
#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA
#Part_06
Setelah puas berbelanja, keduanya langsung pulang karena sudah begitu capek ditambah Nadia yang begitu lemas karena lelah berjalan sejak tadi.
Mungkin wanita itu belum terbiasa ke mall sehingga Nadia tertidur pulas disamping Ardi yang tengah mengotak-atik ponsel untuk memastikan keadaan kantornya dimana iparnya bekerja, Ardi sudah tau kalau keuangan kantor yang tak teratur saat Adi menjabat sebagai manager diperusahaannya.
Ardi hanya tersenyum tipis saat melihat catatan keuangan yang banyak turun. ia akan mendatangi kantor beberapa hari lagi saat acara peresmian kantor barunya dan tentu saja banyak orang yang bakalan diundang nantinya.
Ia lalu menoleh kearah wanitanya yang tertidur lelap dengan memeluk lengannya erat, perlahan pria itu mengusap pipi Nadia lembut supaya Nadia nyaman di sampingnya.
Ardi benar-benar menyukai sifat istrinya itu yang menurutnya tak dimiliki oleh wanita manapun, kalau seandainya ia melihat istrinya itu menangis. Ia tak segan-segan membuat orang itu menderita karena perbuatan nya membuat istrinya menangis.
Tak lama, mobil yang mereka naiki sampai dihalaman masion sehingga pria itu langsung duduk dan mengendong istrinya itu hati-hati membuat sang wanita menggeliat kecil di gendongannya membuat Ardi tersenyum manis.
"Bawa barang-barang itu keruang tamu," suruh Ardi pada bodyguard yang berjaga.
"Baik, Tuan,"
Ardi tak membalas dan memilih memasuki masion tanpa menghiraukan beberapa Maid menunduk patuh padanya.
Ia langsung saja membawa Nadia menuju kamar dan membaringkan tubuh istrinya itu hati-hati dikasur membuat Ardi tersenyum lalu mengecup bibir istrinya sekilas.
"Selamat tidur, Cantik," senyum Ardi lalu menuju lemari untuk mengambil handuk karena ingin mandi karena gerah sekali, apalagi ia bau keringat saat ini.
Nadia menggeliat kecil lalu mulai membuka matanya, ia berusaha mencari suaminya. Wanita itu menoleh kelakar mandi sehingga ia langsung bergegas menuju kamar mandi sehingga ia langsung mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
"Mas, buka pintunya!"
"Ada apa, Sayang? Mas lagi mandi!"
"Aku mau mandi juga bareng Mas Ardi!"
Cklek!
__ADS_1
Nadia menoleh pada suaminya yang sudah bertelanjang dada saat ini dengan tubuh yang sudah basah akibat guyuran air. Pria itu tersenyum lalu menarik tangan Nadia, sehingga wanita itu tersentak dengan tubuh membentur tubuh basah suaminya itu.
"Waktunya kita mandi bareng, Sayang," senyum Ardi menarik Nadia lalu menutup pintu kamar mandi.
Skip!
Setelah siap mandi dan melakukan hal yang halal buat mereka, keduanya langsung menuruni tangga untuk menuju dapur buat sarapan dengan Nadia yang berada di gendongan nya. Wanita itu tampak kesulitan berjalan karena ulah nya yang terlalu ganas, apalagi ia sudah lama tak mendapatkan jat4h selama 1 bulan ini.
"Kamu mau sarapan pake apa, Sayang?" tawar Ardi setelah mendudukkan Nadia di salah satu kursi.
"Terserah aja," balas Nadia sehingga pria itu bergegas mengambil sarapan buat istrinya dan sepotong paha ayam kesukaan wanitanya itu.
Tin!
Nadia mengeluarkan ponsel barunya yang tadi sudah dihidupkan oleh suaminya itu. Ia menatap nomornya dimasukkan ke WhatsApp keluarga membuat Nadia hendak keluar tapi ditahan oleh Ardi. Pria itu tak ingin istrinya keluar dari group keluarga tersebut.
Mbak Laila: Bu nanti ibu datang ke acara ulang tahun cucu ini ya.
Rani: Wah, anak kakak udah mau hampir 3 tahun.
Mbak Laila: tentu dong, anak Mbak cantik dan pasti sedih kalau mandul,"
"Biarkan saja, kamu gak mandul kok," senyum Ardi sehingga wanita itu tersenyum membuat Ardi berdiri lalu memeluk istrinya tersebut.
Ardi mengambil ponsel istrinya itu lalu meletakkannya di atas meja. "Sekarang kamu sarapan dulu ya," bujuk Ardi sehingga Nadia mengangguk lalu mengambil piringnya yang sudah ambilkan oleh suaminya itu.
