
Pov Rifan
Hari ini aku tak pergi ke kantor, karena orang tuaku sedang mengadakan acara syukuran dan pamitan kala mereka akan menunaikan ibadah Haji.
Aku sedang duduk di salah satu bangku, yang disediakan untuk tamu undangan yang akan datang. Orangtuaku mengundang sanak saudara dan kerabat, serta beberapa rekan kerja ayahku.
"Hai Rifan, boleh aku duduk disini?" ucap seorang gadis, yang aku sendiri tak mengenalnya.
"Silakan," ucapku datar.
"Aku Siska, anak dari Pak Gunawan rekan kerja Om Andi." Gadis itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya, padahal aku tak menanyakannya, dan aku pun hanya mengangguk, tak membalas uluran tangannya, gadis itu tampak kesal.
"Kamu udah punya pacar belum? Aku mau hlo jadi pacar kamu! " Aku tak menanggapinya, dan aku bangkit dari duduk ku dan melangkah meninggalkannya.
"Rifan! Hei tunggu ... aku belum selesai ngomong!" teriak gadis itu, tapi aku tak menoleh dan terus berjalan menuju ke tempat orang tuaku berada.
Jujur aku merasa risih dengan gadis sepertinya,yang mencari kesempatan untuk mendekatiku. Sudah banyak gadis yang mencoba mencari perhatianku, dan tidak ada satu pun yang aku respon.
Bukannya aku sudah tak menyukai perempuan, aku masih normal kok. Tetapi aku sudah memiliki sosok perempuan yang telah mencuri hatiku. Perempuan yang dengan keberaniannya menolongku disaat aku tak berdaya. Dan sejak saat itu dia telah mengambil hatiku seutuhnya.
Flasback on.
Saat itu aku yang baru berumur 10 tahun, sedang bermain sepeda di sebuah taman dekat rumahku.
Aku baru pertama kali main di taman itu, karena aku dan keluargaku baru beberapa hari menempati rumah baru kami. Ya kami adalah warga baru di komplek itu.
Saat aku sedang asyik naik sepeda mengelilingi taman, ada segerombolan anak laki-laki yang sepertinya lebih tua dari aku. Saat aku melewati mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka mencegatku.
"Hai, Culun! Turun kamu! Beraninya kamu melewati kawasan main kami!" ucap tegas salah satu anak yang perutnya gendut.
Mereka memanggilku culun. Yaa, memang saat itu aku sangat lugu, pakaianku ku masukkan ke dalam celanaku, dan sisiran rambutku sangat rapi, serta kacamata yang bertengger di hidungku. Kalian bisa membayangkannya sendiri.
"Ka-kalian ma-mau aa-apa?" jawabku terbata karena aku takut, mereka akan melakukan hal jahat padaku.
"HAhahahahah, udah culun, gagap lagi. HAhahahahah," ledek mereka sambil tertawa terbahak.Dan aku hanya diam menunduk.
"Kemarikan sepedamu!" bentak mereka dan merebut sepedaku.
"Ma-mau ka-kalian apakan se-sepedaku?" tanyaku dan mempertahankan sepedaku yang ditarik paksa salah satu dari mereka.
"Sepeda ini akan kami ambil!" ujar salah satu dari mereka, dan kami masih saling tarik menarik sepedaku.
"Ja-jangan!" teriakku seraya menahan sepedaku.
"Kalian berdua pegangi dia! " ujar anak gendut tadi. Lalu ada dua anak yang mendekat kearahku, dan mencekal kedua tanganku.
"Jangan!Aku mohon jangan ambil sepedaku, sepeda itu hadiah dari orang tuaku.Jangan! " teriakku sambil mencoba melepaskan tanganku yang di cekal dua anak itu.
"Hai, Kalian! Lepaskan dia! " Tiba-tiba ada seorang gadis kecil berkerudung, datang meneriaki mereka.
"Hei, adik kecil! Jangan ikut campur urusan kami!" ucap salah satu dari mereka.
"Lepasin dia, atau aku akan beri kalian pelajaran!" ucap gadis kecil itu, tak ada rasa takut dari dirinya.
