
#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA
#Part_01
Keesokan paginya, Nadia membuka pintu kamar dan melihat suaminya yang sudah siap mandi pagi. "Mas, didapur ada belanjaan siapa?" tanya Nadia mendekat sehingga Mas Ardi menoleh pada Nadia yang terlihat kebingungan, belum sempat ia membalas terdengar suara motor yang mendekat sehingga Mas Ardi langsung menyibak tirai dan melihat Ibu mertuanya datang bersama Rania. ia sudah tau kedua orang itu dayang buat bersantai-santai karena Mbak Laila tak ada dirumah. otomatis keduanya tak bisa bersantai dirumah Mbak Laila.
"Nadia, simpan belanjaan itu ditempat yang aman biar gak diambil oleh Rania," suruh Ardi sehingga Nadia menurut dan bergegas menuju dapur untuk menyimpan belanjaan itu, Ardi tak ingin sarapan pagi buat istrinya dimakan oleh kedua orang sombong tersebut.
tok!
tok!
Ardi langsung membuka pintu sehingga kedua orang itu langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ardi menoleh kearah keduanya yang berjalan santai menuju dapur buat cari makanan. Ardi tak paham dengan Ibu mertua dan adik iparnya itu. padahal Ibu memiliki rumah sendiri dan sering sarapan disini dan kalau tak ada makanan mereka langsung ke tempat Mbak Laila setelah itu menyindir rumah tangganya dengan Nadia, membuat Ardi hanya bisa menahan diri.
"Nadia! mana sarapan? kenapa kosong begini?!" teriak Rania dari dapur sehingga Nadia yang baru keluar dari kamar pun menoleh kearah dapur dan melihat Rania maupun Ibu mendekat dengan tampang marahnya.
"Nadia gak ada uang buat beli bahan masakan sekaligus beras," lirih Nadia menundukkan kepalanya.
"Ibu sudah bilang untuk memilih juragan Budi, biar kehidupan kita layak! tapi kau malah memilih pria pengangguran tersebut, sekarang Ibu mau makan apa?!" bentak Ibu tajam.
"Nadia udah bilang sama Ibu kalau Nadia gak mau jadi istri ke lima Juragan Budi, Nadia juga bahagia bersama Mas Ardi walau kami gak punya apa-apa," jelas Nadia jujur.
"Bu, Rania udah lapar banget nih. kita cari sarapan diluar saja yuk, tadi kan dikasih uang sama Mas Adi pada kita," jelas Rania menatap sinis pada Nadia dan Ardi.
"Yasudah ayo, untung saja menantu Ibu itu kaya dan gak pengangguran," sinis Ibu lalu pergi bersama Rania dan tak lupa menutup pintu cukup keras, membuat Nadia sedikit kaget dengan tindakan adiknya itu. Ardi menghela nafas lalu melirik kedua orang itu sudah pergi dari rumah nya.
"Sekarang kita sarapan, ambil belanjaan tadi," suruh Ardi membuat Nadia menoleh.
"Emangnya itu punya Mas?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. sana ambil lagi,"
Nadia mengangguk lalu kembali ke kamar untuk mengambil sarapan sedangkan Ardi menuju dapur untuk mengambil piring untuk meletakkan makanan nanti. Tak lama, Nadia datang sehingga Ardi langsung mengambil semua belanjaan membuat Nadia kaget melihat banyak makanan yang enak-enak.
"Mas dapat uang dari mana hingga beli banyak makanan kayak gini?"
"Kamu gak perlu tau, yang penting halal kok,"
"Beneran, Mas?"
Ardi menoleh sambil tersenyum lalu mengangguk. "Mas udah capek lihat kamu jarang makan gara-gara ulah mereka, sekarang kamu sarapan yang banyak biar gak terlihat kurus," suruh Ardi membuat Nadia terdiam karena yang dikatakan suaminya itu benar, akibat selalu ditekan dan selalu menderita, ia tak memperdulikan tubuhnya yang kurus. "Makanlah sebelum mereka datang," lanjut Ardi sehingga Nadia mengangguk lalu sarapan yang diikuti oleh Ardi.
