BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)

BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)
park.2


__ADS_3

#BUKAN_PENGGANGGURAN_BIASA


#Part_02


Ardi maupun Kevin menoleh pada wanita paruh baya yang mendekat dengan tampang mengejeknya, sepolos-polosnya Kevin. Kevin paham kenapa Abang nya pura-pura miskin karena Abangnya memiliki mertua yang angkuh dan sombong. Melihat cara wanita itu berjalan, Kevin sudah menebak sifat wanita itu dan memilih pamit pergi sebelum ia ceplas-ceplos membuat penyamaran Abangnya terbongkar.


"Kalau aku mengutang. emangnya Ibu yang bayar? enggak, bukan?"


"Kau belagu sekali, berikan uang itu sebagai uang sewa kau tinggal dirumah saya!" tanpa malunya wanita tua itu meminta uang yang ada digenggam Ardi, membuat pria itu menatap sinis.


"Saya gak berikan karena ini untuk istri saya yang lebih membutuhkan," balas Ardi langsung bergegas ke rumah dan melihat Nadia yang tampak menyapu pecahan kaca dengan Rania yang mengomeli istrinya itu. "Sayang, ngapain kamu bersihkan itu? sekarang kamu siap-siap kita belanja sepuas kamu," bujuk Ardi membuat Rania tertawa.


"Emang punya uang, Mas? gak usah pamer kalau gak punya uang!" tawa Rania sehingga Ardi langsung menyerahkan uang itu pada Nadia, membuat Rania membulatkan mata melihat banyak uang.


"Sekarang pamer uang, nanti bakalan kesulitan bayar," ejek Ibu mendekat membuat Ardi tak menghiraukan nya. Nadia menatap uang yang ada ditangannya itu, uang yang mungkin sekitaran 4 sampai 5 juta ditangannya saat ini. "Nadia, ayo kita siap-siap buat belanja atau kamu mau pindah dari sini?" tanya Ardi penasaran.


"Gak bisa! Nadia tetap disini karena dia anak saya!" sentak Ibu tajam.


"Ma-Mas, aku gak mau kamu ngutang dan lebih baik uang ini kamu kembalikan," pinta Nadia menyerahkan uang itu ke tangan Ardi, membuat pria itu terdiam beberapa saat karena sikap istrinya itu yang membuatnya takjub, ia benar-benar beruntung memiliki istri yang baik dan tak mau ia mengutang demi kebahagiaan dirinya.


"Mas gak hutang kok, kita ke kamar buat siap-siap dan kita makan diluar," ajak Ardi menarik tangan istrinya untuk memasuki kamar, Ardi langsung saja mengambil jaket sedangkan Nadia tampak memilih pakaian yang pantas untuk berpergian.


"Mas tunggu diluar ya!"


"Baik, Mas!"


Ardi langsung saja melewati ruang tamu dan melihat Ibu mertuanya yang tengah berbisik pada Rania. tapi ia sama sekali tak peduli. Ia lalu bergegas berjalan kesamping rumah lebih tepatnya di pintu kamar nya dengan Nadia, ia ingin sekali melihat tindakan Ibu mertuanya disaat ia keluar.


"Nadia! berikan uang itu pada Ibu!"


Pria itu menatap ke celah-celah jendela dan melihat kedua wanita itu masuk kedalam kamarnya.


"Nadia gak mau, Buk! ini uang milik Mas Ardi!" jelas Nadia memeluk tas yang berisi uang-uang yang dimasukkan oleh suaminya tadi.

__ADS_1


"Berikan sama kami, Mbak! kau gak cocok buat pegang uang sebanyak itu!" pinta Rania berusaha merebut uang tersebut. Nadia membuka jendela lalu melempar tas itu keluar sehingga Ardi yang melihat itu langsung bergegas mengambilnya dan pergi dari sana sebelum diminta oleh Mertuanya yang tak punya hati tersebut, ia tau kalau Mertuanya itu adalah ibu kandung istrinya tapi ia tak terima istrinya dihina maupun dikasari seperti itu.


Tak lama, Ardi yang berdiri dekat sebuah pohon pun menoleh pada Mertua dan adik iparnya yang mencari tas yang dibuang oleh istrinya tadi. Ia langsung melambaikan tangannya pada Nadia yang baru keluar sehingga wanita itu mendekati nya sambil berlari kecil dengan isakan kecil.


