Bosku Trauma Masa Kecilku

Bosku Trauma Masa Kecilku
Bab 2 Hukuman


__ADS_3

Pov Naila


"Astagfirullah ... hari ini aku kurang beruntung.Masak baru hari pertama masuk kerja, aku harus memulainya dengan membersihkan toilet sih," gerutuku sambil mengelap dahiku yang berkeringat.


"Ini semua gara-gara pria yang bernama Rifan tadi, yang melaporkan aku pada HRD. Siapa sih Rifan, Rifan itu. Kaya orang penting aja, terus mukanya itu loh, datar banget kaya tembok. Huuh," monologku seraya melanjutkan hukuman ku.


Yaa membersihkan toilet ini adalah hukuman ku, yang diberikan HRD kepadaku.Dan aku tau nama pria tadi karena pak Vino selaku HRD, menyebutnya saat akan memberi hukuman padaku. Teringat tadi saat aku masuk di ruang HRD.


Took... Tok... Tok...


Aku mengetuk pintu yang bertuliskan HRD, aku sampai didepan ruangan HRD, karena aku di antar oleh pak Joko satpam tadi. Kalau aku nggak diantar mungkin aku tersesat, secara gedung ini sangat tinggi dan banyak sekali ruangannya.


Dari dalam ruangan ada suara mempersilakan aku masuk.


"Permisi,Pak," ucapku kala sudah berada di ambang pintu.


"Silakan duduk," ujar ramah pria yang dimejanya bertulis 'Arvino Rafael' 'HRD '


"Terimakasih, Pak," ucapku, kemudian duduk di kursi depan mejanya.


"Oowh, jadi kamu yang di maksud Pak Rifan, Naila? "


"I-iya, Pak. Maaf saya terlambat masuk kerja," ujarku gugup dan menunduk.


"Iya,saya tahu. Pak Rivan sudah memberitahu alasan kenapa kamu terlambat," ucapan Pak Vino membuat dahiku mengernyit.


"Ma-maksud, Bapak? " tanyaku bingung.


"Pak Rivan tadi melihat insiden yang menimpamu, sehingga membuatmu terlambat masuk kerja," jelas pak Vino, dan aku hanya ber-oh ria dan mengangguk.


"Kalau udah tau kenapa aku masih harus di hukum,dan nggak langsung disuruh kerja? " ucapku lirih.


"Kamu ngomong sesuatu, Naila?" tanya Pak Vino.


"Eh... enggak ada kok, Pak." Jangan sampai Pak Vino tau apa yang aku ucapkan tadi.


"Sebenarnya Pak Rivan itu orang baik, tapi peraturan tetap peraturan, Naila. Apalagi hari ini hari pertamamu bekerja. Untung kamu nggak di suruh pulang Pak Rivan. Dia hanya meminta saya memberi hukuman pada kamu,"jelas Pak Vino.


"Mending aku pulang tadi," lirih ku.


"Apa? " tanya pak Vino.


"Oohh, nggak ada, Pak.Jadi Bapak mau memberi hukuman apa pada saya? "


"Eemmm... tolong kamu bersihkan toilet di lantai dasar ini, kamu bisa minta tolong OB untuk memberimu alat kebersihan," ucap Pak Vino.


"Dan ya nanti setelah selesai kamu balik ke sini, dan akan saya tunjukkan padamu tempat kerjamu," lanjut Pak Vino.


"Baik, Pak.Kalau begitu saya undur diri dulu. Permisi," ucapku seraya bangkit dari duduk ku, dan menuju keluar untuk melaksanakan hukuman ku.


Dan jadilah aku sekarang, yang harusnya aku berada didepan komputer, ini malah ditanganku hanya ada alat kebersihan. Untung toiletnya tidak terlalu kotor, sehingga aku nggak merasa pusing karena mencium bau toilet.


Saat aku sedang membersihkan salah satu bilik toilet, aku mendengar suara pintu dibuka, dan ada dua wanita yang masuk ke dalam.


"Eh, Sil tadi aku papasan sama Pak Rivan," ucap salah satu wanita tadi.


"Apa iya, terus? " tanya wanita satunya.

__ADS_1


"Ya ampuun, dia ganteng banget.Tipe suami idaman deh pokoknya, " jawab wanita tadi.


"Ganteng dari mananya, muka kaya tembok aja dibilang ganteng.Astagfirullah," tuturku dalam hati.


"Andaikan aku jadi istrinya, huhhh, berapa beruntungnya aku, punya suami ganteng, sholih, tajir lagi," lanjut wanita tadi.


"Udah, Ra. Jangan menghayal tinggi-tinggi, nanti jatuh sakit hlo," ucap wanita satunya.


Tak ada suara lagi dari wanita tadi mungkin mereka sudah keluar. Aku keluar dari bilik toilet dan melanjutkan hukuman ku.


****


Setelah selesai dengan hukumanku, aku mencuci tangan dan merapihkan pakaianku yang agak kusut, dan mengembalikan alat kebersihan yang sudah aku cuci terlebih dahulu.


Tok... Took... Tokk...


Aku mengetuk pintu ruangan Pak Vino. Setelah dipersilakan masuk, akupun masuk ke dalam.


"Permisi, Pak.Saya sudah selesai dengan hukuman saya," laporku pada Pak Vino.


"Oohh, kalau begitu tunggu sebentar," ujarnya sembari menutup laptopnya.


"Mari ikuti saya," ucap Pak Vino ramah.


