Bosku Trauma Masa Kecilku

Bosku Trauma Masa Kecilku
Bab 6 Trauma


__ADS_3

"Aaaaaaaakk!" teriak seseorang kesakitan karena tangannya dipelintir dan balok kayu yang ada ditangannya terlempar.


"Tolong le-lepaskan saya," rintih pencopet itu.


"Tunggu sampai polisi datang! " ucap tegas seorang pria, yang berhasil menggagalkan pencopet yang akan memukul seorang gadis dengan balok kayu, saat gadis itu lengah.


Dia mencoba menghubungi polisi dengan tangan satu. Sedangkan tangan satunya masih menahan pria pencopet itu.


"Biar saya urus dia, Pak,"ucap seorang pria yang berpakaian satpam.


"Silakan, Pak," ucap pria penolong itu sambil menyerahkan pencopet kepada satpam.


"Terimakasih Al. Kamu nggak apa-apa kan? " Tanya Naila.


"Hmmm ... lain kali hati-hati! " ucap Ali tanpa ekspresi kemudian berlalu meninggalkan Naila. Naila pun hanya bisa menatap punggung tegak Ali yang semakin menjauhi dirinya.


Ali lah yang menolong Naila yang akan di pukul dengan balok kayu oleh pencopet tadi. Sebenarnya dari awal kejadian Ali sudah melihatnya.


Saat Ali sedang menunggu angkutan umum di halte depan kantor, dia melihat Naila yang menghentikan motornya dipinggir jalan, dan berusaha menghentikan pencopet itu.


Saat pencopet itu mencoba memukul Naila, Ali segera berlari mendekat, tapi sebelum sampai di tempat Naila. Pencopet itu sudah dilumpuhkan Naila.


Setelah melihat pencopet itu dikalahkan Naila,dan Naila sudah mengembalikan tas yang dicopet kepada pemiliknya. Ali yang akan kembali ke halte melihat kalau pencopet itu mengambil balok kayu yang ada didekatnya, dan bangkit dari duduknya melangkah kearah Naila yang membelakanginya. Segera Ali berlari dan menangkis tangan pencopet itu yang akan memukulkan balok kayu itu pada Naila. Dan berhasil, balok kayu itu terlempar, dan tangan pencopet itu di cekal dan di pelintir oleh Ali.


"Mbak nggak apa-apa kan? " tanya ibu pemilik tas dengan raut wajah khawatir.


"Eehh, saya baik-baik saja kok,Bu," jawab Naila tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih banyak ya,Mbak. Sebentar! " Ibu itu membuka tas dan mengambil dompet.


"Ini ada sedikit rasa terimakasih saya, Mbak. Mohon diterima," ucap Ibu itu menyodorkan beberapa lembar uang.


"Ya Allah, Bu. Nggak perlu, Bu. Saya ikhlas," ucap Naila.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya juga ikhlas. Tolong diterima, " ucap Ibu itu sambil menyodorkan uang tadi kearah Naila.


"Lebih baik, Ibu sumbangkan kepada anak yatim, Bu. InsyaAllah lebih barokah, " ujar Naila mendorong pelan uluran tangan Ibu tadi.


"Ya Allah, Mbak. Udah cantik, baik, pemberani lagi. Semoga Allah memberikan kemudahan disetiap langkah, Mbak ya, " ucap Ibu tadi tersenyum.


"Aamiin ,Bu. Kalau gitu saya permisi dulu ya, Bu. Assalamualaikum," ucap Naila berlalu menuju ke motornya dan pulang.


***


Sesampainya di depan rumah. Naila segera mengambil kunci rumah didalam tasnya. Naila segera membuka pintu dan masuk kedalam rumah.


'Kok Bapak sama Ibu belum pulang ya?'batin Naila ketika tak melihat orang tuanya berada di rumah.


