Bosku Trauma Masa Kecilku

Bosku Trauma Masa Kecilku
Bab 8 Kopi


__ADS_3

Saat Naila sudah berada di pantry,dia mengambil cangkir untuk membuat kopi. Tapi saat Naila mencari bubuk kopi, dia tidak menemukannya.


Saat sedang mencari ada seorang laki-laki paruh baya yang juga masuk ke pantry, laki-laki itu menggunakan seragam OB menyapa Naila. Dan Naila menanggapi dengan senyuman.


"Cari apa, Mbak? " tanya OB itu ketika melihat Naila celingukan seperti mencari sesuatu.


"Cari bubuk kopi, Pak. Dari tadi saya cari nggak nemu, " jawab Naila masih celingukan.


"Ohhh, mungkin habis, Mbak. Sebentar saya carikan di lemari persediaan, Mbak, " ucap OB berlalu menuju lemari persediaan.


Dan Naila hanya mengangguk.


"Ini Mbak bubuk kopinya," ucap OB itu.


"Oohh, terimakasih banyak, Pak.... "


"Wawan, Mbak. Nama saya Wawan, " ucap laki-laki paruh baya itu tersenyum.


"Oh, iya. Terimakasih ya, Pak Wawan, " ucap Naila sembari menaruh bubuk kopi itu ke cangkirnya.


"Iya Mbak,sama-sama. Lagian saya juga mau buatin kopi untuk atasan kok, Mbak," ucap Pak Wawan ramah.


Dan Naila hanya mengangguk dan mulai membuat kopinya.


"Lagi ngantuk ya, Mbak? Mbak siapa namanya? " tanya Pak Wawan.


"Ohh nama saya Naila, Pak. Iya nih lagi ngantuk berat, Pak. Makanya mau minum kopi biar rasa kantuk nya lari Pak, heheheh," ucap Naila terkekeh.


"Hahahaha, ada-ada saja Mbak Naila nih." Pak Wawan ikut terkekeh. Tapi tiba-tiba Pak Wawan diam.


"Kenapa, Pak? " tanya Naila penasaran karena tiba-tiba Pak Wawan diam setelah terkekeh.


"Anu, Mbak. Saya kebelet, Mbak. Tapi atasan tadi suruh saya segera buatin kopi buat dia, " ucap Pak Wawan sungkan.


"Oohhh, itu... ya udah Pak Wawan kebelakang aja dulu. Biar kopinya Naila yang buatin. Nanti tinggal Pak Wawan antar" ucap Naila tersenyum.


"Maaf ya, Mbak. Sebentar," ucap Pak Wawan berlalu menuju toilet.


Setelah kepergian Pak Wawan, Naila langsung membuat secangkir kopi lagi, dan ditaruh nya di atas nampan. Tak berapa lama Pak Wawan sudah kembali. Dan melihat secangkir kopi di atas nampan.


"Terimakasih ya, Mbak Naila. Ya udah saya mau antar ini ke atasan dulu ya, Mbak. "Pak Wawan berlalu meninggalkan pantry. Naila hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, sembari meminum kopi yang dia buat.


"Memang aroma kopi ini bisa nenangin pikiran. Semoga nggak ngantuk lagi," monolog Naila ketika kopinya sudah habis.


Setelah dirasa kantuk yang menyerangnya tadi hilang, Naila segera kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Sementara di tempat yang sama tapi posisi yang berbeda. Ada seorang pria gagah yang sedang fokus pada laptopnya. Jas mahal tersampir di sandaran kursi kebesarannya.


Took! Took! Tokk!


Suara ketukan terdengar di telinganya. Tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Dia mempersilakan masuk.


"Permisi, Pak Rifan. Ini kopi yang Bapak minta, maaf agak lama," ucap Pak Wawan, membawa secangkir kopi itu ke arah meja Rifan.


"Hmmm ... taruh di meja," ucap Rifan tetap fokus ke laptopnya.


Mendengar hal itu Pak Wawan pun langsung meletakkan secangkir kopi itu di atas meja Rifan.


"Kalau begitu saya undur diri, Pak. Permisi," pamit Pak Wawan sambil menundukkan kepala.


"Terimakasih, Pak," ucap datar Rifan tanpa melihat ke Pak Wawan.


Setelah beberapa menit setelah Pak Wawan keluar. Rifan menghentikan pekerjaannya dan mengambil cangkir yang berisi kopi tadi.


"Harum sekali," gumam Rifan saat secangkir kopi itu di dekatkan ke hadapannya.


Dengan perlahan Rifan mulai menyeruput kopi hitamnya. Setelah meminum sedikit kopinya, Rifan menyatukan alisnya, dia merasa heran dengan rasa kopi yang tidak seperti biasanya.


