Bosku Trauma Masa Kecilku

Bosku Trauma Masa Kecilku
Bab 5 Copet


__ADS_3

Pov Naila


Hari ini adalah hari kedua ku bekerja di PT. Setya Utama. Tadi pagi aku berangkat lebih pagi karena takut terlambat.


"Nai, udah waktunya makan siang nih.Ayok ke kantin! " ajak Mila yang sudah berdiri di samping mejaku.


"Ohhh, iya sebentar." Aku merapikan berkas yang aku kerjakan.


"Yok, gaes istirahat." Rama berucap sambil merenggangkan tubuhnya.


"Iya nih.Aku udah ngerasa kelaparan," ucap Mbak Maya memegang perutnya.


"Tumben Mbak Maya kelaparan? " tanya Rama melihat Mbak Maya.


"Biasa ... aku kalau lagi pms mah, bawaannya laper melulu. Ehhh... Ali kemana nih? " tanya Mbak Maya tak melihat keberadaan Ali, saking fokusnya melihat komputer.


Aku selesai membereskan mejaku. Kemudian beranjak dari duduk, mengikuti Mila yang berdiri di dekat meja Mbak Maya.


"Teman-teman, barusan aku diberi tau Pak Anton, kalau hari ini perusahaan akan membagikan nasi kotak untuk semua karyawannya, " ucap Ali yang baru saja keluar dari ruangan Pak Anton.


"Alhamdulillah," ucap kami serempak.


"Dalam rangka apa, Al? " tanya Mbak Maya.


"Kata Pak Anton tadi, Pak Andi dan Bu Nadia mengadakan syukuran dan pamitan, karena mereka akan melaksanakan ibadah Haji, Mbak Maya," jelas Ali ikut berdiri di dekat kami.


"


Syukuran dan pamitan ibadah haji? Pak Andi?" ucapku lirih, alisku bertaut,bingung.Karena hari ini orang tuaku sedang keluar kota untuk mendatangi syukuran dan pamitan keluarga Pak Andi yang akan ibadah haji juga.


"Ah ... mungkin hanya namanya aja yang sama," gumamku lirih.


"Naila!"


"Ehhh... iya Mbak Maya, kenapa? " Aku tersentak mendengar panggilan Mbak Maya.


"Ayok, kamu ikut turun nggak? Malah bengong! " tanya Mbak Maya.


"Hehehheh. Iya, Mbak. Ayo kita turun," jawabku cengengesan.


Kami berlima turun ke lobi. Dan benar beberapa staf penting sedang membagikan nasi kotak yang dimaksud tadi. Kamipun mengambilnya dan menuju ke kantin, untuk makan siang bersama.


"Pak Andi memang baik ya, mau berangkat haji aja masih ingat sama karyawannya, " ucap Mila ketika kami sudah duduk di kursi kantin.


"Iya, Alhamdulillah. Jadi kita nggak perlu ngeluarin duit buat makan siang,semoga sering-sering Pak Andi kayak gini. Hehhehe," ucap Rama terkekeh.


"Huss ... kamu tuh ya, Ram. Kalau gratisan aja kamu semangatnya, masyaAllah," ucap Mbak Maya yang membuat kami tertawa, kecuali Ali yang hanya tersenyum.


Makan siang kami diselingi dengan candaan dan gurauan dari Rama dan Mbak Maya,Mila dan aku hanya sedikit menimpali guyonan mereka.


Alhamdulillah aku diberi rekan kerja yang baik dan ramah-ramah, walaupun baru dua hari ini aku bekerja di sini, aku seperti memiliki keluarga baru.


"Al, kamu kenapa? Apa masih sakit? Kok cuma diam aja? " tanya mbak Maya yang melihat ke Ali. Aku, Mila, dan Rama juga ikut melihat ke arah Ali.


Aku perhatikan dari tadi memang Ali seperti tak banyak bicara. Hanya tersenyum menanggapi guyonan kami.


"Eeh,aku nggak apa-apa kok ,Mbak," jawab Ali tenang.


