Bunga Jam Empat

Bunga Jam Empat
Bag: 8. Keadaan Bunga.


__ADS_3

Pak Agung yang di dalam mobil memberikan peralatan kusus nona muda nya. Peralatan kusus tersebut berbentuk seperti ear pohone yang berfungsi untuk menutup telinga. Tapi ear phone tersebut di desain kusus untuk nona muda yang satu ini.


Pak Agung meletakan Bunga di kusi belakang dengan Tantri sebagai tepat sandaranya. Pak Agung meyodorkan barang yang serupa dengan ear phone .


"Nona, tolong pakaikan alat ini kepada nona muda". Ucap pak Agung sambil menstart mobil nya.


Gerngggg ( sfx : mobil di gas )


Tantri memasangkan alat kusus tersebut dan beberapa kali mengelap keringat dari wajah Bunga. Darah sudah berhenti tapi keringat masih terus bercucuran di sekujur tubuh Bunga walaupun telah terkena dingin nya ac mobil.


***********


Di tempat lain.


Di ruang tamu dengan berbagai furniture mewah terlihat indah dan berlikauan. Terdapat seorang wanita paruh baya sedang duduk lemas dengan tatapan kosong nya bersandar di bahu seorang wanita yang terlihat lebih tua.


" Nyah, tenang aja. Mas Agung pasti bisa menjemput nona". Ucap bi Ijah sambil beberapa kali berbicara menenangkan wanita paruh baya itu.


Ibu Bunga terlihat sangat bersedih dengan tatapan kosong nya. Beberapa kali Bi Ijah bicara pun tidak dihiraukan oleh wanita paruh baya ini.


*******************


Di dalam cafe.


Kehebohan terjadi. Beberapa karyawati banyak yang ramai menggosip. Sementara barista berserta koki nya yang notabene nya kaum lelaki, tidak begitu mempermasalahakan masalah tersebut.


Dian yang banyak berbicara dengan ibu nya Bunga terlihat bermuka pucat pasih. Hanya satu yang terpikir dalam benak Dian saat ini yaitu apakah dia masih bisa bekerja di cafe ini atau tidak.


Sedangkan karyawati lain nya tetap asik mengobrol tentang kepergian Bunga dan kekawatiran nya ibu dari pemilik cafe. Hal tersebut wajar sebab ini adalah kali pertama nya Bunga pergi dengan misterius seperti itu.


*********


Di dalam mobil.

__ADS_1


Ini buka kali pertama nya bagi Tantri. Bagi Tantri ini sudah kedua kalinya. Tantri hanya menebak dalam hati nya bahwa sahabatnya yang satu ini memiliki penyakit dalam yang cukup serius.


Rasa penasaran yang cukup dalam membayangi pikiran Tantri. Beberapa pertanyaan pun akhirnya ia ucapkan kepada seorang sopir yang sedang mengemudikan mobil dengan laju yang cukup kencang.


"Anu, pak. Sebenarnya Bunga sakit apa"? Ucap Tantri sedikit terbata.


Pak Agung mentap kaca belakang di atas kemudi. Dengan raut yang sedikit heran ia melengkungkan bibir nya dan berkata dengan ceria nya.


" Hehhehe, mungkin Nona muda kecapean, Non".


Tantri hanya mengangkat alis nya dan mengerutkan dahinya. Ia menolak pernyataan pak Agung dalam batinnya.


Tantri yang sudah bersahabat cukup lama dengan Bunga sangat bersedih akan kondisi sahabatnya yang satu ini. Rasa kecewa pun turut dalam hati dan jiwa nya sebab ia tidak mengetahui derita sahabat nya. Sebagai seorang sahabat tentulah itu hal tidak bisa di terima.


Air mata terlihat sedikit mengenagi mata Tantri yang beberapa kali memandangi Bunga dengan sedih. Sementara pak Agung hanya melirik beberapa kali tingkah laku sahabat nona muda nya ini.


Perjalanan tidak terasa lama sebab jarak cafe dengan rumah Bunga yang cukup dekat.


Titttt tiitttt itttttt ( sfx : sura klakson )


" Iye iye sabar dulu napa ". Ucap ketus pak Aris pada mobil yang baru datang.


Pak Agung membuka kaca mobilnya dan menjulurkan lidah dan menarik mata kirinya dengan sedikit mengejek.


