Bocah Mafia Jatuh Cinta

Bocah Mafia Jatuh Cinta
Bab 2 Keila


__ADS_3

Keila menangis di toilet sekolah karena Yuda mempermalukannya di hadapan semua teman-temannya. Ia berdiri di depan cermin yang ada di toilet s8swi. Keila mengamati penampilannya. Badan subur mencapai bobot 70 kg rambut lurus di kepang dua dan kulit kecoklatan eksotis yang di turunkan oleh kakeknya membuat penampilan Keila jauh dari kata cantik.


Keila meraih tisu ia membersihkan airmatanya dan membuang ingusnya. Tak lupa Keila mencuci muka sebelum keluar toilet. Ia harus terlihat kuat dan tegar menghadapi bullyan Yuda dan gengnya.


Dasar kampret bad boy! Tunggu pembalasanku!


Saat membuka pintu toilet dan akan berjalan keluar Keila di kejutkan dengan seember air yang mengguyur badannya.


Byurrrr!


Keila ternganga dari ujung rambut sampai sepatu ia basah kuyup.


"Hahaha! Makanya kalau ke sekolah mandi dulu biar bersih! Dasar dekil!" Yuda tertawa mendengar seorang siswi yaitu Amanda mencemooh Keila dengan brutal.


Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran akan segera di mulai. Siswa siswi berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Sementara Keila ia harus membersihkan diri dan ikut pelajaran dengan baju basah.


Brugh!

__ADS_1


"Hei gendut pakai tuh jaket! Biar badan mu yang tebal itu tidak masuk angin!" kata Yuda sembari melempar jaket kulitnya ke arah Keila.


"Sudah cukup ayo kita mulai pelajaran!" kata Mrs. Sandrina yang pagi itu mengajar manajemen bisnis.


Saat pelajaran di mulai seperti biasa Yuda akan lebih banyak tertidur di kelas. Ia tidak perlu mengikuti pelajaran yang menurutnya sangat mudah itu. Setiap hari ia mendapat bimbingan privat dari guru yang sudah di siapkan papi dan mami di rumah.


Keila memandang ke belakang melihat Yuda yang tertidur dan Mrs. Sandrina tidak menegurnya. Ia menghela napas memegangi pinggiran jaket milik Yuda yang saat ini sedang di kenakan oleh Keila.


***


Setibanya di rumah Keila ambruk di kamarnya menangis melemparkan jaket milik Yuda ke lantai. Ia menginjak-injak jaket itu seolah sedang menginjak tubuh Yuda.


Tuk..tuk..


"Kei ada apa nak?" terdengar suara ibu mengetuk pintu kamar Keila.


"Iya bu tidak apa-apa!" Keila berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Ia memandangi jaket Yuda yang masih tergeletak di lantai kamarnya lalu Keila tertidur.

__ADS_1


Sementara di kediaman Sasongko, di kamarnya Yuda tersenyum mengingat tadi ia mengerjai Keila di sekolah. Melihat rona wajah malu Keila, badan besar yang basah kuyup karena guyuran air membuat Yuda merasa terhibur. tanpa terasa Yuda memencet nomor telepon Keila yang ada di ponselnya.


Panggilan tersambung......


Yuda segera mematikan teleponnya. Ia baru menyadari jika sejak tadi rupanya ia menelpon Keila. untung tidak di angakat oleh Keila.


"Tuan muda..." suara bibi Sin memanggil Yuda yang ada di dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Yuda malas.


"Makan siangnya mau di kamar atau di meja makan?" tanya bibi Sin pelayan senior di rumah kekuarga Yuda.


"Makan saja sendiri, aku tidak mau makan!" Yuda mengenakan jaketnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai utama. Langkahnya diikuti bi Sin yang tergopoh-gopoh mengerjar Yuda.


"Tuan muda mau kemana?"


" Orang tua cerewet sekali! Aku mau pergi dan pulang malam kalau papi mami bertanya bilang saja bibi tidak tau!"

__ADS_1


Yuda menaiki motornya lalu memacunya keluar dari halaman rumah yang luas dan asri. Rumah kembali sunyi. Hanya tinggal para pelayan saja di dalamnya. Para tuan pergi dengan urusan mereka. Bibi Sin menggeleng kepala perlahan. Ia begitu sayang dengan Yuda dan merasa kasihan karena sering kesepian.


__ADS_2