
Teng teng teng tenggggg ( sfx : suara lonceng di dalam cafe ) .
Bunga memandang jam besar di atas dinding cafe di pintu depan yang telah menunjukan pukul 16:00. Sedangkan Tantri terlihat masih dengan semangat mengungkapkan perasaan nya .
Hawa dingin terasa mememuhi sekujur tubuh Bunga. Pikiran nya tiba tiba berhenti dan mulai merasakan pikiran nya begitu tenang serta kosong. Rasa nyaman menyelimuti sekujur tubuh dan pikiran nya. Tapi rasa tersebut tidaklah lama, setelah semenit berlalu. Bunga memandang sekeliling nya dan merasakan suara batin, keinginan keinginan dari hati semua orang di cafe tersebut. Meskipun terdengar lirih tapi bila dalam intensitas waktu yang cukup lama itu bisa membuat sakit kepala.
Bunga mengalihkan pandangan kepada teman nya agar kekuatanya terfokus pada teman nya ini. Mata Bunga menatap tajam mata teman nya itu. Berbagai bisikan dan hasrat terpendam terdengar jelas di hati teman nya itu.
" Sebenarnya ak ga ingin di jodohin ".
" Sial, kenapa tadi ak jual saham ku, sekarang ak menyesal".
" Andai kaka pulang dari Amrik ".
" Nyebelin banget sih, tukang bakso tadi ".
Semua yang di ucapkan Tantri sama seperti dalam batinnya. Walaupun tidak semuanya ia ucapkan tapi secara keseluruhan ia berkata benar.
Pikiran Bunga yang di penuhi bisikan bisikan batin Tantri. Bunga pun hanya tersenyum memandang wajah teman nya dan beberapa kali tertawa..
"Pfftt".
"Hahahah". Bunga tertawa kecil.
Tantri yang hanya becerita tentang tukang bakso yang meyebrang ga liat kanan kiri dan lupa ga update harga saham, terhenti melihat teman nya yang tidak memberikan saran dan masukan, justru tertawa cekikikan.
" Bunga, apa sihhh kokk diketawain kek gitu sih ". Ucap Tantri mendengus kesal.
Bunga semakin terbawa suasana mencoba menahan tawanya melihat tingkah kesal sahabat nya ini.
" Iya, iya Ri, sorry sorry .
Obrolan ringan mereka lanjutkan. Kekuatan Bunga yang kini tidak lagi ia fokuskan kepada temanya. Melainkan seluruh pengunjung cafe dan seluruh pekerja di cafe nya.
Tantri yang asyik bercerita tidak memperhatikan sikap Bunga yang memandang ke berbagai arah. Niat Bunga semula ingin menjajal penguasaan kekuatan nya justru menjadi penyebab darah segar mengalir di hidungnya.
Bunga dengan pikiran yang berisi keinginan keinginan semua orang membuat kepalanya terasa berat dan sakit. Sebab itulah darah segar mengalir dari hidung kirinya.
Tantri yang tidak pernah bosan bercerita karena memang hobinya bercerita terkejut melihat darah segar dari hidung Bunga.
__ADS_1
Mata Bunga yang memucat menandakan kelelahnya. Bung mengucapkan sepatah kata dengan lirih kepada Tantri. " Ri, bawa ak ke tempat yang sepi".
Badan yang besar membuat Tantri dengan mudahnya menggendong Bunga. Tanpa pikir panjang Tantri membawa Bunga keluar cafe menuju tempat duduk di halte bus.
Tubuh Bunga yang di balut jaket hodie milik Tantri terlihat lemas lunglai dengan mata yang pucat.
***********
Di tempat lain ada seorang ibu yang begitu cemas dengan anak nya. Terlihat nya berulang kali menelepon seseorang tapi tidak kunjung di angkat.
" Kemana sih ini anak, udah jam segini masih belum aja pulang, apa dia lupa pada kekuatannya". Ucap ibu Bunga dengan cemas.
"Bi, minta pak Agung ke cafe dan suruh jemput Bunga". Pinta ibu pada Bibi Ijah.
Bi Ijah langsung melaksanakan perintah ibu Bunga. Dan disi lain ibu Bunga berjalan mondar mandir sambil mencoba menelepon Bunga.
Kekawatiran ibu nya bukan lah hal yang berlebihan mengingat waktu kecil Bunga pernah tersesat di salah satu mall besar dan lebih dari jam empat sore belum juga di temukan. Saat di temukan Bunga telah hilang kesadaran dengan darah segar di hidung dan telinga nya.
Air mata mengenangi mata ibu Bunga. Pikiran nya mulai kalut, serta menyesali keputusannya saat tidak ikut campur dalam bisnis cafe anak nya.