Pak Aris hanya tersenyum kecil dengan mengacungkan jari tengahnya kearah mobil yang terlihat masuk menuju halaman depan yang cukup luas.


Sementara di dalam rumah rasa khawatir ibu Bunga terobati saat mendengar klakson mobil pak Agung. Bi Ijah pergi dan membuka pintu ruang utama. Terlihat pak Agung dan Tantri sedang mengangkat Bunga yang terlihat lemas dan setengah sadar.


Langkah kaki terasa berat bagi ibu Bunga sehingga ia tidak kuasa untuk menghampiri anak tercinanya. Ini bukan kejadian satu atau dua kali nya bagi nya. Sudah berkali kali ia merasakan kejadian ini.


Pak Agung dan Tantri memasuki ruang utama yang cukup luas. Terihat wanita paruh baya dengan air mata yang berlinang dan bekas air mata yang metes yang belum kering duduk menatap wanita yang di gotong pak Agung dan Tantri.


"Nyah, nona taruh dimana". Tanya pak Agung melambatkan langakah menghampiri ibu Bunga.

__ADS_1


Ibu Bunga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menepuk sofa besar di samping nya yang terlihat sangat lembut.


Bunga berbaring dalam pangkuan ibu nya. Sedangkan pak Agung dan Tantri duduk di hadapan nya.


"Pak Agung, bisa tolong minta pak Aris mengantar de Tantri ke rumah ".


Pak Agung mengangukan kepalanya. Dan menarik lengan baju Tantri dengan lembut.


" Ayo Non, saya antar pulang ".


Tantri yang telah melihat kondisi Bunga dan sikap ibu nya. Mengurungkan niatnya untuk bertanya kondisi sahabat. Ia pamit pulang kepada ibu Bunga dan mengikuti pak Agung menuju halaman depan.


Ibu Bunga menatap lekat putri nya ini. Bayangan bayangan masa lalu terus menghantui pikiran nya saat melihat kondisi saat ini. Terlihat berapa kali air matanya metes. Bi Ijah terharu melihat ibu dan anak ini.


Seperti biasa apabila kutukan Bunga kembali maka yang bisa menhisap kutukannya hanyalah tanaman bunga yang mekar jam empat .


Ibu Bunga dan bi Ijah memapah Bunga menuju taman belakang rumah. Taman yang cukup luas dengan lampu penerangan yang mewah terlihat indah dengan di padukan beberapa kolam kecil dan beberapa pondok kecilnya.


Ibu Bunga dan bi Ijah membaringkan Bunga di salah satu pondok yang di sekeliling nya di penuhi oleh bunga jam empat. Kemudian mereka pergi meninggalkan nya dan duduk di salah satu pondok di dekat Bunga berbaring.


Jika seseorang memiliki indra ke enam tentu dapat melihat aura hitam lekat mengelilingi tubuh nona muda ini. Aura hitam lekat tersebut perlahan terhisap oleh bunga bunga di sekeliling pondok tersebut.


Kesadaran Bunga kembali dan ia mencoba duduk untuk melihat keadaan sekitarnya. Ibu dan bi Ijah bergegas menghampiri Bunga yang terduduk lemas. Sang ibu memeluk anak nya dengan eratnya sementara bi Ijah duduk disampingnya melihat kode mata yang ibu Bunga berikan.


Bi Ijah tau kode yang diberikan nyonya itu langsung bergegas pergi menyiapkan makanan kesukaan Bunga.


Ibu Bunga memeluk erat anaknya dan beberapa kali mencium nya seperti anak kecil. Bunga hanya terdiam atas sikap ibu nya dan menerima dengan pasrah kelakuan ibu nya ini.


Ingatan Bunga untuk hari ini masih belum hilang. Ingatan nya akan hilang saat Bunga tertidur.


Bi Ijah datang dengan senampan makanan dan teh hangat. Ibu Bunga berhenti memeluk anak nya saat bi Ijah datang. Ibu Bunga yang sadar akan kondisi Bunga meminta bi Ijah menemani Bunga makan dan ia menuju ke kamar Bunga untuk mengambil buku dan ballpoint untuk menulis.


*****Untuk readers :

__ADS_1


Jangan lupa yah tinggal in jejak dan kasih kritik dan sarannya agar kedepan penulis lebih baik lagi dalam menulis***.


__ADS_2