BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)

BUKAN PENGANGGURAN BIASA (By Author Anrey)
park.4


__ADS_3

#BUKAN_PENGANGGURAN_BIASA


#Part_04


Pasangan itu langsung menuju dapur buat sarapan sedangkan Kevin tengah asik mengupas kulit jeruk, karena itu adalah buah kesukaan adiknya itu dan kalau tak ada jeruk di meja makan. pria itu bakalan mogok makan membuat orang-orang harus menyediakan jeruk di keranjang buah.


"Jeruk mulu, sarapan!"


"Lagi gak laper, Bang. aku ke kamar dulu ya," balas Kevin langsung pergi sambil membawa beberapa buah jeruk, Ardi hanya menghela nafas karena semua buah jeruk dibawa kabur oleh adik bungsunya itu.


"Sekarang makan sepuas yang kamu mau dan gak usah pikirkan keluargamu itu karena gak ada gunanya. sekarang kamu adalah Nyonya Wijaya," senyum Ardi mengusap kepala istrinya itu membuat Nadia tersenyum manis.


"Besok ikut Mas ke kantor ya, kamu harus diperkenalkan di kantor," bujuk Ardi.


"Kayaknya aku gak pantas, Mas,"


"Kenapa gak pantas? kamu itu adalah istri Mas dan Mas bakalan tetap mengungkapkan identitas kamu di depan karyawan supaya tak ada yang menghina kamu," senyum Ardi membuat Nadia terdiam. "Mau kan, Sayang?" tanya Ardi lagi sehingga Nadia mengangguk pasrah membuat Ardi tersenyum senang.


'Mas janji, Sayang. Mas bakalan memperlakukan kamu sebagai ratu dan tak bakalan ada yang berani membuat kamu menderita lagi karena kamu adalah wanita yang tepat buat Mas,' batin Reza menatap Nadia yang mengambil sarapan buatnya.


"Mas mau makan pake apa? biar aku ambilkan," tawar Nadia membuat Ardi menoleh pada makanan yang ada di atas meja membuat Ardi bingung mau makan apaan, apalagi semuanya adalah makanan kesukaan nya sejak kecil.


"Mas mau pake sayur bening sama sambal tempe aja, soalnya Mas udah terbiasa makan itu," senyum Ardi sehingga Nadia langsung mengambil sarapan buat suaminya sedangkan Ardi tak henti-hentinya menatap istrinya yang tengah sibuk mengambil sarapan buatnya. "Kamu cantik banget sih?".


"HUKK! HUKK! BATUK TUJUH TURUNAN GUA!"


Ardi langsung menoleh pada Kevin yang sudah kabur karena takut kena jitak lagi, entah kenapa adiknya itu suka sekali menggodanya atau cari muka di hadapan istrinya itu? ia benar-benar bingung dengan sikap adiknya tersebut. Kngin sekali ia menendang bocah itu ke jurang tapi ia juga sudah berjanji buat menjaga bocah itu.


"Mas ..,"


"Eh, iya,"


Ardi langsung saja bergegas untuk sarapan sehingga Nadia menoleh pada suaminya yang mulai sarapan.


"Mas, masakan ini enak banget deh! coba lah!".

__ADS_1


Ardi menoleh lalu membuka mulutnya sehingga Nadia langsung menyuapi suaminya itu membuat Nadia tersenyum manis. "Iya, benar banget," senyum Ardi sehingga Nadia juga ikut kembali melanjutkan sarapannya.


Tin!


Tin!


Nadia mengeluarkan ponsel nya yang sudah lama tersebut dan melihat pesan dari aplikasi Facebook yang membuatnya penasaran. Langsung saja ia melihatnya dan melihat status Rania yang menandai nya dengan Mbak Laila.


"Berani-beraninya mencuri uang Mertua demi kehidupan pribadi, gak ada ot4k emang. sampe beli emas segala!"


Ardi yang membaca itu pun langsung mengambil ponsel istrinya lalu melihat komentar pedas dari para netizen membuat Ardi emosi, ia paling tak suka istrinya dihina-hina oleh orang-orang.


Ia menatap status baru yang di-posting oleh Mbak Laila dan menandai akun istrinya sekaligus beberapa akun lainnya.


"Emang enak tinggal dijalankan? pasti kelaparan gara-gara gak makan ya? makanya jangan mencuri!"


Ardi mematikan ponsel istrinya itu dengan nafas yang sudah memburu karena tak sanggup melihat begituan.


