BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)

BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)
park.5


__ADS_3

#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA


#Part_05


Nadia menatap kebelakang dan melihat Mbak Laila yang meneriakinya sebagai orang miskin, sedangkan Ardi tak memperdulikan nya sama sekali dan tetap saja menarik tangan istrinya itu buat mencari apa yang bakalan mereka beli khususnya alat make-up buat sang istri.


"Sayang, kita mampir ke toko emas bentar ya,".


"Ngapain, Mas?"


"Ambil cincin sebagai cincin pernikahan kita, apalagi cincin kita dicuri oleh Ibu kamu," jelas Ardi merangkul pundak Nadia membuat wanita itu menoleh.


"Maafin Ibu aku ya, Mas. cincin kita diambil sama Ibu," lirih Nadia jujur sehingga Nadia tertawa pelan mendengarnya.


"Gak papa kok, anggap saja sedekah buat nya. jangan pikirkan Ibu kamu yang jahat seperti itu," bujuk Ardi sehingga Nadia mengangguk pelan dan langsung saja Ardi membawa Nadia menuju salah satu toko emas milik Ardi.


"Selamat datang, Tuan besar!" sambut beberapa karyawan saat Ardi datang.


"Tolong perlihatkan cincin yang pernah saya bilang satu minggu yang lalu,"


"Tunggu sebentar, Tuan."


Wanita itu langsung pergi sedangkan Nadia menatap beberapa perhiasan yang begitu cantik dan mahal. "Kamu mau apa lagi, Sayang? pilihlah sesuka kamu," senyum Ardi sehingga Nadia tersenyum lalu menoleh pada liontin cantik berwarna putih.


"Aku mau itu, Mas. boleh?"


"Boleh kok, tolong ambilkan!"


Karyawan itu langsung mengambil kalung sehingga Nadia tersenyum senang sekali, ia sangat suka dengan bentuk kalungnya itu.


"Kalian?"

__ADS_1


Keduanya menoleh sedangkan Ardi menatap dingin karena lagi-lagi bertemu dengan keluarga sombong tersebut. entah kenapa mereka harus bertemu dengan keluarga sombong tersebut.


"Kalian ngapain kesini?" tanya Rania penasaran membuat Nadia terdiam.


"Urusannya buat kau apaan? lagian ini toko khusus buat umum," ketus Ardi dingin.


"Tuan, ini cincinnya,"


Ardi menoleh dan melihat sebuah cincin yang cukup bagus, langsung saja ia memasangnya pada Nadia membuat Nadia tersenyum. "Sayang, ayo kita pulang," ajak Ardi tersenyum sehingga Nadia mengangguk. "Kalian bekerja dengan waspada!" peringat Ardi sehingga semuanya mengangguk dan langsung saja Ardi maupun Nadia pergi. "Eh, kalian gak bayar?" tanya Ibu penasaran.


"Lihat nama tokonya!" ketus Ardi sehingga kedua orang itu menoleh pada nama toko emas Ardian Wijaya dan terdapat foto Ardian disudut nama tersebut. Keduanya tak percaya kalau ini adalah toko emas milik Ardi, karena keduanya yakin kalau orang difoto itu bukanlah Ardi yang miskin.


"Mereka itu bikin masalah aja, udah tau kita ambil emas di toko sendiri," kesal Ardi membuat Nadia tertawa pelan mendengarnya. "Sekarang kita mau kemana?" tanya Ardi lagi.


"Terserah Mas aja, aku hanya menurut aja,"


"Sayang, kalau kamu mau sesuatu bilang saja. gak usah diam, mumpung kita di mall saat ini," jelas Ardi lembut.


"Aku gak enak sama kamu, Mas. kalau aku minta apapun, aku merasa jadi istri yang suka morotin uang suami," lirih Nadia jujur sehingga Ardi memegang kedua pipi istrinya itu supaya menatap kearahnya.


"Beneran?"