Tin!
Nadia menoleh kearah ponselnya dan melihat pesan dari Ibunya dari group WhatsApp membuatnya penasaran sekali, ia menatap pesan dari ibunya kalau ia dilarang ikut membuat Nadia menghela nafas lalu membiarkannya saja. Ia lalu mengambil foto sarapannya yang banyak lalu di-posting ke status WhatsApp nya.
Sedangkan Ardi hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang ingin balas dendam dengan cara mengambil foto untuk sosmed nya. Nadia tersenyum puas lalu menekan tanda pesawat sehingga foto-foto itu terkirim langsung.
Tak butuh lama, Nadia melihat beberapa pesan di group keluarga dan tentu saja Mbak Laila mengambil screenshot statusnya tadi.
Mbak Laila: Lihat nih status si miskin! posting makanan mewah haha...
Ibu: Alah... mungkin foto orang yang dicolong terus dipostingnya biar terlihat jadi wanita kaya.
Mas Adi: bikin malu saja, untung saya kaya dari miskin itu.
__ADS_1
Ardi yang membaca itu mengepalkan tangannya karena tak terima sama sekali. Ia tak suka istrinya dihina habis-habisan tersebut dan langsung saja ia memanggil bodyguard untuk menemuinya.
"Ada apa, Tuan?"
"Kau siapkan pesta yang mewah sekali untuk usia pernikahan saya yang kesatu tahun 1 minggu lagi. Undang semua karyawan berserta keluarganya!"
"Ba-Baik, Tuan. saya permisi dulu,"
Ardi tak membalasnya, ia akan menyusun rencana supaya orang-orang sombong itu sakit jantung berjamaah. "Mas, kenapa minta pesta mewah?" tanya Nadia penasaran sehingga Ardi menoleh lalu tersenyum manis.
"Mas mau bilang sama mereka kalau kita itu tak semiskin yang mereka pikirkan," jelas Ardi mencubit gemes pipi istrinya itu.
"Abang! Abang mau bikin pesta dimasion ini?"
Keduanya menoleh pada Kevin yang mendekat sambil memakan cemilan. "Iya, Abang ingin pernikahan Abang diketahui awak media maupun orang penting lainnya. Apalagi 1 minggu lagi genap 1 tahun pernikahan Abang," ungkap Ardi jujur.
"Wah, pasti mereka kaget kalau Abang suruh datang. biar mereka tau kalau itu kaya memiliki pertambangan Emas maupun batu bara. apalagi perusahaan yang kini berkembang pesat," jelas Kevin jujur membuat Ardi tertawa kecil mendengar perkataan adik bungsunya itu, ia tak menyangka bisa merawat adik bungsunya dari umur 5 tahun hingga 20 tahun tersebut karena Mama dan Papa mereka sudah meninggal saat Kevin berusia 5 tahun sedangkan dirinya berusia 10 tahun.
Mengasuh adik berusia 5 tahun itu sangat susah, apalagi ia tinggal berdua di masion mewah ini dan para pekerja saat itu pulang kampung semuanya. banyak para kerabatnya untuk mengadopsi mereka tapi Ardi kekeuh tak ingin diadopsi karena tujuan mereka adalah harta milik Ardi maupun Kevin.
"Abang, kau kenapa melamun?"
Ardi menghela nafas panjang lalu menoleh. "Abang gak nyangka saja kalau kau sudah tumbuh besar seperti sekarang. padahal Abang ngurus kamu dari usia 5 tahun," kekeh Ardi membuat Kevin tertawa.
"Tentulah, aku gak mau Abang kerepotan," senyum Kevin sedangkan Nadia hanya diam sambil menyantap makanannya membuat Ardi menoleh pada Nadia.
Pria itu yakin kalau sang istri kelaparan akibat permainan panas mereka yang menguras energi, tapi tak papa supaya suatu saat ada junior dirahim istrinya nanti.
"Abang besok ke kantor, bukan? Kevin gak bisa mengurus masalah keuangan kantor,"
"Baiklah, Abang ke kantor besok dan kamu lanjutkan kuliah S3 kamu di Jerman. Abang ingin kamu lulus,"
"Baik, Bang. rencana besok aku akan pergi buat kuliah," balas Kevin tersenyum karena ia harus kuliah supaya Abangnya puas dengan kepintaran yang dimilikinya, ia tak ingin Abangnya kecewa kalau seandainya ia tak lulus. Apalagi selama ini kuliah nya dibayar oleh sang Abang karena ia masuk di universitas terbaik.
Bersambung...
Okey, hari ini saya up 2 part.
Jangan lupa komen panjangnya supaya saya semangat buat ngetiknya. mumpung saya ada mood.
__ADS_1