BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)

BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)
park.7


__ADS_3

#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA


#Part_07


Keesokan paginya Ardi menuruni mobil mewahnya tak jauh dari kantor karena tak ingin dilihat oleh iparnya itu, bisa-bisa misi nya berantakan buat memantau sikap iparnya itu sebelum dipecat tak hormat nantinya. Ia memasuki perusahaan mengunakan kemeja putihnya membuat beberapa karyawan menoleh lalu menundukkan kepalanya patuh, saat menyadari kalau itu adalah pemilik perusahaan mewah ini.


Ardi tak membalasnya dan memilih pergi tapi tatapannya terhenti saat melihat Adi maupun Mbak Laila yang baru sampai. tak hanya itu, Adi yang tengah membentak salah satu karyawan membuat Ardi menahan marahnya. Walau ia terkenal dingin dan kejam, ia tak sampai mendorong seorang wanita yang terlihat sedang mengandung.


Hap!


Adi maupun Mbak Laila menoleh pada Ardi yang menatap tajam kearah nya. "Apa dengan begitu kau memperlakukan bawahan?" tanya Ardi dengan tajam lalu mendorong pria itu hingga tersentak mundur beberapa langkah. Ardi menatap malas lalu membantu wanita hamil itu untuk berdiri.


"Awh, perutku," isak wanita itu menangis.


"Kalian, antarkan wanita ini kerumah sakit segera!" perintah Ardi membuat dua karyawan langsung mengendong wanita hamil itu buat pergi ke rumah sakit.


"Kau ngapain ke kantor ini? cari kerjaan karena gak sanggup bayar hutang?" ejek Mbak Laila tajam membuat Ardi menoleh dengan tatapan dinginnya.


"Kalau saya kerja disini, kenapa? apa ada yang salah sama ka..,"


Bugh!


Ardi terjatuh akibat kerasnya pukulan tersebut, ia menatap tajam kearah Adi yang menatap tajam juga padanya. "Jangan berani-berani nya membentak istri saya!" bentak Adi tajam membuat Ardi tersenyum miring, lalu berusaha berdiri yang dibantu oleh beberapa karyawannya. Ia lalu mengusap darah di sudut bibirnya.


"Jangan-jangan wanita hamil tadi istri simpanan kamu ya?" tuduh Mbak Laila tajam membuat Ardi terkekeh pelan.


"Tuduhan kamu gak berarti, Mbak. Kalau dia istri saya, tentu saja saya sudah panik," balas Ardi lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan pasangan tersebut.


"Woi! lu mau kemana, hah? gue gak bakalan nerima lo kerja disini!" kesal Adi tajam sambil menyusul Ardi yang sudah berjalan duluan, begitu juga dengan Mbak Laila yang juga ikut. Keduanya sampai dan melihat Ardi yang berbicara dengan manager utama sehingga mereka langsung mendekat.


"Maaf, Pak. kalau saya membiarkan orang ini masuk perusahaan ini,"


Orang itu menoleh pada Adi yang mendekat bersama Mbak Laila.


"Kalian maksud siapa?" tanya Pak Hari penasaran sehingga Mbak Laila langsung menunjuk kearah Ardi yang menatap tajam. "Dia itu pencuri, Pak. masa uang mertuanya sendiri di curi. bisa-bisa uang perusahaan ini dicuri kalau dia bekerja disini, Pak." ungkap Mbak Laila tajam.


"Memutar fakta. padahal uang saya yang diambil dan menuduh saya yang mengambil," balas Ardi dingin sehingga Pak Hari mengangguk mengerti, karena ia lebih dulu mengenal siapa Ardi yang merupakan pemilik sah perusahaan ini dan tak mungkin mencuri uang karena uangnya sudah berlimpah.


"Kami bicara sesuai fakta, jangan terima dia, Pak!" pinta Adi memohon.

__ADS_1


"Tuan Ardi memang tak bekerja disini tapi dia adalah...,"


"Saya kurir," potong Ardi dengan entengnya membuat Pak Hari menoleh kearah Ardi yang menggeleng pelan padanya, seakan melarang nya untuk mengungkapkan identitas nya.


"Kalian berdua langsung bekerja dan buat Anda, ayo ikut saya sebentar," ajak Pak Hari sehingga Ardi mengangguk lalu keduanya memasuki lift tanpa menghiraukan pasangan tersebut.


