Bunga Jam Empat

Bunga Jam Empat
Bag: 9. Ingatan Bunga.


__ADS_3

Bunga dengan sedikit tenagannya menyantap makanan yang bi Ijah siapkan dengan lahapnya. Dari kejauhan ibu Bunga terlihat berjalan dengan membawa buku di tangannya.


Ibu Bunga melirik bi Ijah. Bi Ijah tau akan kode mata yang di berikan ibu Bunga mengangguk dan pergi meninggalkan ibu dan anak ini sendirian.


Bunga yang telah selesai makan membuka mulunya dan berbicara dengan nada rendah " mau sampai kapan Bunga harus seperti ini terus". Ucap Bunga yang air mata nya mulai menggenangi matanya.


Ibu Bunga yang menyodorkan buku dan ballpoint angkat bicara. " Sampai rahasia di balik rahasia terbongkar".


Bunga menatap penasaran ibu nya. " Rahasia". Bunga terkejut mendengar ternyata Kekuatan nya memiliki rahasia.


" Apa kekutaan ku ini sudah ada semenjak aku kecil ". Tanya Bunga penasaran.


" Cerita nya panjang. Kemampuan mu itu belum ada semenjak kau masih kecil. Namun di sebabkan beberapa rahasia kekuatan yang seharusnya tidak kau miliki jadi kau miliki ".


" Kenapa Mami gak cerita dari dulu. Sebenarnya rahasia apa saja sih yang Mami sembunyikan". Ucap Bunga dengan nada kesal.


" Potongan potongan rahasia akan terbuka ketika dirimu menemukan cinta di kota sebelah. Alasan Mami gak cerita karena waktu nya belum tepat saja. Trouble bisnis Papi mungkin menjadikan alasan dan rangkaian benang takdir akan terbubung jika kita pergi ke kota sebelah".


Bunga tidak bertanya seterusnya. Ia memilih memandang buku Dairy dan membacanya dari awal. Kekuatan Bunga akhir nya dapat ia pahami bahwa bunga jam empat lah yang mampu menghisap kekuatan nya. Hal tersebut dapat ia sadari saat melihat rekam tulisan yang ia tulis ketika kekuatan nya aktif ia selalu berada di taman dengan sekeliling nya di penuhi Bunga jam empat.


Ibu Bunga tersenyum melihat anaknya yang perlahan mulai tau akan rahasia yang ia sembuyikan.


Obrolan mereka bicarakan seputar kekutaan Bunga. Secara garis besar Bunga dapat menyimpulkan bahwa begitu banyak rahasia yang tersembunyi di kota sebelah tempat kelahiran nya.


Ibu Bunga kembali tersenyum melihat anaknya yang menyadari potongan potongan rahasia yang mulai terkuak.


" Bunga, jangan lupa tulis apa saja yang terjadi hari ini. Setelah kamu tertidur, ingatan mu akan hilang". Ucap ibu Bunga mengingatkan.


Bunga mengangukkan kepala nya dan mulai menulis apa yang terjadi hari ini. Sedikit tersenyum Bunga menulis kan tingkah laku sahabat nya.


Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Ibu Bunga yang terlihat sedikit menguap menatap Bunga yang terlihat hampir menyudahi tulisan nya.


" Udah Mam, ayo kita tidur ".


Mereka berdua bergandengan tangan pergi ke tempat tidur mereka masing masing.

__ADS_1


Pagi hari dengan cahaya matahari yang menembus sela sela korden, Bunga mencoba membuka matanya. Terdengar alaram berbunyi kencang di samping tempat tidur Bunga.


Triingggg tringgg tringgg ( sfx: bunyi alaram )


Hari ini adalah hari minggu. Masih weekend , Bunga pun masih ingin bermalas malasan di hari libur nya. Tidak seperti hari biasanya. Kusus hari minggu biasanya Bunga habiskan untuk bersantai di taman jika tidak keluar jalan jalan bareng orang tuanya.


Bunga menatap langit kamar tidurnya yang bercorak pemandangan alam serta ilustrasi berbagai bunga bunga dengan bunga jam empat yang mendominasinya.