"Hahahahahha. Jangan sok berani kamu, emang siapa si culun ini sampai kamu membelanya seperti ini.Apa jangan-jangan kalian pacaran yaa?hahahahahah," tawa mereka semua.
"Kalau iya, kenapa?" jawabku tiba-tiba. Entah kenapa kalimat itu keluar sendiri dari mulutku, tanpa aku pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
"Waah... waah... waah.Sudah berani ngejawab ya kau, Culun! " ucap anak gendut itu.
"Kenapa? Apa kalian takut?" ucapku menyembunyikan ketakutanku.
"Berani sekali kau! Rasakan ini!" Anak gendut itu melayangkan tinjuan ke arahku, dan aku hanya memejamkan mata karena takut. Tetapi kok, aku tidak merasakan sakit, pelan-pelan kubuka mataku. Dan aku langsung melotot ketika melihat, tangan anak gendut itu di cekal oleh gadis kecil itu, sehingga tinjuannya tidak mengenai wajahku.
"Aaargggg ... aduh sakit!" teriak anak gendut itu kesakitan,karena tangannya dipelintir gadis itu.
"Aa-aampun, Dek.Tolong lepaskan aku!" mohon anak gendut itu.
"Pergi kalian, atau aku teriak!Biar semua orang menghajar kalian! " Bentak gadis kecil itu seraya melepaskan cekalannya.
Gerombolan anak laki-laki itu, langsung ketakutan dan berlari meninggalkan kami.
"Kakak baik-baik saja kan? " tanya gadis itu, dengan senyuman yang sangat manis menurutku.
"Iya. Aku baik-baik saja kok. Terimakasih ya udah nolongin aku," ucapku dengan senyuman.
"Iya, sama-sama. Lain kali hati-hati ya, Kak," ucap gadis itu.
"Iya, InsyaAllah. Oh iya namaku Mahendra," ucapku seraya mengulurkan tanganku dan memperkenalkan diri.
Gadis kecil itu menyambut uluran tanganku.
"Salam kenal Kak Mahen. Aku ... ."
"Salsaaa! Naak ayo pulang dulu!" ucapan gadis kecil itu terpotong oleh teriakan seorang wanita,yang mungkin itu adalah ibu gadis itu.
"Iya, Buu ... sebentar!" teriak gadis itu sambil melepas tautan tangan kami.
"Ya udah, Kak Mahen.Aku pulang dulu.Daa! " ucap gadis itu dan berlalu meninggalkan ku.
Sejak saat itu hatiku telah tercuri oleh dia.Dan tak ada yang boleh menggantikan dia di hatiku.Itulah alasanku bersikap dingin, pada semua perempuan yang ingin mendekatiku.
Walau setelah kejadian itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Tetapi aku yakin suatu saat aku akan bertemu dengannya.
Flashback off
***
"Rifan Mahendra Setyawan!" Seseorang berteriak ditelingaku yang membuat aku terkejut.
"Astagfirullah. Ya Allah, Bunda. Bunda ngagetin aku aja sih." Ternyata Bundaku yang berteriak memanggil namaku.
"Kamu lagi ngalamun ya, dari tadi Bunda ajak ngomong, Bunda panggil-panggil, kamu nggak nyaut-nyaut dan cuma diam aja," ucap Bundaku kesal.
"Eeh, enggak kok, Bun. Emang ada apa?" tanyaku sambil merangkul pundak Bundaku tercinta.
"Ayo kita temui, keluarga Pak Erwin," ucap Bundaku.
"Keluarga Pak Erwin? " Dahiku mengeryit, aku tidak tau siapa yang dimaksud Bundaku itu.
"Iya, keluarga Pak Erwin, Sahabat Ayahmu sekaligus tetangga kita dulu, " ucap Bundaku tahu tentang kebingungan ku.
"Oohh ... ya sudah, Bun. Ayo! Ayah dimana, Bun? " tanyaku yang sudah mulai melangkah dan menggandeng tangan Bundaku.
"Ayahmu sudah duluan menemui mereka, kamu sih dari tadi dipanggil nggak nyaut," jawab Bundaku.
__ADS_1
"Hehehe, ya maaf, Bun."
