Cahaya Diujung Senja

Cahaya Diujung Senja
part 17. prov caca dan senja


__ADS_3

Prov caca.


Senja memberiku tawaran harga yang cukup mahal. Selama ini jarang sekali aku mendapatkan lelaki yang mau membayarku semahal itu kecuali lelaki itu ingin meminta servisan lebih dariku.


Oh tidak !! Aku selalu menolak mentah-mentah dari setiap tamu yang meminta pelayanan lebih dariku.


Senja mengajakku untuk keluar. Ku rasa dia tak cukup nyaman dengan tempat ku bekerja. Bahkan saat ku tawari minuman beralkohol, dengan terang-terangan dia menolaknya.


aku mengikuti keinginan senja. Meski malam semakin larut, namun aku tak keberatan untuk menuruti keinginannya.


Selagi dia tak meminta lebih dari itu, it's oke... Aku sih iya iya aja.


mungkin karena ini pula ia berani membayarku dengan cukup mahal.


Senja mengajakku ke sebuah taman disudut kota.


Entah mengapa malam ini aku menjadi kembali teringat pada lelaki yang memberiku minuman sekitar satu tahun lalu.


Awalnya aku masih menaruh harapan besar agar bisa kembali bertemu dengan lekaki itu. Namun semua itu terasa pupus. bahkan aku sudah berusaha untuk melupakannya saat pertama kali aku tau ternyata dia masih anak SMA.


Namun kini dia kembali hadir seolah mengingatkan kenangan yang sama meski dengan cover yang ia kemas berbeda.


Ku raih minuman yang ia sodorkan ke arahku. Aku tersenyum membalas senyuman manisnya yang ia lemparkan untukku. Entah mengapa jantungku berdebar lebih kencang saat aku menatap senyuman itu. namun aku sangat malu untuk mengakui semua dan berterus terang langsung dengannya.


Aku langsung menepis perasaan ini, karena usia kami yang terbilang jauh berbeda. Aku merasa melihatnya sama seperti aku melihat gemilang, adik lelaki yang mungkin seusia dengan senja. jadi aku fikir perasaan ini hanya sebatas rasa mengagumiku sebagai kakak nya saja.


Hati kecilku bertanya-tanya siapakah lelaki ini sebenarnya?. Ada rasa curiga dalam hatiku saat ia bisa membayarku dengan nominal yang cukup tinggi sedangkan dirinya masih berseragam putih abu-abu, belum lagi saat ku lihat penampilannya yang jauh dari kata orang berada.


aku hanya khwatir bahwa dibalik yang semua yang dia lakukan saat ini, ada orang tua yang sedang ia peras seluruh keringatnya.


.

__ADS_1


Prov senja.


Malam itu entah ada angin apa aku berhenti disebuah club dengan plang besar didepannya. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa caca berada didalam sana.


Meski awalnya aku terkejut saat aku tau apa pekerjaan caca sebenarnya. Namun aku yakin aku bisa menerima dia dan profesi nya.


Aku mulai memberanikan diri masuk ke sebuah club malam. Ini adalah pertama kalinya aku masuk kedalam tempat seperti itu.


Musik dj yang begitu keras juga aroma alkohol yang menusuk indera penciuman sudah menyambut ku yang baru saja datang.


Ditengah kepulan-kepulan asap dari lintingan benda kecil yang mereka hisab aku melihat caca sedang berbincang dengan teman seprofesinya dari kejuahan.


Aku tersenyum dan meminta caca untuk menemaniku malam ini. namun tanpa aku ketahui ternyata ada seorang guru dari sekolahku yang juga meminta caca untuk menemaninya.


Namun aku tak ingin kalah begitu saja. Meski papa telah mencabut semua fasilitas yang ia berikan termasuk mobil dan kartu kreditku. Setidaknya aku masih memiliki tabungan pribadi saat dulu hidupku masih suka berfoya-foya dengan kemewahan.


Guru keenan tak berani berkutik saat aku berani memberikan harga yang cukup tinggi untuk caca malam ini. Entah kemana dia , tiba-tiba dia pergi begitu saja.