Ardi menatap istrinya yang begitu lahap sarapan membuatnya tersenyum tipis, ia tak akan membiarkan istrinya dihina lagi setelah ini dan ia harus membahagiakan wanita nya itu tapi ia juga harus membuat keluarga istrinya berkuasa dulu dan setelahnya ia akan membuat mereka serangan jantung setelah melihat semuanya.
Setelah selesai sarapan, Nadia maupun Ardi langsung mencuci piring supaya tak ketahuan sudah sarapan dengan makanan enak. bisa-bisa mereka dibentak habis-habisan. Dan benar saja, tak lama suara motor mendekat membuat Nadia lega karena sudah selesai mencuci piring.
"Iya, Ibu suka banget sama masakannya,"
Ardi maupun Nadia yang mendengarnya hanya bisa diam karena kedua orang itu sengaja mengeraskan suaranya untuk membuat Nadia sedih. tapi, Ardi tak memperdulikan nya karena sang istri sudah sarapan makanan yang enak.
"Mbak, cuciin pakaian aku dong! nanti aku kasih upah biar Mbak bisa makan!" pinta Rania yang disusul tawa nya membuat Ardi menahan kesal saat Rania melempar kain ke hadapan Nadia. Ardi langsung saja menendang pakaian kotor itu sebelum sang istri memungut nya.
"Mas apa-apaan sih!" kesal Rania tak terima.
"Kau punya tangan utuh dan kaki utuh, kerjakan sendiri dan jangan menyuruh istri saya," jelas Ardi kesal.
"Kau itu hanya menumpang dirumah saya! terserah apa yang disuruh Rania, lagian kalian bakalan digaji!" bentak Ibu membuat Nadia terdiam berbeda dengan Ardi yang menahan marahnya saat ini. "Udah miskin malah belagu, mendingan kau cari kerja sana! daripada nganggur gak jelas gitu!" lanjutnya membuat Ardi sabar.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Ardi langsung membuka pintu, matanya membola saat melihat pria berjas hitam datang sambil tersenyum dengan polosnya.
"Siapa itu? kau ngutang?" tanya Ibu mendekat yang disusul oleh Rania maupun Nadia.
"Ngutang?" beo pria itu membuat Ardi langsung menarik orang itu buat pergi menuju mobil.
"Kau ngapain kesini?" kesal Ardi sambil melirik sekitar supaya tak ada yang menguping pembicaraannya.
"Abang ngutang apaan? dan kenapa penampilan Abang aneh gini? gak kayak dulu, lebih formal dan sekarang kayak pengemis," polosnya membuat Ardi langsung menjitak kepala pria yang merupakan adik kandungnya itu. "Ngomong satu kali lagi, Abang potong tuh mulut!" ancam Ardi membuat Kevin menutup mulutnya sambil menggeleng pelan. "Kau ngapain kesini?" tanya Ardi penasaran tapi tak dibalas oleh Kevin. "Kevin!" bentak Ardi membuat Kevin menoleh.
"Kan gak dibolehin bicara sama Abang, makanya gak aku balas!"
Ardi melongo dengan balasan adiknya itu sampai-sampai ia mengucapkan doa mau makan karena kepolosan adiknya itu. Entah terbuat dari apa adiknya itu. mungkin, saat dibuat Papanya salah teknik.
"Tuh otak kemana sih? kenapa gak kau pake!"
"Otak Kevin ada dikepala masa di dengkul!"
"Allahuakbar," gumam Ardi mengusap dada. "Kau ngapain datang kesini?" tanya Ardi lagi supaya adiknya itu tak polos-polos bangs4t lagi.
"Mau ngasih uang seperti yang Abang bilang, nih!" Kevin langsung menyodorkan uang beberapa juta pada Ardi, belum diambil oleh Ardi tiba-tiba suara menyebalkan menggelegar.
"Ternyata kau ngutang sama rentenir? nanti kau bayar pakai apa?"
Bersambung...
Satu part satu hari dulu ya. kapan-kapan satu hari dua part..
__ADS_1