
Pov Naila
Karena mimpi semalam, pagi ini aku agak malas untuk beraktifitas. Setelah tahajud tadi aku tidak kembali tidur. Mata ini seperti takut untuk memejam, karena khawatir jika mimpi itu datang lagi.
"Dek, kok wajahmu pucat begitu. Kamu sakit? " tanya ibuku yang sedang mengambilkan nasi untuk bapak.
"Kalau sakit, izin nggak masuk kerja dulu saja. Jangan dipaksain, kasihan tubuhmu," ucap bapak khawatir.
"Enggak kok, Pak, Bu. Naila baik-baik saja kok, cuma agak malas aja pergi ke kantor," ucapku seraya mengambil lauk untuk sarapan.
"Tumben, Dek, kamu males ke kantor? Biasanya kamu semangat loh, sampai kemarin disuruh izin mendatangi undangan Pak Andi aja nggak mau. Kamu pilih masuk kerja, " ucap ibu yang sudah memulai sarapannya.
"Itu kan karena Naila masih karyawan baru, Bu. Terus nanti dikantor teman-teman Naila pada nggak masuk, soalnya kejatah survei lapangan," ucapku sedikit berbohong.
Aku malas ke kantor karena masih teringat mimpi semalam. Entah kenapa aku sulit melupakan kejadian itu, sampai masuk kedalam mimpiku. Padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya.
"Dek? Dek? Naila Salsabila? "
"Eehh, iya, Bu? Kenapa? " tanyaku kaget.
"Ibu tadi tanya. Apa kamu nggak kejatah survei lapangan? " ucap bapak.
"Eehh, ituuu... soalnya Naila kan karyawan baru. Jadi belum dapat jatah survei, " ucapku dan segera minum segelas air putih. Entah kenapa tenggorakanku terasa kering.
"Pelan-pelan Dek minumnya," ucap ibu yang melihatku minum dengan cepat.
"Kamu kenapa toh, Dek? Ibu perhatikan belakangan ini kamu sering melamun," tanya ibu memperhatikanku.
"Naila nggak papa kok, Bu. Ibu nggak usah khawatir," ucapku sambil mengelap mulutku.
"Ayo Naila, Bapak antar kamu ke kantor. Sekalian Bapak juga mau ke toko," ajak bapak yang sudah selesai sarapan.
"Nggak usah, Pak. Naila naik montor aja, " tolak ku. Karena tak ingin merepotkan bapakku.
"Udah berangkat aja sama Bapak, Dek. Melihat kamu lemes gini, Ibu khawatir kalau kamu naik montor sendiri," ucap ibuku yang lagi-lagi mengkhawatirkanku.
"Ya udah, Pak. Kalau begitu Naila bareng Bapak." Aku setuju diantar bapak. Lagipula aku juga sedang malas mengendarai sepeda montorku. Entah kenapa badan ini rasanya lemas. Padahal aku nggak merasa sakit.
"Ya sudah, Bu. Kalau gitu Bapak sama Naila berangkat dulu ya," pamit bapak mengulurkan tangan pada ibu untuk disalimi.
"Naila berangkat dulu ya, Bu," ucapku mengulurkan tangan dan mencium tangan ibuku.
"Iya. Hati-hati ya," ucap ibu mengantar kami ke depan.
Aku diantar bapak dengan menaiki mobil milik bapak. Selama perjalanan bapak fokus menyetir dan sesekali melihat kearahku yang sedang mencoba memejamkan mata. Lumayan 30 menit perjalanan bisa mengistirahatkan mata sejenak. Karena semalam aku tak kembali tidur, jadi saat dimobil ini kantuk pun menyerang.
__ADS_1
"Sedari tadi Bapak lihat kamu berkali-kali menguap, Nai.Kamu sepertinya ngantuk berat ya, Nai? " tanya bapak.
"Iya nih, Pak. Mungkin kecapean kali, Pak," ucapku memijit mijit lenganku. Tak mungkin aku memberi tahu bapak kalau aku semalam tak bisa tidur nyenyak. Pasti bapak berfikir yang macam-macam yang menjadikan bapak merasa khawatir.
"Ya sudah kalau gitu tidur aja. Nanti kalau udah sampai Bapak bangunin insyaallah," ujar bapak kembali fokus menyetir.
Aku mencoba untuk memejamkan mata. Tetapi tetap saja tak bisa tidur nyenyak, walaupun rasanya sangat mengantuk.
"Naila, bangun, Nak. Sudah sampai," ujar bapak memegang tanganku.
"Iya, Pak," ucapku membuka mata.
"Naila masuk dulu ya, Pak," pamitku mengulurkan tangan ke bapak. Dan mencium tangan bapak.
"Iya, lancar barokah ya, Nak," ucap bapak yang aku angguki.
Aku pun langsung keluar dari mobil. Kemudian bapak mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor. Saat aku sudah tak melihat mobil bapak. Aku langsung masuk ke kantor dengan tak bersemangat.