Naila segera naik keatas menuju kamarnya, untuk sejenak beristirahat dan membersihkan tubuhnya. Selesai mandi adzan magrib sudah berkumandang. Naila segera melaksanakan kewajibannya. Setelah itu dia turun ke bawah menuju dapur.


Naila membuka kulkas dan mencari bahan-bahan yang bisa di olah. Ada sayur kangkung, tempe, dan ayam. Dengan lihainya tangan Naila meracik semua bahan-bahan yang diambilnya tadi.


Setelah berkutat beberapa menit di dapur, Naila selesai memasak dan menghidangkan di meja makan, walaupun mungkin dia akan makan sendiri. Di meja makan sudah ada tumis kangkung, ayam goreng, dan tempe mendoan. Segera Naila mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang di masaknya tadi.


Ting tung.....


Bel rumah berbunyi, saat Naila hendak menyuap makan malamnya.Memang tadi Pintu rumah sengaja Naila kunci karena dia dirumah hanya seorang diri. Naila segera menuju ke pintu dan membukanya.


" Assalamualaikum, putri Bapak yang cantik," ucap Pak Erwin saat pintu sudah terbuka.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, Bapak sama Ibu?Aku kira mau nginep di rumah Kak Gibran, kok jam segini belum pulang! " ucap Naila manja.


"Heheheh, tadi memang kami ke rumah Kakakmu dulu,Dek. Keasyikan main sama Bian sampai lupa waktu. Heheheh," ucap Bu Nia terkekeh.


"Lhooo, kan. Naila kan juga pengen main sama Bian," ucap Naila cemberut.


"Hla,kemarin kamu diajak nggak mau," ucap Pak Erwin yang berjalan menuju ke arah ruang tamu. Naila dan ibunya mengikuti masuk ke dalam.


"Kan aku kerja,Pak," ucap Naila mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah kapan-kapan kita main ke sana ya?" ucap Bu Nia kemudian.


"I-iya," jawab Naila ragu.


"Waah bau apa ini kok sepertinya enak," ucap Pak Erwin mengendus-enduskan hidungnya.


"Kamu masak, Dek? " tanya Bu Nia melihat kearah anaknya.


"Iya, Bu. Ayo Pak, Bu, kita makan malam bersama," ajak Naila menarik tangan ibunya ke arah meja makan.


"Kebetulan Bapak juga sudah lapar nih," ucap Pak Erwin mengikuti anak dan istrinya ke arah meja makan.


"Waaah sepertinya enak nih. Bu,tolong ambilin buat Bapak," ucap Pak Erwin manja. Dengan cekatan Bu Nia mengisi piring Pak Erwin dengan nasi dan teman-temannya. Mereka makan malam bersama dengan khidmat.


"Nai,tadi Ibu ketemu sama anaknya Tante Nadia hlo, Nai. Yang dulu pernah nanyain kamu. Dulu dia pernah main ke rumah kita yang sekarang sudah ditempati Kakakmu," ucap Bu Nia ketika mereka sudah selesai makan.


"Tante Nadia yang mana ya, Bu? " tanya Naila yang sedang membereskan piring kotor.


"Tante Nadia itu istri dari Om Andi, sahabat Bapak kamu. Dulu Tante Nadia dan anaknya berkunjung ke rumah kita, tapi setelah kamu melihat mereka, kamu langsung lari kekamar. Bahkan waktu itu kamu belum nemuin mereka."


"Eemmmm masih belum ingat,Bu. Heheheh." Naila melangkah ke arah dapur dengan membawa piring kotor.


"Ahh ... kamu mah. Dia sekarang ganteng banget hlo,Nai," ucap Bu Nia mengeraskan suaranya karena Naila sedang ada di dapur mencuci piring.


Prang....


Suara gelas pecah membuat Bu Nia dan Pak Erwin langsung berlari ke dapur.


"Ya Allah,Nai.Kamu kenapa? " tanya Bu Nia khawatir melihat anaknya sedang memunguti pecahan gelas kaca dilantai.