"Sayang, nanti kita balas dan kita buat mereka syok," jelas Ardi membuat Nadia menoleh.


"Biarin aja mereka Mas, buat apaan dibalas yang ada difitnah lagi,"


"Abang, harusnya Abang main cantik!"


Ardi menoleh pada Kevin yang mendekat. "Maksudmu?" bingung Ardi.


"Abang jangan ungkapkan identitas Abang dulu, buat mereka berkoar-koar dulu terus Abang tinggal tunjukkin diri Abang. pasti mereka syok berat setelah menghina penerus keluarga Wijaya," jelas Kevin sambil membuang kulit jeruk tersebut ke tong sampah.


"Bagus juga ide kamu, Abang bakalan biarin mereka menghina kami dulu dan setelah itu, Abang yang bakalan membuat mereka jantungan," kekeh Ardi sehingga Kevin setuju. "Abang setelah ini kau ke mall, kau jangan kemana-mana, Vin!" peringat Ardi sehingga Kevin mengangguk.


*


Cklek!


Ardi maupun Nadia turun dari mobil yang pintunya dibuka oleh sopir, keduanya berjalan santai menuju mall untuk membeli ponsel baru buat istrinya nanti. Sesampai di toko ponsel, Nadia kagum melihat berbagai produk ponsel yang begitu bagus sekali. ada juga ponsel impian Nadia.

__ADS_1


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya Karyawan cantik itu sopan membuat Ardi menoleh pada deretan ponsel.


"Sayang, kamu mau ponsel yang mana? pilih saja sesuka kamu," suruh Ardi membuat Nadia menunjuk ke salah atau ponsel. "Aku mau yang ini, Mas!" tunjuk Nadia membuat Ardi menoleh.


"Kurang bagus buat kamu, pilih saja yang mahal,"


"Gak mau, nanti aku dikira porotin kamu, Mas,"


Ardi yang mendengar itu pun tertawa begitu juga karyawan tersebut menahan tawanya. "Sayang, kamu pilih aja yang mahal. uang Mas juga milik kamu, ayo pilih sebelum Mas marah," ancam Ardi sehingga Nadia langsung memilih ponsel yang cukup mahal sehingga Ardi mengusap bahu istrinya itu.


"Eh, kalian ngapain disini?"


Ardi maupun Nadia menoleh pada Mbak Laila yang datang dengan beberapa temannya itu.


"Bukan urusan, Mbak," jawab Ardi.


"Kalian itu miskin ngapain ke toko ponsel? kalau ngemis jangan disini," tawa Mbak Laila membuat Nadia menggenggam tangan suaminya itu supaya Ardi tak tersulut emosi.


"Tuan, ini ponselnya,"


Semuanya menoleh seorang wanita mendekat membawakan ponsel milik istrinya. "Berapa Mbak?" tanya Ardi penasaran.


"Buat apaan Mbak layani mereka, mereka itu miskin dan mana mampu bayar ponsel," tawa Mbak Laila tapi tak dihiraukan oleh karyawan toko, karena ia lebih tau siapa Ardi sebenarnya.


"32 juta termasuk charger dan casing hello Kitty nya, Tuan,"


Ardi mengeluarkan dompetnya lalu menyodorkan kartu hitam membuat para pengunjing itu tersentak kaget melihatnya, karena tak semua orang bisa mempunyai kartu hitam yang isinya sangat besar.


"Kartu siapa kalian curi, hah? benar-benar gak ada malu kalian!" tuduh Mbak Laila.


"Kami punya harga dirinya, gak sama kayak Mbak. Mbak belanja make uang perusahaan," sinis Ardi membuat wajah Mbak Laila memerah membuat Nadia penasaran. "Saya tak memakai uang perusahaan, gak usah sok tau!" bentak Mbak Laila tajam membuat Ardi tersenyum miring.


"Ada apa ini?"


Semuanya menoleh pada seorang pria berpakaian jas hitam mendekat membuat Mbak Laila menangis lalu memeluk suaminya itu. "Mas, mereka nuduh aku belanja pakai uang perusahaan," isak Mbak Laila membuat Mas Adi menoleh dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Kalian gak usah fitnah ya! kalian orang miskin belagu amat!" sentak Mas Adi tajam membuat Ardi memutar mata malas lalu menerima kartunya dan pergi dari sana tanpa mendengarkan umpatan dari Mbak Laila.


Bersambung...


__ADS_2