"Mbak Maya kaya lupa aja. Kalau Ali memang kayak gitu. Orangnya kan kalem. Heheheh," ucap Rama cengengesan.

__ADS_1


"Ehh, semuanya aku ke mushola dulu ya.Keburu jam istirahat habis," ucapku setelah melihat jam di tanganku yang menunjukkan kalau jam istirahat tinggal beberapa menit lagi.


"Aku ikut, Nai.Aku juga mau sholat. Al kamu bareng sekalian nggak? " tanya Rama yang diangguki Ali.


"Ya udah, aku sama Mila duluan keatas ya! " ucap Mbak Maya.


Kebetulan makanan kami memang sudah habis. Akhirnya aku melangkah menuju mushola, dan dibelakangku ada Rama dan Ali yang juga akan ke mushola.


Sementara mbak Maya dan Mila sudah menaiki lift ke atas.


Sesampainya di mushola aku mengambil wudhu lalu masuk ke mushola. Kami memutuskan untuk sholat berjamaah dengan Ali yang jadi Imamnya.


Setelah selesai sholat, aku, Rama, dan Ali, beriringan menuju lift untuk kembali ke ruangan kami.


"Nai, tau nggak. Ali kalau lagi baca Qur'an suaranya merdu banget hlo, Nai," ucap Rama ketika kami memasuki lift.


"Oohh ... iya kah? "tanyaku.


"Iya. Iya kan, Al? " tanya Rama menyenggol lengan Ali yang hanya diam sedari tadi.


"Biasa aja," jawab Ali dengan muka datarnya.


Tiiing...


Suara pintu lift terbuka, dan Ali pun melangkah meninggalkan aku dan Rama yang berjalan dibelakangnya.


"Ali kenapa sih, Ram?" tanya ku penasaran.


"Nggak apa-apa kok,Nai. Dia emang dari dulu kayak gitu. Dingin, cuek, pendiam," jelas Rama membuka pintu ruangan. Aku hanya mengangguk. Karena aku tadi sempat suudzon, kalau Ali kayak gitu gara-gara dia nggak suka ada aku. Ternyata dia memang pendiam.


Kami kembali berkutat dengan pekerjaan kami.


"Baik Pak, insyaAllah," ucapku mengangguk patuh.


"Ali? Besok kamu temani saya survei ke G mall! " ucap Pak Anton mengalihkan pandangan ke Ali. Dan Ali hanya mengangguk faham.


Setelah Pak Anton kembali ke ruangannya. Kami pun kembali fokus ke layar komputer. PT. Setya utama, perusahaan yang berkelut dibidang alat-alat tulis. Memang alat tulis seperti nya hal sepele, tetapi hampir semua kalangan menggunakannya.


"Rama, bisa ke ruangan saya sebentar? " ucap Pak Anton menyembulkan kepalanya dipintu ruangannya.


"Baik Pak. " Rama melangkah ke ruangan Pak Anton dan memasukinya. Setelah beberapa saat Rama keluar membawa beberapa kertas.


"Mbak Maya, ini daftar toko-toko yang harus Mbak survei besok."Rama menyerahkan selembar kertas pada Mbak Maya.


"Mila ini buat kamu. Dan ini buatku. Untuk Naila, berhubung kamu masih karyawan baru, kamu belum ke jatah survei lapangan,"jelas Rama dan aku hanya mengganggu sekilas dan kembali menatap komputer ku.


Setelah beberapa jam bekerja akhirnya waktunya untuk semua karyawan pulang. Tak ada lembur hari ini. Karena Pak Rifan pun tak masuk hari ini.


" Alhamdulillah. Saatnya pulang. " Ku renggangkan otot-otot tanganku, karena seharian harus mengetik data-data pemesanan produk dikomputerku.


"Pulang yuk, Nai! " Mila mendekati mejaku.


"Ayok! " Segera aku merapikan mejaku dan mengambil tas ku, kemudian kami menghampiri yang lain.


