BLOODY REUNI

BLOODY REUNI
BAB 6 ADA SEJARAH KELAM DI SANA


__ADS_3

Angin mengibarkan rambut pendeknya ketika Putri berdiri di dek. Gadis itu meneguk kaleng coca-cola sembari memandangi buih air yang meriak oleh tendangan baling-baling yacht dan meninggalkan jejak di permukaan air. Beberapa kaleng minuman dan sampah plastik nampak menyingkir terkena arusnya. Sedihnya melihat keadaan laut macam ini. Dari luar masih terlihat menarik, tetapi entah apa yang tertimbun di dalamnya.


Dia pernah membahas tentang ini bersama pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dalam salah satu siaran di Breakfast with Play. Miris mendengar informasi sampah yang dibuang ke laut jumlahnya begitu besar dari tahun ke tahun, sementara sang bapak yang berwenang tidak mampu membuat blue print penanganan secara menyeluruh. Ketidakmampuan menanggulangi sampah anorganik di seluruh daratan dan tempat pembuangan akhir di Indonesia membuat sebagian sampah tersebut harus dibuang ke suatu tempat agar jangan sampai menjadi limbah beracun di darat. Dan di mana lagi tempat alternatif untuk itu selain laut?


Kenyataannya, apabila sampah anorganik sulit diurai dan jadi ancaman bagi kehidupan makhluk di darat, tentunya hal yang sama dengan kehidupan di laut. Lucunya sang pejabat mengeluhkan anggaran yang tak memadai sebagai pendukung program-program rehabilitasi, kalau sudah begitu rasanya hanya tinggal menunggu waktu sampai negara ini tenggelam dalam sampah-sampah. Masalah lingkungan sebenarnya masalah sikap. Semua dimulai dari diri sendiri. Mengingat hal itu, Putri buru-buru mengurungkan niatnya melempar kaleng minumannya.


“Sedang apa sendirian di situ?”


Putri menoleh dan dilihatnya Kapten Yungke melongokkan kepala dari ruang kemudi. Lelaki tua itu tersenyum lebar dan melambai sebagai isyarat agar Putri naik ke tempatnya. Untuk sampai ke ruang kemudi, dia harus menaiki tangga di sebelah kabin tengah. Tangga itu cukup landai sementara pegangannya yang terbuat dari besi semakin mengokohkan pegangan sehingga nenek tua berumur tujuh puluh tahun pun dapat dengan mudah menaikinya. Di dalam ruang kemudi terdapat berbagai peralatan elektronik dan mekanis yang masih menyisakan dua orang duduk di dalamnya tanpa merasa sesak.


“Kita baru saja melewati Pulau Bidadari. Berarti tinggal setengah jam lagi ke Magenta,” komentar lelaki tua itu.


“Ramai sekali,” Putri berkata seraya memperhatikan pulau di sebelah kirinya yang penuh dengan pengunjung yang berlalu-lalang di tepi pantainya.


“Kamu sering berkunjung ke Kepulauan Seribu?”


“Jarang.”


“Kalau begitu kamu harus melihatnya saat musim liburan di bulan Juli. Ya, ampun, itu yang namanya manusia tumpah di sana…”


“Dan cuacanya pasti selalu cerah, seperti hari ini…” ucap Putri.


“Cerah yang meragukan, sebenarnya. Kamu lihat gulungan awan di sebelah barat sana?” Kapten Yungke menunjuk arah yang dimaksud.


“Awannya kan tidak kelabu…”


“Gulungan itu membentuk khas awan hujan. Mungkin tidak sekarang tetapi hari ini, mungkin nanti sore atau nanti malam, agaknya bakal turun hujan,” kata Kapten Yungke.


“Kuharap sih tidak. Aku tidak berminat mendekam dalam villa di pulau yang seharusnya bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan.”


“Maaf, kuharap kata-kataku tidak merusak suasana. Hanya mengutarakan dugaan. Semoga cerahnya pagi ini berlanjut sebagai hari yang baik.”


