
Gempita pun tak hentinya celingukan ke segala arah ikut mencari entah apa yang sedang kakaknya cari.
"kakak nyariin apa sih??" tanya gempita untuk yang kedua kalinya karena pertanyaan yang tadi ia lontarkan diabaikan begitu saja oleh caca.
"eng_enggak ! Kakak gak nyariin apa-apa. Yaudah yuk pulang !" ajak caca seraya mengurai pencariannya dan lebih fokus menatap ke arah gempita.
"gimana hari pertama sekolah?" tanya caca pada gempita yang telah masuk kedalam mobil. Caca langsung memfokuskan pandangannya menatap jalanan yang padat merayap dengan kendaraan anak sekolah.
"gak gimana-gimana kok kak. Mereka semua welcome dengan kedatanganku sebagai teman baru mereka" jawab gempita penuh semangat .
"bagus dong" sahut caca.
"tapi ada satu murid yang sikapnya dingin dan cuek banget kak sama aku" ungkap gempita.
"siapa?" tanya caca
"entah. Aku gak tau siapa nama nya kak, karena sejak jam pertama dia gak ikut pelajaran" jelas gempita.
"tapi kamu tau orangnya? Cowok apa cewek?"
"tau kak, orang itu cowok" jawab gempita dengan raut yang berbeda.
"awas loh ntar naksir" caca terkekeh meledek gempita yang kini wajahnya berubah menjadi seperti tomat matang.
.
.
Tanpa mereka sadari obrolan kecil mereka di sepanjang perjalanan membawa mereka tiba di pelataran rumah.
"kamu masuk duluan,kakak mau keluar sebentar" ucap caca pada gempita yang baru turun dari mobil.
"kakak mau kemana?" tanya gempita sambil melihat ke arah caca melalui kaca mobil yang terbuka.
"mau ketemu temen bentar"
sahut caca lalu memutar arah mobilnya dan pergi meninggalkan pelataran rumahnya.
"sibuk banget perasaan kak caca" gumam gempita seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
.
__ADS_1
.
Caca kini menuju taman yang tadi telah senja tentukan kapan dan di mana mereka akan bertemu. Entahlah, bertemu dan tertawa bersama senja seolah membuat candu tersendiri bagi caca yang selama ini hidupnya selalu dirundung oleh kesepian.
Mobil yang caca kendarai mulai memasuki area taman yang tak ramai pengunjung. Caca memarkirkan mobilnya lalu berjalan ke tempat dimana biasa senja mengajaknya duduk disana. caca tersenyum saat penglihatannya tertuju pada seorang lelaki muda berseragam SMA tengah duduk di sebuah bangku yang berada tepat pada tempat yang ia tuju.
"hai" sapa caca setelah tiba dan langsung menaruh ****** nya pada bangku kosong yang berada di hadapan senja.
"hai, aku kira kamu gak akan datang ca" senja terkekeh seraya senyuman manis bahagia yang tak dapat ia sembunyikan.
"kalau aku gak datang, terus kamu mau apa?" tanya caca seraya mendekatkan wajahnya menatap senja lebih lekat.
"aku mau tetep nungguin kamu disini sampe kamu mau datang menemuiku! Sekalipun sampai rambutku tubuh uban aku akan tetap nungguin kamu"
sahut senja sambil membalas tatapan mata caca dan mendekatkan wajahnya. Kini wajah mereka saling melempar tatapan yang sulit untuk diartikan.
"tapi itu boong !! karena aku yakin kamu pasti datang" senja terkekeh seraya menjepit pucuk hidung caca dengan jemarinya.
"ah kamu bisa aja" sahut caca menjauhkan wajahnya dari tatapan mata senja.
"ca, kita jalan-jalan yuk " ajak senja tanpa mau basa basi lagi.
"kemana aja yang penting sama kamu" senja menggoda caca dengan menaik turunkan alisnya.
caca mengangguk , entah mengapa ia menjadi salah tingkah saat senja menggoda nya seperti itu.
"kita naik motor ya" ajak senja karena ia tau caca datang ke taman ini membawa mobil.
"boleh" sahut caca.
.
.