"Mbak Maya, ayok pulang," ajakku pada Mbak Maya yang sedang merapikan mejanya.


"Yuk! " Mbak Maya berdiri, dan mulai melangkah, aku dan Mila mengikutinya.


"Hei tunggu! Aku bareng turunnya," teriak Rama yang tergesa-gesa merapikan mejanya.

__ADS_1


"Ayo Al!" ajak Rama dan lagi-lagi Ali hanya mengangguk.


Kami berlima akhirnya turun ke lobi bersama-sama.


"Yaah ... besok pasti sepi deh.Kalian pada survei ke lapangan aku sendirian di kantor, "ucapku ketika kami menuju pintu keluar lobi.


"Palingan aku siang udah di kantor lagi kok,Nai.Soalnya aku dapat survey di toko alat tulis dekat-dekat sini aja," ucap Mila yang membuatku sedikit lega.


"Ya udah. Alhamdulillah kalau begitu," ucapku tersenyum.


"Kalau aku mungkin nggak balik kantor. Hla wong aku dapatnya jauh dari sini." Mbak Maya ikut menanggapi.


"Sama, Mbak. Aku juga mungkin nggak balik ke kantor," ucap Rama.


Sedangkan Ali, dia hanya diam saja sedari tadi.


Sesampainya di depan kantor kami berpisah. Aku dan Rama ke parkiran mengambil sepeda motor kami.Mbak Maya seperti kemarin, dia dijemput suaminya. Mila tadi bilang kalau dijemput ayahnya. Sementara Ali, aku tak tau. Karena dia berlalu ke luar kantor.


Saat keluar dari gerbang kantor, aku melihat seorang ibu-ibu yang berlari mengejar pria yang berlari membawa tas perempuan.


"Apa jangan-jangan Ibu itu kecopetan? " batinku sambil menghentikan motorku di pinggir jalan.


"Tolong! Copet! Copet!" Belum sempat aku turun dari motorku, Ibu itu sudah berteriak minta tolong.


Segera aku mematikan mesin motorku. Dan segera turun untuk menghadang copet itu. Kebetulan copet itu berlari ke arahku.


"HEI BERHENTI! Kembalikan tas Ibu itu!" teriakku. Seketika pria itu berhenti dan menatap tajam padaku.


" Siapa kau? Beraninya kau menghalangi jalanku! " bentak pria itu tak mau kalah.


"Cepat kembalikan tas ibu itu! " ucapku geram.


"Jangan ikut campur urusan ku! Cepat menyingkir!! Atau....!! "


"Atau apa, ha? " tanyaku cepat dan langsung memotong ucapan pria pencopet tadi. Pria itu semakin melotot dan melangkah cepat menuju kearahku.


"Berani sekali kau! Rasakan! " Pria itu melayangkan pukulan kearahku.


"Ugh... . "


"Aaaaakkkk... " teriak pria itu ketika tangan yang digunakannya untuk memukulku, aku cekal dan aku plintir, dan aku mengunci pergerakannya.


"Cepat, kemarikan tas Ibu itu!" bentakku pada pria itu.


"Ba-baiklah. I-ini! " Pria itu menyerahkan tas yang ia copet kepadaku.


Setelah tas sudah berada ditanganku. Pria itu langsung aku tendang dan dia terjatuh ke tanah.


"Bertobat, Pak. Cari uang itu dengan cara yang halal, " ucapku, saat melihat pria itu masih duduk ditanah memegang tangan yang tadi aku pelintir.


Setelah itu aku melewatinya dan memberikan tas yang tadi di copet kepada pemiliknya.


"Ini, Bu.Tasnya, lain kali hati-hati ya,Bu," ucapku sambil tersenyum.


"Terimakasih ya, Mbak." Ibu itu menerimanya dan tersenyum.


"Awas mbak! " Tiba-tiba Ibu itu berteriak ketika melihat kebelakangku. Aku pun segera memutar tubuhku dan...


"Aaaaaaa ..."

__ADS_1


__ADS_2