
Jam menunjukkan pukul lima sore, yang artinya jam pulang kantor bagi seluruh karyawan. Tapi ada sebagian karyawan yang harus lembur.
Naila segera merapihkan meja kerjanya, dan sudah beranjak dari duduknya.
"Naila pulang naik apa?" tanya Rama yang sudah menenteng tas kerjanya.
"Aku naik sepeda motor, Ram," jawab Naila seraya menyampirkan tasnya ke bahunya.
"Kamu nanyain Naila pulang naik apa tuh. Emang, kamu mau nebeng ya Ram? Heheheh, "tanya Maya yang membuat Mila ikut tertawa.
" Ya, bukannya begitu Mbak Maya. Ahh ... kalian mah sensi aja dari tadi. Ini nih gara-gara si Ali nggak masuk, jadinya aku harus menghadapi para kaum hawa sendiri," ucap Rama kesal.
"Ali itu siapa, Mbak May? " tanya Naila penasaran.
"Ali bagian dari kita, Nai. Dia juga staf marketing," jawab Maya.
"Iya, hari ini dia nggak masuk karena nggak enak badan katanya," sambung Mila, dan aku hanya mengangguk faham.
"Ya udah, yok kita pulang. Apa pada mau nginep disini hem? " ajak Maya seraya menaik turunkan alisnya dan mulai melangkah keluar ruangan diikuti yang lain.
"Ya kali, Mbak.Mau tidur disini? Gulingku dirumah sudah nungguin aku, pingin segera dipeluk," ucap Rama saat ikut menyusul langkah Maya masuk lift.
"Hahahahhah, peluk guling aja bangga, kaya aku dong dipeluk suami," ucap Maya saat mereka sudah didalam lift.
"Aaah, Mbak Maya nih, kan aku jadi baper "ujar Mila.
Setelah lift terbuka mereka keluar dari lift. Didepan kantor,suami Maya sudah menunggu. Dan dia pamit pulang duluan. Tinggalah Rama, Mila, dan Naila.
" Mila kamu pulang naik apa?"tanya Naila, saat sudah sampai di depan kantor.
"Aku naik taksi, Nai," jawab Mila.
"Bareng aku aja.Nanti aku antar sampai depan rumah deh,kan kita searah," ajak Naila. Memang tadi saat dikantin Mila mengatakan alamat rumahnya, yang ternyata juga melewati rumah Naila.
"Eeh, nggak usah, Nai.Rumahku kan lebih jauh dari rumahmu, lagian aku udah pesen taksi online tadi, Nai," ucap Mila sungkan.
"Aku aja Nai yang bareng," ucap Rama tiba-tiba.
"Yeee, bukan mahram.Lagian kamu kan naik motor juga," sanggah Mila.
"Sensi amat sih, Bu ... maksudku tuh, aku mau bareng Naila ke parkirannya, heheheheh," ucap Rama.
"Terserah kamu deh, Ram. Eeh, itu kayaknya taksi pesananku deh. Kalau gitu aku duluan ya." Tunjuk Mila seraya melangkah ke taksi yang baru datang didepan kantor.
Tinggalah Rama dan Naila, serta beberapa karyawan yang sedang menunggu jemputan.
"Ya udah yuk, Nai. Kita ke parkiran, " ajak Rama yang diangguki Naila.
Tapi sebelum mereka melangkah. Ada mobil mewah yang berhenti didepan pintu lobi kantor, tak berapa lama lewatlah seorang pria yang memakai jas mahal didepan Naila dan Rama.
"Sore, Pak," sapa Rama pada pria itu yang hanya diangguki, tanpa ada senyuman diwajahnya. Pria itu berlalu masuk mobil, dan meninggalkan kantor.
"Siapa sih dia, Ram?" tanya Naila saat mereka sedang berjalan menuju parkiran.
"Kamu nggak tau siapa dia, Nai? Bukannya kamu tadi pagi ketemu sama dia? " tanya Rama terkejut.
__ADS_1
"Aku memang ketemu sama dia, bahkan dia kan yang nglaporin aku ke HRD. Tapi aku nggak tau siapa dia" ucap Naila saat berhenti didepan motornya.
"Ya Allah, Nai. Aku kira kamu sudah tau dia siapa! " ucap Rama, dan Naila hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia itu bos disini ,Nai. Dia anak pemilik perusahaan ini," jelas Rama, yang membuat Naila melongo.
"Di-dia bos di-disini? " tanya Naila gugup sekaligus terkejut.
"Iya, dia Rifan Mahendra Setyawan anak tunggal dari pemiliki perusahaan ini yaitu Pak Andi Setyawan," jelas Rama secara rinci.
"Ya Allah, mau di taruh mana muka ku ,Rama," ucap Naila sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahahahah, kenapa memang?"
"Aku malu, Ram. Masak hari pertama kerja aku masuk telat, terus yang negur aku bosnya langsung. Ya Allah, Ram! " heboh Naila.
"HAhahahahah, nggak apa-apa, Nai. Pak Rifan orang baik kok, cuma sikapnya aja yang agak dingin. Ya udah sono pulang keburu malam."
"Ya udah aku duluan ya, Ram," pamit Naila melajukan motornya.
***
Setelah sampai di depan rumah, Naila segera memarkirkan motornya, dan masuk kedalam.
"Assalamualaikum, Naila sudah pulang, Bu!"teriak Naila, saat sudah berada didalam rumah.
