BUKAN JANDA PENGGODA

BUKAN JANDA PENGGODA
kenangan


__ADS_3

Hana sudah sampai dipemakaman dengan memakai masker dan kacamata tak lupa membawa majmu' kecil untuk baca suray yasiin dan tahlil, sengaja tak membawa bunga takut jejaknya ketahuan, biasanya tiap kamis sore banyak orang ziarah, maka dari itu Hana memilih hari senin dia memperkirakan hari sepi agar tak diketahui keluarga suaminya.


Rio ikut bersama Hana untuk iya tidur dengan pulas, meski bunga cempaka jatuh tepat dimuka ya Rio tetap tidur pulas.


Hana mengaji untuk suami tercinta, air matanya tak bisa terbendung lagi, sampai segugukan, dia ingat bagaimana iya bertemu dengan suaminya pertama kali.


Suaminya Wawan dia sangat baik bukan hanya padanya tapi juga terhadap semua orang, Hana tau sebuah rahasia kalau suaminya meninggal karena diracuni, semalam sebelum meninggal suaminya berpesan.


"Sayang jika esok mas tiada tolong kamu jangan pernah menyalahkan siapapun ya! ajal sudah takdir, kamu harus kuat dan tak boleh meminta apapun walau itu hak mu, lebih baik memberi kan daripada meminta, bila hakmu tak diberi kamu jangan memaksa, akan ada rezeki lain darimana saja" Wawan berkata lembut pada Hana, Hana hanya mengangguk.


Karena itulah Hana lebih baik pergi, untuk keselamatan Rio juga, keluarga Wawan sungguh gila harta, Hana sendiri yakin dia bisa melewati semuanya, suaminya orang baik, Hana banyak belajar dari suaminya.


Tangis Hana tak terbendung setelah baca yasin Hana memutuskan untuk langsung pulang, dia takut akan ada keluarga Wawan yang melihatnya.


"Sedang apa disini?" tiba-tiba ada yang menepuk bahu Hana, Hana kaget ternyata dia Han.


"Sedang makan" jawab Hana menunduk agar tak terlihat matanya sembab, lalu dia memakai lagi kacamata hitamnya.

__ADS_1


"Saya duluan" pamit Hana terburu-buru.


^^^"Dasar aneh" gumam Han dalam hati.^^^


"Kenapa aku jadi salting gini" gumam Hana sambil mempercepat langkahnya.


Hana mencari ojek untuk pulang kerumahnya, tapi tak ada ojek dipangkalannya.


"Mari saya antar", lagi-lagi Han mengejutkan Hana.


"Tidak usah mas terimakasih" jawab Hana masih menunduk.


Benar kata Han keringat mulai banyak diwajah Rio yang menggemaskan.


...


Di dalam mobil mereka saling diam, sama-sama sungkan berbicara, padahal Hana mudah bersosialisasi, kenapa dengan Han serasa berhadapan dengan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya, kamu gak buka Cafe hari ini, saya datang sana", ujar Han.


"Maaf mas kita bicara jangan terlalu formal gini, jadi gugup mau ngomong", pinta Hana.


Han hanya tersenyum, lucu juga menurutnya Hana sangat polos. "Nama kamu siapa?" tanya Han.


"Hana"


"Nama kita mirip ya, aku Han"


"Oh iya mas Han, aku langsung pulang saja, gak bisa lama-lama dikuar takut...." Hana menahan apa yang selanjutnya akan iya bicarakan.


Han hanya mengangguk namun dalam hatinya penasaran apa yang Hana sembunyikan.


Hana mengingat semua kenangan dengan suaminya, betapa beruntungnya dia menjadi istri sebaik Wawan, Hana melengkungkan bibirnya dan kemudian terlihat air mata yang membasahi pipinya, saat teringat bagaimana perlakuan keluarganya.


Wawan sudah berpesan saat kelak iya tiada, agar Hana keluar dari rumahnya, walau tau perlakuan buruk keluarganya Wawan hanya diam, dan menyuruh Hana sabar.

__ADS_1


"Bila kau sedih maka ingatlah tentang kita saat bahagia bersama, abaikan mereka yang menyakitimu, kelak jika mas tiada, adek boleh pergi dari sini kalau perlu pergi jauh, bawa anak kita dan lindungi dia", nasehat Wawan sambil mengelus perut Hana yang saat itu hamil berusia 9 bulan.


Mas Wawan aku rindu ..


__ADS_2