"Heheheh, maaf,Bu.Tadi gelasnya licin pas aku pegang, jadi jatuh deh," elak Naila berbohong.


'Astagfirullah, maafkan aku ya Allah, aku berbohong' bathin Naila.


"Innalillahi!" ucap Naila ketika jarinya tergores pecahan kaca dan mengakibatkan darah keluar dan menetes.


"Ya Allah, Nak. Hati-hati dong, Nak," ucap pak Erwin panik. Naila mencoba mengelap tangannya yang terluka dengan hijab instannya.


"Biar Bapak yang beresin pecahan gelasnya. Kamu obati lukamu itu dulu,sama Ibu." Naila beranjak dari dapur dan duduk di depan ruang TV.


"Kamu tuh, Dek, lain kali hati-hati. Kalau udah capek nggak usah cuci piring dulu. Kan gini jadinya tanganmu jadi terluka," omel Bu Nia menuju ruang TV dengan membawa kotak obat ditangannya.


"Naila nggak apa-apa kok, Bu. Sini biar Naila aja yang obati sendiri. " Naila mengambil kotak obat yang dibawa Bu Nia.


"Udah sini, biar Ibu saja yang obatin." Bu Nia tak tinggal diam, merebut kotak obat itu dari tangan Naila. Dan segera mengeluarkan obat merah dan juga plester.


Naila hanya diam saat tangannya diobati Ibunya. Sebenarnya bukan karena licin gelas itu jatuh. Tetapi karena Naila terkejut dengan nama yang disebut Ibunya tadi "Mahendra".


" Nah ... udah selesai, Dek," ucapan Ibunya mengagetkan Naila yang dari tadi diam melamun.

__ADS_1


"Eeehh, iya, Bu. Terimakasih ya Ibuku sayang,"ucap Naila mengecup pipi Ibunya.


" Ya udah sana istirahat. Besok kan kamu masih masuk kerja," ucap Bu Nia.


"Iya, Bu. Kalau gitu Naila keatas dulu ya,Bu," ucap Naila beranjak dari duduknya dan menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Naila langsung merebahkan tubuhnya dikasur dan menyelimutinya. Setelah berdoa Naila mulai tertidur.


Di sekolah dasar ada seorang gadis kecil berhijab sedang duduk di taman belakang SD. Dia sedang menikmati bekal makan siang yang dibawanya.


Tiba-tiba datang segerombolan anak laki-laki mungkin kakak kelasnya, melangkah ke arah gadis kecil itu.


"Hai Gadis kecil! Kamu kan yang dulu menyelamatkan anak culun itu,kan? " tanya seorang anak yang lebih gendut dari teman -temannya yang lain.


"Iya, memang kenapa. Ha? " ucap gadis kecil bernama Naila itu.


"Kamu kecil-kecil ternyata udah berani pacaran ya!" ucap anak gendut itu mengejek.


"Aku nggak pacaran kok! " ucap tegas Naila bangun dari duduknya dan menatap ke arah gerombolan anak laki-laki itu.


"Dasar pembohong! Anak culun itu sudah mengakui kalau kalian pacaran! Pakai kerudung kok pacaran! Lepasin aja kerudungmu itu! hahahha," tawa anak gendut itu menggelegar.


"Hahahahahahha, kecil-kecil berkerudung tukang bohong! Pacaran lagi! Dasar munafik! " Anak laki-laki lain ikut berkomentar dan ikut tertawa.


"Aku bukan munafik! Aku nggak bohong!! Aku nggak pacaran!!" ucap Naila berteriak serta air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Naila mungkin kuat fisiknya, tetapi hatinya sebenarnya masih rapuh. Ucapan anak laki-laki itu menyakiti hati Naila.


"Kalian pegang tangan anak kecil ini! " perintah anak gendut itu.


Dua anak laki-laki melangkah ke arah Naila dan mencoba mencekal kedua tangan Naila. Tapi Naila menangkis nya dan alhasil bekal makan siangnya terlempar ketanah. Saat Naila melihat bekalnya terjatuh, digunakan kedua anak laki-laki itu mencekal kedua tangan Naila.