Mereka berdua mulai menyusuri jalanan menggunakan sepeda motor butut milik senja. Jujur caca merasa begitu nyaman saat berdua bersama lelaki muda yang saat ini sedang memboncengnya. Bahkan ia seolah lupa berapa jarak perbedaan angka usia diantara mereka.
Caca melingkarkan tangannya pada pinggang sampai keperut senja lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu senja. Senja tersenyum kala menatap caca dari pantulan kaca spion yang sengaja diposisikan ke arahnya. Melihat wajah teduh caca yang begitu nyaman berada di belakangnya.
"kita mau kemana?" tanya senja. Ukiran senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampan itu.
"terserah kamu aja" caca seolah pasrah ikut kemana saja senja hendak membawanya pergi. Senja menyeringai senang karena kini caca sudah terhanyut dalam kenyamanan dengan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"baiklah"
Senja menarik gas motor dan melajukannya menuju tempat yang sering ia kunjungi disaat sepi dan sendiri. Tempat ternyaman untuknya dikala ia butuh suatu sandaraan ketika lelah.
"senja..."
panggil caca kala merasa takjub dengan apa yang ia lihat hari ini.
"kamu senang?" tanya senja sambil tersenyum dan menyelipkan anak rambut caca yang kesana kemari terbang terbawa angin ke belakang telinga.
"he'em" caca mengangguk.
Sorot matanya menyala terlihat jelas bahwa ia sangat bahagia. Caca menyadari bahwa hidup masih begitu indah dan bercahaya, karena yang selama ini ia lihat, hidupnya terlalu kelam bersama kegelapan yang terbalut cahaya lampu kelap-kelip di sebuah bar.
Bagaimana tidak ia berfikir seperti itu? Jika setiap malam ia gunakan untuk begadang dan di saat siang ia gunakan untuk memanjakan mata dengan tidur disepanjang harinya. Jadi ia tak pernah menikmati sekalipun itu hal sesederhana ini.
"ayo kesana"
Senja menggandeng tangan caca mengajaknya duduk di bawah pepohonan rindang diatas kaki gunung. hawa dingin mulai terasa menyeruak menyapu tubuh mereka yang tak menggunakan pakaian tebal. Semakin sore semilir anginpun semakin mendayu-dayu membuat tubuh mereka menjadi semakin sejuk.
"kamu sering kesini?" tanya caca sambil terus mengedarkan pandangannya menelusuri setiap inci sudut tempat yang baru pertama kali ia sambangi.
"he'em" senja mengangguk.
"dengan siapa??" caca mengalihkan tatapannya fokus menatap wajah tampan senja dengan senyum manis yang terukir di bibir nya.
"dengan kamu" jawab senja terkekeh sambil balas menatap caca.
"iihhh kamu nyebelin !" caca mencubit pinggang senja hingga membuat lelaki itu menggeliat kegelian.
"maksud aku, biasanya kamu sama siapa kesini nya???" caca mengerucutkan bibirnya kesal jika senja enggan menjawab pertanyaannya dengan serius.
"biasa nya aku kesini bersama semua kekesalan dihati"
jawab senja sambil terus menatap wajah cantik caca yang terlihat semakin imut jika sedang merajuk seperti ini. Harus senja akui disaat caca tampil dengan wajah polos tanpa make up tebal seperti ini, kecantikan caca terlihat lebih muda dari usia nya yang senja sendiri tak tau berapa sebenarnya usia caca.
"jadi tempat ini menjadi pelampiasan kalau kamu lagi galau? Putus cinta ?"
caca terkekeh entah mengapa ia merasa sedikit sesak mengucapkan kata-kata 'putus cinta' untuk senja. Bahkan kini pikiran caca menjadi sedikit negatif "apa sekarang senja lagi galau? Jadi dia bawa aku kesini?" batin caca.
Senja tertawa lepas mendengar perkataan caca. Entah mengapa ia menangkap adanya rasa cemburu di nada bicara caca yang terdengar biasa saja. Apakah itu hanya karena dia yang terlalu percaya diri? Oh tidak, senja memang paling pandai untuk membaca situasi dan isi hati.
__ADS_1