"Wa'alaikumussalam, nggak usah teriak-teriak kayak gitu, Dek, ini bukan hutan tau!" tegur seorang pria yang sedang berdiri di ruang tamu.
"Ya Allah, Kak Gibran." Naila melotot terkejut karena melihat kakaknya yang sudah berada dirumah. Naila langsung menghampiri kakaknya dan tak lupa menyaliminya.
" Ya Allah, Dek, kamu tu pertanyaanya kaya kereta, satu-satu kalo nanya tuh!Kakak bingung kan jadinya mau jawab yang mana duluan," ucap Gibran sambil menyentil dahi Naila.
"Aduuh, sakit tau, Kak," ucap Naila seraya mengusap dahinya yang disentil Gibran.
"Abis kamu tuh cerewet banget,sampai nggak ngasih kesempatan Kakak jawab.Kakak kesini cuma mampir, Bian sama Mbak mu nggak ikut kesini," jelas Gibran.
"Yaah, padahal aku kangen sama Bian," ucap Naila sedih.
"Udah jangan sedih gitu, lain kali InsyaAllah Bian Kakak ajak kesini."
"Beneran ya, Kak!" ujar Naila senang.
"InsyaAllah, Nai."
"Kak Gibran udah ketemu Bapak sama Ibu? "
"Udah tadi, sekarang Ibu di dapur. Kalau Bapak masih di kamar, soalnya pas Kakak datang Bapak baru pulang dari toko," ucap Gibran dan kembali duduk.
"Ya udah, kalau gitu Naila kekamar dulu ya, Kak," ujar Naila yang diangguki Gibran.
Naila menaiki tangga untuk sampai di kamarnya, karena kamarnya berada di lantai dua.
Setelah meletakkan tasnya, Naila segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai mandi dan sudah memakai pakaian santai dengan hijab instannya, Naila turun kebawah ingin membantu ibunya.
__ADS_1
Tapi sebelum sampai dapur, Naila melihat ibunya yang sudah keluar dari dapur dan membawa, semangkok sayur.
"Hlohh, Bu ... sudah selesai masaknya? " tanya Naila menghampiri ibunya.
"Oohh, kamu sudah pulang, Dek?Iya,Ibu sudah selesai masaknya, tinggal bawa ke meja makan. "
"Ya sudah, Bu. Aku bantuin ya? " ucap Naila melangkah ke dapur.
Saat Naila keluar dari dapur, suara adzan magrib sudah berkumandang.
"Dek, ambil wudhu dulu sana, kita sholat magrib berjamaah," ajak Bu Nia yang sedang menata masakkannya.
"Iya, Bu," jawab Naila sembari meletakkan lauk di meja makan, lalu berlalu mengambil air wudhu.
Mereka sholat magrib berjamaah, kebetulan dirumah mereka ada ruangan yang diperuntukkan untuk sholat.
Setelah selesai sholat, mereka menuju ke ruang makan, untuk makan malam.
"Pak, Bu, aku mendapat amanat dari Pak Andi, tetangga kita dulu,untuk menyampaikan kalau kita sekeluarga, diundang kerumahnya, dalam rangka syukuran dan pamitan karena mereka akan melaksanakan ibadah Haji,"ucap Gibran ketika mereka sedang makan malam.
" Ohh, iya.Alhamdulillah, sampaikan pada Pak Andi bahwa InsyaAllah kita akan hadir. Kapan acaranya? "tanya Pak Erwin.
"Besok pagi sekitar jam sepuluhan,Pak," jawab Gibran yang sudah selesai makan.
"Kamu bisa ikut nggak,Dek? " tanya Bu Nia.
"Eemmm ... kayaknya Naila nggak bisa ikut deh, Bu, Pak," ujar Naila.
"Kenapa, Dek? " tanya Gibran.
"Aku kan udah mulai kerja, Kak."
"Nggak bisa izin kah, Dek?" tanya Bu Nia ikut menanggapi.
"Naila kan karyawan baru, Bu. Jadi sungkan aja kalau baru masuk udah minta izin, lagipula tadi Naila terlambat masuk kerja, Bu,"jelas Naila.
" Hloh bukanya tadi kamu berangkat pagi,Dek? "tanya ibu bingung.
" Iya,Bu.Tapi dijalan Naila berhenti, buat nylametin anak kecil yang mau ketabrak mobil,"ucap Naila yang membuat semua terkejut.
"Apaaa! " ucap kakak dan orang tua Naila serentak.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan,Dek? Nggak ada yang terluka kan?Biar Ibu cek," ucap Bu Nia khawatir, sampai bangkit dari duduknya dan melihat keadaan tubuh anaknya.
"Naila nggak apa-apa, Bu.Tenang. "
Naila kemudian menceritakan kejadian tadi pagi.
"Lain kali hati-hati ya,Nak.Menolong orang boleh, tapi jangan sampai membahayakan diri kamu, Nak," ucap Pak Erwin.
"Iya, Dek. Apa yang dikatakan Bapak bener, Dek. Kamu harus memikirkan dirimu juga," ucap Gibran yang juga khawatir pada Naila.
"InsyaAllah Pak,Bu,Kak.Maaf," ucap Naila merasa bersalah karena membuat orang tua serta kakaknya khawatir.
Tanpa mereka sadari sebenarnya ada yang Naila tutupi. Yaitu alasan sebenarnya kenapa Naila tak ingin ikut. Naila berfikir biarlah hanya dia yang tau, karena dia tak ingin membuat khawatir keluarganya lagi, dengan trauma yang sebenarnya masih melekat di dalam dirinya.
__ADS_1