tanpa adanya media. Tadinya dia berharap pihak media juga bisa masuk buat meliput penghukuman matinya sehingga seluruh Indonesia akan melihat dirinya, tetapi orang-orang imbisil ini pasti tidak sudi menjadikannya selebritis.


Girza menyapukan pandangan ke penjuru ruangan dengan menantang. Tidak merasa terintimidasi meski sadar banyak tawa tersembunyi dari tatapan orang-orang ini. Sebaliknya dirinya sedang gembira. Bersemangat. Lelaki itu mengumbar senyum kepada semua yang hadir hingga membuat semua orang memandang heran karena tidak mendapati rasa takut dalam diri si terhukum. Senyum itu merupakan sebuah senyum kemenangan. Senyumnya yang lepas merupakan sebuah isyarat sopan yang memberi tahu setiap mereka bahwa dirinya menaruh hormat pada setiap individu dan jiwa-jiwa.


Dikawal ketiga sipir berwajah garang di belakangnya, Girza berjalan menuju lapangan eksekusi di mana di sana sudah berdiri tujuh orang tentara dengan senjata laras panjang di tangan. Girza pernah dengar kalau hanya satu peluru mematikan yang diberikan kepada para algojo ini untuk mengurangi dampak dari rasa bersalah akibat membunuh orang dengan sengaja. Tapi biarpun ketujuhnya diberi peluru mematikan pun, hal itu bukan masalah baginya. Dia tersenyum mengejek, “Itu karena mereka lemah. Tidak layak menjadi algojo.”


Girza menolak saat sipir berusaha memakaikan penutup kepala. Setelah mengangkat bahu, sang sipir kemudian pergi dan membiarkan Girza dalam keadaan apa adanya. Dia berdiri memunggungi dinding beton yang kusam. Warna kecokelatan yang sempat dilihatnya tadi nampaknya merupakan cokelat dari noda darah para narapidana yang dihukum mati di sini.

__ADS_1


Ketujuh penembak berdiri sejajar di belakang garis dan mengangkat senjata masing-masing. Seorang lelaki bertubuh tegap yang nampaknya menjadi pemimpin eksekutor mengangkat tangan dan berkata lantang,”Siapkan senjata!”


”TEMBAK!” Senjata api pun menyalak...


__ADS_2