Suara caca yang manja dan menggoda membuatku sadar bahwa itu salah satu tuntutan profesinya. Namun entah mengapa aku malah menjadi merasa salting sendiri saat mendengar caca berbicara dengan begitu lembutnya.


caca kembali seperti caca yang aku kenal saat ia mendapati akulah yang berani membayar nya dengan harga yang cukup tinggi untuk menemaniku malam ini.


Yaa... Aku sangat merindukan caca yang bawel dan cerewet apa adanya seperti ini. Daripada caca yang lembut dan manja namun hanya sebatas sebuah topeng di wajah saja.


Aku mengajak caca untuk kluar dari Tempat bising dan sumpek ini. Rasanya aku bisa mati kehabisan oksigen jika harus berlama-lama berada ditempat seperti ini. Belum lagi aroma alkohol seolah mengaduk-ngaduk seisi perutku untuk aku keluarkan semua .


Aku memang sangat anti dengan minuman semacam itu. Selain aku yang notabene nya tidak meminum alkohol,ada cerita masalalu dalam kisah hidupku yang membuatku sangat membenci minuman memabukkan itu.


Untunglah caca mau menuruti keinginanku. Aku menyusuri jalan berdua dengannya Dengan kuda besi butut yang kumiliki, entah mengapa aku sangat nyaman berada dalam keadaan seperti ini.


Caca mendekap erat tubuhku. Sepertinya dia juga sudah merasa nyaman dengan perjalanan kami.

__ADS_1


hoodie yang tadi aku pakai sudah ku berikan caca agar dapat ia pakai dengan alasan 'biar gak dingin' namun sebenarnya itu hanya alasanku saja. aku tak ingin tubuh mulus itu terekspose dan menjadi konsumsi publik disepanjang perjalanan karena memang baju yang caca pakai sedikit terbuka dibagian dada.


Andai saja aku memiliki hak atas dirinya. Mungkin aku orang yang akan melarang keras untuk caca memakai pakaian seperti itu. Namun untuk saat ini aku tak berhak untuk sampai mengatur-ngatur hidupnya.


Aku sedang menyesuaikan diri berusaha untuk bisa menjadi orang yang nyaman untuk caca.


Aku menghentikan motorku disebuah taman kota yang tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang singgah disana.


Aku meninggalkan caca dan membeli dua botol minuman dengan rasa yang sama karena aku lupa untuk menanyakan dia ingin minuman yang rasa apa?


Aku menyodorkan minuman itu tepat dihadapan caca yang sedang fokus melmandang seisi taman.. Entah mengapa tiba-tiba terlintas dibenakku aku ingin mengingatkan caca tentang kejadian sekitar satu tahun lalu.


Meski semua itu aku kemas dengan sampul yang berbeda. Namun aku yakin memori caca akan cepat untuk mengingatnya.


aku yakin waktu itu caca hanya sekedar malas untuk mengingat, bukan berarti dia tak ingat. Aku percaya dia tak akan semudah lupa dengan ku.


Aku tersenyum melihatnya. caca pun tersenyum melihatku. Jantungku berdebar semakin kencang. Andai caca bisa mendengar detak jantungku yang sudah mau copot dari tempatnya. mungkin sejak saat itu dia tau bagaimana perasaanku dengannya.


Meski usia diantara kita jauh berbeda. Namun bukan hal buruk bagiku untuk bisa mencintai wanita yang usia nya jauh diatasku.


Ku lihat tatapan mata caca seolah sedang mengintimidasiku. Aku tau dia masih bertanya-tanya bagaimana bisa aku membayarnya dengan harga yang lumayan tinggi?


Andai saja dia tau siapa aku sebenarnya.


Namun tak mungkin aku bisa menjelaskan semua itu padanya. Bahkan sedikitpun aku tak berniat untuk memberitahunya. Biarkan saja dia berfikiran apapun padaku. Dan pasti Akan aku buktikan bahwa aku tak seburuk yang ada difikirannya.


Disisi lain aku merasa bahagia saat dia begitu peduli dengan hidupku, selalu ingin tau aku dapat semua uang itu dari mana?. Aku berharap dia bisa selalu begitu sampai seterusnya, selalu peduli terhadapku.


.


.

__ADS_1


__ADS_2