Cahaya Diujung Senja

Cahaya Diujung Senja
part 21. bolos sekolah


__ADS_3

"keenan ???"


Tanya caca menatap wajah senja sambil mengerutkan dahinya karena tak tahu mengapa tiba-tiba senja menyebut nama keenan dalam percakapan mereka.


senja memalingkan wajah, merasa tak kuasa menahan debaran di hati untuk berlama-lama memandang wajah caca.


"aku kesini bukan karena dia !" terang caca.


"lalu?" tanya senja tak percaya.


"karena ada suatu urusan!" jawab caca meyakinkan.


"yasudah aku pergi dulu " caca bangun dari tempat duduk bersiap pergi dari sana dan meninggalkan senja.


"aku ikut !"


ucap senja sambil menahan lengan caca.


Detak Jantung senja berdegup lebih kencang saat tangan mereka saling bersentuhan. Senja benar-benar merasa kali ini jantungnya seperti copot tak tau kemana karena getaran hebat yang ia rasa. namun sebisa mungkin senja berusaha untuk menetralkan semua perasaannya.


Begitupun dengan caca. Mungkin ini bukanlah pertama kalinya ia bersentuhan dengan laki-laki lain. Namun entah mengapa saat senja menahan lengannya, caca dapat merasakan sensasi yang berbeda dan merasakan getaran yang tak pernah ia rasa sebelumnya.


"kamu kan masih ada jam pelajaran, senja !"


cetus caca penuh penekanan ketika ia menyebut nama 'senja'.


"hari ini aku free. Oiya kamu kesini naik apa?"


tanya senja mengalihkan pembahasan tentang pelajaran dikelas.


" ojek !" jawab caca singkat.


"kamu gak bawa mobil?"


tanya senja.


"enggak! Mobilku masih dibengkel "


"yaudah kamu keluar bawa motorku ya. Aku tunggu kamu didepan" senja menyodorkan kontak motornya kepada caca lalu pergi meninggalkan wanita itu.


"hufftt mana ada anak sekolah free dijam segini!" batin caca.


Caca menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ingin melayangkan protesan pada lelaki muda itu namun senja keburu menghilang dibalik gedung-gedung sekolah.


.


.


"terimakasih pak atas waktunya, kalau begitu saya pamit dulu" pamit caca pada kepala sekolah saat ia telah kembali keruangan untuk menemui kepala sekolah.


"sama-sama mbak. Kalau begitu secepatnya adik mbak boleh segera masuk sekolah"


kata kepala sekolah.


.


Tujuan caca datang kesekolah senja adalah untuk mendaftarkan sang adik 'gempita' untuk melanjutkan sekolah disekolah itu. Bukan untuk bertemu keenan seperti yang senja tuduhkan padanya.


berhubung sekolah gempita dan gemilang dikampung akan tutup. Mau tak mau caca harus mencarikan sekolah pengganti untuk mereka. Gemilang memutuskan untuk tetap melanjutkan sekolah disekolah yang berbeda dikampung mereka. Agar ia juga tetap dapat menemani sang bunda tinggal disana. berbeda dengan gempita yang ingin melanjutkan sekolah dijakarta.


ketika sedang berbincang dengan kepala sekolah. Tiba-tiba handphone caca berdering, caca pun meminta izin untuk mengangkat telpon itu dan keluar dari ruangan kepala sekolah karena ia tak ingin obrolannya via telpon didengar orang lain.


Caca memutuskan untuk pergi kebelakang kelas, tanpa ia sangka ternyata ia bertemu dengan senja dibelakang sana.

__ADS_1


saat itu senja sedang duduk seorang diri sambil menghisap lintingan benda kecil yang ia fikir senja tak akan mau berkenalan dengan benda itu.


.


.


seperti permintaan senja, caca keluar sekolah sambil mengendarai motor butut milik senja.


caca celingukan mencari keberadaan senja yang ia janjikan akan menunggunya didepan setelah ia keluar gerbang.


Seketika mata caca tertuju pada senja yang sedang berdiri sambil melambaikan tangan dari kejauhan.


Caca segera melajukan motornya mendekat kearah senja berada.


"sejak kapan kamu disini?" tanya caca seraya turun dari motor agar dapat berganti posisi senja yang duduk di bagian depan sebagai supir.


"sejak tadi" sahut senja.


"kamu keluar lewat mana??" tanya caca melebarkan matanya . Pasalnya caca tak melihat senja keluar dari sekolah.


senja menunjuk ke arah pagar yang dibawahnya terdapat kotak sampah terbuat dari bata yang bisa ia gunakan sebagai pijakan. Sepertinya ini bukan pertama kalinya senja keluar lewat jalan sana. Karena ia terlihat begitu santai dan ahli dalam hal loncat meloncat meski ditempat itu dipenuhi tanaman pagar berduri.


"kamu loncat pagar???"


tanya caca semakin melebarkan kedua matanya lebih tepatnya melotot penuh ancaman.


senja hanya nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putih miliknya yang berjajar sangat rapi.


"jago ya kalau masalah loncat meloncat?!"


sindir caca dengan nada bicara yang terkesan ketus.


Caca memang tak menyukai hal-hal buruk seperti itu. Ia mengingatkan bagaimana jika hal itu dilakukan oleh adik-adiknya sedangkan ia disini bersusah payah mencari uang untuk biaya sekolah mereka.


lagi-lagi senja hanya bisa tertawa kecil.


