
Setelah jam 21:00 cafe tutup, lelah dari tiga orang bercampur bahagia karena ramainya cafe, rasanya tempatnya kurang luas, mau bagaimana lagi Hana tak bisa meninggalkan Rio sendirian, apalagi kalau harus dirawat Babysister, dia ingin merawat Rio sendiri sampai dewasa, sebagai bukti Cintanya untuk suami tercinta.
"Bang Udin, Mita... kita diskusi sebelum pulang yuk", ajak Hana sambil menggendong Rio yang hampir tidur karena enaknya digendong sambil di ayun-ayunkan.
Bang Udin dan Mita duduk di kursi sedang Hana tetap berdiri sambil menggondang Rio.
"Ehhem.. Bagaimana kalau kita nambah satu karyawan untuk membuat minuman?" tanya Hana sambil mengayun ayun Rio dan mondar mandir.
"Saya terserah mbak Hana saja, menurut saya sih iya saja, melihat banyak pengunjung yang terlalu lama menunggu sehingga tempat yang harusnya sudah ditinggalkan malah jadi antrian yang berujung ada yang makan sambil berdiri" Mita kaget tadi saat ada yang makan sambil bendiri, minumannya ditaruk di meja, piringnya dipegang tangan kiri, tangan kanan yang menyuapi ke mulut, sungguh aneh...pikir Mita.
Bang Udin mengangguk setuju.
"Jadi...terimakasih ya bang sama Mita, sudah mau bekerja sama sekarang gak apa-apa kalau kalian keburu pulang" tegas Mita.
"Yasudah mbak kita pamit yaa" pamit Mita karena bang Udin memang jarang bicara.
Hana mengangguk dan mengantar sampai teras, ssmbil tetap mengayunkan Rio.
...
Matahari memancarkan sinarnya, orang-orang punya kesibukan masing-masing.
ada bersiap-siap sekolah, bekerja, belanja ada juga pasti yang masih tidur mangap dan mendengkur.
Sudah dua bulan Bidadari Cafe selalu ramai, Rio yang berumur 18 bulan semakin aktif, berjalan sambil berlari kecil, dan bikin berantakan ruangan sudah semakin ahli.
Tempat bermain yang disediakan Hana sudah seperti tak berguna.
Hana pusing dan bahagia melihat tingkah Rio yang bicara masih kadang tak dimengerti.
Udin dan Mita dan karyawan baru ibu Sumi senang bekerja disana, Hana baik tak pernah perhitungan, marah juga tak pernah, Hana senang memperkerjakan orang-orang tulus seperti mereka, menyayanginya seperti keluarga.
__ADS_1
Bidadari Cafe rame setiap hari, banyak anak sekolah dan ibu-ibu sebagai pelanggan, terutama Jay setiap pulang sekolah tak melewatkan kesempatan kesana karena iya menggumi Hana sanga Janda Muda.
Hari ini hari minggu, banyak anak muda berpasangan yang berkunjung, "So sweet" Gumam Hana.
"Hai mbak Hana makin cantik saja" sapa Jay membuyarkan perhatian Hana pada padangan muda.
Hana tersenyum "Terimakasih..." bagi Hana jay hanyalah anak labil.
"Makin rame saja cafe mbak Hana pasti karena orangnya cantik dan baik hati, aku suka model seperti mbak hana sudah matang dan berpengalaman" Ujar Jay dalam hati.
"Ayo kak duduk disitu sebelum penuh sambil ngerjain tugas kita" ajak Jay pada sepupunya.
Semua wanita di Bidadari Cafe terpaku dengan ketampanan sepupu Jay, kalau Jay cuma cakep dan terlihat manis, beda dengan sepupunya yang terlihat keren karena memang lebih dewasa.
Banyak mata yang tak berkedip melihatnya, padahal jelas-jelas pasangannya ada didepannya, semua laki-laki juga menatap sepupu Jay tapi dengan tatapan marah dan iri karena pasangan mereka tak menghiraukan kehadiran mereka.
"Kak Han mau pesan apa?" tanya Jay.
Ooh ternyata Han namanya
Kerennya namanya sekeren orangnya
Han Han Han aku akan ingat namanya agar waktu ketemu dijalan bisa menyapa duluan*
Begitulah gumaman para gadis dalam hatinya
"Ehhemm samain saja dengan pesananmu dek" jawab Han singkat dia begitu risih karena banyak orang yang memandangnya.
Han melihat kesekitar cafe ternyata tempatnya nyaman, penglihatannya berhenti di meja kasir.
Hana memakai daster masa kini yang tanpa lengan hingga meng ekspos bahu mulusnya bahkan terlihat belahan dadanya yang putih, cantiknya tanpa polesan make up sungguh terlihat indah dan natural, Han terpaku dan bertanya-tanya dalam fikirannya, iya ingat Jay tadi sempat menyapa, tapi saat itu Han lebih fokus pada tugas iya baca.
__ADS_1
"Ehhemm dek kamu kenal sama penjaga kasir itu?" tanya Han, yang dijawab anggukan oleh Jay.
"Jangan sampai kak Han jadi sainganku terlalu beraaaat, Hana juga selalu tampil cantik dan seksi siapa yang gak suka sama dia, apalagi kalau senyum lesung pipinya membuatnya makin sempurna" gumam Jay dalam hati.
"Hei apa yang kamu fikirkan dek?" tanya Han.
"Kenapa pertanyaan kak Han mirip pertanyaan di facebook, bisa-bisa aku sakting nih mau jawab apa yaa" Jay berfikir keras
Untung bang udin datang membawa pesanan untuk saudara sepupu itu, Hingga Jay bisa merasa lebih lega tak perlu menjawab pertanyaan Han, dia malu sendiri kalau harus bilang naksir seorang janda.
Han meminum jus alpukat, dan makan Nasi goreng, Han takjub akan masakannya yang memang enak, pengen nambah tapi malu, tak memakan waktu lama nasi gorengnya sudah habis.
Jay hanya melongo, melihat kakaknya makan dengan lahap, tak seperti biasanya kalau makan diluar selahap itu.
Han mengambil tisu dan mengusap sisa-sisa minuman, sedangkan para wanita melihatnya sangat seksi dan keren.
Banyak hubungan putus disana gara-gara Han yang tidak tau apa-apa, pesonanya sungguh luar biasa.
Laki-laki marah pada wanitanya karena difikir berpaling dari mereka, itu sebabnya pelanggan laki-laki banyak yang memutuskan hubungan gara-gara patah hati. Semuanya gara-gara cowok ganteng itu.
*Dasar wanita lihat bening dikit gitu saja aku tak dibiraukan
Kenapa dia terlihat lebih tampan dariku siiih?
Aku harus memakai pakaian, sepatu yang mirip dengannya biar pacarku tak berpaling lagi seperti ini.
Lihat saja nanti pacarku yang pas pas an kau akan lihat jika rambutku dipotong sepertinya, pesonaku tidak akan kalah*.
Begitulah isi gumaman para laki-laki disana.
Semuanya gara-gara cowok ganteng Han.
__ADS_1