
Rangga sibuk mengambil gambar berbagai objek dari segala sudut, mulai dari pulau yang nampak di kejauhan hingga suasana di yacht dengan kamera untuk mengabadikan momen tersebut, sementara Putri dan yang lain menatap takjub pada pulau yang semakin didekati oleh perahu persiar yang mereka tumpangi.
Putri tak mengerti kenapa pulau itu dinamai Magenta, tak ada apa pun yang merujuk pada warna Magenta pada pulau itu. Mungkin nama itu disesuaikan dengan nama villanya, tapi apa pun namanya bukan masalah karena pulau itu tetap menampilkan pesona yang sama dengan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu..
Dari kejauhan, sosok pulau tersebut menyerupai biskuit kelabu dengan lekuk eksotik dan kontur berjenjang. Ilalang dan kerumunan pohon akasia tumbuh di atas rerumputan liar yang menghampar bagaikan selimut beludru hijau tua. Beberapa camar yang berteriak ribut terbang berputar di sekitar dermaga kecil yang dibangun di tanjung pantai yang menjorok sekitar seratus meter dari Villa Magenta. Bangunan bertingkat dua yang merupakan satu-satunya bangunan yang ada di pulau itu berdiri tegak menghadap ke arah laut.
Kecepatan yacht semakin melambat setelah Kapten Yungke mematikan motor mesin dan mengandalkan dorongan arus menuju dermaga kecil yang mulai nampak di mata. Dengan terampil lelaki tua itu mengendalikan yacht dari ruang kemudi mendekati dermaga di sisi kanan, untuk kemudian berhenti perlahan sehingga lambung kapal benar-benar rapat dengan birai dermaga.
Setelah posisi kapal stabil, keenam muda-mudi itu turun dari kapal dengan membawa perlengkapan masing-masing. Terdengar derak-derak lantai kayu saat mereka melangkah di atasnya sembari menyeret koper masing-masing. Putri merasa sedikit limbung, dia tidak tahu apakah itu karena pengaruh perjalanan selama berada di kapal ataukah karena lantai dermaga yang terkena gelombang arus di sebelah bawah, yang membuat segalanya terasa bergerak-gerak.
Bagian tersulit berikutnya adalah saat melangkah di pasir di antara dermaga dan Villa Magenta. Pasir yang lembab menempel di bagian bawah alas kaki sehingga Desman, Rangga, dan Shanti yang kebetulan memakai sandal beberapa kali nyaris terjerembap, terutama ketika ombak menyapu hingga naik ke pasir di bibir pantai. Pasir ikut membenamkan roda-roda kecil koper Putri sehingga mustahil membawa benda tersebut tanpa menggotongnya.
Sesekali angin mempermainkan dedaunan pohon kelapa hingga menimbulkan bunyi gemeresik, sementara camar yang masih sibuk mencari ikan berkoar-koar, beradu kuat bunyi melawan debur ombak yang memecah di pantai berpasir kelabu itu. Putri tak tahan melihat laut dengan pantainya yang begitu menggoda, membuatnya ingin segera berenang.
Dicky yang sampai terlebih dahulu di teras villa mengeluarkan anak kunci untuk membuka pintunya. Segala yang ada di situ persis dengan apa yang tergambar di foto yang dikirim lewat email, namun dengan kecantikan yang lebih indah bentuk aslinya tentunya. Usia Villa Magenta ini mungkin sudah lebih dari lima puluh tahun, tetapi bangunannya terbuat dari kayu berkualitas terbaik sehingga masih berdiri kokoh tanpa terkena lapuk di sana-sini.
Putri bersama teman-temannya masuk ke villa dan berkomentar gembira, mengagumi interiornya yang mirip bangunan saloon di film-film koboi. Villa itu terdiri dari dua lantai. Lantai satu memiliki dua buah ruangan, yakni dapur dimana di dalamnya terdapat toilet yang sekaligus difungsikan sebagai tempat cuci pakaian, dan ruang tengah sebagai ruang santai yang berisi sofa dan televisi. Sementara di lantai atas terdapat dua kamar tidur dengan satu kamar mandi yang letaknya terpisah. Ruangan itu nampak lengang sebab tidak banyak perabot di situ, dan itu malah menambah suasana santai yang ditampilkannya.
