
kriiing... kriiiing... kriiiing... .
Suara alarm memenuhi sebuah kamar yang sedang tidur seorang gadis di dalamnya. Saat mendengar alarm gadis itu segera bangun dan mematikan alarm di ponselnya, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi, gadis itu mengambil mukena dan sajadahnya, kemudian merentangkan sajadahnya di lantai kamarnya dan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Tok! Tok! Tok!
"Naila, kamu sudah bangun, Nak?" teriak Bu Nia, ibu dari gadis itu, setelah mengetok pintu kamar anaknya.
"Sudah, Bu," jawab gadis itu dari dalam kamarnya.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu Ibu balik ke dapur," ucap Bu Nia, kemudian meninggalkan kamar anaknya dan menuju ke dapur untuk melakukan aktifitas memasaknya.
Kemudian gadis itu melipat mukena dan sajadahnya, dan mengembalikan ke tempatnya. Lalu gadis itu beranjak dari kamarnya untuk membantu ibunya.
Gadis berumur 21 tahun itu bernama Naila Salsabila Nugraha, gadis sholihah, periang, dan suka membantu sesama. Anak bungsu dari pasangan Erwin Adi Nugraha dan Nia Kurniawati. Naila dua bersaudara, kakaknya bernama Gibran Narendra Nugraha sudah menikah dan memiliki seorang putra, Gibran tinggal di luar kota, karena mengurus usaha ayahnya yang berada disana.
"Ibu, ada yang bisa Naila bantu? " tanya Naila saat sudah berada di dapur.
"Hloh,Nak.Ngapain kamu kesini, hari ini kan kamu hari pertama kerja, udah sana siap-siap nanti telat hlo, "ujar Bu Nia mengabaikan pertanyaan Naila.
"Ini masih pagi banget hlo, Bu.Nggak masalah kalau Naila bantu Ibu dulu," kekeh Naila yang ingin membantu ibunya memasak.
"Ya sudah, tapi nggak usah lama-lama ya, nanti kamu telat," Bu Nia menyerah, karena dia tau kalau anaknya sudah memiliki keinginan untuk membantu, pasti tak akan ada yang bisa mencegahnya.
"Iya Ibuku sayang," ucap Naila sembari mencium pipi ibunya kilat.
"Aku goreng ayamnya ya, Bu? Ini sudah di bumbuin kan, Bu? " tanya Naila yang diangguki ibunya.
Setelah beberapa saat menu sarapan sudah tersaji di meja makan. Dan Naila bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap. Kemudian dia keluar kamar sudah rapi, dengan memakai rok hitam dan kemeja putih panjang serta hijab hitam lebarnya tak lupa tas yang di tentengnya.
Di meja makan sudah ada Pak Erwin dan Bu Nia, yang sudah memulai sarapannya.
"Naila, ayo sarapan dulu," ucap Pak Erwin ketika melihat Naila keluar dari kamarnya.
"Iya, Pak," jawab Naila sembari berjalan menuju meja makan dan bergabung dengan orang tuanya.
"Hari ini kamu sudah mulai kerja ya, Nak? " tanya Pak Erwin ketika beliau sudah selesai sarapan.
"Iya, Pak. Do'ain ya semoga diberi kelancaran,"jawab Naila sembari mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng dan ayam goreng yang dimasaknya tadi.
"InsyaAllah, Nak," jawab Pak Erwin dan Bu Nia.
"Bapak mau ke toko, kamu mau sekalian diantar nggak? " tanya Pak Erwin.
Memang Pak Erwin memiliki usaha toko bangunan, yang sudah memiliki beberapa toko. Salah satunya yang diurus Gibran.
"Nggak usah, Pak.Naila berangkat sendiri saja," ujar Naila yang mulai menghabiskan sarapannya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu,Bapak berangkat dulu ya," Pamit Pak Erwin seraya mengulurkan tangannya pada istri dan anaknya untuk disalimi.
"Assalamualaikum." Pak Erwin berlalu menuju pintu keluar.
" Wa'alaikumussalam, " jawab Naila dan ibunya serentak.
" Ya udah, Bu. Aku juga pamit mau berangkat," pamit Naila pada ibunya seraya menyalimi tangan ibunya dan mencium pipi ibunya.
"Iya, Nak. Semoga diberi kelancaran dan kemudahan dalam pekerjaannya ya, Sayang."
"Iya, Bu. Amiin, Assalamualaikum." Shila bangkit dari duduknya dan berlalu keluar rumah. Sedangkan Bu Nia membereskan bekas sarapan tadi.
***
Shila berangkat ke kantornya dengan mengendarai sepeda motor meticnya. Di perjalanan menuju kantornya, dia melewati jalan taman. Di taman itu dia melihat ada seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola.
Tiba-tiba bola itu terlempar ke tengah jalan, dan anak itu langsung mengejar bolanya.