Senja segera naik keatas jok motornya.


"katanya free, kok takut ketauan guru!"


lagi-lagi perkataan caca membuat senja merasa tersudut dan tak mampu berkata-kata.


.


.


Senja melajukan sepedamotornya . Dengan terpaksa caca pun ikut duduk dibelakang senja seolah mendukung aksi bolos senja hari ini.


Dipenuhi obrolan-obrolan ringan disepanjang perjalanan , semua itu ternyata mampu mengobati rasa sakit hati dan kecewa senja terhadap caca atas kejadian kemarin.


"kita main dulu yuk!" ajak senja sambil melirik caca lewat kaca spion.


"aku ikut kamu aja!"


sahut caca yang lalu mengeratkan pegangan tangan saat senja mulai menarik gas motor membuat motor yang mereka tumpangi melaju cepat membelah jalanan yang sedikit sepi.


senja tersenyum ketika melihat wajah cantik caca dari pantulan kaca spion. Terlihat caca pun begitu nyaman berada di belakangnya meski sepeda motor yang membawa mereka berdua jauh dari kata mewah.


.


.


Kali ini senja membawa caca ke sebuah tempat yang senja yakin tempat ini belum pernah caca sambangi.

__ADS_1


Entah mengapa caca benar-benar merasa nyaman dan tak protes sedikitpun kemana saja senja akan membawa nya pergi.


hembusan semilir angin menyambut kedatangan mereka berdua. Pepohonan rindang juga deretan pohon kepala sudah terpampang jelas berjejer di tepi-tepinya.


suara deburan air yang menghantam batu karang seolah menjadi iraman tersendiri yang memberikan ketenangan.


ditempat inilah, senja biasa menyendiri untuk menenangkan hati dan fikiran.


"kamu sering kesini?" tanya caca, matanya melihat kesekitar menyusuri seluruh tempat yang begitu asri dan tak terjamah tangan-tangan jahil yang membuat rusak pemandangan.


senja hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.


Caca tersenyum lalu memejamkan mata, kemudian ia merentangkan kedua tangan sambil menikmati hembusan angin yang menyapu tubuh dan mampu memberi kesejukan. Rambut caca yang terurai pun ikut bergerak seiring dengan gerakan gelombang air. Bersamaan dengan itu senja menatap dalam-dalam wajah cantik yang terlihat begitu sempurna dimata senja.


"kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya caca saat ia mendapati senja sedang menatap dirinya sambil tersenyum.


Senjapun langsung memalingkan wajah gugup saat ia ketangkap sedang menatap caca penuh rasa kagum.


"aku senyum-senyum sendiri?" senja menunjuk kearahnya sendiri.


"kamu kali yang senyum-senyum sendiri" lanjutnya mengalihkan tuduhan.


.


.


Mereka berdua memilih duduk dibawah pohon yang rindang ditepi pantai. Semilir angin yang menyapu tubuh benar-benar membawa ketenangan tersendiri bagi mereka.


Senja mengeluarkan lintingan benda kecil dari dalam saku. benda kecil yang sejak kemarin menjadi teman baginya untuk melewati hari-hari yang sepi. senja memetikkan api diujung benda itu lalu menghisapnya perlahan.


"jadi kamu bohong ! Karena waktu itu kamu bilang sama aku bahwa kamu tidak merokok?"


cecah caca tanpa berusaha menahan senja menghisab benda kecil itu.


"aku gak bohong kok. Kemarin itu memang aku belum merokok"


sahut senja sambil menghisab benda kecil itu layaknya orang yang sudah berpengalaman dan cukup lama menjadi penikmatnya.


"lalu, sejak kapan kamu merokok?"


"sejak aku kenal kamu dan tau bahwa kamu juga perokok " senja terkekeh sambil melirik caca.


"oh jadi maksud kamu. dengan berkenalan dengan ku dapat membawa dampak buruk dalam hidupmu !"


caca tersenyum smirk mendengar perkataan senja yang sedikit menyinggung perasaannya.


"gak gitu ca ! aku hanya melihat ada ketenangan tersendiri saat kamu sedang menikmati benda ini. Aku jadi penasaran sensasi apa yang aku dapat kalau aku ikut . menghisap benda kecil ini"


senja menunjukkan sebatang rokok kearah caca


"Dan ternyata aku bisa mendapatkan ketenangan dari semua masalah yang aku hadapi" lanjutnya menambah penjelasan agar caca tak salah paham dengan penuturannya.


"ketenangan seperti apa?? Aku merokok hanya karena tuntutan pekerjaan saja"


tepis caca berusaha menyangkal bahwa benda itu sama sekali tak memberi ketenangan melainkan dampak buruk yang jsutru akan dihasilkan.


sebenarnya caca tak ingin senja mengikuti jejaknya untuk mengenal benda itu apalagi minuman beralkohol yang memabukkan. Karena ia sendiripun menyesal telah mengenal benda dua benda yang kini seolah menjadi candu dalam kehidupannya.


"kalau boleh aku tau, kamu kenapa memilih pekerjaan seperti itu??"


tanya senja sambil menatap lekat wajah cantik wanita yang duduk disebelahnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2