"Bagaimana? Bagus kan tempatnya?” tanya Dicky mengembangkan tangannya persis salesman property yang sedang menawarkan barang dagangannya. “Seluruh bagian villa ini dibuat lapang bentuknya agar sirkulasi berjalan baik. Bahkan di dalam ruangan pun kita bisa mencium hawa laut yang segar.”
“Aku sebenarnya nggak terlalu suka dengan bau amisnya, tapi nggak mau komentar tentang ini,” bisik Shanti pada Putri hingga kedua gadis itu terkikik geli. Dicky malah menyangka gayanya itu begitu mengesankan sehingga senyumnya makin lebar..
Dicky membagi mereka ke dalam dua kamar di lantai atas, yang perempuan di kamar yang menghadap ke timur sementara yang laki-laki yang menghadap ke barat. Putri senang dengan pembagian itu karena pemandangan laut dari kamarnya terlihat lebih baik. Sama seperti di lantai bawah, perabotan di kamar ini juga tidak terlalu banyak. Di lantai hanya terdapat tiga buah kasur empuk yang dijadikan satu, lengkap dengan seprai dan selimut bersih. Entah apa kegunaan selimut itu karena Putri yakin hawanya akan cukup panas nanti malam.
“Bagaimana? Cukup nyaman?” Dicky bertanya setelah menyusul para cewek ke kamar lima menit kemudian.
“Lumayan,” sahut Shanti yang masih sibuk membereskan pakaian-pakaiannya dari dalam koper. “Cuma kurang AC, ya…”
“Dasar orang kota. Elu rasain saja sendiri nanti kalau malem. Memang udaranya panas tapi anginnya cukup kencang buat bikin elu menggigil,” Dicky menanggapi.
“Ini digantung di mana, ya?” ujar Shanti merentangkan mantel mandinya.
Mantel mandi?
Putri menggeleng, persiapan cewek yang satu ini memang ribet dari dulu. Dulu Putri suka bingung dengan dirinya sendiri, sempat menyangka dirinya bukan wanita tulen, jika melihat Shanti selalu repot dengan ini-itu yang dibilangnya sebagai urusan perempuan, sementara dirinya tidak pernah tertarik pada hal yang sama. Tapi kini dia menyadari bahwa memang Shanti sendiri yang doyan merepotkan dirinya sendiri dengan barang-barang yang sebenarnya tidak perlu...
“Di sana!” sahut Ninda menunjuk lemari kayu yang berada di pojok ruangan. Lemari itu menempel di dinding hingga tidak mungkin tampak dalam sekali lihat.
__ADS_1
Setelah menaruh tasnya, tanpa perlu membereskan barang-barang di dalamnya lebih dulu, Putri bergabung dengan Dicky dan Rangga, “Gue nggak tahu apakah mata gue yang salah tapi gue sempat lihat di beberapa tempat dipasang lampu neon. Memangnya di sini ada listrik?”
“Barusan gue juga nanya gitu,” komentar Rangga ketawa.
"Ayo ikut gue…” kata Dicky tersenyum.
Ketiganya memutari bangunan menuju ke halaman belakang di mana terdapat sebuah bangunan kecil yang di sebelahnya berdiri menara untuk tangki air. Berbeda dengan halaman depan yang berpasir halus, di sini pasirnya lebih kasar dan kecokelatan karena bercampur tanah. Pepohonan akasia yang lebat membuat suasananya teduh. Gundukan tanah yang cukup tinggi menghalangi pandangan mereka untuk melihat pemandangan lebih jauh, khususnya yang ada di ujung utara Pulau Magenta. “Kalian harus naik untuk melihat tepian lain pulau ini.”
“Berapa sih luasnya pulau ini?” tanya Rangga.
“Sekitar dua puluh hektar.”
“Bukan termasuk pulau yang besar, ya…”
“Ada apa di baliknya?” tanya Putri.
“Padang rumput, dengan rumput dan ilalang setinggi pinggang.”