"Hahahahahha... sok berani! Munafik! Sini aku bantu melepas kerudungmu itu! " bentak anak gendut itu mendekati Naila yang tak bisa menghindar,karena tangannya sedang dicekal oleh dua anak laki-laki lainnya.


"Jangan! Aku mohon jangan!" teriak Naila terisak, ketika anak gendut itu sudah berada di depan Naila dan meraih kerudung Naila.


"Aku mohon jangan! Jangan lepas kerudung ku!" teriak Naila. Tetapi tak ada gunanya karena kerudung yang dipakainya sudah terlepas dari kepalanya dan dibuang ke atas pohon.


"Hahahhahahah ... begini baru pantas. Kecil-kecil udah berani pacaran. Huuh dasar munafik! Hahahahahahahah" tawa gerombolan anak laki-laki itu semakin menggelegar.


"Dasar munafik! Dasar pembohong!Dasar ganjen!Hahahahahahaha." Ucapan -ucapan mengejek itu keluar dari mulut anak-anak itu. Dan Naila terus meronta dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku nggak pernah pacaran! Aku nggak bohong! Aku ... ."


"Astagfirullahalhadzim... Huuuu...huuuuhh...


Huuuuhhh... ." Nafas Naila memburu, keringat bercucuran, dan air matanya sudah membasahi pipinya.


"Astagfirullahaladzim. Ya Allah kenapa mimpi itu datang lagi. Naila mencoba menetralkan detak jantungnya seraya terus beristighfar.


Setelah lebih tenang Naila melihat jam menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Naila memutuskan untuk sholat tahajjud.


"Ya Allah kenapa sulit sekali menghilangkan trauma ini ya Allah. Hamba mohon ya Allah bantu hamba melupakan kejadian itu ya Allah. " Naila menumpahkan kerisauannya dalam doanya. Karena selama ini memang dia tak berani menceritakan pada keluarganya, terutama orang tuanya tentang trauma yang masih bersemayam di diri Naila.


Cukup dulu Naila kecil membuat khawatir keluarganya, karena dia tak berani keluar rumah, bahkan tak berani masuk sekolah.Orang tuanya tak mengetahui kejadian sebenarnya yang menimpa Naila,yang menyebabkan Naila menjadi seperti itu.


Yang mereka tau dulu saat Naila pulang dari sekolah, Naila terus menangis dan hanya diam mengurung diri dikamar.Ketika ditanya kenapa, Naila tak mau menjawabnya.


Beberapa hari setelah itu Naila tak mau keluar rumah,bahkan sudah tak mau berangkat sekolah. Akhirnya Pak Erwin dan Bu Nia memanggil Pskiater anak untuk menangani Naila.Setelah beberapa kali Psikiater anak itu mencoba mendekati Naila,akhirnya Psikiater itu tau penyebab Naila seperti itu.Kemudian menceritakan pada orang tua Naila, bahwa Naila menjadi korban pembullyan di sekolahnya.


Orang tua Naila langsung menghubungi pihak sekolahan. Setelah mendapat laporan seperti itu kasus itu langsung di usut oleh pihak sekolah,dan akhirnya anak-anak yang melakukan pembullyan itu di keluarkan dari sekolah.

__ADS_1


Tetapi Naila tetap saja tak mau berangkat sekolah dan keluar rumah.Dan akhirnya keluarga Naila memutuskan pindah ke luar kota,agar Naila berani berinteraksi dengan lingkungan lagi, dan mau sekolah lagi.


Dan setelah menginjak remaja Naila mencoba melupakan kejadian itu. Tapi sekeras-kerasnya dia mencoba menghilangkan trauma dalam dirinya. Trauma itu tetap tak mau menghilang. Dan sering terlintas di dalam mimpi Naila.


__ADS_2