"Assalamualaikum, Mbk Shila," sapa Pak Joko saat aku masuk ke lobi.
"Wa'alaikumussalam, Pak," ucapku sedikit tersenyum.
"Kok kaya nggak semangat gitu, Mbak? " tanya Pak Joko.
"Iya nih, Pak. Temen-temen seruangan pada survei lapangan. Cuma saya doang yang masuk hari ini, " ucapku.
"Kalau begitu saya keruangan dulu ya, Pak Joko," pamit ku undur diri.
"Iya, Mbak. Semangat, Mbak," ucap Pak Joko dan aku hanya mengacungkan jempol dan tersenyum.
Aku pun segera menaiki lift untuk sampai keruangan ku. Hanya aku yang berada diruangan marketing. Setelah jam kerja sudah mulai. Akupun segera menghidupkan komputer ku.
Saat aku mulai mengerjakan pekerjaanku, aku teringat kalau Pak Anton kemarin menyuruhku untuk memberikan berkas laporan marketing kepada Pak Rifan.
Segera aku membawa berkas itu keruangan CEO. Akupun naik lift untuk sampai ke ruangannya. Sesampainya di depan ruangan CEO aku melihat ada pria yang selalu bersama Pak Rifan. Mungkin sekertaris Pak Rifan.
"Permisi, Pak. Saya di perintah Pak Anton dari bagian Marketing, untuk menyerahkan berkas laporan ini kepada Pak Rifan," ucapku kepada pria tadi.
"Silakan masuk, Mbak, " ucapnya dengan ramah.
Akupun mengangguk dan tersenyum. Setelah itu aku melangkah kedepan pintu ruangan CEO dan mengetuk nya.
Took! Tok! Tok!
Setelah ada suara mempersilakan masuk. Akupun masuk, dan terlihat seorang pria yang tengah fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Ada apa? " tanyanya tanpa menoleh kepadaku.
"Ini saya dari bagian marketing, diperintah Pak Anton untuk menyerahkan berkas ini kepada Bapak, " ucapku sedikit gugup karena teringat kejadian pertama kali bertemu dengannya.
"Taruh di meja," ucapnya lagi yang masih fokus ke laptopnya.
"Kalau begitu saya izin kembali keruangan," ucapku setelah meletakan berkas tadi di meja.
"Hmm." Dia hanya berdehem. Tanpa sedikitpun menoleh padaku.
"Dasar kulkas," gumamku lirih.
"Saya tahu apa yang anda katakan! " ucapnya yang masih fokus menatap berkasnya.
'Ya Allah, kok dia bisa dengar ya, Jangan-jangan dia bisa baca pikiran orang' batinku seraya melangkah menuju pintu.
"Jangan berfikir saya bisa baca pikiran orang, tadi anda ngomong masih kedengaran telinga saya," ucap Pak Rifan lagi.
Aku pun segera keluar dari ruangan itu. Karena merasa takut dengan Pak Rifan.
"Kenapa Mbak kok buru-buru? " tanya pria yang berada di depan ruangan CEO.
"Pak Rifan bisa baca pikiran orang ya Pak...?" ucapanku menggantung karena tak tau siapa nama pria ini.
" Aku Bagus, sekertaris sekaligus asisten Pak Rifan," ucapnya memperkenalkan diri.
"Ohh, iya Pak Bagas. Saya Naila. "
"Tadi kamu bicara apa, Nai? Pak Rifan bisa baca pikiran orang? Hahahah." Pak Bagas tertawa.
"Iya, Pak. Masa dia tau pas aku bilang dia kulkas, " ucapku. Saat sadar aku bicara dengan siapa,aku langsung menutup mulut. Jangan sampai dia cerita pada Pak Rifan, kalau aku mengatai Pak Rifan dengan julukan kulkas.
"Hahahahah, apa, Mbak? Kulkas? " tanya Pak Bagas lagi.
"Bu-bukan kok, Pak," jawabku salah tingkah.
"Hahahah, santai aja Mbak kalau sama saya," ujar Pak Bagas.
"Baiklah, Pak. Saya izin undur diri mau melanjutkan pekerjaan saya, "
ucapku dan Pak Bagas hanya mengangguk dan tersenyum.
Aku buru-buru menaiki lift untuk turun keruangan marketing. Dalam hatiku berdoa semoga Pak Bagas tidak melaporkan diriku ke atasan, karena telah mengatai atasan.
Setelah sampai ruangan,ternyata masih sepi. Hanya ada aku sendiri disini. Mila yang katanya akan datang pun belum ada tanda-tanda kedatangannya. Segera kubuka berkas-berkas yang harus aku kerjakan.
__ADS_1
Rentetan angka-angka dari pesanan para customer ini membuat ku merasa pusing. Aku memutuskan untuk ke pantry membuat segelas kopi, agar kantuk yang menyerang ku sedikit berkurang.