"Kamu kenapa?" tanya Ardi mengusap air mata istrinya itu.


"Ak-Aku gak sanggup tinggal bersama mereka Mas hiks, mereka jahat!" isak Nadia memeluk erat tubuh Ardi membuat Ardi membalas pelukan istrinya itu.


"Kamu harus kuat atau kita buat mereka menyesal, kamu mau?"


"Maksud Mas?"


"Kita bertahan dirumah itu dulu dan setelah itu kita tinggal di rumah Mas," bujuk Ardi sehingga Nadia mengangguk, ia mau ikut sama suaminya daripada ia harus disiksa oleh keluarganya yang tak punya hati tersebut. "Aku mau ikut sama kamu Mas, aku gak mau bersama mereka," isak Nadia jujur sehingga Ardi tersenyum manis.


"Ayo kita pergi!" ajak Ardi menarik tangan Nadia menuju mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya dan tentu saja itu mobil Kevin karena Ardi sengaja menyuruh Kevin untuk mengantarkannya berbelanja.


"Ini mobil siapa, Mas?" tanya Nadia saat Ardi membuka pintu mobil sedan hitam yang cukup mengkilap dan terlihat mewah sekali.


"Cepat masuk!" suruh Ardi membuat Nadia masuk dan melihat seorang pemuda yang tengah asik bermain game duduk di bangku kemudi. "Woi, cepat jalan!" kesal Ardi setelah masuk membuat Kevin menoleh.


"Ab-Abang?" beo Nadia sehingga Kevin menoleh.


"Kakak ipar gak tau kalau Bang Ardi punya adik?" tanya Kevin penasaran.


"Kevin, jalani mobilnya atau Abang marah!" ancam Ardi sehingga Kevin memanyunkan bibirnya kesal lalu melajukan mobil kesayangannya itu buat pergi dari sana sebelum singa jantan mengamuk.


"Aku punya guguk galak! ku beri nama Ardi, dia senang marah-marah. sekali marah nyawa pun melayang!" curhat Kevin sambil bernyanyi membuat Nadia tertawa kecil mendengarnya.


"Kau samain Abang seperti guguk?" kesal Ardi tak terima.


"Iya, kenapa? ada yang salah? Abang marah?" tanya Kevin dengan polosnya.


"Aku punya dosa apa hingga punya adik gak waras gini," kesal Ardi.

__ADS_1


"Karena Abang wibu!" balas Kevin tertawa.


"Jangan dengarin dia, Sayang!" peringat Ardi saat melihat istrinya tertawa mendengar perkataan Kevin barusan.


"Abang sama dia itu saudara kandung?" tanya Nadia penasaran.


"Bukan, Kakak ipar! lebih tepatnya satu rahim!" timpal Kevin.


"Itu sama aja, bodoh! pengen gue buang juga lu ke amazon!" kesal Ardi membuat Kevin tertawa.


"Emangnya Mas sanggup ke Amazon?" tanya Nadia dengan polosnya.


"Betul yang dibilang Kakak ipar, Bang. emang Abang sanggup?" tanya Kevin tak kalah polosnya.


'gue baru ingat kalau Nadia juga polos, lama-lama mati berdiri dah gua,' batin Ardi mengusap wajahnya kasar.


*


Ardi tampak membawa barang belanjaan sang istri memasuki rumah sedangkan Nadia tengah membawa belanjaan keperluan dapur membuat yang ada diruang tamu menatap kesal. "Sayang, bahan-bahan nya masukin ke kamar aja biar gak hilang lagi," peringat Ardi saat Nadia hendak kedapur, ia tak ingin belanjaan istrinya dicuri oleh tikus-tikus lagi.


"Bahan-bahan dapur itu harus diletakkan ke dapur bukan ke kamar," sinis Rania sambil asik memakan cemilannya tersebut.


"Gak papa, biar gak dicuri tikus lagi. soalnya kemarin mie aku dimakan tikus," balas Nadia membuat Rania tersedak.


"Kau bilang aku tikus, Mbak?" kesal Rania tak terima.


"Emangnya Nadia nuduh kamu?" sinis Ardi membuat Rania tak terima.


"Pak! itu maling yang curi uang saya, Pak!"


Ketiga orang itu menoleh pada beberapa warga yang datang membuat Ardi bingung sekali dengan orang-orang yang menatap tajam kearah mereka.


Drama apalagi ini?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2