Dari kejauhan Naila melihat ada mobil dengan kecepatan lumayan tinggi, melaju ke arah dimana anak itu berada. Segera Naila menghentikan motornya dan berlari menuju anak itu. Naila langsung mendorong anak itu ke pinggir jalan sementara dirinya masih berada di tengah jalan, mobil itu semakin dekat dan...
"Ya Allah!" teriak Naila, sambil menutup mata, dia berfikir bahwa dirinya akan tertabrak.
Sssiiiiitttttt ...
Suara ban mobil yang direm mendadak sangat terdengar di telinga Naila, membuat Naila membuka matanya, dan benar mobil itu sudah berhenti di dekat Naila berdiri. Ada seorang pria yang keluar dari mobil itu, dan berjalan menuju Naila berada.
Tapi Naila mengabaikannya dan menoleh pada anak laki-laki itu.
"Dek, kamu nggak apa-apa, kan," tanya Naila yang diangguki anak laki-laki itu.
"Hei aku sedang bicara sama kamu!" teriak pria tadi.
"Ya Allah Aldo kamu nggak apa-apa, Nak, ada yang luka nggak?" ucap seorang ibu-ibu yang tiba-tiba sudah berada di sana.
"Nggak ada kok, Mah.Tadi aku di tolong Kakak ini," ucap Aldo sambil menunjuk Naila.
"Terimakasih ya, Mbak. Sudah nolong anak saya," ucap Ibu itu sambil menggendong anaknya.
"Iya,Bu. Sama-sama," ucap Naila.
Ibu itu langsung membawa anaknya menjauh dari sana.
" Hai kamu dengar saya ngomong nggak sih?" tanya pria itu yang sedari tadi diabaikan Naila.
"Iya, Pak. saya dengar, dan Bapak harus dengerin saya juga ya, Pak ," ungkap Naila.
"Maksudmu, apa,ha? " tanya pria itu semakin marah.
"Bapak tau kan ini tu jalan taman, banyak anak kecil yang lalu lalang, tapi Bapak malah mengemudi dengan kecepatan tinggi. Seharusnya Bapak lebih berhati-hati," jelas Naila.
__ADS_1
"Siapa kamu berani menasehati saya,ha? " Tanya pria itu angkuh.
"Saya hanya orang yang peduli sesama, dan menegakkan kebenaran" Ucap Naila tenang.
"Kamu... ."
Tiiin! Tiiin! Tiin!
Suara klakson mobil memotong ucapan pria itu.
"Hai Pak, kalau mau berantem, jangan ditengah jalan, cepet pinggirin mobil Anda," teriak salah satu pengemudi yang mobilnya terhalang mobil pria tadi.
Pria itu langsung berlari menuju mobilnya dan melaju meninggalkan Naila. Tanpa Naila sadari ada seseorang yang dari tadi memperhatikan kejadian tadi dari dalam mobilnya.
Naila langsung berlari menuju motornya, dan bergegas menuju kantornya.
Sesampainya di gedung tinggi yang bertuliskan Pt.Setya Utama, Naila segera memarkirkan kendaraannya dan berlari masuk ke kantornya.
"Tunggu, Mbak. Mbak mau ngapain? " cegah satpam saat Naila berlari akan masuk ke kantor.
"Maaf, Pak. Saya karyawan baru, saya ingin masuk kedalam ,Pak, " jelas Naila.
"Nggak bisa, Mbak.Mbak sudah terlambat. Jam kerja sudah mulai dari setengah jam yang lalu," ungkap satpam yang di seragamnya ada nametag bertuliskan Joko.
"Tapi ,Pak, ini hari pertama saya bekerja Pak. tolonglah Pak, biarkan saya masuk ya, Pak." Mohon Naila seraya menangkup kan kedua tangannya.
"Maaf ya, Mbak. Saya hanya mengikuti peraturan perusahaan, Mbak," ucap pak Joko menjelaskan.
"Biarkan dia masuk," ujar seorang pria berjas yang baru masuk diikuti pria lain yang juga mengenakan jas, dan menenteng tas kerja.
"Baik, Pak." Pak Joko mengangguk patuh.
"Silakan,Mbak,"lanjut Pak Joko seraya membuka jalan.
" Terimakasih, Pak,"ucap Naila pada pria berjas tadi, dan mulai melangkah masuk.
"Tunggu." Pria berjas tadi menghentikan langkah Naila. Naila yang tadi sudah lega kini kembali khawatir,memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Perlahan dia berbalik menghadap pria berjas tadi.
"I-iya, Pak," tanya Naila gugup.
"Silakan kamu temui HRD, dan terima hukuman yang diberikannya, " ucap datar pria tadi.
"A-apa, Pak? Hukuman? " tanya Naila tak percaya.
"Iya, apa kurang jelas? " tanya pria itu dengan tanpa ekspresi.
"Baik, Pak," jawab Naila sambil menunduk.
Kemudian pria tadi berlalu dari hadapan Naila, diikuti pria yang membawa tas kerja. Sedangkan Naila menuju ke ruang HRD yang ditunjukkan Pak Joko tadi.
__ADS_1