Kami melangkah ke salah satu meja tamu, yang disana sudah ada Ayahku yang sedang berbincang -bincang dengan seseorang.
"Assalamualaikum, Jeng Nia! " ucap Bundaku pada seorang wanita seumuran Bundaku.
"Eeh,Wa'alaikumussalam, Jeng Nadia." Tante Nia langsung berdiri dan mendekat ke arah Bundaku.
"Apa kabar, Jeng? " tanya Bundaku seraya cipika cipiki dengan wanita itu.
"Alhamdulillah baik, Jeng. Aah, sebentar lagi ada yang mau berangkat Haji nih, semoga diberi keselamatan dalam perjalananya. Dan di beri kelancaran dalam ibadahnya," ucap wanita tadi.
"Aamin,Jeng. Semoga kalian juga segera menyusul," ucap Bundaku.
"Aamiin... ehh, ini siapa? " tanya Tante Nia yang memperhatikanku.
"Ohh, iya. Ini Rifan anakku." Bundaku memperkenalkan ku.
"Salam kenal ,Tante," ujarku menangkupkan tangan ku dan Tante Nia hanya mengangguk dan tersenyum.
Sebenarnya aku seperti pernah melihat Tante Nia, tapi aku lupa kapan.
"Wah, udah besar aja anak kamu, Jeng," ucap Tante Nia.
"Iya dong, Jeng. Lalu anak kamu mana? " tanya Bundaku.
"Itu anak aku," ujar Tante Nia seraya menunjuk ke arah laki-laki, yang sedang duduk memangku anak kecil, yang sedang di suapi seorang wanita di sampingnya.
"Waah, kamu udah punya cucu ya, Jeng" Tanya Bundaku.
"Iya, baru satu, Jeng. Anak dari Gibran. Kamu sendiri, Jeng? " tanya Tante Nia.
"Boro-boro cucu, Jeng. Mantu aja belum ada. Nggak tau tuh anakku, belum mau nikah-nikah, " ucap Bundaku menyindir ku.
"Owalah, nggak masalah, Jeng. Nanti kalau udah waktunya, Jeng juga bakalan punya mantu kok, hehehhe," ucap Tante Nia.
"Tuh, Bun. Dengar kata Tante Nia, kalau udah waktunya ya aku bakalan nikah kok," ucap ku pada Bundaku yang membuatnya sedikit cemberut.
"OoH, iya. Jeng Nia kan juga punya anak perempuan kan? " tanya Bundaku lagi.
"Iya, dia nggak ikut. Soalnya baru mulai masuk kerja," ucap Tante Nia.
"Sudah nikah belum dia, Jeng? Kalau belum kenalin aja sama nih anak," ucap Bundaku sambil memegang lenganku.
"Bunda!" Kesalku pada Bunda, karena Bunda sering ingin mengenalkanku pada anak teman-teman arisannya. Dan aku terus menolaknya.
"Apa an sih ,Fan? Kamu tuh kalau mau Bunda kenalin ke cewek selalu nolak, kamu mau bujang terus,heem?" Aku hanya diam mendengar omelan Bundaku.
"Sudah lah,Jeng, jangan memaksakan anak dengan pilihan kita. Biarlah dia mencari kebahagiaannya sendiri, " ucap tante Nia bijak.
"Tapi ya, Jeng, dia nggak pernah dekat sama cewek, Jeng," lanjut Bundaku.
"Hahahah, sudah Jeng yang sabar ya. Nanti pas Jeng di Mekah, Jeng Nadia berdoa saja, semoga anak Jeng Nadia segera mendapatkan jodoh," ucap Tante Nia menenangkan Bundaku.
"Iya, Jeng. Aku juga sabar kok. Ohh Iya jeng silakan dinikmati makanannya," ucap Bundaku ramah.
Acara berlangsung lancar. Ayah dan Bundaku sudah berangkat ke bandara. Aku ikut mengantarkan mereka. Sementara tamu-tamu sudah beranjak pulang ke kediaman masing-masing.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, aku kepikiran Tante Nia, sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi entah kapan dan dimana aku melupakannya. Aku kembali fokus mengemudi menuju rumah orang tuaku. Untuk membantu beres-beres bekas acara tadi.