“Amen.”


“Namanya siapa non?”


“Sori, saya belum kenalin nama saya, ya?” kata Putri . “Saya Putri Roffelino.”


“Yungke. Tapi kamu boleh panggil saya Kapten.”


Putri jadi ingat kata-kata Ninda, “Kapten Yungke?”


“Ah, itu lebih baik. Dan bagaimana aku harus memanggilmu?”


“Putri saja...”

__ADS_1


Putri kemudian memandang Pulau Bidadari yang baru mereka lewati, “Dari sini tidak kelihatan Benteng Martellonya.”


“Kamu pernah ke Benteng Martello?”


“Sudah lama sekali. Masih ingat ceritanya, dibangun tahun 1840 kalau tidak salah…”


“1850.”


“Dan rangka meriam-meriamnya luar biasa. Apakah itu juga ada di pulau yang lain?”


Kapten Yungke menunjuk pulau yang akan dilewati. Putri melihat bangunan bergaya kolonial dalam dominasi warna krem cerah berdiri di tepi pulau dalam kesendiriannya. Kapten Yungke berkata, “Ada di Onrust dan di…” tangannya menunjuk pulau lain di sebelah utara yang tidak jauh dari Onrust. “…Kelor.”


“Saya belum pernah ke kedua pulau itu.”


“Coba sekali-kali. Ada tiga pulau besar yang bagus sebagai tempat wisata selain Bidadari. Onrust, Kelor, dan Khayangan,” kata Kapten Yungke. “Tapi yang paling menarik dan punya banyak peninggalan benda sejarah hanya Onrust, sebab pulau itu di tahun 1615 merupakan galangan kapal terbesar di Asia, sekaligus tembok pertahanan VOC terhadap serangan Inggris.”


“Inggris pernah menyerbu sampai kemari?”


“O, ya. Kedua negara itu berseteru memperebutkan Batavia sebagai jajahan. Negara ini kan dulu terkenal indah dan penuh sumber daya alam.”


“Coba mereka datang kemari sekarang dan melihat lautnya,” kata Putri nyengir.


Kapten Yungke menghembuskan asap dari rokok kreteknya, ”Yeah, teluk ini jadi muara dari 13 sungai yang ada di Jakarta dan Banten, yang membawa tumpukan sampah cukup banyak tiap harinya. Tapi itu harusnya bukan masalah. Masalahnya, manusia Indonesia memang tidak bisa dikasih barang bagus.”


Pada saat itu yacht Magenta berpapasan dengan sebuah kapal nelayan. Putri memandanginya dan berkata, “Mereka hendak melaut?”


“Kalau tidak salah para nelayan ada yang tinggal di kepulauan ini, kan ?”


“Kebanyakan di pulau kecil seperti Ose atau Uluwatu,” jawab Kapten Yungke.


“Pasti membosankan tinggal di pulau seperti itu,” komentar Putri.


“Kalau yang kamu maksud membosankan itu sarana hiburan kota seperti tempat dugem, mungkin iya. Tapi orang-orang di sini punya kehidupan laut sebagai hiburan mereka. Menurutku kehidupan mereka justru menyenangkan. Semuanya tersedia. Pernah dengar ada paceklik ikan di laut?”


“Kayaknya sih nggak ada yang semacam itu,” Putri tertawa geli.


“Maka dari itu, asal rajin saja sebenarnya mereka bisa mendapat penghasilan. Yang berat buat mereka itu bila harga solar naik.”


“Anda tahu banyak tentang tempat-tempat di sini dan kehidupan warganya. Apakah anda pernah tinggal di sini?”


Kapten Yungke menggeleng, ”Hanya bergaul saja. Saya senang melakukan hal yang berhubungan dengan laut.”


“Kalau begitu, anda pasti senang memancing?” tanya Putri.


“Wah, kamu tidak perlu menanyakan itu. Setiap mengantarkan keluarga Non Ninda, saya dan ayahnya tidak pernah melewatkan kesempatan buat memancing.”