“Pasti banyak ular atau serangga…” komentar Putri membelalak.
“Mungkin juga sih. Tapi elu kan paling hobi sama ular?” Dicky nyengir.
“Semua cewek juga suka ular yang jinak dan tinggal di kandang,” Rangga berkata dengan senyum jahil.
“Idih! Otak elu porno. Gue nggak mempan digituin.”
Dicky membuka pintu gubug kecil itu dengan paksa. Kuncinya agak macet dan ketika didorong mengeluarkan bunyi mengerit keras. Rangga dan Putri yang berdiri di belakang Dicky melihat sebuah mesin genset berkapasitas 15 KVA di tengah ruangan. Enam jerigen solar diletakkan di sebelah pintu, sementara kaleng oli kosong di bawah mesin tersebut telah menjadi rumah nyaman bagi keluarga laba-laba.
“Rencananya calon mertua gue mau bangun lapangan tenis sama kolam renang. Fasilitas itu perlu daya yang cukup gede sehingga genset ini dibangun duluan”
“Tapi kok belum ada?” tanya Putri. “Apa pembangunannya batal?”
“Tertunda. Bukan masalah duit, sih, tapi lebih ke teknis... Soalnya calon mertua belum dapet developer yang mau ngerjain proyek di tempat terpencil begini.”
“Jadi gensetnya sekarang hanya dipakai untuk penerangan?” tanya Rangga.
“Iya. Memang boros sih, tapi itu nggak masalah.”
__ADS_1
“Ini sih beda banget dari pulau Gilligan,” Rangga menambahkan dengan gaya kecewa yang dibuat-buat.
“Tapi menyenangkan buat kita, kan?” balas Dicky.
“Inilah kutukan jadi orang modern, banyak tergantung sama listrik,” Putri ketawa.
“Apa pun itu. Yang penting kita tidak harus kembali ke jaman Flinstone,” komentar Dicky.
“Tapi kan lebih asyik kalau bisa back to nature…”
“Nah, elu emang cocok jadi George…“ potong Rangga. “Georgina dan pulau Kirrin-nya.”
“So what, gitu loh,” tandas Putri sebal.
“Gensetnya akan dinyalakan pas magrib nanti.Ngomong-ngomong soal pulau Gilligan…” ucap Dicky. “…sebenarnya tempat ini benar-benar akan jadi pulau Gilligan jika tidak ada genset ini. Coba tengok ponsel kalian.”
Putri dan Rangga mengeluarkan ponsel berbarengan dan mendapati sinyal di ponsel masing-masing hilang. Dicky berkata, “Jarak pulau ini terlalu jauh dari operator seluler hingga signalnya tidak bisa menjangkau kemari. Selamat datang di dunia tanpa komunikasi seluler.”
“Sial, padahal gue mau nelepon temen bisnis gue nanti malam,” maki Rangga.
“Hei, ingat....tidak boleh ada bisnis-bisnis saat ini,“ Putri memukul lengan temannya diikuti tawa dari Rangga dan Dicky. “Gue kan liburan bersama kalian bukan untuk ketemu orang yang terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.”
“Iya, deh…George,” sahut Rangga. “Mentang-mentang udah nggak punya kerjaan.”
“Jadi…selamat datang di Pulau Gilligan,” ujar Dicky dengan jumawa.
“Untuk merayakan itu, bagaimana kalau kita berenang? Gue mau lihat, apa kalian masih bisa mengalahkan gue,” tantang Putri.
“Siapa takut?” sahut Dicky dan Rangga bersama-sama.
”Tapi elu pakai bikini kan?” tanya Dicky.
”Iya dong...emangnya berenang mau pakai apa? Kebaya?”
”Nggak...soalnya dia mau lihat elu masih seksi seperti dulu nggak,” goda Rangga.
”Sial...elu berdua emang buaya darat...” Putri memukul punggung kedua sahabatnya.
__ADS_1
Dicky dan Rangga hanya tertawa-tawa. Ketika kembali ke depan, mereka mendapati Desman dan Shanti ternyata sudah berenang di laut mendahului yang lain.