
Yuda sengaja melihat Keila presentasi. Ia duduk di antara para siswa yang ada di aula. Sementara Yuda melirik asisten pribadi ayahnya yang duduk di antara dewan pemegang saham yayasan. Yuda memberi ancaman dan ultimatum agar asisten ayahnya memberikan penilaian yang baik pada tim Keila.
Yuda bertepuk tangan dengan senang begitu Keila selesai presentasi. Amanda yang melihat gelagat Yuda semakin curiga dan heran untuk apa Yuda melihat presentasi remeh temeh itu apalagi sejak tadi ia duduk di kursi depan dan terlihat memandang Keila terus.
"Cle aku rasa Yuda memang suka sama si gendut itu!" kata Amanda pada Cleon yang mulai mengantuk dan hampir tertidur.
"Hah? Mana mungkin!" kata Cleon sembari menguap.
"Ih coba lihat itu Yuda antusias sekali dengan presentasi si gendut, lagipula untuk apa dia mengikuti acara ini?"
"Benar juga ya, tidak biasanya Yuda ada di acara membosankan begini, tapi....tuduhan mu itu tidak masuk akal Manda! Masa ia bos Yuda suka sama buntelan itu?!"
Cleon memandang Keila dari tempatnya duduk. Meski badannya berisi tapi wajah Keila memang cantik, manis. Rambut panjangnya juga bagus. Cleon memegang dagunya dengan jemari sembari mengamati Yuda yang duduk dua kursi di depannya. Wajah Yuda memang terlihat sumringah saat Keila tampil tadi.
"Tapi apa iya bos Yuda suka sama Keila?" gumam Cleon.
Acara presentasi sudah selesai sekarang menunggu penilaian. Yuda tidak berhenti menatap lekat ke arah asisten pribadi ayahnya. Akhirnya meski mendapat nilai tidak terlalu tinggi tapi Farel dan Keila lolos untuk beasiswa selanjutnya sampai lulus.
Karena tidak perlu lagi ada yang di cemaskan,Yuda melangkah pergi meninggalkan aula menuju parkiran. ia di ikuti Cleon di belakangnya.
__ADS_1
***
Keila mengamati bangku Yuda yang lagi-lagi kosong. ada gurat kecewa di wajahnya.
Kemana lagi Yuda? padahal aku mau ngucapin terimakasih karena tadi sudah melihat presentasi ku.....
"Hei gendut! kenapa melihat ke arah meja Yuda terus?!" bentak Amanda.
Keila segera memalingkan wajahnya ia kembali fokus pada pelajaran.
Sementara di luar sekolah Yuda sedang berkelahi. ia di keroyok para preman yang jumlahnya cukup banyak. Yuda hampir kewalahan. Cleon susah babak belur di hajar para preman.
"Siapa kau?! jangan ikut campur!" kata preman-preman itu. pria itu menghajar para preman dengan gerakan lincah dan cepat. dalam waktu sekejap mereka semua tumbang di tanah menahan kesakitan.
"Tuan muda anda tidak apa-apa?" tanya pria itu pada Yuda yang babak belur. wajahnya lebam dan keluar darah segar dari hidung Yuda. rupanya ia adalah asisten ayah Yuda yang tidak sengaja melewati jalanan itu setelah dari sekolah Yuda.
"Kenap ikut campur?! aku tidak perlu bantuan mu!" kata Yuda sembari membantu Cleon dan teman lainnya berdiri.
"Tuan muda kita ke rumah sakit sekarang"
__ADS_1
"Tidak perlu! jangan bicara apapun pada papi aku baik-baik saja" kata Yuda.
Pria itu mengerti. ia mengangguk lalu berjalan kembali memasuki mobil. sementara Yuda memapah Cleon ke pinggiran ruko.
"Cle kau baik-baik saja?" tanya Yuda sembari meludahkan darah segar dari mulutnya.
"Kau bisa jalan?"
"Yud kakiku sakit sekali kita disini dulu sebentar" kata Cleon yang sudah hampir pasrah. Yuda mengangguk ia bergegas pergi dengan motornya untuk ke apotik membeli obat untuk Cleon.
Yuda duduk di depan ruko itu bersama Cleon dan teman-temannya cukup lama sembari bergurau.
Yuda menyulut sebatang rokok dan menghisap lalu mengepulkan asapnya ke udara. ia menuangkan alkohol dari botol langsung ke luka lebamnya. sesekali Yuda meringis menahan kesakitan.
Malam itu Keila yang di minta ibunya untuk ke ruko mengambil peralatan kue terkejut melihat Yuda dan Cleon yang duduk di depan ruko dengan wajah babak belur.
"Yuda? Cleon?" suara Keila mengejutkan Yuda . ia menoleh ke arah Keila terpaku tidak bisa berkata-kata. Yuda segera melemparkan puntung rokoknya ke jalanan.
Keila menatap Yuda prihatin melihat memar di wajah Yuda. keduanya lama saling memandang tanpa bicara. Cleon mengamati keganjilan itu dari tempatnya duduk .
__ADS_1