Sesampai di ruangan pribadi Pak Hari, Ardi dengan santainya. "Apa seperti itu kerjaan ipar saya?" tanya Ardi dengan dinginnya.


"Benar, Tuan. ini berkas keuangan," Pak Hari langsung memberikan berkas tersebut sehingga Ardi menerimanya dan menatap berkas tersebut dengan teliti. "Kerjaannya sebagai manager keuangan begitu licik. sebaiknya kau harus lebih keras karena untuk beberapa waktu ini saya tak bisa mengungkapkan identitas asli saya pada keluarga istri saya yang sombong dan angkuh tersebut," jelas Ardi meletakkan berkas tersebut.


"Maksud Tuan, keluarga istri anda itu selalu merendahkan Anda seperti tadi?"


"Iya, satu tahun saya sengaja jadi pengangguran dan saya selalu dihina karena uang nikahnya saya beri 250 ribu. tak hanya itu, mereka selalu mengambil barang-barang kami," balas Ardi sehingga pria paruh baya itu mengangguk.


"Terus istri anda gimana sikapnya?"


Belum sempat membalas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka sehingga Ardi menoleh dan melihat Nadia yang tersenyum.


"Ada apa, Sayang?"


"Mas, aku bosan sendirian dirumah!"


"Ini kenapa? siapa yang berani pukul kamu?" tanya Nadia panik sedangkan Pak Hari hanya memilih diam dengan pasangan bucin tersebut.


"Kau keluarlah, kami disini sebentar," suruh Ardi sehingga Pak Hari mengangguk lalu segera keluar.


Nadia langsung mengambil obat di lemari dan kembali duduk di pangkuan Ardi untuk mengobati luka memar suaminya.


"Ssstt..," ringis Ardi kesakitan membuat Nadia langsung meniupnya sehingga Ardi tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Nadia, membuat wanita itu kaget dengan mata yang membulat sempurna. Mungkin karena terlalu kaget membuat Ardi suka dengan tingkah kaget istrinya tersebut.


"Mas gak boleh cium aku lagi!" kesal Nadia memukul dada bidang Ardi, membuat Ardi tertawa pelan lalu menahan tangan istrinya itu.


"Biar cepat sembuh, Sayang. Kiss me," bisik Ardi mengusap lembut pipi istrinya itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya tapi langsung ditahan oleh Nadia membuat Ardi menahan rasa kesalnya.


"Gak boleh cium-cium!"


"Lima menit aja kok, gak lebih,"


"Gak mau, Mas!"

__ADS_1


"Nanti aku ajak beli barang-barang kesukaan kamu,"


"Gak mau!"


"Cemilan sepuas kamu?"


Nadia yang mendengarnya tersenyum manis. "Deal!" balasnya langsung mencium bibir Ardi membuat pria itu membalasnya tak kalah lembut.


*


Setelah semua nya selesai, Ardi mengandeng tangan istrinya untuk meninggalkan ruangan Pak Hari dan Ardi juga sudah bilang untuk menyiapkan berkas tersebut untuk bukti penangkapan Adi nantinya saat acara besar tersebut satu minggu lagi.


Byur!


Nadia kaget saat Mbak Laila sengaja menuangkan kopi panas ketubuhnya, membuat Ardi emosi melihat Nadia yang sudah kesakitan.


Plak!


Mbak Laila langsung tersungkur akibat tamparan keras dari Ardi, sehingga beberapa karyawan menatap ngeri.


Bugh!


"Mas Adi hentikan!" panik Nadia langsung memeluk suaminya yang terkena pukulan dari Ardi.


"Lo berani-beraninya menampar istri gue! dasar miskin!" bentak Adi tajam membuat Ardi mengusap rahangnya yang kesakitan.


"Lo bakalan tanggung akibatnya," tekan Ardi tajam.


"Emangnya orang miskin kayak lo bisa apa? makan aja susah, palingan lo tinggal di kolong jembatan aja belagu!" bentak Adi sambil mendorong tubuh Ardi mengunakan telunjuk membuat Ardi tersenyum miring.


"Lo bakalan tau akhirnya, siap-siap kau jatuh miskin," sinis Ardi langsung membawa istrinya pergi dari sana.


"Dasar miskin, gak tau diri!" teriak Mbak Laila emosi.


Ardi yang mendengar itu tak menghiraukannya dan membawa istrinya itu menuju parkiran mobil mewah milik Ardi.


'Kalian tunggu saja pembalasan saya,' batin Ardi menahan senyumannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2