Pikiran Bunga yang kosong dan terasa sangat fresh.


Tidak ada ingatan tentang 3 hari yang lalu. Memaksa Bunga untuk membaca buku dairy. Inilah kebiasaan wajib yang rutin Bunga kerjakan di pagi hari entah itu weekend atau hari biasa. Walaupun kusus di hari minggu Bunga akan membaca buku dairy dari awal sampai akhir.


Air mata Bunga mulai menetes karena kesedihannya. Ia sadar ia tidak normal seperti orang sebaya nya. Terlebih lagi kekuatan baginya hanya sebagai beban karena ia tidaklah bebas keluar dan banyak batasan batasan untuk menjaga kekuatan nya di luar kendali.


"Dugggggg sfx ( suara meja yang di pukul )


" Ahhh. Andai aku tidak memiliki kemampuan seperti ini", celtuk Bunga sendiri dengan nada kesal.


*****************


Di sebuah taman yang besar.


Seorang pria berambut ikal dengan hidung yang lancip serta kulit sawo matang nya mentap ponselnya. Beberapa kali ia memandang tanaman bunga di sekitar nya.


Ia duduk sendiri dan jauh dari keramaian. Sambil memetik Bunga di dekat nya, ia mencium aroma bunga jam empat . Ia terdiam cukup lama setelah mencoba menghirup aroma bunga jam empat.


" Bunga jam empat lagi, bunga jam empat lagi. Tidak harum dan hanya mekar di jam empat seperti nama nya". Ucap lelaki tersebut dengan nada kesal.


"Tapi jika tidak ada ini, mungkin aku tidak akan bertemu dengan wanita yang usil itu lagi". Celtuk lekaki itu dengan senyum senyum sendiri.


Dan di jam yang berbeda.


Masih di kota sebelah dengan tempat di taman yang sama.


Seorang lelaki berparas putih bersih dan rambut kriting nya memakai kaos bertuliskan bunga jam empat duduk di sisi taman yang penuh dengan bunga jam empat.

__ADS_1


Dia duduk dengan tenang sambil menatap keramaian jalanan kota. Sambil membuat sebuah peluit dengan bunga yang ia raih di samping kursi tempat ia duduk.


Priiiittt priiiittt priiiiiit ( sfx : suara peluit buatan dari bunga jam empat )


"Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu dengan Bunga, biasanya aku yang mengajarinya membuat peluit ini". Ucap pria berparas putih dalam batinnya.


Sambil menatap langit dengan tangan memegang bunga jam empat, ia mengacungkan bunga tersebut ke atas mukanya hingga sedikit bayangan menutup cahaya yang menyinari matanya.


" Bunga, seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin sampai saat ini kita bisa bersama". Celtuk lelaki ini dengan air mata yang menggenangi matanya.


Di jam yang sama.


Masih di taman yang sama.


Di sisi taman yang berbeda.


Seorang lelaki berambut panjang yang di ikat ke belakang sedang memanikan gitarnya. Beberapa kali ia menulis syair dalam kertas di samping nya.


Ia terlihat menikmati suasana taman yang asri. Ia sangat senang sekali jika mengarang lagu atau menulis syair puisi di taman ini.


Drrrett dreeett dreeet ( sfx : ponsel bergetar )


"Siapa lagi ini, pagi pagi udah menelepon ", batin pria berambut panjang ini.


Ia mengambil ponsel dalam sakunya. Alangkah terkejutnya saat ia melihat nama yang tertera dalam ponsel tersebut.


( NYONYA BESAR)


Keringat dingin membashi wajah putih nya. Ia berbicara terkesaan gugup dan ketakutan serta beberapa kali ia mengangukan kepalanya dengan terseyum sedikit di paksan.


Seusai berbicara ia mantap bunga di sekitar nya dan menarik nafas dalam kemudian berkata.


" Seandainya aku tidak mengenal mu Bunga, tentu aku lebih bebas dari sekarang ".


**Hallo gaes..

__ADS_1


Jangan lupa kasih saran dan kritik nya kak buat karya ku**.


__ADS_2