__ADS_1


“Kalau begitu Kapten harus mengajak saya juga,” kata Putri.


“Kamu memang harus mencobanya. Saya lebih sering mancing bersama pria, tapi menyenangkan juga bila


sekali-kali ditemani gadis cantik.”


“Anda memuji berlebihan,” kata Putri tersipu.


“Lho, saya serius. Bagaimana kalau besok pagi kita berangkat? Saya akan tunjukkan tempat memancing yang banyak ikannya.”


“Ikannya besar-besar?”


“Besar-besar? Kamu bercanda?” sahut Kapten Yungke dengan mata berbinar. “Saya pernah menangkap ikan tuna sebesar ini…” lelaki tua itu merentangkan tangan lalu tertawa melihat mata Putri yang ikut membesar. “…saya yakin pasti kamu tidak percaya. Tapi memang sebesar itulah makhluk-makhluk di sana.”


“Wah, saya jadi tidak sabar. Tidak keberatan kan, kalau saya mengajak teman-teman yang lain? Mungkin mereka juga berminat.“


“Kebetulan saya bawa alat pancing tambahan yang bisa dipakai. Kalau lebih dari dua orang rasanya kita harus bergantian. Tapi tidak apa, lebih banyak lebih asyik. Ajak saja siapa yang mau.”


“Pasti. Ini akan semakin menyenangkan. Hey, itukah pulaunya?” Putri memicingkan mata pada sebuah pulau di kejauhan.


“Ya,” Kapten Yungke mengangguk.


“Tempat yang bagus sekali...terlihat dari sini....”


“Ya, memang. Mari berharap tidak terjadi hal mengerikan di sana...”


Kapten Yungke bergumam sepelan mungkin namun telinga Putri sempat menangkap ucapannya, “Maksud anda dengan sesuatu yang mengerikan itu apa?”


Kapten Yungke terkejut dan menengok namun dia tahu dirinya telah terpojok melihat wajah Putri yang ingin tahu. Jika dia tidak menjawabnya malah akan menambah rasa penasaran gadis itu. “Itu...mmm...sesuatu yang berhubungan dengan sejarahnya …”


Putri hendak bertanya lagi ketika terdengar Dicky menyela dari belakang, “Hey, di sini kamu rupanya. Kami mencarimu ke mana-mana. Tenang saja…kita nggak menyuruh kamu buat nyanyi, kok. Ayo, siap-siap! Kita hampir sampai.”


Putri memandang Kapten Yungke yang nampak lega. Dan lelaki tua itu memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Putri segera kembali ke kabin santai bersama teman-temannya, “Saya rasa ada baiknya Non Putri kembali dulu. Banyak pekerjaan yang harus saya lakukan untuk berlabuh. Lihat tuh, dermaganya sudah kelihatan.”


“Mendapati obrolan yang mengasyikkan?” tanya Dicky setelah turun dari ruang kemudi.


Putri berpikir tentang ajakan memancing Kapten Yungke, tapi saat itu ada sesuatu yang lebih menarik di kepalanya. “Kapten Yungke barusan mau menceritakan sesuatu tentang Pulau Magenta.”


“Cerita tentang apa?”


“Entahlah, katanya ada sesuatu yang mengerikan di sana dan itu berhubungan dengan sejarah pulau…” balas Putri. “Elu tahu tentang sejarah yang dimaksud?”


Dicky mengangkat bahu, ”Sesuatu yang mengerikan? Nggak! Belum pernah dengar ada cerita aneh tentang pulau itu. Magenta memang terpencil, tapi itu hanya pulau kecil yang normal. Jangan terlalu serius menanggapi. Lelaki tua itu maniak nonton film horor.”


“Tapi dia kelihatan begitu serius…”

__ADS_1


“Dan mungkin gue harus membuka sesi konsultasi buat kalian berdua,” Dicky nyengir.


__ADS_2