BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)

BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)
park.3


__ADS_3

#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA


#Part_03


"Pak! itu maling yang curi uang saya, Pak!"


Ardi tak menyangka kalau wanita paruh baya itu menunjuk kearahnya, sedangkan Nadia menoleh pada suaminya yang tampak menahan kesal saat ini. Ardi benar-benar tak mengerti dengan drama yang dimainkan oleh Mertuanya itu, ia yakin kalau seandainya ada yang mencari pemain film, sudah pasti orang itu cocok dengan Mertuanya yang banyak drama.


"Benar, Pak. dia yang curi uang Ibu saya dan gak mungkin kalau pria pengangguran bisa belanja sebanyak itu," timpal Rania membuat Ardi hanya memilih diam saat ini.


"Pak, apa benar anda yang mencuri uang Mertua anda sendiri sebanyak 10 juta?" tanya Pak RT membuat Ardi menatap sekilas pada Mertuanya yang terlihat tersenyum tipis karena ia diam.


"Bukan, Pak." balas Ardi dengan entengnya.


"Bohong, Pak! usir saja mereka dari sini!" suruh wanita tua itu marah.


Orang-orang mendekat untuk menyeret Ardi maupun Nadia tapi Ardi menepisnya kasar.


"Saya bisa bisa pergi sendiri, kalian tak perlu menyeret saya!" kesal Ardi tajam lalu menggenggam tangan istrinya itu.


"Selamat hidup menjadi gelandangan. apalagi kalian tak punya apa-apa lagi," tawa Rania pelan tapi tak dihiraukan oleh Ardi dan memilih menarik tangan istrinya itu tapi tangannya dihentikan salah satu pria. "Berikan sisa uang mereka sebelum kalian pergi!" bentak nya membuat Ardi mengeluarkan uang tersebut lalu melemparkannya ke wajah wanita tua itu.


Durhaka? ia sudah tak peduli karena ia akan bersikap kejam kalau dirinya sudah tak sanggup bersabar.


"Berani-beraninya kau!"


Ardi langsung saja menarik tangan istrinya itu daripada mendengarkan umpatan dari Mertuanya itu.


"Mas, kita mau tinggal dimana? kita gak punya apa-apa lagi," lirih Nadia jujur sehingga Ardi mengusap pipi istri nya itu.


"Kamu tenang saja, kita sudah terlepas dari mereka dan sekarang kita bisa bersenang-senang tanpa kekurangan lagi," senyum Ardi membuat Nadia tersenyum manis. Ardi bertekad akan membawa istrinya itu ke kediamannya karena istrinya itu berhak bahagia.

__ADS_1


"Ada yang butuh tumpangan?"


Pasangan itu menoleh pada Kevin yang tersenyum kearah mereka, sehingga Ardi mendekat dan disusul oleh Nadia. "Kau kenapa masih disini?" tanya Ardi bingung.


"Tadi aku lihat banyak orang ke rumah Abang. karena firasat aku buruk, makanya aku nunggu eh malah lihat Abang diusir," balas Kevin jujur sehingga Ardi tersenyum karena adiknya itu peka akan masalah yang dialaminya saat ini.


"Sekarang kita pulang dan Abang juga sudah kangen dengan kamar Abang," jelas Ardi membuka pintu sehingga Kevin bergegas menuju bangku kemudi.


Setelah mereka bertiga naik, Kevin langsung melajukan mobil dengan sedang. "Mas, kita mau kemana?" tanya Nadia penasaran. "Kerumah Mas, kita bakalan tinggal disana dan Mas harap kamu jangan bilang tentang rumah Mas pada mereka dulu," jelas Ardi sehingga Nadia menganggukkan kepalanya.


Ia begitu senang terlepas dari keluarga kejamnya itu, apalagi sekarang ia ikut dengan suaminya. apapun kondisinya nanti, ia tak ingin berjauhan dengan suaminya karena ia takut kehilangan sosok pria yang selalu melindungi nya sejak awal menikah sampai sekarang.


"Mas sebenarnya kerja apa?" tanya Nadia penasaran.


"Mas cuman nganggur aja, Mas malas buat cari kerja," jelas Ardi jujur.


"Nganggur tapi uang selalu masuk," sindir Kevin membuat Ardi terkekeh pelan. "Kau iri?" ejek Ardi penasaran.