"Baik,Pak." Aku mengikuti Pak Vino. Dan kata Pak Vino ruangan ku ada di lantai 3 jadi kami harus menaiki lift.


Tiing..


Suara lift terbuka, dan kami segera keluar. Pak Vino membawa ku masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan 'Divisi Marketing'. Ya aku akan bekerja di bagian pemasaran.


"Ini ada karyawan baru yang akan masuk ke Divisi marketing, namanya Naila, semoga kalian bisa bekerjasama dengannya. Untuk perkenalan lebih lanjut, nanti kalian kenalan sendiri saja. Sudah itu saja silakan kembali bekerja," ucap Pak Vino dan meninggalkan ruangan.


"Naila sini,"ujar salah satu karyawan divisi ini, dan aku melangkah mendekatinya.


" Ini meja kerja mu, "ujarnya lagi sambil menunjuk meja kerja disampingnya.


" Oh, terimakasih,"ucapku.Akupun segera duduk dan meletakkan tasku.


"Namaku, Mila,"ucapnya tersenyum, sembari mengulurkan tangannya.


"Salam kenal ,Mila,"balas ku sembari membalas senyumnya, dan juga uluran tangannya.


" Nanti kalau ada masalah kamu bisa tanya sama kita-kita, semua yang ada disini ramah-ramah kok jadi tenang saja."


"Oke," jawabku mengangguk.


Tak berapa lama ada seorang pria yang mendekat ke arah meja kerjaku.


"Kamu, anak barunya ya? " tanya pria itu.


"I-iya, Pak," jawabku gugup.


"Heheheh, nggak usah gugup begitu, saya hanya mau memberikan ini padamu.Tolong ini kamu kerjakan,kalau ada yang nggak kamu mengerti bisa tanya sama teman-temanmu," ujarnya sembari menyerahkan setumpuk berkas yang harus aku kerjakan,setelah itu dia berlalu pergi.


"Dia Pak Anton, ketua divisi kita," ujar Mila dan aku hanya mengangguk.


Saking asyiknya berkutat dengan komputer ternyata jam makan siang sudah tiba.

__ADS_1


"Hai, Naila aku Rama," ucap seorang pria, salah satu karyawan divisi marketing.


"Salam kenal, Pak Rama," ucapku tersenyum.


"Rama aja Naila, jangan pakai Pak," koreksi Rama.


"Hahahahah, kamu udah kelihatan bapak-bapak kali ,Ram." Tawa Mila tiba-tiba.


"Heheheh, maaf," ucapku tak enak.


"Udah, santai aja Nai. Rama nggak akan tersinggung kok,ya nggak, Ram? hehehe," ucap karyawan lain yang belum ku ketahui namanya.


"Iya, Mbak Maya, " ujar Rama sambil menggaruk tengkuknya.


"Ayo, Nai. Kita makan siang bareng di kantin," ajak Mila yang aku angguki. Kami berempat turun dengan menaiki lift. Karena kantin berada di lantai dasar.


Tiiing....


Setelah pintu lift terbuka, kami langsung menuju ke kantin. Dan ternyata kantin di kantor ini lumayan besar, dan menjajakan berbagai macam menu.


Kami sudah duduk di salah satu bangku dengan meja yang panjang. Kami mulai menyantap makanan yang sudah kami pesan. Aku memesan bakso, dan es teh.


"Ehh, Nai.Kamu tadi kok mulai kerjanya agak siangan sih? Bukannya biasanya hari pertama itu masuk pagi ya?" tanya Mbak Maya.


"Ceritanya panjang,Mbak.Hehehehe," jawabku cengengesan.


"Nggak masalah, Nai. Lagian waktu istirahat masih lumayan lama," kata Rama setelah melihat jam di tangannya.


"Baiklah kalau gitu." Akupun mulai menceritakan insiden tadi pagi, yang membuat mereka tertawa.


"Kamu ketemu pak Rifan, Nai? " Tanya Mila ditengah tawanya. Dan aku hanya mengangguk.


"Bahkan berkat dia, aku mendapat hukuman itu. "


"Ahh... sungguh beruntungnya dirimu ketemu cowok super ganteng," ujar Mila seperti membayangkan wajah Rifan, yang membuatku bergidik.


"Gantengan aku kali Mil? " ujar Rama percaya diri.


"Iya ganteng, kalau dilihat dari sedotan yang udah kotor," ucapan mbak Maya membuat kami tertawa.


Saat aku ingin menanyakan siapa Pak Rifan itu, aku melihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang sudah hampir habis dan aku belum sholat dhuhur.


"Mbak, mushola dimana ya?" tanyaku pada Mbak Maya.


"Ada di ujung koridor ini,Nai," jawab Mbak Maya seraya menunjuk ujung koridor.


"Ayo bareng aku aja, Nai.Aku juga mau Sholat," ajak Rama.


"Iya Nai kamu bareng Rama aja, aku sama Mbak Maya lagi halangan," ujar Mila.


"Halangan kok bareng-bareng," ucap Rama.


"Kenapa,kamu juga mau ikutan halangan? Hla qadarNya gitu, mau gimana lagi," ucap Mbak Maya.


"Iya, iya... Mbak Maya sensi amat sih.Oh iya, kan lagi pms. Hahahaha," ujar Rama.


"Udah sana pada sholat, keburu waktu istirahat habis hlo," ujar Mbak Maya. Lalu aku berlalu menuju mushola mengikuti Rama yang berjalan di depanku. Sedangkan Mila dan mbak Maya sudah kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2