"Tumben racikan kopi ini beda seperti biasanya. Ini terasa lebih enak," gumam Rifan dan melanjutkan meminum kopi itu hingga habis.


"Ya kalik, Mil. Baru juga beberapa hari aku kerja. Masak udah berani bolos aja, bisa-bisanya aku dipecat nanti, " jawab Naila sambil melangkah menuju meja kerjanya.


"Ya kan, pas aku datang kamunya nggak ada, Nai. Dari mana sih? " tanya Mila yang kembali menghadap komputernya. Karena tadi saat Naila masuk Mila langsung mengalihkan atensinya ke arah Naila.


"Aku dari pantry kok, Mil. Ngantuk berat aku gara-gara sendiri diruangan, jadi tadi buat kopi buat ngusir kantuk," jawab Naila yang juga kembali menghadap komputernya.


"Hahaha. Ada yang kesepian nih, " ucap Mila tanpa mengalihkan pandangannya dari komputernya.


"Iya nih, Mil. Biasanya ada kamu Mbak Maya dan Rama jadi agak seru. Sedangkan tadi aku cuma seorang diri, " ucap Naila lesu.


Kemudian Naila menoleh ke arah Mila. "Kamu sendiri udah lama balik ke kantornya, Mil? "


"Belum kok, Nai. Baru sekitar seperempat jam an yang lalu, " jawab Mila menoleh ke arah Naila.


"Owalah kukira kamu habis survei nggak balik, Mil, " ucap Naila kemudian.


"Pinginnya sih gitu, Nai. Tapi mau gimana lagi orang survei ku cuma dekat kantor aja kok, " jawab Mila sedikit lesu.


"Kalau kamu nggak jadi balik kantor tadi, mungkin aku bakalan ketiduran, Mil. Soalnya sepi banget tadi, " rajuk Naila.


"Pak Anton sama Ali juga belum balik kah, Nai? " tanya Mila agak sedikit mendekat ke meja Naila.

__ADS_1


Naila menghentikan aktifitas mengetik nya lalu menghadap ke arah Mila. "Belum juga kok, Mil. "


Seketika senyum Mila terbit, Naila yang melihatnya mengerutkan dahinya karena heran melihat Mila tiba-tiba tersenyum.


"Hey, Mil. Kamu kenapa kok tiba-tiba senyum gitu? Jangan nakut-nakutin ah, Mil, " ucap Naila khawatir.


"Hahaha. Nakut-nakutin gimana sih, Nai. Aku tuh agak lega karena mendengar Pak Anton belum balik ke kantor, " ujar Mila.


"Kok seneng Pak Anton belum balik sih, Mil? " tanya Naila yang belum paham.


"Ya kan kita bisa sedikit agak santai, Nai, " ucap Mila yang belum kembali ke meja kerja nya.


"Owalah kukira kamu jadi OGB, hehehe. "


Mila mengerutkan dahinya tak mengerti maksud Naila. "OGB apaan, Nai? "


"Orang gila baru, hahaha. Peace, " ucap Naila sambil membuat Peach dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Mendengar hal itu, Mila cemberut, dan memukul pelan lengan Naila. "Sembarangan aja kamu, Nai, " sungut Mila tak terima.


"Aduh ... ya maaf, Mil, " ucap Naila sambil mengusap lengan yang dipukul Mila.


"Ehem .... "


Terdengar suara degeman dari arah pintu masuk ruangan. Saat Naila dan Mila menoleh ternyata Pak Anton sudah berdiri di ambang pintu masuk. Seketika Mila cepat-cepat kembali ke meja kerjanya. Sementara Naila juga segera kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Sudah selesai surveinya, Mil? " tanya Pak Anton saat sudah berada di dekat meja Mila.


"Su-sudah, Pak, " jawab Mila gugup.


"Ya sudah. Kalau begitu saya masuk ke ruangan saya dulu, " ucap Pak Anton, kemudian melangkah menuju ruangannya.


"Oh, iya, Naila! " Sebelum benar-benar masuk ke ruangannya Pak Anton kembali memutar tubuhnya menghadap bawahannya.


"I-iya, Pak? " tanya Naila seketika berdiri dari duduknya.


"Berkas yang saya suruh kamu kasih ke Pak Rifan. Sudah kamu kasihkan belum? " tanya Pak Anton sambil menatap Naila.


"Sudah, Pak, " jawab Naila singkat.


"Oh, ya sudah. Terimakasih. " Pak Anton berbalik dan masuk ke ruangannya.


Naila kembali duduk, dan mengerjakan pekerjaannya.


"Siang, teman-teman. "

__ADS_1


__ADS_2