
Keila merasa sedikit aneh kenapa Yuda malah membelanya yang sedang di bully oleh Amanda. Kalau Yuda yang biasanya ia pasti sudah tertawa senang melihat Keila sengsara.
"Keila!" Itu suara yang sangat Keila kenali yaitu suara Yuda memanggil namanya.
Keila menghentikan langkahnya yang kebetulan akan keluar kelas karena bel pulang sekolah sudah berdering dari tadi. Kelas sudah nyaris kosong hanya tinggal Keila dan Yuda saja di dalamnya.
"Kapan pembukaan kedainya?" tanya Yuda.
Kali ini Keila sunghuhan bingung dengan tingkah Yuda yang tiba-tiba berubah padanya. Yuda nampak lebih baik dan peduli dengan Keila.
Apa jangan-jangan ini jebakan? Siapa tahu dia punya rencana membully diriku yang lebih dasyat lagi dari sebelumnya.....
"Memangnya kenapa? Bukan urusan mu juga!" jawab Keila.
Yuda menarik lengan Keila dengan kasar hingga Keila berbalik dan hampir jatuh.
"Sudah berani ya rupanya? Ngelunjak ya karena tadi aku membelamu dari Amanda?!" emosi Yuda akhirnya terpancing juga.
Sudah ku duga dia hanya berpura-pura baik padaku! Dasar Yuda pengecut!
"Yuda kau tidak perlu datang ke acara wirausaha nanti, apa pedulimu? kau mau menertawakan kami yang sedang bersusah payah mencari biaya sekolah?" mata Keila berkaca-kaca. Ia berjalan pergi meninggalkan Yuda yang berdiri terpaku.
__ADS_1
***
Yuda pulang ke rumah, ia memarkir motornya di garasi lalu berjalan memasuki rumah utama. Bi Sin selalu menyambutnya sembari membawakan tas ransel Yuda.
"Tuan muda bibirnya kenapa?" tanya bi Sin. Wanita tua itu sudah terbiasa melihat wajah Yuda lebam karena berkelahi. Tapi kali ini sedikit berbeda bibir Yuda bukan luka atau lebam tapi seperti jontor.
"Bibi tidak perlu tahu, aku minta jus buah bi dan bawa ke kamar"
"Siap tuan muda, oh ya Tuan Pramana sudah pulang sekarang ada di ruang kerja" kata bibi Sin.
"Papi sudah pulang?"
"Clara?! Buat apa dia kemari?!"
"Yah bibi dengar non Clara mau pindah sekolah kemari tuan"
"Ya sudah biarkan saja asal dia tidak tinggal di rumah ini! Mami mana bi?"
"Nyonya sedang keluar sebentar katanya mau ada arisan"
"Arisan terus!"
__ADS_1
Yuda melangkah kesal menaiki anak tangga menuju kamarnya. Yuda membuka pintu kamarnya dan...
"Surpriseee!" seorang gadis cantik dengan rambut berwarna kecoklatan melompat memeluk Yuda dengan girang.
"Apa sih?! Kenapa kembali ke sini? Sudah bagus di Amerika!" omel Yuda.
"Ah memang kau tidak rindu padaku Yud?" Clara terlihat memeluk Yuda untuk melepas rindu pada sahabat kecilnya itu.
"Tuan muda di panggil papi untuk makan siang bersama" bi Sin muncul membawakan baju ganti untuk Yuda.
"Bi kenapa dia masih diladeni untuk sekedar baju ganti? Biar dia ambil sendiri dari dalam lemari kan Yuda susah dewasa bi?" Clara terkejut melihat kebiasaan Yuda sejak kecil yang belum berubah. Apa-apa serba di layani dan di bantu orang lain.
"Sudah jangan cerewet! Pergi sana!" Yuda mendorong tubuh ramping Clara keluar dari kamarnya.
Clara dan Bi Sin turun lebih dulu menuju tuang makan.
"Rumah ini masih sepi seperti dulu ya bi?" tanya Clara.
"Ya begitulah non, tuan dan nyonya sibuk bekerja sementara tuan muda...bibi kasihan dengan tuan muda ia kesepian"
Clara tersenyum maklum ia mengerti sejak kecil Yuda bertingkah seenaknya karena ia kesepian dan suka cari perhatian. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan bisnis hingga ia terabaikan.
__ADS_1