"Iya,"


"Aku mau beli makanan pedas, aku dah lama gak pernah makan yang pedas-pedas," senyum Nadia.


"Yasudah, kita cari dulu," ajak Ardi sehingga Nadia mengangguk, Ardi begitu senang memiliki istri yang tak suka morotin harta suami. kalau wanita lain ia tawarkan seperti tadi, wanita itu pasti meminta benda-benda mahal sekali berbeda dengan Nadia yang menginginkan makanan daripada benda mewah.


Bagaimana pun ia bakalan tetap membelikan istrinya barang-barang mewah tanpa disadari oleh Nadia, kalau tau. wanita itu pasti akan menolak. Sesampai di restauran, Ardi langsung saja memesan makanan pedas buat Nadia karena wanita itu sudah tak sabar mencicipi makanan pedas tersebut.


"Mas, apa aku sakit ya?"

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Aku kenapa gak pernah hamil, aku juga pengen punya anak,"


Ardi terdiam beberapa saat, tak mungkin ia jujur kalau diam-diam memberikan obat pencegah hamil pada istrinya. Ia lakuin itu supaya istrinya tak hamil, sehingga mertuanya itu tak semena-mena pada istrinya yang tengah hamil nantinya.


"Kamu tunggu aja ya, orang aja ada nunggu belasan tahun. kita masih satu tahun loh," senyum Ardi mengusap pipi sang istri membuat Nadia tersenyum manis, Ardi yang melihat senyuman istrinya pun ikut tersenyum karena senyuman istrinya adalah kebahagiaan tersendiri buatnya. "Mau dimakan dirumah apa disini?" tanya Ardi lagi membuat Nadia menoleh kearah buku menu.


"Dirumah aja, soalnya malu makan disini,"


"Baik, Sayang,"


Ardi langsung saja memesan makanan untuk dibawa pulang sedangkan Nadia hanya diam menatap sekitar, tiba-tiba tatapannya teralih pada pria yang amat ia kenali. Nadia langsung saja memeluk Ardi membuat pria itu kaget lalu menoleh pada istrinya yang tampak menyembunyikan wajahnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Ardi sedangkan Nadia tak membalas.


"Permisi!".


Ardi menoleh pada pria berpakaian layaknya preman mendekat yang membuatnya penasaran. "Ada apa?" tanya Ardi penasaran, apalagi pria itu menatap istrinya membuat Ardi langsung memegangi kepala sang istri.


"Bolehkah saya berbicara dengannya?" tanya pria itu lagi membuat Nadia terisak, Ardi begitu bingung dengan Nadia yang malah menangis saat ini.


"Sayang, kamu kenapa?, bilang sama Mas," bujuk Ardi memohon.


"Hiks usir dia! aku takut!" tangis Nadia memeluk erat tubuh Ardi.


"Kau apakan istri saya hingga trauma melihat Anda?" tanya Ardi marah membuat pria itu menatap sinis pada Ardi dan langsung saja pergi membuat Ardi penasaran, ingin sekali ia berbuat kasar pada pria itu tapi disatu sisi saat ini istrinya menangis. "Sayang, jujur sama Mas," bujuk Ardi khawatir.


"Hiks di-dia hampir lecehkan aku waktu aku belum nikah hiks aku takut sama dia, Mas,"


Ardi yang mendengar itu sontak menahan emosi, ia tak akan membiarkan pria itu hidup bahagia setelah penjelasan istrinya barusan, bagaimanapun ia bakalan suruh sepupunya yang kebetulan suka membunuh orang.


Sedangkan ia tak terlalu suka membunuh orang karena bosan saja, ia bakalan membunuh kalau emosinya sudah tak tertahan lagi.

__ADS_1


"Jangan nangis, pria itu gak bakalan dekati kamu lagi. Mas bakalan jaga kamu kok," bujuk Ardi sehingga Nadia mengangguk pelan.


Bersambung...


__ADS_2