" Besok aku akan menaruh orang ku untuk menjaga anak ku". Batin ibu Bunga yang mengkawatirkan anak nya.
********
Tringg tringgg tringgg ( sfx : bunyi telpon masuk ).
Salah satu karyawati cafe mengangkat telpon yang berdering tersebut.
"Hallo". Terdengar suara asing bagi ibu nya Bunga.
Ibu Bunga berbicara dengan nada tinggi " SAYA IBUNYA BUNGA CEPAT KASIH TELPON NYA KEPADA ANAK SAYA" .
Karyawati Bunga terkejut dan langsung ber lari menuju ke arah casir tempat teman nya bekerja.
" Maaf bu, saya tidak melihat nona Bunga, ini teman saya yang di kasir, mungkin melihat nya". Jawab Karyawati Bunga meyodorkan telepon kepada casir di cafe tersebut.
Mata sang casir bekeliling dan menjauhkan telpon dari telinga nya. " Cepat kamu cari tanya orang lain, aku juga gak lihat tadi Bunga pergi kemana".
Karyawati yang mengangkat telpon tersebut lagi keberbagi arah dan bertanya kepada teman teman nya yang bekerja di cafe tersebut.
__ADS_1
Sementara Dian yang bekerja sebagai Casir mencoba menenangkan ibu nya Bunga. Ia jelas paham dengan nyonya besar yang satu ini. Walaupun baru sekali bertemu, Dian bisa mendeskripsikan sifat ibu Bunga dengan jelas.
Dian bercerita awal awal Bunga datang ke Cafe dan apa saja yang di lakukan. Dengan sedikit candaan Dian mencoba mencairkan suasana.
************
Di tempat lain pak Agung dengan mata yang tajam menatap kanan dan kiri jalan sisi jalan. Ini bukan kali pertamanya nona muda mengalami keadaan tersebut.
Pak Agung berbicara dengan nada rendah " kemana kamu sih, Non". Pak Agung yang mata nya begitu awas, melihat wanita muda duduk di halte bus.
Terlihat wanita muda yang sedang mengelap darah yang terus mengalir dari hidung temanya itu.
Tantri mulai panik karena darah segar dari hidung bunga tidak kunjung berhenti. Hendak mencoba merobek baju nya sediri, Tantri di kejutkan oleh seseorang yang turun dari mobil dan berlari dengan kencang ke arahnya.
" Nona Bunga", ucap seseorang berbaju satpam dengan perutnya yang buncit.
Tantri yang baru sadar dari dekat jika itu adalah satpam yang bekerja di rumah Bunga bercerita bahwa Bunga tiba tiba mengeluarkan darah dari hidung nya setelah tertawa.
Pak Agung yang tau persis kondisi dan kekuatan Bunga tidak terlalu menanggapi pekataan dari Tantri. Pak Agung hanya memegang kening Bunga untuk mengecek suhu tubuh nya dan langsung berkata pada wanita di samping Bunga, " ayo cepat kita bawa nona ke mobil".
Terlihat seorang berbaju satpam dan seorang wanita mengangkat satu wanita yang terlihat setengah sadar menuju sebuah mobil kijang inova berwarna hitam.
********
Sementara di cafe.
Dian berhasil mengetahui kemana pergi nya Bunga dari dari cafe dari salah satu karyawati yang melihat nya.
Ibu Bunga menghentikan percakapannya dengan Dian kemudian menelepon pak Agung.
Drerrrp dreeeepp dreepp. ( sfx : ponsel yang bergetar).
Pak Agung yang sedang mengangkat nona muda mempercepat jalannya menuju mobil. Setelah Bunga masuk ke dalan mobil, pak Agung menjawab telpon nya.
" Hallo Nyah, ini saya udah bersama dengan Nona ". Ucap pak Agung tanpa menjelaskan keadaan Bunga. Pak Agung paham sifat ibu nya Bunga jadi tidak ingin membuat nyonya besar tersebut khawatir dengan memebritahu keadaan anak nya.
Ibunya Bunga yang tau pak Agung sudah bersama anak nya tersenyum lega walaupun air mata yang beberapa kali menetes dari mata nya. Ibu Bunga yang ingin menanyakan keadaan anak nya lebih lanjut, terdengar suara. Tut tut tut tuuutttt ( sfx : suara telpon di tutup.)
Ibu Bunga yang tau kebiasaan pak Agung yang suka mematikan telpon bila di jalan, paham dengan posisi pak Agung.
__ADS_1
****Untuk para readers..
Jangan lupa kasih kritik dan sarannya buat penulis agar kedepannya lebih baik lagi**.