"Pelit amat sama adik," kesal Kevin.


"Nanti kau ketularan sombong kalau Abang kasih sebanyak itu, Abang gak mau punya adik sombong akan uang," balas Ardi sedangkan Nadia hanya diam karena tak tau siapa suaminya itu sebenarnya, yang ia tau hanyalah suaminya itu sederhana.


Tak butuh waktu satu jam, Nadia maupun yang lain keluar dari mobil. Wanita itu menatap kagum melihat rumah yang sangat besar layaknya cerita yang pernah ia baca. Seorang CEO memiliki masion mewah atau... Mafia?


"Mas itu Mafia atau CEO?" tanya Nadia penasaran membuat Ardi menoleh sambil tertawa pelan mendengarnya.


"Bukan, Mas hanyalah pengusaha pertambangan emas sekaligus batu bara. diumur 25 tahun ini, Mas sudah memiliki banyak toko emas yang berkembang dan begitu juga dengan perusahaan," ungkap Ardi membuat Nadia kaget sekali.


"Mas kaya banget tapi kenapa milih Nadia yang miskin?"


"Mas gak peduli kamu miskin ataupun kaya karena dulu Kakek dan Nenek Mas juga dari orang miskin. sekaya apapun Mas, Mas gak mungkin lupa sama daratan," jelas Ardi jujur membuat Nadia tersenyum. "Sekarang ayo masuk, kamu harus melakukan perawatan supaya makin cantik," sambung Ardi menarik tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Tuan!" sambut beberapa Maid berkumpul sambil menundukkan kepala sehingga Ardi mengangguk pelan.


"Siapkan sarapan buat istri saya dan siapkan ruangan perawatan buat wanita saya, saya ingin istri saya berpenampilan cantik sebagai Nyonya Wijaya!" suruh Ardian.


"Baik, Tuan," balas semuanya meminta izin buat bergegas melaksanakan tugas masing-masing. Ardi langsung membawa istrinya menuju kamar nya dilantai atas sedangkan Kevin sudah berlari ke kamar untuk melanjutkan bermain game, walau suka bermain game tapi Kevin juga tau waktu untuk beristirahat ataupun waktu bekerja.


"Ini kamar kita,"


Nadia benar-benar kagum melihat kamar yang begitu luas dan besar sekali, Ardi tersenyum lalu duduk ditepi tempat kasur. "Kamarnya besar banget, Mas. kayak kamar putri kerajaan aja," jelas Nadia sehingga Ardi tertawa pelan.


"Kamu ini, sekarang masion ini juga milik kamu dan kamu gak usah sungkan kalau meminta bantuan sama Maid," jelas Ardi membuat Nadia tersenyum.


*


Ardi menuruni tangga dan bungkam melihat istrinya yang sudah dirias cantik. Istrinya itu benar-benar cantik mengunakan dress coklat brownis dengan rambut tergerai bergelombang. tadi rambut istrinya itu lurus dan sekarang diubah membuat Ardi benar-benar terpesona melihatnya.


"Nadia..,"


Karena merasa terpanggil Nadia langsung menoleh membuat Ardi tak henti-hentinya kagum melihat wajah istrinya yang dipoles make up tipis.


"Buset, Kakak ipar cakep bener!" kaget Kevin yang hendak kedapur. "Sampai Bang Ardi gak berkedip," sambung Kevin.


"Sono lu pergi! nanti lu ambil istri Abang!" kesal Ardi membuat Kevin menoleh.


"Kevin gak ada niatan buat ambil Kakak ipar ya, mendingan Kevin jomblo dulu sampai nemu cewek yang kayak Kakak ipar yang udah cantik, baik!" balas Kevin kau pergi karena tak mau difitnah oleh Abangnya lagi.


"JOMBLO ITU LEBIH BAIK! DARIPADA PUNYA ISTRI MACAM SETAN HUWOO!" teriak Kevin tiba-tiba membuat Ardi menutup telinganya kesal. Sedangkan Nadia hanya tertawa mendengar nyanyian adik iparnya itu.


"Mas, aku merasa punya adik laki-laki. aku gak menyangka kalau Mas punya adik laki-laki," kekeh Nadia tersenyum sehingga Ardi mengusap kepala istrinya. "Adik Mas, Adik kamu juga, Sayang," senyum Ardi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2